Stop Global Warming

Stop Global Warming
Pose ketika Hari Bumi 2010

Saturday, November 12, 2016

Politik Arab dalam Kisah Pengorbanan Ismail



Kaum Muslim merayakan hari lebaran Idul Adha, festival kurban, untuk memperingati kepatuhan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah untuk menyembelih Ismail, putranya, dan kerelaan Ismail untuk dikorbankan. Al-Qur’an menekankan aspek ketaatan mereka dalam berserah diri kepada Tuhan.
Tapi, Kitab Suci kaum Muslim sesungguhnya tidak menyebut secara eksplisit identitas anak yang dikorbankan Ibrahim: Ismail atau Ishak? Para ahli tafsir (mufassir) modern memang berasumsi bahwa Ismail adalah anak yang dimaksud, kendati sumber-sumber tafsir awal mengindikasikan adanya perbedaan pendapat dalam soal tersebut.
Tulisan singkat ini hendak membongkar dimensi ideologi Arab dalam penisbatan anak yang dikorban (dzabih) sebagai Ismail. Namun, sebelum bicara propaganda Arab itu, kita tengok dahulu perbedaan pendapat dalam literatur tafsir awal.
Siapa yang Dikorbankan: Ismail atau Ishak?
Sumber-sumber Yahudi dan Kristen menyebut secara eksplisit bahwa Ishak adalah putra yang dikorbankan Ibrahim. Pengorbanan Ishak sebagaimana disebutkan dalam Kitab Kejadian pasal 22 telah dikomentari begitu detail dalam sumber-sumber Yahudi seperti Talmud, dan mengilhami pemuka-pemuka Kristen, dari Origen dan Ambrose hingga Gregory, Cyril (dari Alexandria) dan Agustinus (dari Hippo).
Berbeda dengan Alkitab, al-Qur’an tidak menyuguhkan kisah Ibrahim dan putranya secara detail. Barangkali al-Qur’an mengasumsikan audiensnya sudah mengetahui detail kisah tersebut, sehingga tujuan menarasikannya bukan untuk menyampaikan sebuah cerita. Namun demikian, fakta bahwa al-Qur’an tidak menyebut nama anak yang dikorbankan itu telah memunculkan beragam tafsir di kalangan Muslim awal.
Menarik dicatat, para mufassir awal cenderung menyebut Ishak sebagai anak yang dikorbankan, bukan Ismail. Muqatil b. Sulaiman (w.150/767), ahli tafsir paling awal yang karya utuh tafsirnya sampai kepada kita sekarang, secara tegas menyebut Ishak sebagai dzabih (anak yang disembelih).
Bahkan, hingga abad kesepuluh (atau keempat Hijriyah) jumlah riwayat yang pro-Ishak dan pro-Ismail masih berimbang. Hal itu dapat dilihat dalam tafsir al-Tabari (w.310/923), yang merekam beragam pendapat para ulama terdahulu. Dalam magnum opus-nya, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an, Tabari mencatat 17 riwayat yang mengidentifikasi Ishak sebagai korban. Dari sekian riwayat tersebut, misalnya, terdapat pernyataan para sahabat dan Tabi’in yang menyebut “al-dzabih huwa Ishaq” (yang disembelih ialah Ishak).
Pada sisi lain, Tabari menyebut 24 riwayat pro-Ismail, termasuk pernyataan yang dinisbatkan pada Nabi Muhammad. Yang menarik ialah Tabari sendiri memilih pendapat yang mengakui Ishak sebagai korban. Ia memulai pendapatnya dengan kalimat “awla al-qaulain bi al-shawab” (pendapat yang paling mendekati kebenaran di antara keduanya). Pertimbangan Tabari semata didasarkan pada makna tekstual dari al-Qur’an (‘ala dhahir al-tanzil).
Baru pada masa Ibnu Taimiyah (w.726/1328) dan dikukuhkan oleh muridnya, Ibnu Katsir (w.774/1373), pada abad keempat-belas, identifikasi korban sebagai Ismail mendapat pengakuan luas, dan diikuti kaum Muslim hingga sekarang.
Untuk mendukung pandangannya, Ibnu Taimiyah bukan hanya mengaitkan berbagai kisah Ibrahim dalam al-Qur’an, tapi juga merujuk pada Alkitab. Misalnya, ia berargumen bahwa Ibrahim diperintahkan untuk mengorbankan anak satu-satunya (Kitab Kejadian 22:2), tapi orang-orang Yahudi dan Kristen menambahkan nama Ishak. Tidak dijelaskan dari mana penambahan nama Ishak itu diperoleh.
Di tangan Ibnu Katsir, pandangan pro-Ismail dipromosikan sebagai paham ortodoksi. Pendapat yang berbeda dituduh “kidzb wa buhtan” (bohong dan dusta), yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam dan diambil dari cerita-cerita ahli kitab (isra’iliyat).
