Monday, June 3, 2013

KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)

Imunisasi telah diakui sebagai upaya pencegahan penyakit yang paling efektif dan berdampak terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Sehubungan dengan itu maka kebutuhan akan vaksin makin meningkat seiring dengan keinginan dunia untuk mencegah berbagai penyakit yang dapat menimbulkan kecacatan dan kematian. Peningkatan kebutuhan vaksin telah ditunjang pula oleh upaya perbaikan produksi vaksin dengan meningkatkan efektivitas dan keamanan vaksin.

Faktor terpenting yang harus dipertimbangkan dalam upaya pembuatan vaksin adalah keseimbangan antara imunogenisitas (daya pembentuk kekebalan) dengan reaktogenisitas (reaksi simpang vaksin). Vaksin harus berisi antigen yang efektif untuk merangsang respons imun penerima sehingga tercapai nilai antibody di atas ambang pencegahan untuk jangka waktu yang cukup panjang. Vaksin harus diupayakan untuk tidak menimbulkan efek simpang yang berat, dan jauh lebih ringan dibandingkan gejala klinis penyakit secara alami.

Pada kenyataannya belum ada vaksin yang benar-benar ideal, namun kemajuan bioteknologi saat ini telah dibuat vaksin yang efektif dan relatif aman. Seiring dengan cakupan vaksinasi yang tinggi maka penggunaan vaksin juga meningkat dan sebagai akibatnya kejadian yang berhubungan dengan imunisasi juga meningkat. Dalam menghadapi hal tersebut penting diketahui apakah kejadian tersebut berhubungan dengan vaksin yang diberikan ataukah terjadi secara kebetulan. Reaksi simpang yang dikenal sebagai kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) atau adverse events following immunization (AEFI) adalah kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi, baik berupa efek vaksin ataupun efek samping, toksisitas, reaksi sensitivitas, efek farmakologis, atau kesalahan program, koinsidensi, reaksi suntikan, atau hubungan kausal tidak dapat ditentukan. Untuk mengetahui hubungan antara imunisasi dengan KIPI diperlukan pencatatan dan pelaporan semua reaksi simpang yang timbul setelah pemberian imunisasi yang merupakan kegiatan dari sistem pemantauan (surveilans) KIPI. Hasil pemantauan akan dianalisis dan diberikan umpan-balik kepada pembuat keputusan program imunisasi. Surveilans KIPI sangat membantu program imunisasi, untuk menjamin keamanan imunisasi dan memberikan perlindungan pada sasaran imunisasi, khususnya untuk memperkuat keyakinan masyarakat akan pentingnya imunisasi sebagai upaya pencegahan penyakit yang efektif.

Penanggulangan KIPI dilaksanakan secara komprehensif meliputi penanganan medik terhadap kasus KIPI hingga memberikan informasi kepada masyarakat tentang manfaat, keamanan dan risiko imunisasi. Untuk menanggulangi hal-hal yang berhubungan dengan KIPI tersebut dibentuk Komite Nasional Penanganan dan Penanggulangan KIPI (Komnas PP-KIPI). Komnas PP-KIPI merupakan suatu komite independen di tingkat nasional yang terdiri dari unsure-unsur klinisi, pakar dalam bidang mikrobiologi, virology, vaksin, farmakologi, ahli epidemiologi, ahli forensic, pakar hukum, yang berada dalam organisasi profesi (IDAI, POGI, PAPD, ISFI), Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan cq. Sub Direktorat Imunisasi dan Sub Direktorat Surveilans dan Badan POM. Komnas PP-KIPI bertugas menganalisis informasi hasil telaah kasus KIPI, meninjau keseluruhan pola dari laporan dan pelacakan, membuat penilaian kausalitas KIPI pada kasus yang belum dan sudah disimpulkan oleh Komda PP-KIPI dan melakukan umpan balik kepada Komda PP-KIPI yang terkait. Komnas PP-KIPI dapat melakukan peninjauan lapangan (pelacakan menggunakan otopsi verbal), serta menjelaskan manfaat, keamanan dan risiko imunisasi pada masyarakat. Komnas PP-KIPI yang bertanggungjawab kepada Menteri Kesehatan cq. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan ini juga mempunyai wewenang memberikan nasehat, saran, dan pendapat ahli kepada pihak-pihak yang memerlukan dalam rangka penjernihan masalah kasus KIPI dan diduga KIPI. Sementara itu, di tingkat propinsi terdapat Komite Daerah Pengkajian dan Penanggulangan KIPI (KOMDA PP-KIPI) yang terdiri dari unsur-unsur profesi terkait yang akan bertanggungjawab kepada Gubernur cq. Dinas Kesehatan Propinsi terkait penatalaksanaan analisis KIPI secara teratur dan memberikan umpan balik ke sistem di bawahnya serta masyarakat di daerah tersebut.

