Stop Global Warming

Stop Global Warming
Pose ketika Hari Bumi 2010

Thursday, October 30, 2014

Golek Iwak Wong Jonegoro

  
Golek Iwak (dokumentasi pribadi)

Gambar di atas adalah aktivitas warga di kampung halaman saya di Bojonegoro. Mereka sedang asyik Golek Iwak (mencari ikan) di sungai ketika musim pancaroba tiba. Mendekati musim kemarau sungai akan mengering. Kejadian ini lumrah terjadi di Bojonegoro, sehingga tidak heran Bojonegoro selalu mengalami kekeringan setiap musim kemarau tiba. Hal ini didukung topografi Bojonegoro berada di daerah kapur dengan kontur tanah bergerak. 

Golek Iwak menjadi semacam ritual tahunan bagi wong Jonegoro (sebutan khusus bagi warga Bojonegoro). Mereka menangkap ikan secara tradisional menggunakan samber (jala kecil), alat pancing, bambu kecil yang panjang, dan tangan. Ikan yang peroleh semua adalah ikan tawar, mulai dari ikan wader, udang, ikan gabus, ikan sili, dan beberapa jenis kerang atau kijing.Masyarakat di sana memang memelihara lingkungan karena sungai ayau Dung masih dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari sehingga menjadi penting untuk menjaga sungai tetap bersih.

Golek Iwak menjadi penting karena ikan hasil tangkapan selain berguna untuk lauk juga dapat dijual. Tradisi ini juga sarat pesan positif karena mampu mempererat ikatan silaturahim antar warga desa. Teknologi tradisional yang digunakan memuat pesan untuk tetap menjaga lingkungan tetap bersih dan terhindar dari pencemaran zat-zat kimia.

Ilmu Politik Sengkuni vs Machiavelli

Saya adalah fans Gunawan Muhammad. Sastrawn dan budayawan ini sarat dengan ide-ide amazing yang selalu mengundang decup kagum. Ini kali masih oleh-oleh dari Tempo edisi 2 Nvember 2014. Saya mencoba me-review sedikit sebuah 'Catatan Pinggir'. Judulnya sangat menarik “sengkuni” sesuai dengan tokoh antagonis yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan di layar kaca dalam lakon Mahabarata. Tokoh Sengkuni buat saya pribadi memang sangat menjengkelkan. Tetapi harus saya akui bahwa kepiawaiananya dalam ilmu politik patut diakui jempol. Bahkan kecerdasan politiknya setara dengan madewa Krisna jelmaan Wisnu. Ide-ide brilian Sengkuni banyak yang digunakan dalam hal yang kurang bijak, salah satunya politik ini digunakan untuk memprovokasi hingga lahirnya Bharatayudha yang meluluhlantakkan dinasti Kuru.

Berbicara ilmu politik, tentu banyak pihak yang berkiblat dari Eropa dalam buku II Principle karya Machiavelli muncul abad ke-16 yang dikenal sebagai penasihat raja yang keji bagi para raja. Tapi Machiavelli bukan sepenuhnya seorang sengkuni yang dibenci. Jika kita lihat tempat dan masanya pada masa perang antarkota dan ekspansi, kita akan lebih paham mengapa ia bisa dibenarkan.  Machiavelli mencitakan sebuah pemerintahan yang kokoh seperti Romawi, tetapi tidak semua pangeran sanggup membanu tata dan tak semua pemimpin siap berbuat keji, kejam, dan bengis. Ia menulis bahwa seorang raja yang arif tak akan risau dikecam karena berbuat kejam yang menyebabkan rakyatnya bersatu dan setia. Dengan menampakkan kebengisan ia sebenarnya jauh lebih berbelas hati ketimbang mereka yang sangat pemaaf membiarkan kekejian berkecamuk.

