Stop Global Warming

Stop Global Warming
Pose ketika Hari Bumi 2010

Thursday, August 11, 2016

Direct Breast Feeding for Hope

Nameste,, ah ingin menyapa pagi ini ala-ala India, bukan karena saya penggemar Uttaran sih, tetapi supaya lebih powerfull menghadapi Senin ini yang lumayan menguras tenaga karena harus back to work

Iyah, saya adalah working mom, mengajar di sebuah sekolah swasta di suatu daerah di Kalimantan Selatan dengan waktu bekerja hampir 10 jam setiap harinya. Fiuh, melebihi PNS yah :D

Sebenarnya, ini bukan kali pertama, saya menyusui atau breastfeeding. Anak saya yang pertama, Gaza, Alhamdulillah lulus S3 ASI meskipun tidak sampai betul-betul pas pada usia dua tahun. 

Waktu menyapihnya pun saya Weaning With Love (WWL) karena waktu itu saya (tidak sadar) ternyata telah hamil 5 minggu. Barangkali rasa ASI-nya sudah lain, jadi perlahan, Gaza berhenti ngASIdengan sendirinya.

Nah, anak saya yang kedua, Hope (iyah namanya memang Hope asli sesuai akta kelahiran :D) memang agak unik karena hanya mau ngASI langsung dari ‘pabrik’nya. Uhm, apa yah istilahnya, Direct Breast Feeding kali yah hehehe 

Berkat keunikan Hope inilah, Mama Endut-nya (panggilan anak-anak kepada saya) sampai habut (kalang kabut) mencari cara untuk tetap dapat eksklusif menyusui tanpa mengganggu pekerjaan. 

Di tengah ke-habut-an dan masa kepepet itulah, Tuhan mengirimkan wahyuNya. Muncullah ide untuk minta izin untuk ngASI setiap istirahat makan siang, karena hanya satu waktu itulah yang paling representative selama all day long bekerja. Tentu saja, saya mohon restu dulu sama Babah (suamiku).

Alhamdulillah, setelah berdiskusi singkat, Babah yang juga Ayah ASI support banget dan tetap harus berhati-hati ketika sedang on the way.

Pagi itu juga, saya bergegas untuk membuat surat izin dan langsung ‘menodong’ atasan dan HRD. Alhamdulillah, rezeki anak sholeh. Yah, walaupun hanya dapat satu jam izin pulang untuk ngASI sih, tapi itu sudah Alhamdulillah banget. 

Jadilah, mulai siang hari itu juga, saya mengawali hari baru di siang bolong berjibaku dengan panas yang menggantang. Awalnya, sungguh capek rasanya, badan pegal-pegal semua. 

Namun, begitu tiba di rumah disambut dengan tawa riang anak-anak, letih dan panas itu sirnalah sudah. Sungguh tak berasa sedikitpun. Subhanallah…. 

Bukan tanpa alasan, rutinitas yang belakangan jadi hobi ini, tentu saja memiliki kisah tersendiri.

Ceritanya, kurang lebih satu bulan setelah melahirkan, saya coba untuk memerah ASI sebagai persiapan ketika nanti kembali bekerja pasca cuti melahirkan. 

Entahlah, setiap kali memerah ASI, baik waktu anak pertama dan anak kedua hasilnya pasti tidak terlalu banyak, padahal ASI saya melimpah ruah sampai banjir meskipun sudah menggunakan breast pad

Beberapa kali memerah ASI dan mencoba menyuapi Hope dengan berbagai metode, mulai dari cup feeder, sendok, dan bahkan dot, tetapi Hope-ku, lagaknya hanya mencicip saja tidak mau sama sekali. 

Tak hanya itu, Hope pun bisa melakukan gerakan penolakan dengan tangan mungilya--ditampel kalo kata orang Jawa--disertai mimik wajah masam pertanda bahwa ASIP itu tidak enak rasanya. 

Sempat frustasi ketika belum menemukan cara bagaimana mengatasi hal ini, hingga pada akhirnya menemukan ‘resep jitu’ itu. 

