Stop Global Warming

Stop Global Warming
Pose ketika Hari Bumi 2010

Monday, May 1, 2017

Tulip


Thursday, February 2, 2017

Review Seminar Prof. Didi Supardi



Pembelajaran dengan Penelitian Desain Didaktik /
Didactical Design Research (DDR)

            Proses berpikir guru dalam konteks pembelajaran terjadi dalam tiga fase, yaitu sebelum pembelajaran (reflection for action), pada saat pembelajaran berlangsung (reflection in action), dan setelah pembelajaran (reflection of action).[1] Proses berpikir sebelum pembelajaran, fokus pada pengembangan desain didaktis yang merupakan suatu rangkaian situasi didaktis (learning situation). Proses ini terdiri dari rekontekstualisasi[2], repersonalisasi,[3] dan prediksi respon atau biasa disebut dengan Prospetic Analysis. Proses berpikir pada saat pembelajaran merupakan analisis metapedagogik yaitu analisis terhadap rangkaian situasi didaktis yang berkembang di kelas, analisis situasi belajar sebagai respon siswa atas situasi didaktis yang dikembangkan, serta analisis interaksi yang berdampak terhadap terjadinya perubahan situasi didaktis maupn belajar. Refleksi yang dilakukan setelah pembelajaran menggambarkan pikiran guru tentang apa yang terjadi pada proses pembelajaran serta kaitannya dengan apa yang dipikirkan sebelum pembelajaran terjadi. Proses ini biasa disebut dengan Retrospective Analysis. Rangkaian ketiga fase berpikir guru tersebut diformulasikan dalam Penelitian Desain Didaktis atau Didactical Design Research (DDR).
            DDR pada dasarnya terdiri dari tiga tahapan. Pertama, analisis situasi didaktis sebelum pembelajaran yang wujudnya berupa Desain Didaktik Hipotetis termasuk Antisipasi Didaktik dan Pedagogik (ADP). Kedua, analisis metapedagogik yakni dengan melakukan tindakan didaktis dan pedagogis lanjutan berdasarkan hasil analisis respon siswa menuju pencapaian target pembelajaran. Ketiga analisis retrosfektif yakni analisis yang mengaitkan hasil analisis situasi didaktid hipotesis dengan hasil analsisis metapedagogik.
Orientasi proses berpikir sebelum pembelajaran berorientasi pada penjabaran tujuan pembelajaran yang berdampak pada proses penyiapan bahan ajar serta minimnya antisipasi yang bersifat didaktis atau mendidik. Hal ini tercermin dalam persipan yang dilakukan oleh guru melalui Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau Lesson Plan (LP) yang biasanya kurang mempertimbangkan keragaman respon siswa atas situasi didaktis yang dikembangkan, sehingga rangkaian situasi didaktis yang dikembangkan berikutnya kemungkinan besar tidak lagi sesuai dengan keragaman lintas belajar masing-masing siswa. Kurangnya antisipasi didaktis dalam LP dapat berdampak kurang optimalnya proses belajar masing-masing siswa karena hanya dikembangkan di luar jangkauan pemikiran guru, sehingga kesulitan belajar yang ,uncul beragam tidak direspon secara tepat bahkan tidak direspon sama sekali yang berakibat proses belajar tidak dapat terjadi.
Salah satu upaya guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran adalah melalui refleksi tentang keterkaitan rancangan dan proses pembelajaran yang dilakukan. Berdasarkan teori diktatis yang dikemukakan Brouseau[4], tindakan diktatis seorang guru dalam proses pembelajaran akan menciptakan sebuah situasi yang dapat menjadi titik awal terjadinya proses belajar. Meskipun situasi belum menciptakan proses belajar, akan tetapi dengan suatu pengondisian, misalnya dengan teknik scaffolding atau intervensi tidak langsung dengan pendekatan proses berpikir Anderson, sehingga proses tersebut mungkin terjadi dan proses berpikir siswa menjadi lebih terarah. Jika proses belajar terjadi, maka akan muncul situasi belajar baru yang diakibatkan respon siswa atas situasi sebelumnya. Situasi baru dapat berupa tunggal atau beragam tergantung dari milieu atau setting aktivitas belajar yang dirancang guru.
Guru juga harus mendorong terjadinya interaksi antar kelas (tindakan pedagogic) melalui akulturasi jika siswa mengalami kesulitan belajar atau belum mencapai kemandirian belajar (adaptasi). Selain itu, guru perlu melakukan prediksi dan antisipasinya yang dituangkan melalui LP. Prediksi tersebut sangat penting karena merupakan bagian dalam menciptakan situasi diktatis yang dinamis dalam menmbantu memudahkan proses berpikir siswa. Sedangkan antisipasi tidak hanya menyangkut hubungan siswa-materi, tetapi juga guru-siswa, baik individu maupun kelompok atau kelas.
SISWA
MATERI
GURU





