Monday, June 3, 2013

Serba-Serbi Foremilk dan Hindmilk

Apa itu Foremilk dan Hindmilk?
Foremilk adalah ASI matang (ASI matang adalah ASI yang keluar setelah masa keluarnya kolostrum) yang keluar lebih dahulu saat kita menyusui. Foremilk lebih bersifat encer, kaya akan laktosa dan protein yang penting untuk pertumbuhan otak. Karena sifatnya yang encer, Foremilk berguna untuk menghilangkan rasa haus pada bayi. Sementara Hindmilk keluar beberapa saat setelah Foremilk, sifatnya lebih kental dan mengandung lebih banyak lemak daripada Foremilk dan bermanfaat untuk pertumbuhan fisik anak.  Hindmilk yang lebih kaya lemak inilah yang memberikan efek kenyang pada bayi.

Jadi, mana lebih penting, Foremilk dan Hindmilk?
Kalau dari penjelasan tentang Foremilk dan Hindmilk di atas, keduanya sama pentingnya. Karena Foremilk dibuituhkan oleh otak dan Hindmilk dibutuhkan untuk fisiknya. Keseimbangan Foremilk dan HIndmilk dapat ditunjukkan oleh warna feses (BAB) bayi yang kuning keemasan (golden feces), yang merupakan feses ideal bayi ASI eksklusif. Jika feses berwarna hijau sebetulnya masih normal, tetapi itu pertanda bahwa si kecil mengalami ketidakseimbangan Foremilk dan Hindmilk sehingga asupan Hindmilk-nya harus lebih dioptimalkan.

Setelah berapa lama menyusui Hindmilk akan keluar?
Untuk menjawab pertanyaan ini, harus dijelaskan dulu bagaimana Foremilk dan HIndmilk diproduksi. Setelah keluarnya Kolostrum di hari-hari awal setelah melahirkan, payudara sebetulnya hanya memproduksi satu jenis ASI. Foremilk dan Hindmilk diproduksi secara bersamaan tapi keluarnya bergantian. Ketika ASI terus menerus diproduksi, yang memenuhi payudara lebih dahulu dan bergerak menuju puting adalah ASI yg sifatnya encer. Lemak ASI yg pekat cenderung menempel pada dinding alveoli pada saluran payudara tempat ASI dibuat. Ketika bayi menghisap yang keluar duluan adalah ASI yang encer tadi, yg kita kenal sebagai Foremilk. Mulut bayi secara alami memancing hormon oksitosin yang membantu proses pemompaan ASI dari dalam payudara keluar. Secara bertahap, hisapan mulut bayi ini ikut memancing keluarnya kandungan lemak yang menempel di saluran ASI tadi untuk ikut keluar. Ketika si lemak ini keluar dari saluran ASI dan bercampur dengan Foremilk yang encer tadi, jadilah apa yg kita kenal sebagai Hindmilk. Itulah makanya sangat dianjurkan untuk membiarkan bayi menyusu sampai dia melepaskan sendiri payudara ibu, karena itu tandanya dia sudah cukup kenyang setelah memperoleh Foremilk dan Hindmilk. Selain itu penting juga untuk membiarkan bayi menghabiskan satu payudara setiap kali sesi menyusu, baru menwarkan payudara satunya jika ia masih belum puas.  Bayilah yang tahu pasti berapa yang dia butuhkan. Bayi tertidur karena mereka sudah kenyang dan sudah tidak haus lagi karena sudah mendapatkan keduanya. Jadi, tidak ada yang tahu pasti setelah berapa menit Hindmilk akan keluar, karena perubahan dari Foremilk ke Hindmilk berlangsung secara bertahap. Yang penting pastikan selalu si kecil mendapatkan keduanya. Jangan memikirkan berapa banyak lemak yang didapat setiap kali menyusui. Jika waktu menyusu cukup dan bayi menyusu secara efektif, lemak PASTI akan diperoleh.