Alhamdulillah, hobi baru ini masih saya geluti sampai hari ini. Bismillah.. semangat menjadi pejuang ASI, meskipun sudah pernah terjatuh dari motor demi Direct Breast Feeding  for Hope

Saya selalu percaya, Tuhan selalu menyertai dan melindungi hambaNya yang sedang berjuang untuk melakukan hal mulia ini.

Apa yang saya lakukan ini, hanyalah secuil kisah dari para ibu-ibu pejuang ASI lainnya yang pasti lebih hebat dan tangguh. 

Semoga Hope ngASI sampi S3 yah.. Aamiin….

Semoga lebih banyak ibu-ibu yang lebih aware tentang Brest Feeding \(^_^)/ \(^_^)/ \(^_^)/






TAMYIIZ

Banyak orang bertanya, kapan sebaiknya kita menyiapkan anak untuk menghadapi masa pubertas? Jawaban simple saya adalah, ketika anak ada pada usia tamyiiz.
 
Apa itu tamyiiz?
 
Tamyiiz secara bahasa berarti memilih, dan secara istilah yaitu masa di mana anak sudah bisa membedakan dan berkomunikasi dengan jelas antara sesama atau dengan orang dewasa. Tidak ada umur tertentu dalam tamyiiz, tapi kebanyakan mulai usia 7 tahun, bahkan menurut Ibnu Qayyim al Jauziyyah ada juga yang mulai fase tamyiiz di usia 5 tahun.
 
Dalam usia tamyiiz inilah seorang anak sudah diajarkan untuk shalat, dan ketika sel-sel otak sudah lebih tersambungkan di usia 10 tahun anak-anak sudah mulai diberikan corrective action ketika mulai mulai melalaikan shalat.
 
Di masa tamyiiz, anak-anak sudah menjadi manusia yang hampir sempurna karena, apalagi dengan kemajuan teknologi yang membuat pengetahuan lebih accessible, perkembangan kognitif anak pun lebih cepat dari generasi sebelumnya. Mumayyiz, istilah untuk anak yang masuk masa tamyiz, dikatakan hampir sempurna karena organ seksual mereka belum tumbuh sebagai orang dewasa, atau dengan kata lain belum melalui masa pubertas atau baligh.
 
Menangani masa tamyiiz, ada selalu ada dua group ekstrim orang tua, group pertama adalah orang tua yang menganggap anak sudah sempurna dan bisa ditinggalkan begitu saja tanpa pengawasan, karena mengira bahwa anak sudah bisa memilih sendiri mana yang baik mana yang buruk. Group ekstrim ke dua adalah orang yang masih menganggap mereka anak-anak yang tidak tahu apa-apa dan tidak akan ingat apa–apa, sehingga masih diperlakukan seperti anak-anak balita.
 
Kelompok mumayyiz ini sejatinya adalah kelompok umur yang sangat penting, karena apa yang mereka alami saat ini akan memengaruhi masa depan mereka. Bahkan para ahli fiqh terdahulu banyak memasukkan perdebatan tentang konsekwensi hukum Islam bagi mumayyiz dalam banyak hal, diantara adalah hukum berimam shalat dengan mumayyiz, hukum Islam dan murtadnya mumayyiz, hukum klaim mumayyiz yang mengaku melihat bulan awal Ramadhan dan masih banyak lagi. Dalam kesempatan ini ada beberapa catatan bagi orang tua anak yang sudah menginjak usia tamyiiz. 
 
Pertama: Walaupun cara berfikir dan komunikasi yang mulai nyambung dengan orang dewasa, anak-anak mumayyiz masih perlu diberikan pengawasan dan bimbingan. Jangan pernah bosan untuk mengingatkan, jangan lupa untuk memberikan anak waktu untuk bisa mengungkapkan perasaannya, dan tunjukkan bahwa anda menerima perasaannya. 
 
Kedua: Hindari berbohong dengan anak mumayyiz, karena akan berdampak negatif kepada anak, selain mendidiknya menjadi seorang pembohong, juga karena sesungguhnya anak akan mendapatkan jawaban yang ia tanyakan cepat atau lambat, dan pada saat ia menemukan anda berbohong sangat sulit untuk mendapatkan kepercayaan anak kembali.
 
