Monday, January 18, 2021

Hikmah Banjir

HIKMAH BANJIR

~DeeaiDa~

 

            Perkenalkan. Aku Aida, salah satu pengungsi banjir di salah satu kabupaten di Kalimantan Selatan. Saat ini di beberapa titik banjir mulai surut, namun di titik-titik lainnya banjir masih menggenang. Khususnya banjir karena pasang. Alhamdulillah, bantuan tak hentinya berdatangan, pun para relawan yang tak patah arang bergotong royong, kayuh baimbai, kata orang Banjar. Stay safe always semuanya….

Salah satu hikmah banjir ini bagiku yang memang seorang perantauan di banua ini adalah aku jadi tahu beberapa kosa kata baru Bahasa Banjar. Misalnya: Bakayau, Calap, Lancat, Limpas, Lunglup, Maristaan, dan Mamarina. Khusus Mamarina ini yang menurutku paling epic karena kupikir awalnya adalah nama orang, tapi ternyata bukan. Lebih merujuk pada sebuah panggilan umum saja. Ah, kemana saja aku selama ini hingga baru saja mengetahuinya. Hehehe..

Salah kedua hikmah banjir, semoga yang masih jomblo (ada yang) dapat jodoh. Aamiin. Emang ada.

Ada.

Serius.

Pengalaman tetanggaku, waktu banjir besar 1994 di sebuah dusun Bojonegoro.

Kala itu, aku masih enam tahun, kelas 1 SD. Harusnya masih TK, tapi entah bagaimana ceritanya aku mengikuti temen-temen yang usianya satu-dua tahun di atasku sekolah. Jadinya, waktu kelas 1 SD itu statusnya ngenger/nunut.

Menjelang tengah malam, tiba-tiba terdengar bunyi kentongan dipukul berkali-kali, (waktu itu masih musim ronda), suara derap kali yang menggema, serta gemuruh air di belakang rumah yang memang jaraknya sungai tidak terlalu jauh dari sungai.

Aku mengerjap. Perlahan beringsut. Kulihat ayah dan ibu sibuk lalu-lalang menaikkan barang-barang dan hasil panen ke tareng. Nampak ibu juga membungkus beberapa helai pakaian dan entah apalagi. Tiba-tiba, kaki sudah basah oleh air yang entah sejak kapan sudah menapaki rumah. Cepat sekali air meninggi dalam hitungan detik. Ibu segera berlari menggendongku untuk mengungsi ke tempat lebih tinggi. Sementara ayah memastikan rumah aman dan mengunci pintu dari luar.

Awalnya, kami mengungsi ke rumah tetangga, sambil memantau debit air. Namun, seolah dicurahkan begitu saja, air sudah menggenang hingga separuh rumah dengan arus yang lumayan kuat berputar-putar di halaman rumah nenek. Setidaknya itu yang ku ingat sebelum berangsek ke masjid untuk menghindari genangan air yang seolah hendak menarik kaki ke dalamnya.

Saat itulah, aku sempat mendengar ada yang berteriak minta tolong. Suara seorang wanita yang hanyut terbawa arus. Tidak begitu jelas raut wajahnya, hanya teriakan dan tangan yang menggapai ke atas dan terus bergerak ke belakang menuju sungai. Dengan cekatan, seorang lelaki terjun menolongnya. Wanita tersebut berhasil dijangkau. Kemudian mereka berpegangan pada tiang di sisi seberang rumah nenek. Beberapa orang kemudian dating membawakan tali dan lampu petromak sebagai penerang. Perlahan mereka akhirnya bisa menepi. Dari situ lah, mereka kemudian berjodoh dan menikah. Langgeng sampai hari ini. Masyaallah tabarokallah..

Sementara aku, pada akhirnya mengungsi ke tempat Pakde karena masjid penuh. Di sana pun penuh dengan pengungsi lainnya. Kami berdesakan di kamar, berbagi tempat tidur. Tetap saja, aku tidak bisa memejamkan mata barang sebentar. Rasanya malam itu begitu mencekam dan sangaat panjang. Entah sudah berapa lama banjir mengepung dusun kami kala itu, karena rasanya hari tak kunjung berganti.

Setelah surut, aku tetap diminta ibu bertahan di rumah Pakde. Sesekali ayah dan ibu menengokku sembari pulang untuk beberes rumah pascabanjir. Butuh berhari-hari untuk membersihkan dan mengeringkan rumah. Meski tidak banyak perabot di rumah (waktu itu belum ada satupun peralatan elektronik, hanya lampu itupun baru beberapa yang terpasang karena listrik baru saja masuk desa), namun tetap saja porak-poranda diterjang banjir. Apalagi lantai rumah dari tanah liat bercampur lumpur. Jadi, ayah menyiasati dengan menaburkan dedek persak pada titik-titik tertentu di dalam rumah agar tanah lebih padat dan bisa dilalui. Beberapa juga ditumpagi widik agar lebih nyaman ketika kaki menapak.

Sesekali aku menengok rumah karena mulai jenuh. Tentu saja, aku bermain dengan teman-teman di sepanjang jalan sambil mencari temuan. Aku, secara khusus mencari uang ayah yang ikut hanyut. Uangnya biasa disimpan di dalam bungkus rokok. Kebiasaan ayah dari dulu, namun semenjak berhenti beberapa tahun belakangan merokok sudah tidak lagi. Tentu saja tid ketemu. Kami justru menemukan barang-barang lain yang tersangkut karena banjir. Jika menemukan sesuatu kami akan berteriak, mengumpulkannya, lalu melaporkannya kepada orang dewasa. Mereka kemudian akan menanyakan kepemilikannya. Beberapa ternak sudah tid terselamatkan lagi.

Selang beberapa hari, nampaknya ada bantuan datang entah dari mana. Tidak terlalu lekat di ingatan. Namun yang pasti saat itu kami anak kecil dikumpulkan dan ketika pulang aku sudah menenteng peralatan sekolah berupa buku dan alat tulis. Selebihnya entahlah, yang pasti saat itu aku bahagia.. Beberapa bukuku juga ikut hanyut dan tak layak lagi. Tak sabar, akupun bergegas pulang dengan senyum merekah sembari memeluk buku dan alat tulis. Ingin segera mengabarkan pada ayah bahwa aku akan sekolah lagi.

Salah ketiga hikmah banjir adalah aku memberanikan diri untuk menjejakkan karyaku ini di KBM. Entahlah, aku merasa supan, mengingat sudah lama menjadi silent reader saja. Mohon krisannya ya kak.. mohon dibetulkan juga jika ada kata yang kurang tepat. Terima kasih sudah berkenan membaca.

Salam dari pengungsian.

 

Catatan:

* Bakayau/behayau = menceburkan diri dan berjalan di air tergenang

* Calap = banjir/ kebasahan

* Kayuh Baimbai = gotong royong

* Lancat = kondisi kaki keriput karena keseringan kena air

* Limpas = air berlebih

* Lunglup = kebesaran

* Maristaan = meratapi keadaan

* Mamarina = panggilan umum untuk paman atau bibi

* Supan = malu

* Ngenger/Nunut = ikut orang/ikut-ikutan

* Dedek Persak =sampah kasar hasil menggiling padi

* Tareng = sebuah tempat penyimpanan khusus dua tingkat yang terbuat dari bambu

* Widik = alat khusus untuk menjemur tembakau