Tuesday, May 8, 2012

Elegi


Jika ada sebuah kesempatan, betapa aku ingin bertemu denganmu. Kau tau rindu ini membelengguku. Bahkan mungin bukan sekedar rindu, melainkan selaksa rindu yang lama terbendung.

Sejak pertemuan kita kala itu, saat terakhir sebelum ku bilang bahwa aku akan menikah. Aku berharap engkau meyakinkan hatiku bahwa kau pun siap menjadi imamku. Namun ternyata, kau tak cukup bernyali sebagai laki-laki. 

Akhir-akhir ini dadaku bergetar dan pikiranku selalu terbayang olehmu. Aku menyakini ini adalah rindu kita. Suatu rindu yang dating dari dua hati yang hanya terpisah oleh jarak dan waktu, tapi juga hati yang berpagar tinggi yang tak kan mungkin bisa dirobohkan lagi. 

Entah bagimu, masa lalu kita itu menjadi sejarah perjalanan cintamu atau tidak. Tapi bagiku, kau satu-satunya mantan kekasihku (aku hitung kau sebagai orang yang pernah menjalin hubungan cinta denganku yang masih bisa membuat jantungku bergetar karena mengingatmu. Entahlah,, 

Satu hal yang kupinta dari Tuhan tentang sebuah kesempatan itu adalah sebuah pertemuan antara kita untuk saling menyatakan pengakuan atas cinta, rindu, bahkan mungkin kecewa dan benci yang selama ini kita rasakan. Terlalu naïf, jika sampaisekarang pun kita masih belum mengakuinya. 

Akhii,,

Aku tahu mungkin engkau pun menjaga jarak denganku karena statusku yang sudah menjadi harim orang lain. Bukan kesepakatan kita tentang tetap menjalin silaturahim itu terlalu menyakitkan bagimu. Aku maklum, tapi terkadang aku juga masih begitu egois ingin bertemu denganmu. Rasanya aku begitu jahat melukaiengkau dan suamiku. Aahh,, kenapa hatiku terjebak dalam dimensi yang memilukan seperti ini Tuhan,,

Lama sejak terakhir kali kita BBMan dan bercanda waktu itu, engkau menghilang begitu saja. Aku mencoba menghubungimu melalui BBM, Facebook, Twitter, menyampaikannya lewat blog, bahkan aku sampaikan dengan khusuk dalam doaku. Duuh Gustii ampunillah hambaMu ini,, :’(

Bahkan aku tahu ketika kamu tiba-tiba muncul di chatt facebook tepat pada saat ulang tahunku itu bukanlah suatu kebetulan. Namun egoku tetap saja masih tinggi. Kau hanya mneyapaku dengan nada biasa. Basa-basi juga seperti biasa. Padahal sungguh aku ingin kau juga mengucapkannya juga untukku. Denganmu memang selalu pebuh kejutan dan sensasi. Harus serba ekstra ya,,
19.59 wita rumah nomor empat 4

No comments:

Post a Comment