Machiavelli ternyata bukan orang pertama yang menggagas ilmu politik. Sekitar 300 tahun SM, di India seorang pangeran berhasil mengeksPansi dan merebut tahta dinasti Magadha, kemudian mengalahkan pasukan Iskandar Yang Agung (Alexander The Great) dari Makedonia. Candragupta tidak sendirian melakukan itu, ia ditemani penasihat yang petuahnya bisa lebih culas dan kejam dibanding Machiavelli dan Sengkuni: Kautilya Chanakya. Dalam kitab Arthashastra, Chanakya membanggakan ilmu politik memperkuat kekuasaan seorang raja. Ilmunya terdiri dari cara berbuat licik dan kejam yang tidak disebutkan dalam karya Machiavelli, serta daftar cara menyiksa dan membunuh, dan memasang mata-mata. Ia berfokus pada logika kekuasaan: efektivitas.

Awalnya saya pun hanya memiliki pandangan politik yang sama dengan kebanyakan orang, tetapi setelah membaca catatan pinggir Gunawan Muhammad, saya jadi tahu dan betapa malunya saya dalam usia sekarang ini baru mnegetahuinya. Karya-karya Machiavelli mulai aKrab di telinga saya sejak di bangku kuliah dengan materi kuliah Filsafat Ilmu dan Metodologi Sejarah. Betapa saya malu dan termotivasi untuk membuka tabir cakrwala keilmuwan bahwa apa yang saya peroleh saat ini itu terlalu sedikit. Saya masih perlu banyak membaca dan bergerak untuk lebih produktif, entah itu sebagai ibu, guru, atau diri saya pribadi.

Tidak ada puncak gunung yang tidak memiliki lembah. Begitulah kekuasaan yang ditopang ilmu politik tidak selamanya menyehatkan. Kekuasan yang tidak terbatas menyebabkan diri terlena, bahkan seringkali tidak mampu mengontrolnya dengan baik. Jika sudah mencapai titik ini, maka akan memunculkan kegelisahan dan rasa bersalah serta intimidasi yang menjadi bumenang bagi diri sendiri sebab tidak mampu menempatkan diri antar terlibat atau terjerat dan tak terlibat logika kekuasaan.

"Seorang penguasa tidak hanya harus mengenal kelicikan dan kekejaman, tetapi harus tahu kapan itu tidak harus di pakai."

Agama Lokal Indonesia



Saya adalah tipe orang yang hobi bejalanan atau bahasa kerennya traveling tapi dengan budget yang minimalis hehehe untuk mengakalinya maka saya harus banyak membaca, menulis, dan berjibaku dengan media sosial.  Tempo menjadi salah satu favorit bacaan saya yang ini kali bisa saya nikmati secara gratis di sekolah. Sebenarnya National Geografi (Natgeo) juga biar lebih melek, aware, dan care dengan dunia tetapi entah mengapa Natgeo jadi tidak muncul lagi sekarang. Barangkali karena sudah berhenti berlangganan, tapi untungnya saya masih menikmatinya versi digital. Kesukaan saya itu mengantar saya untuk menjejakkan kaki di tanah Borneo. Sebagaimana para treveller pada umumnya, kami adalah para nomaden yang sangat mudah dan cepat beradaptasi dengan lingkungan baru.

Di tanah orang banua ini, saya yang berprofesi sebagai tenaga pengajar, banyak berinteraksi dengan berbagai suku khususnya suku Dayak dengan berbagai keanekaragaman jenisnya. Kecintaan saya dengan suku, bahasa, dan adat istiadat Indonesia selalu membuat saya penasaran dan ingin mengulik kebenarannya. Saya selalu penasaran dan ingin membuktikan bahwa mitos yang berkembang di masyarakat tentang duku Dayak pun Madura atau suku-usku lainnya yang memiliki stereotif negatif dapat dipatahkan. In fact, mereka memang begitu bersahabat dan dapat hidup harmonis dengan suku lainnya. Saya rasa yang menyebabkan pemikiran kurang baik seperti itu karena kita tidak mencoba mendekat atau mengenal dengan baik mereka.

