Stop Global Warming

Stop Global Warming
Pose ketika Hari Bumi 2010

Tuesday, December 9, 2014

Catatan Hati

Ada perbedaan antara Wanita dan perempuan
Bagi saya wanita jauh lebih terhormat daripada perempuan
Wanita itu adalah seorang Ibu
Wanita itu adalah seorang istri
dan wanita itu adalah seorang saudara seiman
sedangkan perempuan notabenenya bisa apa saja dan cenderung lebih negatif

Kami sebagai wanita dianugerahkan kepekaan lebih dibandingkan para pria
Kami paham betul mana Wanita baik-baik mana Perempuan penggoda
Wanita baik-baik sadar betul dalam menempatkan diri dan situasi
sedangkan perempuan penggoda selalu memiliki banyak modus dan akal bulus
Mulai dari basa-basi kawakan pura-pura merajuk sampai akting minta perhatian dan sok perhatian
Mereka akan selalu mecari celah untuk memuaskan egonya tak peduli dengan Wanita lain yang ada di sisi pria

Wanita juga memiliki kesabaran seluas samudera
meski disakiti dengan model apapun akan selalu ada rasa memaafkan untuk orang lain
meski proses setiap pengampunannya berbeda-beda
namun kesabaran setiap wanita berbeda tingkatannya
ada yang biasa saja ada juga yang setingkat Dewa
apapun yang terjadi Wanita itu hanya akan menyimpan lukanya seorang diri dan selalu menampilkan senyumnya

Saya adalah wanita biasa saja seorang ibu dan istri sebagaimana umumnya
saya juga wanita dengan kesabaran yang berbatas
yang sudah mengingatkan pria yang dicintainya terhadap intimadi perempuan penggoda
sengaja saya diamkan apa yang terjadi belakangan
sudah sempat diskusi tentang masalah yang sudah ada beberapa waktu silam
tentang apa yang etrjadi dan resikonya
dan Wanita memang memilki kepekaan dan ketajaman insting luar biasa
dia paham betul apa yang terjadi pada pasangannya
dia dapat mencuim aroma kebohongan dan pengkhianatan meski tanpa bekas sekalipun
karena dia Wanita yang sudah menjadi ibu bukan hanya istri
dia Wanita yang menemani pria itu dari titik nol dan keadaan paling sulit dalam hidupnya

sebagai wanita yang mencintai prianya
saya pikir wajar memiliki rasa cemburu menyampaikannya dan mengekspresikannya
tapi jika semua itu tidak ada respon positif
pada akhirnya saya akan tetap memaafkan
meskipun setelah mengalami emosi dan pergolakan jiwa yang sulit
tentu saja akan ada perubahan sikap yang tak bisa sesama dulu
rasa kepercayaan itu sudah terkikir
seberapa besar usaha untuk jujur pun hanya akan terdengar seperti ucapan biasa
dan rasa iba, kasih, dan sayang itu akan bergeser pada titik rasa yang biasa saja
yang tidak bisa saya tentukan kapan batasnya
saya hanya sedang emnikmati rasa sakit ini
seorang diri
dengan berusaha tegar dihadapan anak-anak saya
agar mereka menjadi lebih baik dan bijak sana ke depannya

Medio Desember kelabu 2014
 

Wednesday, November 19, 2014

Goes to Bandung

Wrll.. berangkat ke kota kembang dengan selaksa doa dan harap mengawal siswa kompetisi di Universitas Padjadjaran,,

semoga Allah berikan yang terbaik,, :)

Thursday, October 30, 2014

Golek Iwak Wong Jonegoro

  
Golek Iwak (dokumentasi pribadi)

Gambar di atas adalah aktivitas warga di kampung halaman saya di Bojonegoro. Mereka sedang asyik Golek Iwak (mencari ikan) di sungai ketika musim pancaroba tiba. Mendekati musim kemarau sungai akan mengering. Kejadian ini lumrah terjadi di Bojonegoro, sehingga tidak heran Bojonegoro selalu mengalami kekeringan setiap musim kemarau tiba. Hal ini didukung topografi Bojonegoro berada di daerah kapur dengan kontur tanah bergerak. 

Golek Iwak menjadi semacam ritual tahunan bagi wong Jonegoro (sebutan khusus bagi warga Bojonegoro). Mereka menangkap ikan secara tradisional menggunakan samber (jala kecil), alat pancing, bambu kecil yang panjang, dan tangan. Ikan yang peroleh semua adalah ikan tawar, mulai dari ikan wader, udang, ikan gabus, ikan sili, dan beberapa jenis kerang atau kijing.Masyarakat di sana memang memelihara lingkungan karena sungai ayau Dung masih dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari sehingga menjadi penting untuk menjaga sungai tetap bersih.