Di Balik Kemenangan Pro-Ismail
Tidak sulit untuk menelusuri adanya intrik politik Arab di balik pergeseran dari pro-Ishak menjadi pro-Ismail. Sebagaimana umum diketahui, dalam agama Yahudi dan Kristen, Ishak merupakan figur penting yang darinya lahir nabi-nabi. Ia juga diagungkan melebihi saudara-saudaranya, Ismail dan anak-anak Keturah, istri Ibrahim yang tidak disebutkan dalam al-Qur’an.
Dalam tradisi Islam, Ismail memainkan peran lebih menonjol dan penting dari figur Ishak. Sebenarnya keberadaan Ismail dalam al-Qur’an tidak terlalu signifikan, terkecuali bahwa ia digambarkan sebagai anak yang membantu Ibrahim membangun fondasi Ka’bah (Q. 2:127). Keduanya mengajarkan ritual haji yang kelak menjadi bagian dari rukun Islam. Walaupun peran Ismail masih berada di bawah Ibrahim, sumber-sumber Muslim di luar al-Qur’an menekankan keutamaan garis genealogi Ismail sehingga Nabi Muhammad pun diyakini sebagai keturunannya.
Salah satu aspek cukup menonjol dalam perkembangan identitas Ismail dalam sumber-sumber Muslim ialah posisinya sebagai bapak orang-orang Arab. Menurut ahli nasab, seluruh kaum Arab berasal dari keturunan satu di antara dua pendahulu mereka: Qathan dan Adnan. Yang pertama dianggap sebagai Arab asli, sebuah sebutan yang meliputi suku Jurhum.
Dalam sistem nasab yang disusun oleh Ibnu al-Kalbi (w.206/821) pada abad kesembilan dan kemudian diterima luas, Ismail disebut sebagai kakek-moyang suku-suku Arab utara yang dikenal dengan Adnan. Ismail kawin dengan wanita dari suku Jurhum, yang berafiliasi dengan kota Mekkah. Perkawinannya dengan wanita Jurhum telah menjadikan Ismail sebagai seorang Arab karena Jurhum termasuk dari Qathan, Arab asli dari selatan.
Rentetan genealogi di atas hendak memperlihatkan bahwa dalam figur Ismail bersatu suku-suku Arab kutub utara dan selatan, yang menjadi asal-muasal Quraisy – suku Arab yang melahirkan Nabi Muhammad. Walaupun Ismail berasal dari suku Adnan, proses Arabisasi Ismail menjadi sempurna melalui perkawinannya dengan wanita suku Jurhum.
Sistem nasab tersebut juga menggambarkan skema Arabisasi figur Bible Ismail yang tak lain adalah putra patriakh Ibrahim yang berasal dari kota Ur di lembah Babilonia. Para ahli nasab Muslim Arab telah menggabung-gabungkan sistem genealogi Arab pra-Islam dan narasi Alkitab untuk meng-Arab-kan Ismail dan menjadikannya kakek-moyang Nabi Muhammad.
Lalu, kapan “Ismail Arab” itu menjadi sentral dalam tradisi Islam? Berikut saya kutipkan pandangan Carol Bakhos dari Universitas California Los Angeles (UCLA), dalam The Family of Abraham (2014):
“It was when Islam traversed the borders of the Arabian peninsula and established itself in Persia that Ishmael’s prominence as the father of the Arabs became more intricately incorporated into the Islamic metanarrative.”
Gambaran tentang Ismail yang bias Arab itu, disadari atau tidak, juga memasuki ranah tafsir terkait anak Ibrahim yang dikorbankan. Ini sekadar satu contoh bagaimana penafsiran Kitab Suci juga bisa menjadi arena kontestasi ideologis guna mendukung tujuan teologis dan bahkan politik. Identifikasi Ismail sebagai anak Ibrahim yang dikorbankan jelas sarat muatan ideologis untuk meneguhkan superioritas Arab atas lainnya, yang dibungkus dengan argumen keagamaan.
Propaganda Arab itu membentuk dimensi keagamaan tertentu vis-à-vis Yahudi dan Kristen ketika rivalitas antar-agama semakin mengeras pada masa pertengahan, yang mencapai kulminasinya pada masa Ibnu Taimiyah dan Ibnu Katsir. Jika dalam tradisi Yahudi dan Kristen, Ishak merupakan figur penting bagi kesinambungan masyakarat kovenan, kaum Muslim menonjolkan Ismail sebagai putra kesayangan Ibrahim dalam kisah pengorbanan.
Demikianlah masyakarat diskursif terus berdebat apakah Ibrahim mengorbankan Ismail atau Ishak. Tapi, saya kira, semua orang sepakat, daging hewan kurban tetap enak rasanya, baik dimasak gule ataupun opor.

