Thursday, June 7, 2012

"Science without religion is blind, religion without science is lame."


Kutipan itu, sebagaimana kita tahu, adalah milik Einstein. Tapi kenapa ia dituduh atheis? Ia, yang mengibaratkan akal (sains) tanpa bimbingan agama adalah seperti orang buta, justru tak berpikir sejalan dengan Alkitab. Lantas, apa yang ia sebut dengan agama? Sejak kecil ia hidup dengan "dua agama": agama Yahudi yang ia warisi sebagai agama leluhurnya, namun ia juga mempelajari agama Katholik. Ia membaca Talmud (Taurat) dan Injil. Namun, baik oleh kalangan pemuka Yahudi maupun pendeta Katholik, ia dianggap sebagai suara yang mengganggu karena mengingkari kitab suci. Tapi benarkah ia telah ingkar? Ajaran yang manakah yang diingkarinya? Suaranya sangat mengganggu ketika ia mempertanyakan konsepsi pihak Gereja tentang Tuhan yang personal dan anthropomorfik (Tuhan yang berbuat seolah-olah manusia berbuat, menghukum sebagaimana manusia menghukum), yang tak masuk akal baginya. Konsepsi ketuhanan semacam ini alih-alih menjadikan agama sebagai sarana pencarian spiritualitas melalui imajinasi kreatif, justru menjadikan Tuhan sebagai fakta obyektif yang dapat dipersepsi, tentu saja persepsi Gereja sebagai pemegang otoritas keagamaan. Einstein justru mengkhawatirkan indoktrinasi yang tidak memberi ruang bagi penalaran ini akan membuat agama menjadi lumpuh..

*UW

No comments:

Post a Comment