Thursday, February 2, 2012

Tanda Sayang dari Allah



Tak ada firasat apapun yang menyelimutiku kala itu,,
Minggu 22 Januari saat hubby masih di Surabaya, tiba-tiba aku tersedu di sudut malam,,
lalu nightmare dan tidak tenang rasanya,,
esoknya hari-hari berjalan seperti biasa,,
ada acara bakar ikan di rumah hubby di Madura bersama ipar dan sepupu,,
semua masih baik-baik saja,,
sambil menunggu kedatangan Hubby seperti biasa aku bersgolawat sambil mengelus Jibril,,
Hubby tidak jadi pulang pada malam Imlek,,
kepulangan ditunda karena ada urusan yang belum kelar,,
akupun dengan sabar menunggunya pulang sembari mendengarkan Mozart buat Jibril,,

pagi itu 24 Januari saat Hubby pulang aku sudah cantik,,
telah kusiapkan sarapan kesukaannya,,
lalu kami makan bersama,,
siangnya kami silaturahim ke Guluk-Guluk, Sumenep bersama Bapak-Ibu mertua serta ipar dan sepupu,,
tempat Hubby dulu melakukan pengabdian waktu nyantri di Prenduan,,
kami hendak berpamitan dan meminta doa untuk Jibril dan keberangkatan kami hijrah ke Banjarmasin,,
senang dan bahagia bisa berbagi dengan mereka,,
Subhanallah,,

Malamnya aku bersama sepupu periksa ke bidan,,
niat untuk kontrol seperti biasa karena hendak bepergian jauh,,
sama sekali tak terlintas hal buruk yang akan menimpaku,,
waktu periksa detak jantung Jibril tak bisa terdeteksi,,
aku masih khusnudhon karena pada pemeriksaan sebelumnya memang sulit ditemukan karena tebalnya perutku,,
bahkan ketika bidan mulai khawatir aku masih begitu tenang menguasai keadaan dengan tersenyum,,
bidan akhirnya membuat surat pengeantar ke dokter spesialis kandungan,,
menyarankan untuk melakukan usg,,

malam itu kami langsung menuju Rumah bersalin yang dimaksud,,
tetapi jam kerja sudah tutup,,
terpaksa kami kembali esok hari,,
aku ingin usg bersama Hubby,,
akhirnya kami menghadap dokter dan melakukan usg setelah isya' pada 25 Januari,,
Astaghfirullahaladzim,,
Innalillahi wainna ilaihi raaji'un,,
aku masih tidak percaya dengan hasil usg dan perkataan dokter malam itu,,
ditemani Hubby aku masih terlihat dan berjalan gontai bagai dalam mimpi,,
tak ada air mata yang menetes dipipiku,,

namun ketika hendak menapaki pintu rumah hatiku tersedak,,
seperti ada bagian dari tubuhku yang menghilang rasanya perih tak terperi,,
aku tak sanggup bilang hasil usg kepada bapak-Ibu mertuaku,,
Hubby yang menyampaikan dengan nada hati-hati,,
sedangkan aku terduduk di kursi makan dengan wajah panik, bingung, sedih, dan kosong,,
pikiranku melayang kemana-mana,,
sampai akhirnya tak kusadari aku beranjak ke tempat tidur setelah sholat isya',,

aku masih tidak percaya akan apa yang terjadi,,
rasanya baru kemarin Allah memberiku anugerah untuk hamil,,
memberiku amanh menjadi seorang ibu,,
rasanya baru kemarin aku mual dan muntah-muntah hamil muda,,
aku mengelus perutku membelai Jibril dengan sayang,,
mengajaknya mengaji, membaca, bercerita, dan banyak hal,,
namun Allah berkehendak lain,,
Dia mengambil Jibril lebih cepat bahkan sebelum ia menghirup alam dunia,,

aku berusaha tabah dan ikhlas menghadapi cara Allah menyanyangiku juga kami,,
ku kabari ibuku, ikuku dan ayahku di Jawa,,
aku minta doa agar dimudahkan dalam menjalani persalinan esok harinya,,
aku berusaha tenang,,
namun terbata sampai akhirnya terisak juga,,
malam itu 25 januari aku tak bisa memejamkan mata,,
terbayang olehku wajah Jibril yang ganteng nan lucu,,
tapi kupaksakan dalam lantunan doa,

pagi itu 26 Januari pukul 07.00 aku berangkat ke Rumah Bersalin ditemani Hubby dan sepupu,,
aku langsung opname di kamar Apel dan diberikan obat perangsang,,
dokter mngusahakan agar aku bisa melahirkan normal tanpa operasi,,
Alhamdulillah,,
setelah empat kali dimasukkan obat perangsang yang sakitnya masyaAllah itu,,
paginya Kamis, 27 Januari 2012 pukul 05.30 Jibril lahir,,
lega rasanya setelah sehari semalam meraung-raung menahan sakit,,
seperti hendak menunggu ajal,,
bahkan ku pasrahkan hidupku sama Allah malam itu,,
kurasakan tubuhnya masih mungil,,
namun aku tak sempat melihat wajahnya,,
bidan langsung membungkusnya dan dibawa pulang ibu mertuaku utuk disucikan di rumah,,
aku masih tergolek lemas di kamar Apel,,

dua jam kemudian aku di usg lagi untuk memastikan rahimku bersih,,
namun ada sisa plasenta di dalamnya,,
hingga saat itu juga aku dibawa ke runag operasi untuk kuretase,,
entahlah aku begitu tenang dan sabar menjalani semuanya,,
mungkin karena aku sudah pasrah dan tawakkal sejak awal,,
yang kuingat aku sedang bercengkrama dengan seorang bidan di ruang operasi,,
sampai kurasakan cairan menyakitkan memasuki nadiku dan semuanya gelap,,

ketika aku terbangun matahari sudah tinggi,,
kepalaku masih berputar-putar sisa obat bius pagi itu,,
ada sepupu yang menemaniku di sana,,
subhanallah Engkau maha Rohman-Rohim karena memberiku kelurga yang begitu baik,,
tak henti-hentinya aku bersyukur semua berjalan lancar,,
meski di dalam hatiku ada luka yang begitu dalam,,
luka bagi seorang ibu yang kehilangan anaknya,,

setelah sampai di rumah kutanyakan pada ibu mertuaku tentang Jibril,,
ibu bilang wajahnya belum begitu jelas terlihat,,
namun seandaninya Jibril lahir hidup dia pasti seganteng Hubby dengan perawakan yang tinggi,,
sampai saat ini aku masih terung mengenang Jibril,,
tak akan terlupakan oleh apapun,,
putra pertama ibu,,
Jibril tenang dan bahagia di surga,,
ku rasakan senyumnya mnegembang disetiap saat aku memejamkan mata,,
Ibu dan bapak sayang selalu sama Jibril,,

aku selalu menyalahkan diriku atas apa yang terjadi pada Jibril,,
tapi orang-orang terdekatku mengingatkanku untuk ikhlas dan merelakan semuanya,,
sejak saat itu,,
aku menjadi pribadi yang baru,,
aku lebih berhati-hati dalam segala hal,,
terutama nanti ketika Allah menganugerahkan kembali seorang bayi dalam rahimku,,
terima kasih Jibril,,
terima kasih anakku sayang,,
love you ever after forever,, :-*

No comments:

Post a Comment