Pemantauan kasus KIPI merupakan kerja sama antara Program Imunisasi Departemen Kesehatan dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan sebagai dua mitra yang bertanggung jawab terhadap keamanan vaksin. Pemantauan kasus KIPI yang efektif melibatkan:
  1. Masyarakat atau petugas kesehatan di lapangan, yang bertugas melaporkan bila ditemukan kasus yang diduga menderita KIPI kepada petugas kesehatan Puskesmas setempat.
  2. Supervisor tingkat Puskesmas (petugas kesehatan/Kepala Puskesmas) dan Kabupaten/Kota melengkapi laporan kronologis kasus diduga KIPI.
  3. Tim KIPI tingkat Kabupaten/kota menilai laporan KIPI dan menginvestigasi KIPI apakah memenuhi kriteria klasifikasi lapangan dan melaporkan kesimpulan investigasi ke Komda PP-KIPI.
  4. Komda PP-KIPI, memeriksa informasi dari hasil telaah kasus KIPI di tingkat propinsi, bertugas melakukan analisis KIPI secara teratur dan melakukan umpan balik ke sistem di bawahnya, bila perlu melakukan peninjauan lapangan atau pelacakan dengan menggunakan Formulir Investigasi KIPI/otopsi verbal menjelaskan tentang manfaat, keamanan dan risiko imunisasi kepada masyarakat.
  5. Komnas PP-KIPI, memeriksa informasi hasil telaah kasus KIPI yang dikirim oleh Komda PP-KIPI, melakukan analisis KIPI secara teratur, meninjau keseluruhan pola dari laporan dan pelacakan, membuat penilaian kausalitas KIPI pada kasus yang belum dapat disimpulkan oleh Komda, bila perlu melakukan peninjauan lapangan atau pelacakan dengan menggunakan Formulir Investigasi KIPI/otopsi verbal menjelaskan tentang manfaat, keamanan dan risiko imunisasi kepada masyarakat.

Tujuan utama pemantauan kasus KIPI adalah untuk mendeteksi dini, merespon kasus KIPI dengan cepat dan tepat, mengurangi dampak negatif imunisasi terhadap kesehatan individu dan terhadap program imunisasi. Pemantauan kasus KIPI pada dasarnya terdiri dari penemuan kasus, pelacakan kasus, analisa kejadian, tindak lanjut kasus, pelaporan dan evaluasi. Hal ini merupakan indikator kualitas program. Pemantauan kasus KIPI Kegiatan pemantauan kasus KIPI meliputi:
  • Menemukan kasus, melacak kasus, menganalisis kejadian, menindaklanjuti kasus, melaporkan dan mengevaluasi kasus.
  • Memperkirakan angka kejadian KIPI (rate KIPI) pada suatu populasi
  • Mengidentifikasi peningkatan rasio KIPI yang tidak wajar pada batch vaksin atau merek vaksin tertentu
  • Memastikan bahwa suatu kejadian yang diduga KIPI merupakan koinsidens atau bukan
  • Mendeteksi, memperbaiki, dan mencegah kesalahan program imunisasi
  • Memberi respons yang cepat dan tepat terhadap perhatian orang tua/masyarakat tentang keamanan imunisasi, di tengah kepedulian (masyarakat dan profesional) tentang adanya risiko imunisasi.

Bagian terpenting dalam pemantauan KIPI adalah menyediakan informasi kasus KIPI secara lengkap agar dapat dengan cepat dinilai dan dianalisa untuk mengidentifikasi dan merespon suatu masalah. Respons merupakan suatu aspek tindak lanjut yang penting dalam pemantauan KIPI.