                                                         



Gambar 1.1 Segitiga Didaktis

            Peran guru dalam segitiga didaktis yakni guru perlu mnguasai materi ajar dan pengetahuan lain, serta kemmapuan lain untuk menciptakan relasi didaktik (didactic relation) antara siswa dan materi sehingga tercipta suatu situasi didaktis ideal bagi siswa. Guru juga perlu menciptakan situasi didaktis (didactical situation) yang terjadi pada proses belajar dalam diri siswa (learning situation).
            Pada proses pembelajaran, guru memulai mengajar dengan konsep dan menyajikan masalah kontekstual atau permainan, sehingga akan tercipta situasi yang menjadi sumber informasi bagi siswa dan mendorong terjadinya ptoses belajar. Dalam proses belajar, siswa akan menjadi sumber informasi bagi guru. Guru merespon aksi siswa terhadap situasi didaktis siswa sebelumnya, sehingga akan menciptakan situasi didaktis baru yang bersifat dinamis; berubah dan berkembang selama proses pembelajaran. Pada akhirnya guru dan siswa akan saling belajar.                                                                   
                                                       


[1] Didi Suryadi dalam Seminar Pengembangan Pembelajaran  Berbasis Riset untuk  Membangun Karakter Mandiri bagi Pendidik dan Peserta didik di SMA Global Islamic Boarding School, 2017.
[2] Rekontekstualisasi yaitu memberikan pengalaman pemahaman konsep dalam situasi yang dikenal dengan make sense.
[3] Repersonalisasi yaitu memberikan pengalaman personal tentang suatu konsep, kaitan dengan konsep lain, kemanpuan tertentu yang bisa dibangun dengan konsep tersebut, serta alternatif learning trajectory.
[4] Brouseau, G. 1997. Theory of Didactical Situation in Mathematics. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers.