Apakah payudara kanan dan kiri menghasilkan Foremilk dan Hindmilk dalam jumlah yang sama?
Kedua payudara sama-sama menghasilkan Foremilk dan Hindmilk, tetapi komposisi yang dihasilkan tiap payudara berbeda-beda setiap saat. Itulah kehebatan ASI, karena selalu diproduksi dengan komposisi yang bervariasi sesuai kebutuhan bayi setiap saat. Misalnya, lemak dalam ASI siang dan malam juga sebetulnya berbeda. Siang hari lemak dalam ASI lebih sedikit karena bayi butuh banyak protein dan laktosa untuk beraktivitas dan air untuk mencegahnya dari rasa haus. Sementara itu ASI pada malam hari cenderung lebih banyak mengandung lemak karena ASI harus dapat memberikan efek kenyang pada bayi hingga bisa tidur nyenyak. Tapi bukan berarti ASI siang tidak ada lemaknya. Hanya di malam hari memang cenderung lebih banyak agar bayi lebih nyenyak beristirahat.

Bagaimana cara mengoptimalkan Hindmilk? Kenapa ASI saya kelihatan encer terus? 
Semakin sering  Ibu mengosongkan payudara akan semakin tinggi kadar lemak yang mungkin didapatkan dalam payudara baik kanan dan kiri. Kenapa? Karena semakin lama jarak waktu antara menyusui, maka Foremilk akan semakin banyak terkumpul di depan dan lemak akan makin tertumpuk di saluran ASI, sehingga butuh waktu semakin lama untuk membuat lemak-lemak ASI keluar dari salurannya. Maka dari itu penting untuk sering-sering mengosongkan payudara kalau ingin lemak bisa cepat keluar. Selain itu, posisi dan pelekatan menyusui yang benar akan berperan dalam proses menyusui yang efektif. Ketidakseimbangan Foremilk dan Hindmilk kadang terjadi bila ibu mengalami over-supply atau kelebihan produksi ASI. Biasanya ditandai dengan payudara yang membengkak serta aliran ASI yang terlalu deras dan membuat bayi tersedak. Jika ini terjadi, untuk menjamin agar si kecil mendapatkan cukup Hindmilk dan agar bayi tidak mudah tersedak, ibu bisa memerah sedikit ASI-nya sebelum menyusui.

Apa yang biasanya terjadi bila bayi tidak mendapatkan cukup Hindmilk?
Ada beberapa ciri-ciri bayi ASI eksklusif yang kurang mendapatkan Hindmilk, antara lain:
  • Ciri umum yang mudah dilihat adalah warna feses yang hijau dan kadang disertai lendir/berbusa
  • Bayi gumoh lebih sering dari biasanya
  • Bayi selalu ingin menyusu, cenderung lebih rewel dan kelihatan selalu lapar.
  • Perut bayi kembung
  • Berat badan naiknya sangat perlahan, bisa di bawah rata-rata minimum.
  • Lebih rentan ruam popok karena fesesnya bersifat lebih asam
  • Bayi lebih sering BAB dari biasanya dan seringkali langsung BAB setelah menyusu

Sumber:
http://kultwit.aimi-asi.org/2012/07/foremilk-dan-hindmilk-sama-pentingnya/
http://kultwit.aimi-asi.org/2011/10/qa-kapan-hindmilk-keluar/
http://kultwit.aimi-asi.org/2011/03/komposisi-asi/
http://www.llli.org/faq/foremilk.html
http://www.breastfeeding-problems.com/foremilk-hindmilk-imbalance

Panduan Pemberian (Susu) Formula Pada Bayi Sesuai Standar WHO dan IDAI

“Aduh ASI saya tidak cukup, sepertinya sudah waktunya diberikan susu formula..”

Kalimat seperti ini sudah sering kita dengar. Bahkan tidak jarang anjuran untuk memberikan susu formula datang dari tenaga kesehatan, dengan  alasan bahwa berat badan bayi sulit naik atau berada di bawah garis normal. Sebetulnya, kapan bayi harus diberi susu formula?

Jawabannya: rekomendasi pemberian susu formula sebetulnya harus diberikan mengikuti standar yang telah ditetapkan oleh WHO yang kemudian diadaptasi oleh IDAI.  Artikel berikut memuat kondisi-kondisi di mana susu formula boleh atau bahkan harus diberikan kepada bayi sesuai dengan panduan WHO dan IDAI mengenai  panduan pemberian formula sebagai pendukung atau pengganti ASI.

Dalam kondisi di luar yang ditentukan oleh WHO dan IDAI, sebetulnya ASI harus tetap diberikan, 6 bulan secara eksklusif dan dilanjutkan hingga usianya 2 tahun.

Dalam panduan WHO dan IDAI sebetulnya ada EMPAT kategori dimana formula bisa diberikan (definisi “formula” menurut dokumen WHO adalah infant feeding formula yang berupa susu dan non-susu).