Penemuan kasus KIPI merupakan kegiatan penemuan kasus KIPI atau diduga KIPI baik yang dilaporkan orang tua/pasien, masyarakat atau petugas kesehatan. Laporan harus ditanggapi dengan serius dan ditindaklanjuti dimulai dari petugas kesehatan Puskesmas setempat untuk memvalidasi laporan kasus. Laporan kasus harus dibuat secara rinci sesuai formulir laporan kasus KIPI untuk menentukan penyebab kasus.

Tabel kasus KIPI yg harus dilaporkan

Kurun Waktu Terjadi KIPI
Gejala Klinis
Dalam 24 jam
·    Reaksi anafilaktoid (reaksi akut hipersensitif)
·    Syok anafilaktik
·    Menangis keras terus lebih dari 3 jam (persistent inconsolable screaming)
·    Episode hipotonik – hiporesponsif
·    Toxic shock syndrome
Dalam 5 hari
·    Reaksi lokal yang berat
·    Sepsis
·    Abses di tempat suntikan (bakterial/steril)
Dalam 15 hari
·    Kejang, termasuk kejang demam (6 – 12 hari untuk campak/ MMR: 0 – 2 hari)
·    Ensefalopati (6 – 12 hari untuk campak/ MMR: 0 – 2 hari)
Dalam 3 bulan
·    Acute flaccid paralysis = lumpuh layu (4 – 30 hari untuk penerima OPV; 4 – 75 hari untuk kontak)
·    Neuritis brakial (2 – 26 hari sesudah imunisasi tetanus)
·    Trombositopenia (15 – 35 hari sesudah imunisasi campak/MMR)
Antara 1 hingga 12 bulan sesudah imunisasi BCG
·    Limfadenitis
·    Infeksi BCG menyeluruh (disseminated BCG infection)
·    Osteitis/osteomyelitis
Tidak ada batas waktu
Setiap kematian, rawat inap atau kejadian lain yang berat dan kejadian yang tidak biasa, yang dianggap masyarakat ada hubungannya dengan imunisasi

Untuk gejala kasus KIPI dengan reaksi yang ringan seperti reaksi lokal, demam dan gejala-gejala sistemik yang dapat sembuh sendiri, tidak perlu dilaporkan. Jika ada keraguan apakah suatu kasus harus dilaporkan atau tidak, sebaiknya dilaporkan, agar mendapat umpan balik positif bila kasus tersebut memang harus dilaporkan. Petugas kesehatan atau Kepala Puskesmas bertanggung jawab melengkapi formulir pelaporan dengan berkomunikasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Petugas investigator KIPI Dinas Kesehatan/Kota akan menentukan apakah kasus KIPI termasuk dalam daftar KIPI yang harus dilaporkan, mengirimkan formulir laporan ke tingkat propinsi dan segera melaporkan jika kasus KIPI menjadi perhatian masyarakat atau terjadi kasus KIPI berkelompok. Dokter praktek swasta dan rumah sakit harus melaporkan kasus-kasus KIPI kepada Dinas Kesehatan dan atau Komda KIPI setempat dengan melengkapi formulir pelaporan. Laporan harus dibuat secepatnya sehingga keputusan dapat dibuat secepat mungkin untuk tindakan atau pelacakan.

Tabel 2. Kurun waktu pelaporan berdasarkan jenjang administrasi yang menerima laporan
Jenjang Administrasi dan Kurun waktu diterimanya laporan
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota: 24 jam dari saat penemuan kasus
Dinas Kesehatan Propinsi/Komda PP-KIPI: 24 – 72 jam dari saat penemuan kasus
Sub Direktorat Imunisasi/Komnas PP-KIPI: 24 jam – 7 hari dari saat penemuan kasus

Dalam waktu 24 jam setelah laporan kasus KIPI diterima, suatu penilaian sebaiknya sudah dilakukan untuk menentukan apakah diperlukan pelacakan kasus KIPI tersebut. Kasus tersangka KIPI harus dilacak secepatnya dan mencari informasi kasus selengkap-lengkapnya. Kasus KIPI harus dilacak secepatnya jika:
  • Ada dalam daftar kasus laporan untuk pemantauan KIPI
  • Kasus mungkin disebabkan oleh kesalahan program
  • Kasus berat yang penyebabnya tidak dapat dijelaskan
  • Menimbulkan perhatian yang serius dari orang tua atau masyarakat.