Golek Iwak menjadi penting karena ikan hasil tangkapan selain berguna untuk lauk juga dapat dijual. Tradisi ini juga sarat pesan positif karena mampu mempererat ikatan silaturahim antar warga desa. Teknologi tradisional yang digunakan memuat pesan untuk tetap menjaga lingkungan tetap bersih dan terhindar dari pencemaran zat-zat kimia.

Ilmu Politik Sengkuni vs Machiavelli

Saya adalah fans Gunawan Muhammad. Sastrawn dan budayawan ini sarat dengan ide-ide amazing yang selalu mengundang decup kagum. Ini kali masih oleh-oleh dari Tempo edisi 2 Nvember 2014. Saya mencoba me-review sedikit sebuah 'Catatan Pinggir'. Judulnya sangat menarik “sengkuni” sesuai dengan tokoh antagonis yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan di layar kaca dalam lakon Mahabarata. Tokoh Sengkuni buat saya pribadi memang sangat menjengkelkan. Tetapi harus saya akui bahwa kepiawaiananya dalam ilmu politik patut diakui jempol. Bahkan kecerdasan politiknya setara dengan madewa Krisna jelmaan Wisnu. Ide-ide brilian Sengkuni banyak yang digunakan dalam hal yang kurang bijak, salah satunya politik ini digunakan untuk memprovokasi hingga lahirnya Bharatayudha yang meluluhlantakkan dinasti Kuru.

Berbicara ilmu politik, tentu banyak pihak yang berkiblat dari Eropa dalam buku II Principle karya Machiavelli muncul abad ke-16 yang dikenal sebagai penasihat raja yang keji bagi para raja. Tapi Machiavelli bukan sepenuhnya seorang sengkuni yang dibenci. Jika kita lihat tempat dan masanya pada masa perang antarkota dan ekspansi, kita akan lebih paham mengapa ia bisa dibenarkan.  Machiavelli mencitakan sebuah pemerintahan yang kokoh seperti Romawi, tetapi tidak semua pangeran sanggup membanu tata dan tak semua pemimpin siap berbuat keji, kejam, dan bengis. Ia menulis bahwa seorang raja yang arif tak akan risau dikecam karena berbuat kejam yang menyebabkan rakyatnya bersatu dan setia. Dengan menampakkan kebengisan ia sebenarnya jauh lebih berbelas hati ketimbang mereka yang sangat pemaaf membiarkan kekejian berkecamuk.

Machiavelli ternyata bukan orang pertama yang menggagas ilmu politik. Sekitar 300 tahun SM, di India seorang pangeran berhasil mengeksPansi dan merebut tahta dinasti Magadha, kemudian mengalahkan pasukan Iskandar Yang Agung (Alexander The Great) dari Makedonia. Candragupta tidak sendirian melakukan itu, ia ditemani penasihat yang petuahnya bisa lebih culas dan kejam dibanding Machiavelli dan Sengkuni: Kautilya Chanakya. Dalam kitab Arthashastra, Chanakya membanggakan ilmu politik memperkuat kekuasaan seorang raja. Ilmunya terdiri dari cara berbuat licik dan kejam yang tidak disebutkan dalam karya Machiavelli, serta daftar cara menyiksa dan membunuh, dan memasang mata-mata. Ia berfokus pada logika kekuasaan: efektivitas.

Awalnya saya pun hanya memiliki pandangan politik yang sama dengan kebanyakan orang, tetapi setelah membaca catatan pinggir Gunawan Muhammad, saya jadi tahu dan betapa malunya saya dalam usia sekarang ini baru mnegetahuinya. Karya-karya Machiavelli mulai aKrab di telinga saya sejak di bangku kuliah dengan materi kuliah Filsafat Ilmu dan Metodologi Sejarah. Betapa saya malu dan termotivasi untuk membuka tabir cakrwala keilmuwan bahwa apa yang saya peroleh saat ini itu terlalu sedikit. Saya masih perlu banyak membaca dan bergerak untuk lebih produktif, entah itu sebagai ibu, guru, atau diri saya pribadi.