Saturday, November 12, 2016

Politik Arab dalam Kisah Pengorbanan Ismail



Kaum Muslim merayakan hari lebaran Idul Adha, festival kurban, untuk memperingati kepatuhan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah untuk menyembelih Ismail, putranya, dan kerelaan Ismail untuk dikorbankan. Al-Qur’an menekankan aspek ketaatan mereka dalam berserah diri kepada Tuhan.
Tapi, Kitab Suci kaum Muslim sesungguhnya tidak menyebut secara eksplisit identitas anak yang dikorbankan Ibrahim: Ismail atau Ishak? Para ahli tafsir (mufassir) modern memang berasumsi bahwa Ismail adalah anak yang dimaksud, kendati sumber-sumber tafsir awal mengindikasikan adanya perbedaan pendapat dalam soal tersebut.
Tulisan singkat ini hendak membongkar dimensi ideologi Arab dalam penisbatan anak yang dikorban (dzabih) sebagai Ismail. Namun, sebelum bicara propaganda Arab itu, kita tengok dahulu perbedaan pendapat dalam literatur tafsir awal.
Siapa yang Dikorbankan: Ismail atau Ishak?
Sumber-sumber Yahudi dan Kristen menyebut secara eksplisit bahwa Ishak adalah putra yang dikorbankan Ibrahim. Pengorbanan Ishak sebagaimana disebutkan dalam Kitab Kejadian pasal 22 telah dikomentari begitu detail dalam sumber-sumber Yahudi seperti Talmud, dan mengilhami pemuka-pemuka Kristen, dari Origen dan Ambrose hingga Gregory, Cyril (dari Alexandria) dan Agustinus (dari Hippo).
Berbeda dengan Alkitab, al-Qur’an tidak menyuguhkan kisah Ibrahim dan putranya secara detail. Barangkali al-Qur’an mengasumsikan audiensnya sudah mengetahui detail kisah tersebut, sehingga tujuan menarasikannya bukan untuk menyampaikan sebuah cerita. Namun demikian, fakta bahwa al-Qur’an tidak menyebut nama anak yang dikorbankan itu telah memunculkan beragam tafsir di kalangan Muslim awal.
Menarik dicatat, para mufassir awal cenderung menyebut Ishak sebagai anak yang dikorbankan, bukan Ismail. Muqatil b. Sulaiman (w.150/767), ahli tafsir paling awal yang karya utuh tafsirnya sampai kepada kita sekarang, secara tegas menyebut Ishak sebagai dzabih (anak yang disembelih).
Bahkan, hingga abad kesepuluh (atau keempat Hijriyah) jumlah riwayat yang pro-Ishak dan pro-Ismail masih berimbang. Hal itu dapat dilihat dalam tafsir al-Tabari (w.310/923), yang merekam beragam pendapat para ulama terdahulu. Dalam magnum opus-nya, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an, Tabari mencatat 17 riwayat yang mengidentifikasi Ishak sebagai korban. Dari sekian riwayat tersebut, misalnya, terdapat pernyataan para sahabat dan Tabi’in yang menyebut “al-dzabih huwa Ishaq” (yang disembelih ialah Ishak).
Pada sisi lain, Tabari menyebut 24 riwayat pro-Ismail, termasuk pernyataan yang dinisbatkan pada Nabi Muhammad. Yang menarik ialah Tabari sendiri memilih pendapat yang mengakui Ishak sebagai korban. Ia memulai pendapatnya dengan kalimat “awla al-qaulain bi al-shawab” (pendapat yang paling mendekati kebenaran di antara keduanya). Pertimbangan Tabari semata didasarkan pada makna tekstual dari al-Qur’an (‘ala dhahir al-tanzil).
Baru pada masa Ibnu Taimiyah (w.726/1328) dan dikukuhkan oleh muridnya, Ibnu Katsir (w.774/1373), pada abad keempat-belas, identifikasi korban sebagai Ismail mendapat pengakuan luas, dan diikuti kaum Muslim hingga sekarang.
Untuk mendukung pandangannya, Ibnu Taimiyah bukan hanya mengaitkan berbagai kisah Ibrahim dalam al-Qur’an, tapi juga merujuk pada Alkitab. Misalnya, ia berargumen bahwa Ibrahim diperintahkan untuk mengorbankan anak satu-satunya (Kitab Kejadian 22:2), tapi orang-orang Yahudi dan Kristen menambahkan nama Ishak. Tidak dijelaskan dari mana penambahan nama Ishak itu diperoleh.
Di tangan Ibnu Katsir, pandangan pro-Ismail dipromosikan sebagai paham ortodoksi. Pendapat yang berbeda dituduh “kidzb wa buhtan” (bohong dan dusta), yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam dan diambil dari cerita-cerita ahli kitab (isra’iliyat).
Di Balik Kemenangan Pro-Ismail
Tidak sulit untuk menelusuri adanya intrik politik Arab di balik pergeseran dari pro-Ishak menjadi pro-Ismail. Sebagaimana umum diketahui, dalam agama Yahudi dan Kristen, Ishak merupakan figur penting yang darinya lahir nabi-nabi. Ia juga diagungkan melebihi saudara-saudaranya, Ismail dan anak-anak Keturah, istri Ibrahim yang tidak disebutkan dalam al-Qur’an.
Dalam tradisi Islam, Ismail memainkan peran lebih menonjol dan penting dari figur Ishak. Sebenarnya keberadaan Ismail dalam al-Qur’an tidak terlalu signifikan, terkecuali bahwa ia digambarkan sebagai anak yang membantu Ibrahim membangun fondasi Ka’bah (Q. 2:127). Keduanya mengajarkan ritual haji yang kelak menjadi bagian dari rukun Islam. Walaupun peran Ismail masih berada di bawah Ibrahim, sumber-sumber Muslim di luar al-Qur’an menekankan keutamaan garis genealogi Ismail sehingga Nabi Muhammad pun diyakini sebagai keturunannya.
Salah satu aspek cukup menonjol dalam perkembangan identitas Ismail dalam sumber-sumber Muslim ialah posisinya sebagai bapak orang-orang Arab. Menurut ahli nasab, seluruh kaum Arab berasal dari keturunan satu di antara dua pendahulu mereka: Qathan dan Adnan. Yang pertama dianggap sebagai Arab asli, sebuah sebutan yang meliputi suku Jurhum.
Dalam sistem nasab yang disusun oleh Ibnu al-Kalbi (w.206/821) pada abad kesembilan dan kemudian diterima luas, Ismail disebut sebagai kakek-moyang suku-suku Arab utara yang dikenal dengan Adnan. Ismail kawin dengan wanita dari suku Jurhum, yang berafiliasi dengan kota Mekkah. Perkawinannya dengan wanita Jurhum telah menjadikan Ismail sebagai seorang Arab karena Jurhum termasuk dari Qathan, Arab asli dari selatan.
Rentetan genealogi di atas hendak memperlihatkan bahwa dalam figur Ismail bersatu suku-suku Arab kutub utara dan selatan, yang menjadi asal-muasal Quraisy – suku Arab yang melahirkan Nabi Muhammad. Walaupun Ismail berasal dari suku Adnan, proses Arabisasi Ismail menjadi sempurna melalui perkawinannya dengan wanita suku Jurhum.
Sistem nasab tersebut juga menggambarkan skema Arabisasi figur Bible Ismail yang tak lain adalah putra patriakh Ibrahim yang berasal dari kota Ur di lembah Babilonia. Para ahli nasab Muslim Arab telah menggabung-gabungkan sistem genealogi Arab pra-Islam dan narasi Alkitab untuk meng-Arab-kan Ismail dan menjadikannya kakek-moyang Nabi Muhammad.
Lalu, kapan “Ismail Arab” itu menjadi sentral dalam tradisi Islam? Berikut saya kutipkan pandangan Carol Bakhos dari Universitas California Los Angeles (UCLA), dalam The Family of Abraham (2014):
“It was when Islam traversed the borders of the Arabian peninsula and established itself in Persia that Ishmael’s prominence as the father of the Arabs became more intricately incorporated into the Islamic metanarrative.”
Gambaran tentang Ismail yang bias Arab itu, disadari atau tidak, juga memasuki ranah tafsir terkait anak Ibrahim yang dikorbankan. Ini sekadar satu contoh bagaimana penafsiran Kitab Suci juga bisa menjadi arena kontestasi ideologis guna mendukung tujuan teologis dan bahkan politik. Identifikasi Ismail sebagai anak Ibrahim yang dikorbankan jelas sarat muatan ideologis untuk meneguhkan superioritas Arab atas lainnya, yang dibungkus dengan argumen keagamaan.
Propaganda Arab itu membentuk dimensi keagamaan tertentu vis-à-vis Yahudi dan Kristen ketika rivalitas antar-agama semakin mengeras pada masa pertengahan, yang mencapai kulminasinya pada masa Ibnu Taimiyah dan Ibnu Katsir. Jika dalam tradisi Yahudi dan Kristen, Ishak merupakan figur penting bagi kesinambungan masyakarat kovenan, kaum Muslim menonjolkan Ismail sebagai putra kesayangan Ibrahim dalam kisah pengorbanan.
Demikianlah masyakarat diskursif terus berdebat apakah Ibrahim mengorbankan Ismail atau Ishak. Tapi, saya kira, semua orang sepakat, daging hewan kurban tetap enak rasanya, baik dimasak gule ataupun opor.

