Stop Global Warming

Stop Global Warming
Pose ketika Hari Bumi 2010

Saturday, October 6, 2012

Babad Tanah Jawi dan Majapahit

Di buku-buku sejarah, sebagaimana yang sudah umum kita terima, disebutkan bahwa pendiri kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya. Sementara, kitab Babad Tanah Jawi menyebutkan Raden Sesuruh yang mendirikan kerajaan Majapahit. Jika Raden Wijaya yang kemudian bergelar Çri Kertarajasa Jayawardhana berasal dari wangsa Rajasa (keturunan Çri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi alias Ken Arok) dan menantu sekaligus calon pengganti dari Raja Kertanegara, penguasa Singasari yang terakhir, maka Babad Tanah Jawi menyebutkan Raden Sesuruh adalah putera mahkota Pajajaran yang terusir karena pemberontakan Siyung Wanara yang juga disebutkan bernama Arya Banyak Wide (sebuah nama yang tak asing dalam versi resmi sejarah berdirinya Majapahit, tapi bukan putera Pajajaran seperti yang disebutkan dalam Babad Tanah Jawi, melainkan Bupati Sumenep yang juga bernama Arya Wiraraja). Dan Singasari, sebagaimana juga Majapahit, berada di Jawa Timur, sedangkan Pajajaran di Jawa Barat. 
Maka, apakah penulis Babad Tanah Jawi cuma mengarang, sebab ia pasti bukan seorang sejarawan yang memandang perlu penelusuran terhadap sumber-sumber sejarah yang otentik? Bukankah dengan demikian "pemalsuan sejarah" juga punya riwayat yang panjang: bukan saja dilakukan oleh pemerintah Orde Baru, tapi juga sejak penulisan Babad Tanah Jawi di masa Mataram Islam, sebab cerita-cerita yang berkembang di masyarakat (cerita rakyat) juga banyak yang didasarkan pada cerita-cerita di dalam Babad Tanah Jawi?
Babad Tanah Jawi memang berisi sejarah Jawa, yang antara lain tentang garis keturunan raja-raja Mataram, dari Nabi Adam hingga Panembahan Senapati sang pendiri Mataram Islam, yang terasa tak masuk akal dan kaya akan dongeng atau takhayul alias fiktif. Tapi kita memang tak seharusnya melihat masa lalu dengan kacamata masa kini. Kalau dalam perspektif modern, orang akan dengan tegas menolak yang palsu dan karenanya mengenal konsep "pemalsuan sejarah", maka kita mungkin bisa mencari makna yang lain dari apa yang ada ketimbang harus melulu melihat apa yang ada itu sebagai asli atau palsu, realita atau fiktif. Dalam cerita tentang pendirian Majapahit oleh Raden Sesuruh, ada yang menarik. Raden Sesuruh membuka sebuah daerah yang kemudian disebut Majapahit setelah memperoleh petunjuk dari seorang kakek pertapa yang bernama Ki Ajar Cemara Tunggal, yang sesungguhnya adalah jelmaan puteri Pajajaran nan cantik jelita yang melarikan diri. Raden Sesuruh jatuh cinta pada puteri yang menjelma Ki Ajar itu, yang ternyata Sang Puteri adalah leluhur dari Raden Sesuruh sendiri. Sang Puteri kemudian mengghaib dan hanya terdengar suaranya bahwa ia akan pindah ke lautan pasir untuk mengepalai segala jenis mahluk halus dan kelak akan menemui Raden Sesuruh dan keturunannya kalau sudah menjadi raja. Ki Ajar yang juga puteri Pajajaran inilah yang kemudian dikenal sebagai Nyi Rara Kidul. Sedangkan raja-raja Mataram seperti Panembahan Senapati dan Sultan Agung memperistri Nyi Rara Kidul ini. Babad Tanah Jawi memberi legitimasi bagi raja-raja Mataram, yang merupakan keturunan dari Ki Gede Pemanahan, seorang kepala daerah yang tak lebih besar dari kabupaten, melalui mitos Nyi Rara Kidul: Nyi Rara Kidul hanya diperistri oleh keturunan Raden Sesuruh, sehingga raja-raja Mataram yang bukan dari trah Demak dan Pajang tapi sanggup mengawini Nyi Rara Kidul juga berhak atas tahta, sebab masih merupakan trah Majapahit..

*YS