Stop Global Warming

Stop Global Warming
Pose ketika Hari Bumi 2010

Friday, October 24, 2014

Hello Juanda

Ini kali adalah moment yang lucu sekaligus menengangkan buat saya, dan topiknya masih seputar bandara. So, jadi ada cerita berbeda dalam perjalanan saya kembali ke Borneo. Sehari setelah pernikahan adik ipar saya, besoknya saya langsung kembali beraktifitas karena jatah cuti sudah habis. Sebagaimana adat orang Madura, hampir mayoritas setiap moment pernikahan makanan khas yang disajikan sebagai menu utama adalah sate dan gulai kambing. Saya yang tidak terlalu suka daging kambing sengaja tidak makan satenya, tetapi tetap menikmati gulai kambingnya dengan sambal ekstra hot khas Madura ditambah eskrim sisa resepsi yang entah berapa banyak sudah saya lahap :D

Esok harinya, saya diantar suamiku, pagi-pagi buta harus bergegas ke terminal untuk mengejar pesawat mengingat tempat tinggal saya yang sangat jauh. Beberapa jam berlalu saya masih mengantuk dan tiba-tiba harus terbangun karena perut melilit-lilit sakit. Omigot, saya resmi sakit perut dan semoga bukan diare. Saya coba tahan sakit perut itu dengan memerbaiki posisi tempat duduk dan mengatur nafas perut sesuai saran suamiku. Lumayan bisa menolong paling tidak untuk sampai di terminal Purabaya. Untungnya karena bus pagi jadi melewati jembatan Suramadu tidak melintas selat Madura menggunakan kapal Feri. 

Lima jam berlalu dan tibalah di Surabaya. Saya terburu-buru naik bus angkutan bandara mengejar pesawat yang kurang satu jam lagi take off dengan kondisi perut masih super melilit.  Bagitu tiba di Juanda, saya bergegas check in lalu menuju waiting room dengan perut masih melilit-lilit ditambah lapar dan lelah bercampur keringat dingin. Di dalam ruang tunggu, saya sempat sensi dengan petugas bandara. Padahal sebenanrnya tidak ada apa-apa, she have to do w/ the right rule in airport. Yah, namanya juga lagi keakitan bin kelaparan jadi wajarlah sensi hehehe Untungnya sebelnya hanya sesaat tidak berkepanjangan karena temannya sudah baik meminjami saya minyak kayu putih. 

Waktu itu, di televisi sedang ditayangkan secara live pelantikan Jokowi-JK sebagai presiden ke-7 Republik Indonesia. Alih-alih menonton itu, saya coba berdiri berharap sakit perut ini segera berlalu. Namun ternya justru semakin menjadi. Sampai pada akhirnya saya sudah tidak tahan lagi dan berlari secepat kilat menuju toilet. Sesampainya di sana, Toilet pun antre. Saya harus bersabar lagi dan berdoa mudahan "tepat pada waktunya" :D Di dalam toilet ternyata bekas pipis ibu-ibu tidak disiram, tapi karena sudah sangat urget akhirnya langsung duduk begitu saja, and oooohhhh,, Thanks God :P 

Saya pun keluar dengan wajah bahagia seperti baru mendapat durian runtuh. Tetapi itu ganya sesaat. Beberapa menit kemudian perut saya mules lagi dan pesawat sudah mendekati boarding. Saya kalang kabut di Juanda, mana sendirian dengan kondisi sangat menghkawatirkan dan perlu dikasihani. Saya dengan spontan minta obat pencegah diare kepada salah satu petugas yang belakangan saya tahu adalah kepala petugas bandara di terminal satu. How shy Iam :( Pantas saja waktu itu beliau langsung mengintruksikan kepada anak buahnya :D 

Para petugas itu pun bingung karena ruangan kesehatan ada di lantai satu dan cukup jauh dijangkau dari waiting room. Akhirnya, mas-mas yang saya lupa namanya itu dengan baiknya mengantar saya LAGI untuk ke toilet. Karena takut di pesawat saya mules lagi, saya 'habiskan' pada ronde dua itu sekaligus. Keluar dari toilet, saya langsung minum air putih karena takut dehidrasi. Alhamdulillah, masih dapat terkejar menuju kabin. Meskipun semua serba terburu-buru pada akhirnya di dalam pesawat perut saya sudah kondusif. 