Tragedi Kecapi

Jadi, ceritanya Minggu lalu saya ke pasar Anjir setelah hampir setahun pindah rumah tidak kesana. Motivasinya sederhana ingin beli buah dan sayur karena di pasar Anjir terbilang super murah dan dapat banyak, terlebih yang jualan rata-rata orang Jawa yang lama transmigrasi ke Kalimantan. 

Minggu itu agak beda karena saya membawa krucil-krucil yang tidak bisa ditinggal. Sambil gendong Timi saya keliling mencari tomat, nangka, dan sirsak sesuai request Babah. 

Setelah mengelilingi seluruh pasar, iyah semua area pasar saya telusuri tidak ada satu pun yang jualan nangka. Amang bilang lagi tidak musim dan jarang laku kalaupun berjualan nangka. Okay, jadilah beli tomat buah setengah kilo karena lagi mehong hiks

Berikutnya, karena hanya ada satu acil yang berjualan sirsak itupun masih mentah, saya pun terpaksa beli dengan harapan dua hari setelah di-param sirsak akan matang dengan sempurna. 

Dalam perjalanan pulang, mata saya tertuju dengan buah kuning yang banyak dijual orang hari itu. Yup, kecapi. Buah khas Kalimantan yang kulitnya kuning agak berbulu, keras, dan asam rasanya. Namun, bukan buah kecapi yang disusun model segitiga, tetapi hanya sebiji buah kecapi teroggok di sudut tiang tempat acil berjualan gumbili (singkong). Hati saya galau seketika saat itu. Satu sisi menyuruh mengabaikan, sisi lainnya mendorong untuk mengambilnya. Eman, bisiknya lirih.

Entahlah, rupanya keinginan untuk mengambil kecapi tunggal itu ternyata lebih kuat. Spontan saya berbalik arah menuju tempat kecapi tunggal dan memungutnya begitu saja, tanpa babebo dengan acil atau pembeli lainnya. Dan, pluk, kecapi mendarat di tas belanja bergumul dengan sirsak mentah, tomat, dan kerupuk. 

Sesampai di rumah, kecapi saya belah dan hanya saya yang mencicipi. Babah dan krucil-krucil gak ada yang ngincip secuilpun. Kecapi sisa sebelah, karena tidak ada yang berminat saya simpan setengahnya di kulkas. 

Minggu itu, kami quality time seperti biasa. Bermain dan bercanda sambil makan kenyang sekeluarga. Subhanallah.... 
Alhamdulillah....


Tibalah Senin, seperti biasa saya dan Babah puasa. Scary Monday diawali dengan bangun kesiangan. Jadi gelabakan karena belum menyiapkan makan untuk Tomo dan Timi. Buru-buru saya pun berangkat ngantor. 