Kategori PERTAMA yang didasarkan pada kondisi bayi dimana bayi tidak boleh menerima ASI.  Dalam kasus ini ada 3 jenis penyakit dimana bayi tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi ASI.

  1. Bayi terkena maple syrup disease, yaitu sebuah kelainan metabolisme dimana mereka tidak boleh mengkonsumsi susu atau setidaknya harus menjalani low protein diet. Jenis "formula" yang diberikan kepada mereka bukanlah susu, tetapi berupa "medical nutrition" yg terdiri dari asam amino, karbo, lemak, vitamin, mineral dan unsur-unsur lain seperti zat besi, Seleniun dan Chromium. Di negara-negara Barat seperti Eropa dan AS, produsen susu formula untuk bayi biasanya  juga  memproduksi produk-produk medical nutrition untuk kasus-kasus medis seperti ini. Medical nutrition ini tidak dijual bebas, harus diberikan dengan rekomendasi dokter anak, ahli gizi atau dietician, dan metabolic doctor atau dokter spesialis metabolisme.  

  1. Bayi yang terkena  galactosemia,  yaitu sejenis penyakit kelainan genetis dimana mereka harus menghindari gula susu (laktosa) yang ada dalam semua kategori susu yang dihasilkan mamalia, termasuk manusia. Biasanya mereka akan diberikan formula susu soya dengan formulasi khusus tanpa laktosa. Di Amerika Serikat, susu-susu seperti ini bisa dibeli secara luas, tetapi porsi dan pemberiannya tetap dengan saran dokter.


  1. Bayi dengan phenylketonuria. Phenylketonurian adalah sebuah penyakit bawaan lahir yang mengakibatkan terjadinya penumpukan asam amino yang disebut phenylalanine di dalam tubuh bayi. Penyakit ini disebabkan oleh adanya proses mutasi gen dalam tubuh. Bayi atau orng dewasa dengan  Phenylketonuria harus menjalani diet yang dapat mengurangi level phenylalanine dalam tubuhnya, dalam hal ini menjalani diet rendah atau bahkan zero protein.  Bayi dengan Phenylketonuria membutuhkan formula khusu yang bebas phenylalanine. Namun demikian di beberapa kasus, bayi dengan Phenylketonuria masih bisa mendapatkan ASI dengan pengawasan khusus dari dokter.
.
Kategori KEDUA yang didasarkan pada kondisi bayi dimana bayi tetap diberikan ASI tetapi harus mendapatkan suplementasi tambahan karena kondisi khusus. Kondisi khusus ini antara lain:

  1. 1. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) di bawah 1500 gram atau bayi yang lahir di bawah usia 32 minggu/Bayi Kurang Bulan (BKB)

Bayi kurang bulan memerlukan kalori, lemak dan protein lebih banyak dari bayi cukup bulan agar dapat menyamai pertumbuhannya dalam kandungan. ASI bayi prematur mengandung kalori, protein dan lemak lebih tinggi dari ASI bayi matur, tetapi masalahnya adalah ASI prematur berubah menjadi ASI matang setelah 3 -4 minggu. Jadi untuk BKB kurang dari 34 minggu setelah 3 minggu kebutuhan tidak terpenuhi lagi. Volume lambung BKB kecil dan motilitas saluran cerna lambat sehingga asupan ASI tidak optimal. Untuk merangsang produksi ASI, diperlukan isapan yang baik dan pengosongan payudara. Refleks mengisap bayi prematur kurang / belum ada, akibatnya produksi ASI sangat tergantung pada kesanggupan ibu memerah.
Beberapa penelitian klasik antara lain oleh Lucas dan Schanler telah membuktikan manfaat ASI pada bayi prematur, akan mengurangi hari rawat, menurunkan insidensi enterokolitis nekrotikans (EKN) dan  menurunkan kejadian sepsis lanjut, hal hal yang sangat bermakna untuk perawatan BKB kecil di Indonesia. Sehingga perlu diusahakan memberi kolostrum (perah) terutama pada perawatan bayi di hari hari pertama.