Catatan untuk tidak makan sembarangan dan berlebihan sebelum bepergian :D  


 

Story from Journey

Well,, this special journey agak lebai sih karena sebenarnya perjalanan biasa menuju hometown. 

Hari itu, saya berangkat sore menuju bandara hendak menghadiri pernikahan adik ipar saya. Saya berangkat sendirian karena suami dan anak saya lebih dulu berangkat. Seperti biasa kena delay dan harus lama menunggu di bandara. Rasanya membosankan dan lelah. Saya sengaja memakai masker karena memang selain musim kabut asap akibat kemarau panjang dan pembakaran ilegal hutan di Kalimantan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, juga sebagai perlindungan dari orang iseng.

Alhamdulillah, delay tidak terlalu lama karena memang menjelang weekend jalur penerbangan padat banget, tiba juga waktu boarding. Seperti biasa, sebelum mencapai bandara penumpang akan dinatarkan menggunaka bus bandara. Saya waktu itu berhadapan dengan seorang perempuan yang selisih beberapa usia saja dari usia sekarang. Saya hanya menatapnya sekilas. 

Begitu tiba di dalam kabin pesawat sembari mencari tempat duduk sesuai tiket, alangkah kagetnya saya ternyata duduk bersebelahan dengan perempuan tadi. Sebenarnya perempuan itu tempat duduknya ada di dekat jendela, sedangkan saya di paling pinggir. Namun karena sudah ada bapak-bapak yang duduk duluan, akhirnya perempuan tadi duduk di samping saya. 

Perkenalan pun dimulai dengan masker masih menutupi wajah saya. Namanya Hana. Dia adalah seorang dokter umum yang sedang pengabdian di suatu daerah terpencil dan miskin di Kalimantan Selatan. Jujur saya, saya pribadi awalnya kaget bukan kepalang tak menyangka bahwa perempuan sedeerhana itu adalah seorang dokter. Tempat dr. Hana mengabdi ternyata masih satu kabupaten dengan tempat saya tinggal, tetapi beda lokasi. Sebelum di tempatkan di lokasi ini, dia berada di lokasi yang masih lumayan dekat dengan kota, di kota dengan provinsi Kalimantan Timur, bahkan sempat ditempatkan di Papua. Subhanallah..

Singkatnya perjalanan ini lebih mirip agenda curcol sebenarnya. Kami yang baru saja kenal rasanya begitu dekat. Barangkali ini yang dinamakan chemistry orang perantauan. Apalagi kami sama-sama orang Jawa dan tinggal dekat pesisir dengan karakter yang apa adanya. 

Perempuan hebat ini bercerita banyak hal tentang pengabdiannya. Perlu banyak sekali pengorbanan yang harus dilakukan untuk menyadarkan masyarakat di sana. Kisahnya sungguh sama persis dengan narasi sinetron yang sering menghiasi layar kaca Indonesia. 

Beberapa kali saya sempat melihat dr. Hana menyeka air matanya sembari menahan kata-katanya mengingat betapa pilunya berjuang di sana. cacian, teror, dan fitnah sudah menjadi makanan sehari-hari. Bahkan ia sering dilaporkan ke dinas dengan tuduhan-tuduhan paslu. Inilah ujian menyampaikan pesan kebaikan. Yang lebih mencenangkan adalah ternyata banyak sekali para junkies atau pemakai narkoba di tempat pengabdian. Pasokan narkoba dapat begitu mudah diperoleh melalui akses sungai yang memnag dekat dengan tempat pengabdian. Belum lagi pemabok yang hampir tiap hari ada. 

Belum lagi tantangan besar dalam menyadarkan tenaga medis di sana yang turut membantu dr. Hana untuk lebih sadar dan kembali pada kode etik tenaga medis. Mereka banyak yang menyalahgunakan kemampuan medisnya. Misalnya tidak mau piket malam, penolong pasien di luar jam kerja, memberikan obat, dan mendiagnosa dengan teliti. Rata-rata hanya asal atau sekedar ketika memeriksa pasien, kemudian memberika surat rujukan ke rumah sakit padahal penyakit yang diderita pasien harusnya bisa disembuhkan. 