Pelacakan dapat dilakukan oleh petugas Puskesmas atau petugas kesehatan lain yang bersangkutan. Pelacak perlu melihat secara langsung terduga KIPI, untuk mengumpulkan informasi dari pasien atau orang tua, petugas kesehatan, kepala Puskesmas setempat dan anggota masyarakat. Apabila kasus yang dilaporkan memang diduga KIPI, maka dicatat identitas kasus, data vaksin, petugas yang melakukan imunisasi, dan bagaimana sikap masyarakat dalam menghadapi masalah tersebut. Selanjutnya perlu dilacak kemungkinan kasus lain yang sama atau berkelompok (cluster), terutama yang mendapat imunisasi pada tempat dan nomor batch vaksin yang sama. Informasi yang dikumpulkan (dan kesimpulan) dicatat pada formulir investigasi KIPI yang telah tersedia.

Pelacakan kasus KIPI mengikuti standar prinsip pelacakan epidemiologi, dengan memperhatikan kaidah pelacakan vaksin, teknik dan prosedur imunisasi dan melakukan perbaikan berdasarkan temuan yang didapat. Kepala Puskesmas atau Komda PP-KIPI dapat menganalisis data hasil pelacakan untuk menilai klasifikasi KIPI dan mencoba mencari penyebab KIPI tersebut. Komnas PP-KIPI mengelompokkan etiologi KIPI dalam 2 kliasifikasi, yaitu: 1) klasifikasi lapangan menurut WHO Western Pacific (1999) untuk petugas kesehatan di lapangan dan 2) klasifikasi kausalitas menurut IOM 1991 dan 1994 untuk telaah Komnas PP-KIPI.

Klasifikasi KIPI sesuai dengan manfaatnya di lapangan menurut WHO Western Pacific antara lain:
  1. Kesalahan program/teknik pelaksanaan (programmatic errors)
Sebagian besar kasus KIPI berhubungan dengan masalah program dan teknik pelaksanaan imunisasi yang meliputi kesalahan program penyimpanan, pengelolaan dan tata laksana pemberian vaksin. Kesalahan tersebut dapat terjadi pada berbagai tingkatan prosedur imunisasi, misalnya:
  • Dosis antigen (terlalu banyak)
  • Lokasi dan cara menyuntik
  • Sterilisasi semprit dan jarum suntik
  • Jarum bekas pakai
  • Tindakan aseptik dan antiseptik
  • Kontaminasi vaksin dan peralatan suntik
  • Penyimpanan vaksin
  • Pemakaian sisa vaksin
  • Jenis dan jumlah pelarut vaksin
  • Tidak memperhatikan petunjuk produsen (petunjuk pemakaian, indikasi kontra, dan lain-lain)
Kecurigaan terjadi kesalahan dalam tata laksana perlu diperhatikan apabila terdapat kecenderungan kasus KIPI berulang pada petugas yang sama.
  2. Reaksi suntikan
Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusuk jarum suntik baik secara langsung maupun tidak langsung harus dicatat sebagai reaksi KIPI. Reaksi suntikan langsung misalnya rasa sakit, bengkak dan kemeraan pada tempat suntikan. Sedangkan reaksi suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing, mual bahkan hingga pingsan karena begitu takut disuntik.

3. Induksi vaksin (reaksi vaksin)
Gejala KIPI yang disebabkan induksi vaksin umumnya sudah dapat diprediksi terlebih dahulu karena merupakan reaksi simpang vaksin dan secara klinis biasanya ringan. Walau demikian, dapat saja terjadi gejala klinis hebat seperti reaksi anafilaksis yang berbahaya. Reaksi simpang ini sudah teridentifikasi dengan baik dan tercantum dalam petunjuk pemakaian tertulis oleh produsen sebagai indikasi kontra, indikasi khusus, perhatian khusus, atau berbagai tindakan dan perhatian spesifik lainnya termasuk kemungkinan interaksi dengan obat atau vaksin lain. Petunjuk ini harus diperhatikan dan ditanggapi dengan baik oleh pelaksana imunisasi.