Tragedi Kecapi

Jadi, ceritanya Minggu lalu saya ke pasar Anjir setelah hampir setahun pindah rumah tidak kesana. Motivasinya sederhana ingin beli buah dan sayur karena di pasar Anjir terbilang super murah dan dapat banyak, terlebih yang jualan rata-rata orang Jawa yang lama transmigrasi ke Kalimantan. 

Minggu itu agak beda karena saya membawa krucil-krucil yang tidak bisa ditinggal. Sambil gendong Timi saya keliling mencari tomat, nangka, dan sirsak sesuai request Babah. 

Setelah mengelilingi seluruh pasar, iyah semua area pasar saya telusuri tidak ada satu pun yang jualan nangka. Amang bilang lagi tidak musim dan jarang laku kalaupun berjualan nangka. Okay, jadilah beli tomat buah setengah kilo karena lagi mehong hiks

Berikutnya, karena hanya ada satu acil yang berjualan sirsak itupun masih mentah, saya pun terpaksa beli dengan harapan dua hari setelah di-param sirsak akan matang dengan sempurna. 

Dalam perjalanan pulang, mata saya tertuju dengan buah kuning yang banyak dijual orang hari itu. Yup, kecapi. Buah khas Kalimantan yang kulitnya kuning agak berbulu, keras, dan asam rasanya. Namun, bukan buah kecapi yang disusun model segitiga, tetapi hanya sebiji buah kecapi teroggok di sudut tiang tempat acil berjualan gumbili (singkong). Hati saya galau seketika saat itu. Satu sisi menyuruh mengabaikan, sisi lainnya mendorong untuk mengambilnya. Eman, bisiknya lirih.