Untuk mengatasi masalah nutrisi selanjutnya, setelah ASI prematur berubah menjadi ASI matang dianjurkan penambahan penguat ASI (HMF atau human milk fortifier, saat ini belum tersedia secara meluas di Indonesia). Penguat ASI adalah suatu produk komersial berisi  karbohidrat, protein dan mineral yang sangat dibutuhkan bayi kurang bulan. HMF yang proteinnya berasal dari susu sapi, biasanya  dicampurkan dalam air susu ibu bayi sendiri . Bila tidak tersedia penguat ASI, pemberian susu prematur dapat dibenarkan terutama untuk bayi prematur yang lahir dengan usia kehamilan kurang dari 32 minggu atau berat lahir kurang dari 1500 gram. Apabila terdapat alergi terhadap susu sapi sebaiknya susu formula yang diberikan adalah susu formula yang telah dihidrolisis sempurna. Schanler menemukan pemberian HMF pada ASI donor kurang bermanfaat mungkin karena prosedur pemanasan yang harus dilalui. Selanjutnya, bila bayi sudah stabil, susu prematur dapat diberikan dengan Alat Bantu Laktasi (Lact Aid / Suplementer) untuk melatih bayi belajar mengisap

  1. 2. Bayi yang lahir cukup bulan tetapi dengan pertimbangan berbagai resiko kesehatan, antara lain:

a)  Bayi yang beresiko hipoglikemia dengan gula darah yang tidak meningkat meskipun telah disusui dengan baik tanpa jadwal atau diberi tambahan ASI perah. Resiko hipoglikemi dapat terjadi pada bayi kecil untuk masa kehamilan, pasca stress iskemik intrapartum, dan bayi dari ibu dengan diabetes mellitus terutama yang tidak terkontrol. Tata laksana yang dianjurkan adalah:
  • segera setelah lahir bayi disusui tanpa jadwal, dan jaga kontak kulit dengan ibu agar tidak hipotermi (untuk mengatasi hipotermi bayi memerlukan banyak energi)

  • gula darah plasma hanya diukur bila ada risiko atau ada gejala hipoglikemia dan sebaiknya diukur sebelum minum / umur bayi 4-6 jam
  • dibenarkan memberi suplemen ASI perah atau susu formula bila gula darah < 2.6 mmol (40 mg/dl) dan diulang 1 jam setelah minum ASI. mencukupi, penambahan susu formula dikurangi dan akhirnya dihentikan. 
  • bila gula darah tetap tidak meningkat ikuti tata laksana penanganan hipoglikemi sesuai panduan rumah sakit.

b) Bayi yang secara klinis menunjukkan gejala dehidrasi (turgor/ tonus kurang, frekuensi urin < 4x setelah hari ke-2, buang air besar lambat keluar atau masih berupa mekonium setelah umur bayi > 5 hari).

c) Hiperbilirubinemia pada hari-hari pertama, bila diduga produksi ASI belum banyak atau bayi belum bisa menyusu efektif. Dalam kategori ini secara spesifik diarahkan pada diagnosa Kuning karena ASI (breastmilk jaundice), bila bilirubin melebihi 20 – 25 mg/dL pada bayi sehat. Anjuran untuk membantu diagnosis dengan menghentikan ASI 1-2 hari sambil sementara diberi susu formula. Bila bilirubin terbukti menurun, ASI dimulai kembali.

d) Kondisi Lain-lain: bayi terpisah dari ibu, bayi dengan kelainan kongenital yang sukar menyusu langsung (sumbing, kelainan genetik). Dapat kita simpulkan, bahwa pada kasus-kasus di atas suplemen susu formula hanya diberikan sampai masalah teratasi sambil bayi terus disusui. Setelah itu ibu dan bayinya harus dibantu dan didukung agar bayi tetap mendapat ASI eksklusif.

Catatan:
  1. Pengganti ASI diberikan memakai sendok, cangkir ataupun selang orogastrik. Sementara itu ibu dianjurkan sering-sering    menyusui dan memerah payudara (4-5x sehari).
  2. Pemeriksaan kadar gula darah jam-jam pertama kelahiran tidak diperlukan pada bayi cukup bulan sehat.   
  3. Resiko tinggi hipoglikemia atau rendah gula darah.  Dalam kategori ini termasuk bayi yang ibunya mengalami diabetes apabila hasil tes darahnya  gagal menunjukkan hasil yang positif setelah mengkonsumsi ASI saja.