Di kantor, entahlah rasanya tiba-tiba badmood. Jadi malas bicara, akhirnya saya pake masker dan berusaha fokus pada pekerjaan. Tetapi, tetap saja namanya sudah badmood bisa seharian ini kalau sampai tidak ada mood buster *fiuh

Siang harinya, tiba-tiba hujan deras sekali. Saya izin untuk membayar PDAM karena jika lewat dari tengah bulan akan dikenakan denda tiga kali lipat dari denda bulan sebelumnya. Meski sudah memakai jas hujan tetap saja basah kuyup karena ternyata jas hujannya bolong. Hahahahaha....

Sesampai di kantor, ketika akan mematikan motor, tba-tiba melihat kunci motor hanya tinggal talinya saja. Omigod, kemanakah gerangan kunci motor ini huhuhu.... Jadilah copot busi. Pulangnya, minta tolong teman untuk memasang busi kembali karena motor masih posisi on dan pulang dengan perasaan campur aduk.

Babah heran kenapa kunci bisa hilang, sembari mencoba mematikan motor dengan kunci seadanya di rumah. Saya bilang tidak tahu. Lalu kami mengasumsikan barangkali nyangkut jas hujan atau apalah, tapi memang kunci mitirnya sudah longgar jadi suka lepas sendiri. hari itu tapi pas apes sudah lepas kuncinya hilang jua. 

Sebenarnya ini kali kedua kunci motor ilang secara gaib. Kunci motor yang hilang ini adalah kunci serepnya, sednagkan yang hilang sebelumnya adalah kunci asli. Hilang di kantor dengan tetap meninggalkan tali kuncinya. 

Selasa penuh balada pun datang. Saya sudah PD karena kunci sudah beres berkat Babah, namun begitu mau menggunakan motor kunci macet sama sekali tidak bisa digunakan. Akhirnya saya izin telat ngantor karena Babah meyakinkan dapat memperbaiki kuncinya. 

Tik tok tik tok. Waktu berlalu dan kunci belum selesai. Akhirnya kami memustuskan meminjam motor tetangga untuk mencari atau memanggil tukang kunci. Tenyata motor yang dipinjami tetangga limit bahan bakar dan tukang kunci terdekat tidak bisa. Omigod, all is well.... 

Sembari mengumpulkan kesabaran, perlahan motor kami bawa ke bengkel untuk membongkar kunci baru kemudian ke tukang kunci. Sembari menunggu kunci jadi, saya membuat pengakuan kepada Babah tentang kecapi. Meskipun tidak ada hubungannya sebenarnya antara kejadian naas yang saya alami dengan buah kecapi yang seolah-olah saya tumbalkan, tetapi menjadi penting pada akhirnya karena kejadian ini memberikan saya banyak pelajaran.

Alhamdulillah sampai tengah hari selesai juga akhirnya dan saya bergegas menuju kantor.

So, pesan moralnya adalah jangan mudah tergiur untuk mengambil sesuatu yang bukan milik kita, meskipun itu adalah sesuatu yang sepele. 

*nyesekbanget

Thursday, August 11, 2016

Direct Breast Feeding for Hope

Nameste,, ah ingin menyapa pagi ini ala-ala India, bukan karena saya penggemar Uttaran sih, tetapi supaya lebih powerfull menghadapi Senin ini yang lumayan menguras tenaga karena harus back to work

Iyah, saya adalah working mom, mengajar di sebuah sekolah swasta di suatu daerah di Kalimantan Selatan dengan waktu bekerja hampir 10 jam setiap harinya. Fiuh, melebihi PNS yah :D

Sebenarnya, ini bukan kali pertama, saya menyusui atau breastfeeding. Anak saya yang pertama, Gaza, Alhamdulillah lulus S3 ASI meskipun tidak sampai betul-betul pas pada usia dua tahun. 

Waktu menyapihnya pun saya Weaning With Love (WWL) karena waktu itu saya (tidak sadar) ternyata telah hamil 5 minggu. Barangkali rasa ASI-nya sudah lain, jadi perlahan, Gaza berhenti ngASIdengan sendirinya.

Nah, anak saya yang kedua, Hope (iyah namanya memang Hope asli sesuai akta kelahiran :D) memang agak unik karena hanya mau ngASI langsung dari ‘pabrik’nya. Uhm, apa yah istilahnya, Direct Breast Feeding kali yah hehehe 

Berkat keunikan Hope inilah, Mama Endut-nya (panggilan anak-anak kepada saya) sampai habut (kalang kabut) mencari cara untuk tetap dapat eksklusif menyusui tanpa mengganggu pekerjaan. 