Entahlah, rupanya keinginan untuk mengambil kecapi tunggal itu ternyata lebih kuat. Spontan saya berbalik arah menuju tempat kecapi tunggal dan memungutnya begitu saja, tanpa babebo dengan acil atau pembeli lainnya. Dan, pluk, kecapi mendarat di tas belanja bergumul dengan sirsak mentah, tomat, dan kerupuk. 

Sesampai di rumah, kecapi saya belah dan hanya saya yang mencicipi. Babah dan krucil-krucil gak ada yang ngincip secuilpun. Kecapi sisa sebelah, karena tidak ada yang berminat saya simpan setengahnya di kulkas. 

Minggu itu, kami quality time seperti biasa. Bermain dan bercanda sambil makan kenyang sekeluarga. Subhanallah.... 
Alhamdulillah....


Tibalah Senin, seperti biasa saya dan Babah puasa. Scary Monday diawali dengan bangun kesiangan. Jadi gelabakan karena belum menyiapkan makan untuk Tomo dan Timi. Buru-buru saya pun berangkat ngantor. 

Di kantor, entahlah rasanya tiba-tiba badmood. Jadi malas bicara, akhirnya saya pake masker dan berusaha fokus pada pekerjaan. Tetapi, tetap saja namanya sudah badmood bisa seharian ini kalau sampai tidak ada mood buster *fiuh

Siang harinya, tiba-tiba hujan deras sekali. Saya izin untuk membayar PDAM karena jika lewat dari tengah bulan akan dikenakan denda tiga kali lipat dari denda bulan sebelumnya. Meski sudah memakai jas hujan tetap saja basah kuyup karena ternyata jas hujannya bolong. Hahahahaha....

Sesampai di kantor, ketika akan mematikan motor, tba-tiba melihat kunci motor hanya tinggal talinya saja. Omigod, kemanakah gerangan kunci motor ini huhuhu.... Jadilah copot busi. Pulangnya, minta tolong teman untuk memasang busi kembali karena motor masih posisi on dan pulang dengan perasaan campur aduk.

Babah heran kenapa kunci bisa hilang, sembari mencoba mematikan motor dengan kunci seadanya di rumah. Saya bilang tidak tahu. Lalu kami mengasumsikan barangkali nyangkut jas hujan atau apalah, tapi memang kunci mitirnya sudah longgar jadi suka lepas sendiri. hari itu tapi pas apes sudah lepas kuncinya hilang jua. 

Sebenarnya ini kali kedua kunci motor ilang secara gaib. Kunci motor yang hilang ini adalah kunci serepnya, sednagkan yang hilang sebelumnya adalah kunci asli. Hilang di kantor dengan tetap meninggalkan tali kuncinya. 

Selasa penuh balada pun datang. Saya sudah PD karena kunci sudah beres berkat Babah, namun begitu mau menggunakan motor kunci macet sama sekali tidak bisa digunakan. Akhirnya saya izin telat ngantor karena Babah meyakinkan dapat memperbaiki kuncinya. 

Tik tok tik tok. Waktu berlalu dan kunci belum selesai. Akhirnya kami memustuskan meminjam motor tetangga untuk mencari atau memanggil tukang kunci. Tenyata motor yang dipinjami tetangga limit bahan bakar dan tukang kunci terdekat tidak bisa. Omigod, all is well.... 

Sembari mengumpulkan kesabaran, perlahan motor kami bawa ke bengkel untuk membongkar kunci baru kemudian ke tukang kunci. Sembari menunggu kunci jadi, saya membuat pengakuan kepada Babah tentang kecapi. Meskipun tidak ada hubungannya sebenarnya antara kejadian naas yang saya alami dengan buah kecapi yang seolah-olah saya tumbalkan, tetapi menjadi penting pada akhirnya karena kejadian ini memberikan saya banyak pelajaran.

Alhamdulillah sampai tengah hari selesai juga akhirnya dan saya bergegas menuju kantor.

So, pesan moralnya adalah jangan mudah tergiur untuk mengambil sesuatu yang bukan milik kita, meskipun itu adalah sesuatu yang sepele. 