Kategori KETIGA adalah bayi yang tidak dapat menyusu karena kondisi kesehatan ibu.  Dalam berbagai kondisi kesesehatan ibu, ada yang sama sekali tidak direkomendasikan untuk menyusui.
Yang termasuk dalam kategori ini adalah:
  1. 1. Ibu dengan HIV positif yang tidak direkomendasikan menyusui (ibu dengan HIV AIDS boleh menyusui dengan syarat dan ketentuan yang ketat, kalau tidak memenuhi syarat dan ketentuan ini biasanya tidak dianjurkan untuk menyusui). Rekomendasi dari WHO (November 2009) untuk ibu HIV positif:

  • Tidak menyusui sama sekali bila -- pengadaan susu formula dapat diterima, mungkin dilaksanakan, terbeli,  berkesinambungan dan aman (AFASS acceptable, feasible, affordable, sustainable dan safe)
  • Bila ibu dan bayi dapat diberikan obat-obat ARV (Anti Retroviral) dianjurkan menyusui eksklusif sampai bayi  berumur 6 bulan dan dilanjutkan menyusui sampai umur bayi 1 tahun bersama dengan tambahan makanan pendamping ASI yang aman.
  • Bila ibu dan bayi tidak mendapat ARV, rekomendasi WHO tahun 1996 berlaku yaitu ASI eksklusif yang harus diperah dan dihangatkan sampai usia bayi 6 bulan dilanjutkan dengan susu formula dan makanan pendamping ASI yang aman.
  1. 2. Ibu penderita HTLV (Human T-lymphotropic Virus) tipe 1 dan 2 Virus ini juga menular melalui ASI. Virus tersebut dihubungkan dengan beberapa keganasan dan gangguan neurologis setelah bayi dewasa. Bila ibu terbukti positif, dan syarat AFASS dipenuhi, tidak dianjurkan memberi ASI.

  1. 3. Ibu penderita CMV (citomegalovirus) yang melahirkan bayi prematur juga tidak dapat memberikan ASInya.

  1. 4. Untuk kategori penyakit ibu seperti Hepatitis B atau TBC, sebetulnya ibu tetap bisa menyusui dengan catatan khusus. Untuk Hepatitis B, ibu bisa tetap menyusui selama bayi mendapatkan imunisasi Hepatitis B dalam waktu 48 jam setelah kelahiran. Untuk ibu dengan TBC, baik ibu dan bayi harus berada dalam penanganan dokter dan menjalani protocol penanaganan dan pencegahan TBC sesuai protocol yang berlaku di suatu Negara.

Kategori KEEMPAT adalah kategori ibu yang dengan indikasi tertentu untuk SEMENTARA tidak boleh menyusui

Pada ibu perlu dijelaskan bahwa penghentian menyusui hanya sementara dan ibu dapat melanjutkan menyusui bayinya kembali sesuai dengan perkembangan kesehatannya. Selain itu, petugas kesehatan harus dapat memberi informasi cara mempertahankan produksi ASI dan bila perlu rujuklah pada konsultan atau klinik laktasi.
  1. Ibu sakit berat sehingga tidak bisa merawat bayinya misalnya psikosis, sepsis, atau eklampsia
  2. Ibu yang sedang menjalani terapi radiasi untuk kanker
  3. Virus herpes simplex type 1 (HSV-1): kontak langsung mulut bayi dengan luka di dada ibu harus dihindari sampai pengobatannya tuntas
  4. Pengobatan ibu: psikoterapi jenis penenang, anti epilepsy

Ada juga pertimbangan memberi susu formula pada beberapa kondisi kesehatan ibu yang lain:
  1. Ibu yang merokok, peminum alkohol, pengguna ekstasi, amfetamin dan kokain dapat dipertimbangkan untuk diberi susu formula, kecuali ibu menghentikan kebiasaannya selama menyusui. 
  2. Beberapa situasi lain dimana dibenarkan untuk memberi susu formula : 
  • Laktogenesis memang terganggu, misalnya karena ada sisa plasenta (hormon prolaktin terhambat), sindrom Sheehan (perdarahan pasca melahirkan hebat dengan komplikasi nekrosis hipothalamus)
  • Insufisiensi kelenjar mammae primer: dicurigai bila payudara tidak membesar tiap menstruasi / ketika hamil dan produksi ASI memang minimal.
  • Pasca operasi payudara yang merusak kelenjar atau saluran ASI
  • Rasa sakit yang hebat ketika menyusui yang tidak teratasi oleh intervensi seperti perbaikan pelekatan, kompres hangat maupun obat. Tetapi kemudian harus segera ditindaklanjuti penyebab rasa sakitnya seperti misalnya pada kasus bayi dengan tongue tie

Disarikan dari:

  1. “Acceptable medical reasons for use of breast-milk substitutes”  dalam http://www.who.int/maternal_child_adolescent/documents/WHO_FCH_CAH_09.01/en/
  2. “Pemberian Susu Formula pada Bayi Baru Lahir” dalam; http://www.idai.or.id/asi/artikel.asp?q=2012614114014

Seputar Posisi dan Pelekatan Menyusui

Apakah itu posisi dan pelekatan menyusui?

