Monday, January 24, 2011

The Role of Social Studies in East Asia at Present


Arus globalisasi seringkali diiringi dengan masuknya teknologi, informasi,juga investasi yang telah mengaburkan persatuan jika kita tidak pandai memfilter pengaruh negative yang muncul beriringan. Masalah-masalah global seperti terorisme, krisis ekonomi, bahkan isu mengenai flu burung dan flu babi menuntut kita sebagai bagian dari warga global untuk dapat menyumbangkan tenaga dan pikiran yang terbaik guna kesejahteraan manusia.
Menanggapi hal itu yang sekaligus bertepatan dengan hari kebangkitan nasional yang ke-101, maka jurusan Pendidikan Sejarah (S-1) menyelenggarakan seminar internasional (21/5). Lokasi seminar didakan di gedung I-6 FIS Unesa dalm kepanitiaan gabungan antara dosen dan mahasiswa Pendidikan Sejarah (S-1) angkatan 2006. Bertindak sebagi narasumber antara lain: Prof.  Tsuchiya Takeshi dari Aichi University of Education Japan,  Prof. Warsono, M.S (Dekan FIS, Unesa) dan Nasution, P.hd (dosen Pendidikan Sejarah yang juga menamatkan kuliah di Aichi University of ducation Japan). Seminar dihadiri oleh seluruh guru IPS (termasuk sejarah) dari tingkat pengajar di sekolah dasar (SD), menengah (SMP/SMA), dan kejuruan (SMK). Akan tetapi semua dikelola secara terbatas,  mengingat waktu dan tempat yang terbatas yang hanya diquota sebanyak 220 kursi. Namun jumlah peserta yang hadir ternyata over load, akibatnya peserta yang tidak kebagian kursi terpaksa berdiri dibelakang.
Tema yang diusung yaitu “Pembelajaran IPS di Era Global” dimaksudkan agar permasalahan mengenai pembelajaran IPS yang masih merupakan polemik dapat ditemukan beberapa problem solving guna menenmpatkan dan menyelenggarakan pembelajaran pendidikan IPS sebagaimana mestinya, khususnya yang berkenaan dengan pembelajaran IPS terpadu. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan pengajaran. Selain itu diharapkan peserta mendapat gambaran tentang model pembelajaran IPS yang dikembangkan oleh Negara maju dan era globalisasi. Peserta juga dapat bertukar pikiran tentang masalah-masalah pendidikan IPS dalam praktik pembelajaran di sekolah dengan para pakar pendidikan IPS baik di dalam maupun luar negeri.

Ditemui ditempat terpisah usai seminar. Prof. Tsuchiya mengatakan bahwa polemik mengenai pembelajaran IPS ini di Jepang sendiri juga sedang in proces terutama pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sedangkan pada tingkat Sekolah Dasar (SD) pembelajaran IPS dapat dikatakan berhasil karena pada tingkat dasar IPS diajarkan melalui pengenalan terhadap lingkungan secara nyata dengan berbagai permasalahannya. Permasalahan tersebut dikemukakan untuk kemudian didiskusikan guna mencari problem solving. Contoh sederhana yang diterapkan pada siswa sekolah dasar misalnya pembelajran kontekstual tentang mengetahun dan praktir cara menyeberang jalan raya yang memuat pengetahuan budi pekerti di dalamnya. Hal ini dilakukan secara demokratis dengan memberikan hak yang sama kepada masing-masing siswa untuk  bertanya dan mengungkapkan pendapatnya. Guru tidak lagi berperan sebagai teacher center, tetapi lebih berorientasi kepada student center. Peran guru hanyalah sebagai fasilitator dan pendamping sebagaimana yang tercantum dalam kurikulum.
Berdasarkan Undang-Undang No. 3 tahun 2006 yang mengatur tentang adanya perubahan kurilukum, maka pembelajaran pendidikan diarahkan dan diupayakan sekontekstual mungkin. Wujud kongkrit dari metode pembelajaran ini dapat dicontohkan dengan mengambil contoh kegiatan nyata secara sederhana yang dekat dan ada di sekeliling kita. Misalnya siswa diajak untuk berperan sebagai reporter suatu harian yang ditugasi untuk mencari informasi (berita) mengenai apapun yang dapat dilaporkan dalam range dan ketentuan tertentu yang terlebih dahulu dijelaskan kepada siswa. Siswa diajak untuk menggali informasi sebanyak mungkin dengan pembekalan yang cukup. Hasilnya, pada akhirnya siswa diajak untuk berdiskusi dan mempresentasikan hasil temuan mereka selama di lapangan, sedangkan guru memberikan penilaian seobjektif mungkin dengan tidak lupa memberikan reward atas usaha baik yang dilakukan oleh siswa.
Point terpenting yang perlu di telaah adalah pentingnya penghargaan (reward) terhadap nilai-nilai historis karena dari sanalah kebijakan akan tumbuh untuk kemudian saling menghargai dan menghormati.

No comments:

Post a Comment