Tidak ada puncak gunung yang tidak memiliki lembah. Begitulah kekuasaan yang ditopang ilmu politik tidak selamanya menyehatkan. Kekuasan yang tidak terbatas menyebabkan diri terlena, bahkan seringkali tidak mampu mengontrolnya dengan baik. Jika sudah mencapai titik ini, maka akan memunculkan kegelisahan dan rasa bersalah serta intimidasi yang menjadi bumenang bagi diri sendiri sebab tidak mampu menempatkan diri antar terlibat atau terjerat dan tak terlibat logika kekuasaan.

"Seorang penguasa tidak hanya harus mengenal kelicikan dan kekejaman, tetapi harus tahu kapan itu tidak harus di pakai."

Agama Lokal Indonesia



Saya adalah tipe orang yang hobi bejalanan atau bahasa kerennya traveling tapi dengan budget yang minimalis hehehe untuk mengakalinya maka saya harus banyak membaca, menulis, dan berjibaku dengan media sosial.  Tempo menjadi salah satu favorit bacaan saya yang ini kali bisa saya nikmati secara gratis di sekolah. Sebenarnya National Geografi (Natgeo) juga biar lebih melek, aware, dan care dengan dunia tetapi entah mengapa Natgeo jadi tidak muncul lagi sekarang. Barangkali karena sudah berhenti berlangganan, tapi untungnya saya masih menikmatinya versi digital. Kesukaan saya itu mengantar saya untuk menjejakkan kaki di tanah Borneo. Sebagaimana para treveller pada umumnya, kami adalah para nomaden yang sangat mudah dan cepat beradaptasi dengan lingkungan baru.

Di tanah orang banua ini, saya yang berprofesi sebagai tenaga pengajar, banyak berinteraksi dengan berbagai suku khususnya suku Dayak dengan berbagai keanekaragaman jenisnya. Kecintaan saya dengan suku, bahasa, dan adat istiadat Indonesia selalu membuat saya penasaran dan ingin mengulik kebenarannya. Saya selalu penasaran dan ingin membuktikan bahwa mitos yang berkembang di masyarakat tentang duku Dayak pun Madura atau suku-usku lainnya yang memiliki stereotif negatif dapat dipatahkan. In fact, mereka memang begitu bersahabat dan dapat hidup harmonis dengan suku lainnya. Saya rasa yang menyebabkan pemikiran kurang baik seperti itu karena kita tidak mencoba mendekat atau mengenal dengan baik mereka.

Ini kali Tuhan telah memberikan saya jawaban atas apa yang selalu saya pertanyakan selama ini sejak saya menjadi begitu dekat dengan anak didik saya yang orang Dayak. Mereka di sela-sela pelajaran bahkan ketika berdiskusi di luar jam pelajaran, selalu bersikukuh bahwa Kaharingan adalah agama. Sebuah agama khas orang Dayak Kaharingan yang mendiami Kalimantan Tengah. Waktu itu saya yang terbatas sumber dan informasi juga beropini bahwa Kaharingan tak lebih hanya kepercayaan biasa layaknya Kejawen dan lainnya. Meski dalam hati saya ragu dan penasaran. Hingga kemarin dalam majalah kesukaan saya itu (Tempo) dimuat rublik tentang agama lokal Indonesia yang memuat agama-agama lokal yang banyak di Indonesia, seperti: Kaharingan (Kalimantan Tengah), Sunda wiwitan (Kuningan), Aluk Tadolo (Toraja), Arat Sabulungan (Mentawai), dan Marapu (Sumba). 

Indonesia sejak era Gusdur telah berhasil menetapkan enam agama nasional yang sah dan diakui negara. Dalam Undang-Undang No 1/PNPS (pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama) Tahun 1965 memang tidak ada pengakuan agama, yang ada adalah agama yang dipeluk dan dianut mayoritas di Indonesia ada enam, yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Sehingga para penganut Kaharingan dan beberapa aagma lokal lainnya di luar enam agama besar lebih memilih mencantumkan agama Hindu ke dalam KTP. Begitupun dengan para penganut agama lokal lainnya, meskipun banyak juga yang mencantumkan agama Kristen karena dianggap lebih 'mewakili'. 

Miris sebenanrnya karena para penganut ini minoritas sehingga pengakuan dan pengangkatana agma lokal masih menjadi pelik. Namun negara sudah memonitor soal agama lokal ini dengan berdikusi bersama para penganutnya. Agama lokal sebenarnya tetap dibirkan berkembang oleh negara selama tidak melakukan pelanggaran, misalnya seperti kasus Ahmadiah atau sekte-sekte menyesatkan lainnya yang sudah pernah berurusan dengan hukum. 