Posisi adalah cara ibu mendekap bayi saat sedang menyusui. Pelekatan adalah letak mulut bayi pada payudara ibu ketika sedang menyusu. Mengapa penting? Posisi dan pelekatan yang kurang tepat dapat menyebabkan kesakitan pada ibu (payudara bengkak, puting lecet dan luka) serta bayi tidak dapat minum ASI secara optimal ketika sedang menyusu, sehingga mengganggu tumbuh kembangnya.

Posisi menyusuinya sebetulnya bisa bermacam-macam, tergantung kenyamanan ibu dan bayi. Tetapi ada elemen-elemen dasar penting yang harus dipastikan untuk mendapatkan posisi yang benar apapun macam posisi menyusui yang digunakan:

  1. Kepala dan badan bayi dalam satu garis lurus, Jadi biasanya kalau menyusui sambil duduk, bisa letakkan seluruh tubuh bayi di atas bantal agar posisinya tidak terlalu rendah.
  2. Badan bayi didekap dekat dengan badan ibu hingga menempel. Kalau menggunakan posisi tidur miring, berarti indikatornya di perut dimana perut bayi menempel di perut ibu
  3. Tangan ibu harus menopang seluruh badan bayi, bukan hanya kepala dan bahu
  4. Bawa bayi menghadap ke payudara, dengan hidung bayi berhadapan dengan puting.


Posisi yang biasa digunakan untuk menyusui bermacam-macam, antara lain:
  1. Posisi mendekap atau cradle hold, yaitu menyusui dari payudara kiri dan bayi ditopang dengan lengan kiri.
  2. Posisi menyilang atau cross cradle, yaitu menyusui dari payudara kiri dan bayi ditopang dengan lengan kanan.
  3. Posisi dari samping atau football hold, yaitu menyusui dari payudara kiri dan tubuh bayi disebelah badan ibu serta ditopang dibawah lengan kiri.
  4. Posisi tiduran menyamping atau lying down, muka bayi menghadap payudara dan perut bayi menempel pada perut ibu.


Setelah mendapatkan posisi yang benar, tahap berikutnya adalah memastikan pelekatan yang benar juga:

  1. Mulut terbuka lebar. Jangan buru-buru memasukkan payudara ke mulut bayi jika mulutnya belum terbuka lebar.Tunggu sampai bayi membuka mulut lebar dengan lidah di bawah. ibu dapat mengajari bayi membuka mulut lebar dengan cara:
    a. arahkan bayi menuju payudara, sentuhlah bibir atas bayi pada puting pelan-pelan mundurkan mulut bayi
    b. Sentuhkan kembali bibir atas bayi pada puting, mundurkan kembali mulut bayi
    c. Ulangi hingga bayi membuka mulut lebar-lebar dan lidahnya maju
    Bayi akan membuka mulutnya lebar untuk mencakup puting dan lingkaran gelap di sekitar puting (areola), puting ibu sebaiknya berada pada langit-langit mulut bayi
  2. Daerah gelap di sekitar puting (aerola) masuk banyak ke mulut bayi, terutama yang terletak di bagian bibir bawah bayi. Dengan kata lain, Areola yang masih nampak (setelah payudara masuk mulut), lebih banyak di bagian atas daripada bagian bawah. Jadi ketika memasukkan payudara ke dalam mulut, lakukan dari bagian bawah mulut bayi agar areola bagian bawah banyak yang masuk.
  3. Bibir bawah bayi harus melengkung keluar. Jangan sampai mulut bayi berbentuk kuncup (mecucu).
  4. Dagu bayi menyentuh payudara ibu


Sumber:
http://kultwit.aimi-asi.org/2011/10/pelekatan-posisi-menyusui/
http://www.kemangmedicalcare.com/kmc-tips/tips-dewasa/692-posisi-dan-pelekatan-menyusui.html
http://sentralaktasiindonesia.wordpress.com/2008/01/13/posisi-dan-pelekatan-menyusui/
http://www.idai.or.id/asi/artikel.asp?q=2009416122558

Imunisasi ditunda?