Ketiga: Anak usia tamyiiz membutuhkan banyak waktu untuk ekplorasi bermain di luar rumah bersama teman-teman, untuk itu, lingkungan yang steril bagi sangat mereka perlukan agar tidak terpengaruh dengan tekanan lingkungan.
 
Keempat: Anak mumayyiz sudah bisa membedakan aurat lelaki dan perempuan, karena itu jangan pernah memakai pakaian minim di rumah. Di samping itu, Al Qur’an mengajarkan bahwa anak yang sudah masuk masa tamyiiz harus diajarkan untuk menghormati privasi kedua orang tua mereka dengan cara meminta izin ketika memasuki kamar orang tua di tiga waktu: setelah isya’, sebelum shubuh dan setelah zhuhur (Annur:58). Untuk itu, seorang ibu sepatutnya menjauhi memakai pakaian yang minim di hadapan anak lelaki yang sudah masuk usia tamyiiz, dan sebaliknya juga ayah harus menjaga auratnya di hadapan anak perempuannya yang masuk usia tamyiiz.
 
Kelima: Di usia inilah pengetahuan tentang pubertas sudah bisa diperkenalkan, tentunya orang tua harus menambah wawasan tentang pubertas dan konsekuensinya. Tentunya dengan porsi yang sesuai dan berkelanjutan. 
 
Insya Allah, seandainya kita persiapkan anak-anak kita untuk menghadapi pubertas dengan baik, maka mereka akan mengarungi dunia dewasa tanpa turbulensi sehingga mampu menjadi seorang mukallaf yang bertanggung jawab.


MGMP Sejarah Batola

Finally, ada Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah se-Barito Kuala dan perdana ikut menjadi bagian di dalamnya :D 

MGMP Sejarah perdana pada 2016 diadakan di SMAN 1 Anjir Pasar yang memerlukan waktu sekitar 30 menit dari sekolah kami di Sungai Lumbah. Kami, saya dan rekan saya, berangkat bersama untuk bergabung dan sharing berbagai hal terkait Sejarah.

Agenda perdana yang kami lakukan adalah mereorganisai kepengurusan MGMP Sejarah Batola, kemudian membuat soal untuk persiapan Ujian Akhir Sekolah (UAS) Mapel Sejarah dan persiapan membuat Penelitian Tindakan Kelas (PTK). 

Pembuatan soal sepertinya akan memakan waktu yang lumayan lama, mengingat setiap sekolah kami menggunakan kurikulum yang bervariasi. Beberapa diantaranya menggunakan K-13 penuh dari kelas X-XII. Ada pula yang masih full KTSP dan gabungan keduanya, seperti yang dilakukan SMA GIBS, K-13 untuk kelas X dan KTSP untuk kelas XI-XII. 

Akhirnya, setelah kami musyawarah, kami sepakat untuk membentuk tim yang mewakili masing-masing kelompok kelas dan kurikulum yang terdiri dri 4-6 orang guru. Setelah itu, agenda berikutnya sharing dan silaturahim bersama. 

Agenda MGMP perdana diakhiri dengan penentuan tempat dan hst MGMP Sejarah minggu berikutnya. Berdasarkan hasil rapat, SMA GIBS ditunjuk sebagai tuan rumah berikutnya. Kami pun saling iuran untuk menyiapkan konsumsi secara mandi sembari menunggu pendanaan dari Provinsi.

Bravo MGMP Sejarah Batola. :)

Monday, August 1, 2016

‘Islam Kaset’ dengan Kebisingannya

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid

SUARA bising yang keluar dari kaset biasanya dihubungkan dengan musik kaum remaja. Rock ataupun soul, iringan musiknya dianggap tidak bonafide kalau tidak ramai.

Kalaupun ada unsur keagamaan dalam kaset, biasanya justru dalam bentuk yang lembut. Sekian buah baladanya Trio Bimbo, atau lagu-lagu rohani dari kalangan gereja. Sudah tentu tidak ada yang mau membeli kalau ada kaset berisikan musik agama yang berdentang-dentang, dengan teriakan yang tidak mudah dimengerti apa maksudnya.