Ini kali Tuhan telah memberikan saya jawaban atas apa yang selalu saya pertanyakan selama ini sejak saya menjadi begitu dekat dengan anak didik saya yang orang Dayak. Mereka di sela-sela pelajaran bahkan ketika berdiskusi di luar jam pelajaran, selalu bersikukuh bahwa Kaharingan adalah agama. Sebuah agama khas orang Dayak Kaharingan yang mendiami Kalimantan Tengah. Waktu itu saya yang terbatas sumber dan informasi juga beropini bahwa Kaharingan tak lebih hanya kepercayaan biasa layaknya Kejawen dan lainnya. Meski dalam hati saya ragu dan penasaran. Hingga kemarin dalam majalah kesukaan saya itu (Tempo) dimuat rublik tentang agama lokal Indonesia yang memuat agama-agama lokal yang banyak di Indonesia, seperti: Kaharingan (Kalimantan Tengah), Sunda wiwitan (Kuningan), Aluk Tadolo (Toraja), Arat Sabulungan (Mentawai), dan Marapu (Sumba). 

Indonesia sejak era Gusdur telah berhasil menetapkan enam agama nasional yang sah dan diakui negara. Dalam Undang-Undang No 1/PNPS (pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama) Tahun 1965 memang tidak ada pengakuan agama, yang ada adalah agama yang dipeluk dan dianut mayoritas di Indonesia ada enam, yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Sehingga para penganut Kaharingan dan beberapa aagma lokal lainnya di luar enam agama besar lebih memilih mencantumkan agama Hindu ke dalam KTP. Begitupun dengan para penganut agama lokal lainnya, meskipun banyak juga yang mencantumkan agama Kristen karena dianggap lebih 'mewakili'. 

Miris sebenanrnya karena para penganut ini minoritas sehingga pengakuan dan pengangkatana agma lokal masih menjadi pelik. Namun negara sudah memonitor soal agama lokal ini dengan berdikusi bersama para penganutnya. Agama lokal sebenarnya tetap dibirkan berkembang oleh negara selama tidak melakukan pelanggaran, misalnya seperti kasus Ahmadiah atau sekte-sekte menyesatkan lainnya yang sudah pernah berurusan dengan hukum. 

Pada masa Orde Baru, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 40 Tahun 1978 mengukuhkan posisi agama-agama lokal sebagai aliran kepercayaan. Melalui Kepres ini, agama lokal yang tadinya berada di bawah naungan Kementrian Agama (Kemenag) dialihkan ke Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Keberadaan agama lokal ini tentu memunculkan pelbagai opini yang berkembang. Pertama, yang berpendapat bahwa negara tidak perlu mnegurusi agama warganya dan menyerahkan urusan agama ke setiap individu sehingga KTP tidak perlu kolom agama. Pandangan kedua menntang pendapat pertama. Alasannya, jika negara tidak mengakui agama warganya, maka negara tidak memiliki dasar menjalankan perintah konstitusi. Menurut menteri agama, LukmanHhakim, jika pemerintah tidak bisa menentukan suatu komunitas sebagai agama tau tidak, setidaknya ada pendaftaran agar agama bisa menjalankan kewajibannya.

Pengekangan terhadap agama-agama lokal sebenarnya terjadi sejak Indonesia merdeka. Pada masa Orde Lama, pengekahan tidak terlihat karena belum banyak undang-undang yang mengatur, sedangkan pada masa Orde Baru undang-undang tersebut terlihat deskriminatif. Ketika Reformasi bergulir dengan munculnya kebebasan dalam mengeluarkan pendapat, Suel, ketua Majelis Agama Hindu Kaharingan bersama ratusan penganutnya menggunakan kesempatan emas itu untuk memisahkan gama Hindu dan Kaharingan.