Pada masa Orde Baru, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 40 Tahun 1978 mengukuhkan posisi agama-agama lokal sebagai aliran kepercayaan. Melalui Kepres ini, agama lokal yang tadinya berada di bawah naungan Kementrian Agama (Kemenag) dialihkan ke Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Keberadaan agama lokal ini tentu memunculkan pelbagai opini yang berkembang. Pertama, yang berpendapat bahwa negara tidak perlu mnegurusi agama warganya dan menyerahkan urusan agama ke setiap individu sehingga KTP tidak perlu kolom agama. Pandangan kedua menntang pendapat pertama. Alasannya, jika negara tidak mengakui agama warganya, maka negara tidak memiliki dasar menjalankan perintah konstitusi. Menurut menteri agama, LukmanHhakim, jika pemerintah tidak bisa menentukan suatu komunitas sebagai agama tau tidak, setidaknya ada pendaftaran agar agama bisa menjalankan kewajibannya.

Pengekangan terhadap agama-agama lokal sebenarnya terjadi sejak Indonesia merdeka. Pada masa Orde Lama, pengekahan tidak terlihat karena belum banyak undang-undang yang mengatur, sedangkan pada masa Orde Baru undang-undang tersebut terlihat deskriminatif. Ketika Reformasi bergulir dengan munculnya kebebasan dalam mengeluarkan pendapat, Suel, ketua Majelis Agama Hindu Kaharingan bersama ratusan penganutnya menggunakan kesempatan emas itu untuk memisahkan gama Hindu dan Kaharingan.

Kaharingan diintegrasikan ke Hindu pada 1980 dengan mengeluarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Nomor 37 Tahun 1980, meyusul penataan administrasi kependudukan melalui pengisian kolom agama di KTP. Pemisahan ini dilakukan karena memang agama Hindu dan Kaharingan berbeda. Misalnya dalam hal upacara kematian, tempat ibadah, dan kitab suci. Dalam ngaben, begitu mayat dibakar abunya dilarung ke laut supaya bisa kembali ke sungai Gangga. Hal ini tidak terjadi pada tiwah. Agama Hindu memiliki weda sedangkan Kaharingan memunyai Panaturan. Kemudian tempat ibadah umat Hindu adalah Pura, sementara pada Kaharingan namanya Balai.

Tuesday, October 28, 2014

Mom Susi

Well, nama Susi menjadi trending topic dunia pasca pelantikan Kabinet Kerja era Jokowi-JK. Saya pribadi mengenal pentolan Susi Air itu sekitar tahun lalu kala wawancara di Bloomberg tivi. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitulah kira-kira ungkapan hati saya waktu itu. Wanita keren itu memang tangguh dan wonder mowan. kehidupan keras sebagai warga pesisir menjadikan pribadi dan karakter Susi begitu kuat. Ia memang drop out SMA karena pada masa Orde Baru

Kita tahu, Susi banyak menyedot perhatian publik karena tertangkap kamera tengah asyik meroko pasca pelantikan di Istana Merdeka. Bagi orang Indonesia yang berbudaya ketimuran memang hal ini sangat tidak etis. Apalagi jika ranah pendidikan pasti menyorot dengan tajam karena takut memberikan contoh yang tidak baik terhadap anak didik. 

Namun buat saya pribadi Susi adalah seorang wanita yang inspiratif. Sebagaimana saya dan dua sahabat saya sepakat bahwa gelar tidak seutuhnya memengaruhi kesuksesan dan kinerja seseorang. Kerja keras dan kerja keras yang kontekstual based on eksperience justru mampu menempa dan mencerminkan pembelajaran sesungguhnya. Saya justru penasaran bagaimana wanita tangguh ini mendidik anak-anaknya. Mengingat budaya juga turut memengaruhi karena suami Susi adalah bule. 

Well, apapun itu kita tidak berkah menjudje seseorang hanya dengan melihat sekilas tanpa tahu dan paham secara menyeluruh siapa diri mereka sebenarnya. Cobalah posisikan diri kita ada pada posisi mereka. Saya rasa ini cukup efektif untuk menjaga kesantunan kita untuk lebih respect terhadap orang lain.

Ied Qurban 2014

Proses fermentasi daging sapi dan kambingdengan daun pepaya

Setelah semalaman di fermentasi hasilnya memang lebih lembut

Olahan kari kambing w/ XII Social G1 "13 Warriors"