Perempuan tangguh ini sebenanrnya sudah tidak tahan dan ingin kembali ke Jawa bersama keluarganya. Hanya saja hati kecilnya seringkali tidak tega meninggalkan mereka yang masih perlu pertolongan. Alhamdulillah, dari semua tenaga medis di sana masih ada beberapa orang yang sehati dengan dr. Hana. 

Mudahan dr. Hana diberikan kemudahan dan the best solutin untuk lebih dekat dengan keluarganya dan diterima untuk mengambil program spesialis dokter anak. Begitu pula bagi masyarakat di sana supaya diberikan kesadaran akan pentingnya hidup sehat dan bersih. 

Medio Oktober 2014

Thursday, October 9, 2014

Fiksi tentang Kepedulian

Sepasang suami istri petani pulang ke rumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil menggumam,“Hmmm…makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar?”
Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah perangkap tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak,
“Ada perangkap tikus di rumah!… di rumah sekarang ada perangkap tikus!….”Ia mendatangi teman2nya dan berteriak.
Tikus: "Hai ayam. Ada perangkap tikus di rumah!”
Sang Ayam berkata: “Tuan Tikus. aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku”
Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing.
tikus: "Hai tuan kambing. dirumah ada perangkap tikuss..!!"
Sang Kambing pun berkata: “Aku turut bersimpati…tapi tidak ada yang bisa aku lakukan..”
Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama.
”Maafkan aku, tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali”
Ia lalu lari ke hutan dan bertemu ular.
Tikus: "Wahai tuan Ular, dirumahku ada perangkap tikus.. teman-temanku tak mau peduli dengan ku.."
Sang ular berkata,: “Ahhh…Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku. Sudahlah tikus.. jika kamu terperangkap, terima sajalah nasibmu.."
Akhirnya Sang Tikus kembali ke rumah dngan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri. Suatu malam, tikus selalu berhati-hati dalam mencari sisa-sisa makanan di rumah.
Hingga suatu hari pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang tersangkut perangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah.
Walaupun sang Suami smpat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan karena sang istri sempat tergigit ular.
Sang suami harus membawa istrinya ke rumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang, namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam. Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya (kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam). Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya. Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu mnyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya. Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.
Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan sebagai sedekah orang-orang yg melayat.
Dari kejauhan…Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan.. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi...
SUATU HARI.. KETIKA ANDA MENDENGAR SESEORANG DALAM KESULITAN DAN MENGIRA ITU BUKAN URUSAN ANDA, MAKA PIKIRKANLAH SEKALI LAGI.
Indahnya hidup bukan dari seberapa banyak orang mengenal kita, akan tetapi dari sberapa banyak orng bisa bahagia mengenal kita. Tak usah berpikir terlalu jauh untuk membuat orang terdekatmu bahagia tengok saja kapan kita kita mampu membuat mereka tersenyum bahkan tertawa.
Maka bantulah urusan orng sekitar kita, maka insyaAlloh Dia (Alloh) akan membantu dan mempermudah urusan kita.

Review "The Leader Who Had No Title"

Sebuah buku bejudul The Leader Who Had No Title tulisan Robin Sarma.  Di Chapter- IV, buku itu menceritakan pertemuan  seorang house keeper sebuah hotel benama Anna dengan seorang mantan tentara bernama Blake. Blake saat itu sedang galau karena setelah tidak lagi menjadi tentara merasa tidak lagi memiliki kedudukan di masyarakat. Sahabat Blake seorang ekskutif muda mempertemukan Blake dengan Anna. Walaupun pekerjaannya sebagai house keeper sebuah hotel, Anna bangga dengan pekerjaanya. Dalam cerita itu, Anna memberikan tulisan di kertas tisu yang telah disiapkan sebelumnya kepada Blake, sambil dia menyiapkan minuman kopi.

Tulisan itu berbunyi:
1.      Every one of us alive in this moment has the power to go work each day and express the Absolute Best within us. And you need no title to do that.
2.      Every one of us alive today has the power to inspire, influence, and elevate each person we meet by the gift of a great example.  And you need no title to do that.
3.      Every one of us alive with life can passionately drive positive change in the face in negative conditions.  And you need no title to do that.
4.      Every one of us alive to the truth about leadership can treat all stakeholders with respect, appreciation, and kindness--and in so doing raise the organization’s culture to best of breed.  And you need no title to do that.