Kaharingan diintegrasikan ke Hindu pada 1980 dengan mengeluarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Nomor 37 Tahun 1980, meyusul penataan administrasi kependudukan melalui pengisian kolom agama di KTP. Pemisahan ini dilakukan karena memang agama Hindu dan Kaharingan berbeda. Misalnya dalam hal upacara kematian, tempat ibadah, dan kitab suci. Dalam ngaben, begitu mayat dibakar abunya dilarung ke laut supaya bisa kembali ke sungai Gangga. Hal ini tidak terjadi pada tiwah. Agama Hindu memiliki weda sedangkan Kaharingan memunyai Panaturan. Kemudian tempat ibadah umat Hindu adalah Pura, sementara pada Kaharingan namanya Balai.

Tuesday, October 28, 2014

Mom Susi

Well, nama Susi menjadi trending topic dunia pasca pelantikan Kabinet Kerja era Jokowi-JK. Saya pribadi mengenal pentolan Susi Air itu sekitar tahun lalu kala wawancara di Bloomberg tivi. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitulah kira-kira ungkapan hati saya waktu itu. Wanita keren itu memang tangguh dan wonder mowan. kehidupan keras sebagai warga pesisir menjadikan pribadi dan karakter Susi begitu kuat. Ia memang drop out SMA karena pada masa Orde Baru

Kita tahu, Susi banyak menyedot perhatian publik karena tertangkap kamera tengah asyik meroko pasca pelantikan di Istana Merdeka. Bagi orang Indonesia yang berbudaya ketimuran memang hal ini sangat tidak etis. Apalagi jika ranah pendidikan pasti menyorot dengan tajam karena takut memberikan contoh yang tidak baik terhadap anak didik. 

Namun buat saya pribadi Susi adalah seorang wanita yang inspiratif. Sebagaimana saya dan dua sahabat saya sepakat bahwa gelar tidak seutuhnya memengaruhi kesuksesan dan kinerja seseorang. Kerja keras dan kerja keras yang kontekstual based on eksperience justru mampu menempa dan mencerminkan pembelajaran sesungguhnya. Saya justru penasaran bagaimana wanita tangguh ini mendidik anak-anaknya. Mengingat budaya juga turut memengaruhi karena suami Susi adalah bule. 

Well, apapun itu kita tidak berkah menjudje seseorang hanya dengan melihat sekilas tanpa tahu dan paham secara menyeluruh siapa diri mereka sebenarnya. Cobalah posisikan diri kita ada pada posisi mereka. Saya rasa ini cukup efektif untuk menjaga kesantunan kita untuk lebih respect terhadap orang lain.

Ied Qurban 2014

Proses fermentasi daging sapi dan kambingdengan daun pepaya

Setelah semalaman di fermentasi hasilnya memang lebih lembut

Olahan kari kambing w/ XII Social G1 "13 Warriors"

Friday, October 24, 2014

Hello Juanda

Ini kali adalah moment yang lucu sekaligus menengangkan buat saya, dan topiknya masih seputar bandara. So, jadi ada cerita berbeda dalam perjalanan saya kembali ke Borneo. Sehari setelah pernikahan adik ipar saya, besoknya saya langsung kembali beraktifitas karena jatah cuti sudah habis. Sebagaimana adat orang Madura, hampir mayoritas setiap moment pernikahan makanan khas yang disajikan sebagai menu utama adalah sate dan gulai kambing. Saya yang tidak terlalu suka daging kambing sengaja tidak makan satenya, tetapi tetap menikmati gulai kambingnya dengan sambal ekstra hot khas Madura ditambah eskrim sisa resepsi yang entah berapa banyak sudah saya lahap :D

Esok harinya, saya diantar suamiku, pagi-pagi buta harus bergegas ke terminal untuk mengejar pesawat mengingat tempat tinggal saya yang sangat jauh. Beberapa jam berlalu saya masih mengantuk dan tiba-tiba harus terbangun karena perut melilit-lilit sakit. Omigot, saya resmi sakit perut dan semoga bukan diare. Saya coba tahan sakit perut itu dengan memerbaiki posisi tempat duduk dan mengatur nafas perut sesuai saran suamiku. Lumayan bisa menolong paling tidak untuk sampai di terminal Purabaya. Untungnya karena bus pagi jadi melewati jembatan Suramadu tidak melintas selat Madura menggunakan kapal Feri. 