Tulisan ini bahan buku imunisasi yg diambil dari berbagai sumber, WHO, AAP,
IDAI

Indikasi kontra imunisasi.
Pada dasarnya, sedikit sekali kondisi yang menyebabkan imunisasi harus
ditunda. Pilek, batuk, suhu sedikit meningkat, bukan halangan untuk
imunisasi.

Beberapa kondisi di bawah ini bukan halangan untuk imunisasi:
- Gangguan saluran napas atas atau gangguan saluran cerna ringan
- Riwayat efek samping imunisasi dalam keluarga.
- Riwayat kejang dalam keluarga.
- Riwayat kejang demam
- Riwayat penyakit infeksi terdahulu
- Kontak dengan penderita suatu penyakit infeksi
- Kelainan saraf menetap seperti palsi serebral, sindrom Down
- Eksim dan kelainan lokal di kulit
- Penyakit kronis (jantung, paru, penyakit metabolik)
- Terapi antibiotika; terapi steroid topikal (terapi lokal, kulit, mata)
- Riwayat kuning pada masa neonatus atau beberapa hari setelah lahir
- Berat lahir rendah
- Ibu si anak sedang hamil
- Usia anak melebihi usia rekomendasi imunisasi

Kondisi dimana imunisasi tidak dapat diberikan atau imunisasi boleh ditunda:

- Sakit berat dan akut; Demam tinggi;
- Reaksi alergi yang berat atau reaksi anafilaktik;
- Bila anak menderita gangguan sistem imun berat (sedang menjalani terapi
steroid jangka lama, HIV) tidak boleh diberi vaksin hidup (polio oral, MMR,
BCG, cacar air).
- Alergi terhadap telur, hindari imunisasi influenza

dr wati dalam grup Gesamun

Tuesday, May 21, 2013

Sidaguri (Tanaman otok)

Sidaguri (Sida rhombifolia)

Sidaguri tumbuh liar di tepi jalan, halaman berrumput, hutan, ladang, dan tempat-tempat dengan sinar matahari cerah atau sedikit terlindung. Tanaman ini tersebar pada daerah tropis di seluruh dunia dari dataran rendah sampai 1.450 m dpl. Perdu tegak bercabang ini tingginya dapat mencapai 2 m dengan cabang kecil berambut rapat. Daun tunggal, letak berseling, bentuknya bulat telur atau lanset, tepi bergerigi, ujung runcing, pertulangan menyirip, bagian bawah berambut pendek warnanya abu-abu, panjang 1,5-4 cm, lebar 1--1,5 cm. Bunga tunggal berwarna kuning cerah yang keluar dari ketiak daun, mekar sekitar pukul 12 siang dan layu sekitar tiga jam kemudian. Buah dengan 8--10 kendaga, diameter 6--7 mm. Akar dan kulit sidaguri kuat, dipakai untuk pembuatan tali. Perbanyakan dengan biji atau setek batang.
NAMA DAERAH Sumatera: guri, sidaguri, saliguri. Jawa: sadagori, sidaguri, otok-otok, taghuri, sidagori. Nusa Tenggara: kahindu, dikira. Maluku: hutu gamo, bitumu, digo, sosapu. NAMA ASING Huang hua mu (C), walis-walisan (Ph), sida hemp, yellow barleria (I). NAMA SIMPLISIA Sidae rhombifoliae Herba (herba sidaguri), Sidae rhombifoliae radix (akar sidaguri).

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Herba sidaguri rasanya manis, pedas, sifatnya sejuk, masuk meridian jantung, hati, paru-paru, usus besar, dan usus kecil. Sidaguri berkhasiat antiradang, penghilang nyeri (analgesik), peluruh kencing (diuretik), peluruh haid, dan pelembut kulit. Akar rasanya manis, tawar, sifatnya sejuk. Merangsang enzim pencernaan, mempercepat pematangan bisul, antiradang, dan abortivum.

Pemanfaatan :

Komposisi :
Daun mengandung alkaloid, kalsium oksalat, tanin, saponin, fenol, asam amino, dan minyak asiri. Banyak mengandung zat phlegmatik yang digunakan sebagai peluruh dahak (ekspektoran) dan pelumas (lubricant). Batang mengandung kalsium oksalat dan tanin. Akar mengandung alkaloid, steroid, dan efedrine.


Sumber: http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=253