Di tengah ke-habut-an dan masa kepepet itulah, Tuhan mengirimkan wahyuNya. Muncullah ide untuk minta izin untuk ngASI setiap istirahat makan siang, karena hanya satu waktu itulah yang paling representative selama all day long bekerja. Tentu saja, saya mohon restu dulu sama Babah (suamiku).

Alhamdulillah, setelah berdiskusi singkat, Babah yang juga Ayah ASI support banget dan tetap harus berhati-hati ketika sedang on the way.

Pagi itu juga, saya bergegas untuk membuat surat izin dan langsung ‘menodong’ atasan dan HRD. Alhamdulillah, rezeki anak sholeh. Yah, walaupun hanya dapat satu jam izin pulang untuk ngASI sih, tapi itu sudah Alhamdulillah banget. 

Jadilah, mulai siang hari itu juga, saya mengawali hari baru di siang bolong berjibaku dengan panas yang menggantang. Awalnya, sungguh capek rasanya, badan pegal-pegal semua. 

Namun, begitu tiba di rumah disambut dengan tawa riang anak-anak, letih dan panas itu sirnalah sudah. Sungguh tak berasa sedikitpun. Subhanallah…. 

Bukan tanpa alasan, rutinitas yang belakangan jadi hobi ini, tentu saja memiliki kisah tersendiri.

Ceritanya, kurang lebih satu bulan setelah melahirkan, saya coba untuk memerah ASI sebagai persiapan ketika nanti kembali bekerja pasca cuti melahirkan. 

Entahlah, setiap kali memerah ASI, baik waktu anak pertama dan anak kedua hasilnya pasti tidak terlalu banyak, padahal ASI saya melimpah ruah sampai banjir meskipun sudah menggunakan breast pad

Beberapa kali memerah ASI dan mencoba menyuapi Hope dengan berbagai metode, mulai dari cup feeder, sendok, dan bahkan dot, tetapi Hope-ku, lagaknya hanya mencicip saja tidak mau sama sekali. 

Tak hanya itu, Hope pun bisa melakukan gerakan penolakan dengan tangan mungilya--ditampel kalo kata orang Jawa--disertai mimik wajah masam pertanda bahwa ASIP itu tidak enak rasanya. 

Sempat frustasi ketika belum menemukan cara bagaimana mengatasi hal ini, hingga pada akhirnya menemukan ‘resep jitu’ itu. 

Alhamdulillah, hobi baru ini masih saya geluti sampai hari ini. Bismillah.. semangat menjadi pejuang ASI, meskipun sudah pernah terjatuh dari motor demi Direct Breast Feeding  for Hope

Saya selalu percaya, Tuhan selalu menyertai dan melindungi hambaNya yang sedang berjuang untuk melakukan hal mulia ini.

Apa yang saya lakukan ini, hanyalah secuil kisah dari para ibu-ibu pejuang ASI lainnya yang pasti lebih hebat dan tangguh. 

Semoga Hope ngASI sampi S3 yah.. Aamiin….

Semoga lebih banyak ibu-ibu yang lebih aware tentang Brest Feeding \(^_^)/ \(^_^)/ \(^_^)/






TAMYIIZ

Banyak orang bertanya, kapan sebaiknya kita menyiapkan anak untuk menghadapi masa pubertas? Jawaban simple saya adalah, ketika anak ada pada usia tamyiiz.
 
Apa itu tamyiiz?
 
Tamyiiz secara bahasa berarti memilih, dan secara istilah yaitu masa di mana anak sudah bisa membedakan dan berkomunikasi dengan jelas antara sesama atau dengan orang dewasa. Tidak ada umur tertentu dalam tamyiiz, tapi kebanyakan mulai usia 7 tahun, bahkan menurut Ibnu Qayyim al Jauziyyah ada juga yang mulai fase tamyiiz di usia 5 tahun.
 
Dalam usia tamyiiz inilah seorang anak sudah diajarkan untuk shalat, dan ketika sel-sel otak sudah lebih tersambungkan di usia 10 tahun anak-anak sudah mulai diberikan corrective action ketika mulai mulai melalaikan shalat.
 