Lima jam berlalu dan tibalah di Surabaya. Saya terburu-buru naik bus angkutan bandara mengejar pesawat yang kurang satu jam lagi take off dengan kondisi perut masih super melilit.  Bagitu tiba di Juanda, saya bergegas check in lalu menuju waiting room dengan perut masih melilit-lilit ditambah lapar dan lelah bercampur keringat dingin. Di dalam ruang tunggu, saya sempat sensi dengan petugas bandara. Padahal sebenanrnya tidak ada apa-apa, she have to do w/ the right rule in airport. Yah, namanya juga lagi keakitan bin kelaparan jadi wajarlah sensi hehehe Untungnya sebelnya hanya sesaat tidak berkepanjangan karena temannya sudah baik meminjami saya minyak kayu putih. 

Waktu itu, di televisi sedang ditayangkan secara live pelantikan Jokowi-JK sebagai presiden ke-7 Republik Indonesia. Alih-alih menonton itu, saya coba berdiri berharap sakit perut ini segera berlalu. Namun ternya justru semakin menjadi. Sampai pada akhirnya saya sudah tidak tahan lagi dan berlari secepat kilat menuju toilet. Sesampainya di sana, Toilet pun antre. Saya harus bersabar lagi dan berdoa mudahan "tepat pada waktunya" :D Di dalam toilet ternyata bekas pipis ibu-ibu tidak disiram, tapi karena sudah sangat urget akhirnya langsung duduk begitu saja, and oooohhhh,, Thanks God :P 

Saya pun keluar dengan wajah bahagia seperti baru mendapat durian runtuh. Tetapi itu ganya sesaat. Beberapa menit kemudian perut saya mules lagi dan pesawat sudah mendekati boarding. Saya kalang kabut di Juanda, mana sendirian dengan kondisi sangat menghkawatirkan dan perlu dikasihani. Saya dengan spontan minta obat pencegah diare kepada salah satu petugas yang belakangan saya tahu adalah kepala petugas bandara di terminal satu. How shy Iam :( Pantas saja waktu itu beliau langsung mengintruksikan kepada anak buahnya :D 

Para petugas itu pun bingung karena ruangan kesehatan ada di lantai satu dan cukup jauh dijangkau dari waiting room. Akhirnya, mas-mas yang saya lupa namanya itu dengan baiknya mengantar saya LAGI untuk ke toilet. Karena takut di pesawat saya mules lagi, saya 'habiskan' pada ronde dua itu sekaligus. Keluar dari toilet, saya langsung minum air putih karena takut dehidrasi. Alhamdulillah, masih dapat terkejar menuju kabin. Meskipun semua serba terburu-buru pada akhirnya di dalam pesawat perut saya sudah kondusif. 

Catatan untuk tidak makan sembarangan dan berlebihan sebelum bepergian :D  


 

Story from Journey

Well,, this special journey agak lebai sih karena sebenarnya perjalanan biasa menuju hometown. 

Hari itu, saya berangkat sore menuju bandara hendak menghadiri pernikahan adik ipar saya. Saya berangkat sendirian karena suami dan anak saya lebih dulu berangkat. Seperti biasa kena delay dan harus lama menunggu di bandara. Rasanya membosankan dan lelah. Saya sengaja memakai masker karena memang selain musim kabut asap akibat kemarau panjang dan pembakaran ilegal hutan di Kalimantan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, juga sebagai perlindungan dari orang iseng.

Alhamdulillah, delay tidak terlalu lama karena memang menjelang weekend jalur penerbangan padat banget, tiba juga waktu boarding. Seperti biasa, sebelum mencapai bandara penumpang akan dinatarkan menggunaka bus bandara. Saya waktu itu berhadapan dengan seorang perempuan yang selisih beberapa usia saja dari usia sekarang. Saya hanya menatapnya sekilas. 