Dua catatan sangat penting untuk semua orang, agar tidak risau dengan jabatan ataupun posisi kita, karena dimanapun kita berada dan apapun posisi/jabatan kita, kita dapat mendarmabaktikan kemampuan yang kita miliki untuk kepentingan masyarakat. Dengan bekerja sebaik mungkin serta kegiatan yang bermanfaat kepada orang banyak, sebenarnya kita sudah memiliki power yang optimal.

Filosofi

Ada gelas berisi air dan ditanyakan bagaimana bentuknya? Jawabannya dapat macam-macam tergantung dari sisi mana kita melihat.  Jika dilihat dari atas, mungkin berbentuk lingkaran kaca dan tengahnya ada air.  Mirip sumur yg dilihat dari atas, ganya saja lingkarannya bukan dari beton tetapi dari kaca.  Mereka yang melihat dari samping, mungkin tampak sangat indah. Apalagi gelasnya gelas yang ada pegangan seperti yang biasanya dipakai bule minum wiski.

Air dalam gelas itu hanya setengah. Bagaimana kita menyebut dan memberi komentar?  Juga macam-macam. Kita dapat menyebut isinya hanya setengah jadi perlu ditambah.  Dapat juga disebut isinya sudah setengah jadi jangan ditambah. Atau isinya tinggal setengah, mungkin sudah diminum orang.  Dan sebagainya?

Apa yang dapat dipetik dari paragraf di atas?  Respon kita terhadap sesuatu fenomena tergantung sudut pandang yang kita gunakan.  Jadi metapora orang buta meraba gajah (yg katanya yang memegang kakinya berpendapat gajah itu seperti pohon bamboo besar, yang memegang ekornya mengatakan gajah itu seperti kemucing), tidak hanya terjadi pada orang buta.  Orang melek-pun dapat berbeda sudut pandang terhadap baran atau fenomena yang sama.

Friday, October 3, 2014

Virus Ebola

Virus Ebola sedang marak dibicarakan di seluruh dunia. Virus ini banyak banyak meyerang negara-negara di benua Afrika, terutama Afrika bagina barat dan tengah..

Ebola adalah virus mematikan yang dapat mengakibatkan pendarahan di dalam dan luar tubuh. Virus ini menyerang system imun serta organ-organ tubuh yang menyebabkan dara sulit membeku sehingga pendarahan tidak terkontrol.

Virus Ebola menyebar melalui udara layaknya flu, namun ia tersebar melalui sentuhan kulit atau cairan tubuh manunia, termasuk dari binatang seperti monyet dan kelelawar. Orang yang tidak menunjukkan gejala terinfeksi virus Ebola juga dapat menyebarkan virus ini.


Orang yang merawat atau berinteraksi dengan penderita positif pengidap virus Ebola, kemungkinan besar dapat terjangkit karena virus ini juga tersebar melalui jarum suntik yang terkontaminasi. Akan tetapi virus ini tidak tersebar melalui makanan dan air.

Resep Es Hijau

Bahan:

  • 550 ml santan kental, dari 1 butir kelapa parut
  • 50 g tepung beras
  • 1 sdm tepung ketan
  • 4 sdm air daun suji
  • 75 g gula pasir
  • 1 sdm air kapur sirih
  • 75 g buah nangka, buang biji, iris tipis
  • 1 butir kelapa muda, keruk dagingnya
  • Es batu, serut
  • 6 sdm sirop gula merah, siap pakai

Cara membuat:


1.   Campur 300 ml santan bersama tepung beras, tepung ketan, dan air daun suji. Aduk rata hingga larut. Sisihkan.
2.   Rebus sisa santan bersama gula pasir dan air kapur sirih, sambil aduk rata perlahan hingga mendidih.
3.   Tuangkan larutan tepung ke dalam santan rebus sambil diaduk perlahan hingga mengental seperti bubur. Angkat, dinginkan.
4.   Letakkan 4 sdm bubur hijau ke dalam setiap mangkuk saji, tambahkan nangka dan kelapa muda.
5.   Tambahkan es dan sirop gula merah.
6.   Sajikan dingin.

Source: Femina