Tetapi ternyata ada “persembahan” berirama, yang menampilkan suara lantang. Bukan musik keagamaan, tetapi justru bagian integral dari upacara keagamaan: berjenis-jenis seruan untuk beribadat, dilontarkan dari menara-menara masjid dan atap surau.

Apalagi malam hari, lepas tengah malam di saat orang sedang tidur lelap. Dari tarhim (anjuran bangun malam untuk menyongsong saat shalat subuh) hingga bacaan Quran dalam volume yang diatur setinggi mungkin. Barangkali saja agar lebih “terasa” akibatnya: kalau sudah tidak dapat terus tidur karena hiruk-pikuk itu, bukankah memang lebih baik bangun, mengambil air sembahyang dan langsung ke masjid?

Bacaan Al Quran, tarhim dan sederet pengumuman, muncul dari keinginan menginsafkan kaum musilimin agar berperilaku keagamaan lebih baik. Bukankah shalat subuh adalah kewajiban? Bukankah kalau dibiarkan tidur orang lalu meninggalkan kewajiban? Bukankah meninggalkan kewajiban termasuk dosa? Bukankah membiarkan dosa berlangsung tanpa koreksi adalah dosa juga? Kalau memang suara lantang yang mengganggu tidur itu tidak dapat diterima sebagai seruan kebajikan (amar ma’ruf), bukankah minimal ia berfungsi mencegah kesalahan(nahi munkar)?

Sepintas lalu memang dapat diterima argumentasi skolastik seperti itu. Ia bertolak dari beberapa dasar yang sudah diterima sebagai kebenaran: kewajiban bersembahyang, kewajiban menegur kesalahan dan menyerukan kebaikan. Kalau ada yang berkeberatan, tentu orang itu tidak mengerti kebenaran agama. Atau justru mungkin meragukan kebenaran Islam? Undang-undang negara tidak melarang. Perintah agama justru menjadi motifnya. Apa lagi yang harus dipersoalkan? Kebutuhan manusiawi bagaimanapun harus mengalah kepada kebenaran Ilahi. Padahal, mempersoalkan hal itu se benarnya juga menyangkut masalah agama sendiri.

Mengapa diganggu?

Nabi Muhammad mengatakan, kewajiban (agama) terhapus dari tiga macam manusia: mereka yang gila (hingga sembuh), mereka yang mabuk (hingga sadar), dan mereka yan tidur (hingga bangun). Selama ia masih tidur, seseorang tidak terbebani kewajiban apa pun. Allah sendiri telah menyedia kan “mekanisme” pengaturan bangun dan tidurnya manusia. dalam bentuk metabolisme badan kita sendiri.

Jadi tidak ada alasan untuk membangunkan orang yang sedang tidur agar bersembahyang –keculai ada sebab yang sah menurut agama, dikenal dengan nama ‘illat. Ada kiai yang menotok pintu tiap kamar di pesantrennya untuk membangunkan para santri. ‘Illat-nya: menumbuhkan keiasaan baik bangun pagi, selama mereka masih di bawah tanggung jawabnya. Istri membangunkan suaminya untuk hal yang sama, karena memang ada ‘illat: bukankah sang suami harus menjadi teladan anak-anak dan istrinya di lingkungan rumah tangganya sendiri?

Tetapi ‘illat tidak dapat dipukul rata. Harus ada penjagaan untuk mereka yang tidak terkena kewajiban: orang jompo yang memerlukan kepulasan tidur, jangan sampai tersentak. Wanita yang haid jelas tidak terkena wajib sembahyang. Tetapi mengapa mereka harus diganggu? Juga anak-anak yang belum akil baligh (atau tamyiz, sekitar umur tujuh delapan tahunan, menurut sebagian ahli fiqh mazhab Syafi’i).

Tidak bergunalah rasanya memperpanjang illustrasi seperti itu: akal sehat cukup sebagai landasan peninjauan kembali “kebijaksanaan” suara lantang di tengah malam — apalagi kalau didahului tarhim dan bacaan Al Quran yang berkepanjangan. Apalagi, kalau teknologi seruan bersuara lantang di alam buta itu hanya menggunakan kaset! Sedang pengurus masjidnya sendiri tenteram tidur di rumah.

TEMPO, 20 Februari 1982

Repost from FB: Ali Haidar