Begitu tiba di dalam kabin pesawat sembari mencari tempat duduk sesuai tiket, alangkah kagetnya saya ternyata duduk bersebelahan dengan perempuan tadi. Sebenarnya perempuan itu tempat duduknya ada di dekat jendela, sedangkan saya di paling pinggir. Namun karena sudah ada bapak-bapak yang duduk duluan, akhirnya perempuan tadi duduk di samping saya. 

Perkenalan pun dimulai dengan masker masih menutupi wajah saya. Namanya Hana. Dia adalah seorang dokter umum yang sedang pengabdian di suatu daerah terpencil dan miskin di Kalimantan Selatan. Jujur saya, saya pribadi awalnya kaget bukan kepalang tak menyangka bahwa perempuan sedeerhana itu adalah seorang dokter. Tempat dr. Hana mengabdi ternyata masih satu kabupaten dengan tempat saya tinggal, tetapi beda lokasi. Sebelum di tempatkan di lokasi ini, dia berada di lokasi yang masih lumayan dekat dengan kota, di kota dengan provinsi Kalimantan Timur, bahkan sempat ditempatkan di Papua. Subhanallah..

Singkatnya perjalanan ini lebih mirip agenda curcol sebenarnya. Kami yang baru saja kenal rasanya begitu dekat. Barangkali ini yang dinamakan chemistry orang perantauan. Apalagi kami sama-sama orang Jawa dan tinggal dekat pesisir dengan karakter yang apa adanya. 

Perempuan hebat ini bercerita banyak hal tentang pengabdiannya. Perlu banyak sekali pengorbanan yang harus dilakukan untuk menyadarkan masyarakat di sana. Kisahnya sungguh sama persis dengan narasi sinetron yang sering menghiasi layar kaca Indonesia. 

Beberapa kali saya sempat melihat dr. Hana menyeka air matanya sembari menahan kata-katanya mengingat betapa pilunya berjuang di sana. cacian, teror, dan fitnah sudah menjadi makanan sehari-hari. Bahkan ia sering dilaporkan ke dinas dengan tuduhan-tuduhan paslu. Inilah ujian menyampaikan pesan kebaikan. Yang lebih mencenangkan adalah ternyata banyak sekali para junkies atau pemakai narkoba di tempat pengabdian. Pasokan narkoba dapat begitu mudah diperoleh melalui akses sungai yang memnag dekat dengan tempat pengabdian. Belum lagi pemabok yang hampir tiap hari ada. 

Belum lagi tantangan besar dalam menyadarkan tenaga medis di sana yang turut membantu dr. Hana untuk lebih sadar dan kembali pada kode etik tenaga medis. Mereka banyak yang menyalahgunakan kemampuan medisnya. Misalnya tidak mau piket malam, penolong pasien di luar jam kerja, memberikan obat, dan mendiagnosa dengan teliti. Rata-rata hanya asal atau sekedar ketika memeriksa pasien, kemudian memberika surat rujukan ke rumah sakit padahal penyakit yang diderita pasien harusnya bisa disembuhkan. 

Perempuan tangguh ini sebenanrnya sudah tidak tahan dan ingin kembali ke Jawa bersama keluarganya. Hanya saja hati kecilnya seringkali tidak tega meninggalkan mereka yang masih perlu pertolongan. Alhamdulillah, dari semua tenaga medis di sana masih ada beberapa orang yang sehati dengan dr. Hana. 

Mudahan dr. Hana diberikan kemudahan dan the best solutin untuk lebih dekat dengan keluarganya dan diterima untuk mengambil program spesialis dokter anak. Begitu pula bagi masyarakat di sana supaya diberikan kesadaran akan pentingnya hidup sehat dan bersih. 

Medio Oktober 2014