Di masa tamyiiz, anak-anak sudah menjadi manusia yang hampir sempurna karena, apalagi dengan kemajuan teknologi yang membuat pengetahuan lebih accessible, perkembangan kognitif anak pun lebih cepat dari generasi sebelumnya. Mumayyiz, istilah untuk anak yang masuk masa tamyiz, dikatakan hampir sempurna karena organ seksual mereka belum tumbuh sebagai orang dewasa, atau dengan kata lain belum melalui masa pubertas atau baligh.
 
Menangani masa tamyiiz, ada selalu ada dua group ekstrim orang tua, group pertama adalah orang tua yang menganggap anak sudah sempurna dan bisa ditinggalkan begitu saja tanpa pengawasan, karena mengira bahwa anak sudah bisa memilih sendiri mana yang baik mana yang buruk. Group ekstrim ke dua adalah orang yang masih menganggap mereka anak-anak yang tidak tahu apa-apa dan tidak akan ingat apa–apa, sehingga masih diperlakukan seperti anak-anak balita.
 
Kelompok mumayyiz ini sejatinya adalah kelompok umur yang sangat penting, karena apa yang mereka alami saat ini akan memengaruhi masa depan mereka. Bahkan para ahli fiqh terdahulu banyak memasukkan perdebatan tentang konsekwensi hukum Islam bagi mumayyiz dalam banyak hal, diantara adalah hukum berimam shalat dengan mumayyiz, hukum Islam dan murtadnya mumayyiz, hukum klaim mumayyiz yang mengaku melihat bulan awal Ramadhan dan masih banyak lagi. Dalam kesempatan ini ada beberapa catatan bagi orang tua anak yang sudah menginjak usia tamyiiz. 
 
Pertama: Walaupun cara berfikir dan komunikasi yang mulai nyambung dengan orang dewasa, anak-anak mumayyiz masih perlu diberikan pengawasan dan bimbingan. Jangan pernah bosan untuk mengingatkan, jangan lupa untuk memberikan anak waktu untuk bisa mengungkapkan perasaannya, dan tunjukkan bahwa anda menerima perasaannya. 
 
Kedua: Hindari berbohong dengan anak mumayyiz, karena akan berdampak negatif kepada anak, selain mendidiknya menjadi seorang pembohong, juga karena sesungguhnya anak akan mendapatkan jawaban yang ia tanyakan cepat atau lambat, dan pada saat ia menemukan anda berbohong sangat sulit untuk mendapatkan kepercayaan anak kembali.
 
Ketiga: Anak usia tamyiiz membutuhkan banyak waktu untuk ekplorasi bermain di luar rumah bersama teman-teman, untuk itu, lingkungan yang steril bagi sangat mereka perlukan agar tidak terpengaruh dengan tekanan lingkungan.
 
Keempat: Anak mumayyiz sudah bisa membedakan aurat lelaki dan perempuan, karena itu jangan pernah memakai pakaian minim di rumah. Di samping itu, Al Qur’an mengajarkan bahwa anak yang sudah masuk masa tamyiiz harus diajarkan untuk menghormati privasi kedua orang tua mereka dengan cara meminta izin ketika memasuki kamar orang tua di tiga waktu: setelah isya’, sebelum shubuh dan setelah zhuhur (Annur:58). Untuk itu, seorang ibu sepatutnya menjauhi memakai pakaian yang minim di hadapan anak lelaki yang sudah masuk usia tamyiiz, dan sebaliknya juga ayah harus menjaga auratnya di hadapan anak perempuannya yang masuk usia tamyiiz.
 
Kelima: Di usia inilah pengetahuan tentang pubertas sudah bisa diperkenalkan, tentunya orang tua harus menambah wawasan tentang pubertas dan konsekuensinya. Tentunya dengan porsi yang sesuai dan berkelanjutan. 
 
Insya Allah, seandainya kita persiapkan anak-anak kita untuk menghadapi pubertas dengan baik, maka mereka akan mengarungi dunia dewasa tanpa turbulensi sehingga mampu menjadi seorang mukallaf yang bertanggung jawab.