*nyesekbanget

Thursday, August 11, 2016

Direct Breast Feeding for Hope

Nameste,, ah ingin menyapa pagi ini ala-ala India, bukan karena saya penggemar Uttaran sih, tetapi supaya lebih powerfull menghadapi Senin ini yang lumayan menguras tenaga karena harus back to work

Iyah, saya adalah working mom, mengajar di sebuah sekolah swasta di suatu daerah di Kalimantan Selatan dengan waktu bekerja hampir 10 jam setiap harinya. Fiuh, melebihi PNS yah :D

Sebenarnya, ini bukan kali pertama, saya menyusui atau breastfeeding. Anak saya yang pertama, Gaza, Alhamdulillah lulus S3 ASI meskipun tidak sampai betul-betul pas pada usia dua tahun. 

Waktu menyapihnya pun saya Weaning With Love (WWL) karena waktu itu saya (tidak sadar) ternyata telah hamil 5 minggu. Barangkali rasa ASI-nya sudah lain, jadi perlahan, Gaza berhenti ngASIdengan sendirinya.

Nah, anak saya yang kedua, Hope (iyah namanya memang Hope asli sesuai akta kelahiran :D) memang agak unik karena hanya mau ngASI langsung dari ‘pabrik’nya. Uhm, apa yah istilahnya, Direct Breast Feeding kali yah hehehe 

Berkat keunikan Hope inilah, Mama Endut-nya (panggilan anak-anak kepada saya) sampai habut (kalang kabut) mencari cara untuk tetap dapat eksklusif menyusui tanpa mengganggu pekerjaan. 

Di tengah ke-habut-an dan masa kepepet itulah, Tuhan mengirimkan wahyuNya. Muncullah ide untuk minta izin untuk ngASI setiap istirahat makan siang, karena hanya satu waktu itulah yang paling representative selama all day long bekerja. Tentu saja, saya mohon restu dulu sama Babah (suamiku).

Alhamdulillah, setelah berdiskusi singkat, Babah yang juga Ayah ASI support banget dan tetap harus berhati-hati ketika sedang on the way.

Pagi itu juga, saya bergegas untuk membuat surat izin dan langsung ‘menodong’ atasan dan HRD. Alhamdulillah, rezeki anak sholeh. Yah, walaupun hanya dapat satu jam izin pulang untuk ngASI sih, tapi itu sudah Alhamdulillah banget. 

Jadilah, mulai siang hari itu juga, saya mengawali hari baru di siang bolong berjibaku dengan panas yang menggantang. Awalnya, sungguh capek rasanya, badan pegal-pegal semua. 

Namun, begitu tiba di rumah disambut dengan tawa riang anak-anak, letih dan panas itu sirnalah sudah. Sungguh tak berasa sedikitpun. Subhanallah…. 

Bukan tanpa alasan, rutinitas yang belakangan jadi hobi ini, tentu saja memiliki kisah tersendiri.

Ceritanya, kurang lebih satu bulan setelah melahirkan, saya coba untuk memerah ASI sebagai persiapan ketika nanti kembali bekerja pasca cuti melahirkan. 

Entahlah, setiap kali memerah ASI, baik waktu anak pertama dan anak kedua hasilnya pasti tidak terlalu banyak, padahal ASI saya melimpah ruah sampai banjir meskipun sudah menggunakan breast pad

Beberapa kali memerah ASI dan mencoba menyuapi Hope dengan berbagai metode, mulai dari cup feeder, sendok, dan bahkan dot, tetapi Hope-ku, lagaknya hanya mencicip saja tidak mau sama sekali. 

Tak hanya itu, Hope pun bisa melakukan gerakan penolakan dengan tangan mungilya--ditampel kalo kata orang Jawa--disertai mimik wajah masam pertanda bahwa ASIP itu tidak enak rasanya. 

Sempat frustasi ketika belum menemukan cara bagaimana mengatasi hal ini, hingga pada akhirnya menemukan ‘resep jitu’ itu. 

Alhamdulillah, hobi baru ini masih saya geluti sampai hari ini. Bismillah.. semangat menjadi pejuang ASI, meskipun sudah pernah terjatuh dari motor demi Direct Breast Feeding  for Hope

Saya selalu percaya, Tuhan selalu menyertai dan melindungi hambaNya yang sedang berjuang untuk melakukan hal mulia ini.

Apa yang saya lakukan ini, hanyalah secuil kisah dari para ibu-ibu pejuang ASI lainnya yang pasti lebih hebat dan tangguh. 

Semoga Hope ngASI sampi S3 yah.. Aamiin….

Semoga lebih banyak ibu-ibu yang lebih aware tentang Brest Feeding \(^_^)/ \(^_^)/ \(^_^)/