4. Faktor kebetulan (koinsidens)
Kejadian ini terjadi secara kebetulan saja setelah diimunisasi. Salah satu faktor kebetulan ini ditandai dengan ditemukannya kejadian yang sama di saat bersamaan pada populasi setempat dengan kharakteristik serupa padahal tidak mendapat imunisasi.

  5. Penyebab tidak diketahui
Bila kejadian atau masalah yang dilaporkan belum dapat dikelompokkan ke dalam salah satu penyebab maka untuk sementara dimasukkan ke dalam kelompok ini sambil menunggu informasi lebih lanjut. Biasanya dengan kelengkapan informasi tersebut akan dapat ditentukan keompok penyebab KIPI.

Uji laboratorium kadang-kadang diperlukan untuk dapat memastikan atau menyingkirkan dugaan penyebab seperti: vaksin mungkin diuji sterilitas dan potensi; pelarut untuk pemeriksaan sterilisasi dan komposisi kimia; jarum suntik dan syringe untuk sterilitas. Pemeriksaan uji laboratorium ini untuk menunjang menjelaskan kecurigaan dan bukan sebagai prosedur rutin. Jika sisa vial vaksin masih ada, sebaiknya vaksin ini dikirim bersama dengan vial vaksin yang belum dipakai dengan nomer batch yang sama. Vial vaksin tersebut disimpan dan diperlakukan seperti vaksin yang utuh (perhatikan cold chain).

Tindak lanjut kasus KIPI dengan adanya data kasus, maka dokter puskesmas dapat memberikan pengobatan segera. Apabila kasis tergolong berat harus segera dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut dan pemberian pengobatan segera. Komunikasi yang baik terhadap kasus KIPI harus dilakukan dengan baik, tidak berbohong, dengan tetap fokus pada masalah yang berhubungan dengan sistem serta langkah-langkah yang diambil untuk mengatasi masalah tersebut. Evaluasi rutin dilakukan oleh Komda PP-KIPI/Dinas Kesehatan Propinsi minimal 6 bulan sekali. Evaluasi tahunan dilakukan oleh Komda PP-KIPI/Dinas Kesehatan Propinsi untuk tingkat propinsi dan Komnas PP-KIPI/Sub Direktorat Imunisasi untuk tingkat nasional.

Setelah didapatkan kesimpulan penyebab dari hasil investigasi kasus KIPI maka dilakukan tindak lanjut perbaikan.
Tabel 3. Tindak lanjut setelah investigasi lengkap

Reaksi vaksin
Jika rasio reaksi lebih besar dan yang diharapkan pada vaksin atau batch tertentu dibandingkan dengan data dari pabrik vaksin, dan setelah konsultasi dengan WHO dipertimbangkan untuk
  • Menarik batch tersebut
  • Kemungkinan harus dilakukan perubahan prosedur kualiti kontrol

Kesalahan program
Memperbaiki penyebab dari kesalahan tersebut. Dapat dilakukan dengan
  • Mengatasi masalah logistic dalam penyediaan vaksin
  • Memperbaiki prosedur pada fasilitas kesehatan
  • Pelatihan tenaga kesehatan
  • Pengawasan yang ketat
Apapun tindak lanjut yang akan diambil, penting untuk pemeriksaan selanjutnya bahwa kesalahan program telah diperbaiki

Koinsiden
Tugas utama adalah komunikasi untuk meyakinkan masyarakat bahwa kejadian tersebut hanya suatu kebetulan. Komunikasi akan menjadi sulit bila sudah ada keyakinan yang tersebar bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh imunisasi.
Kadang-kadang akan sangat bermanfaat untuk melakukan pelacakan lanjutan oleh tenaga ahli untuk meyakinkan bahwa kejadian tersebut benar-benar disebabkan oleh koinsiden (kebetulan).
Potensi kasus KIPI koinsiden (kebetulan) dapat menganggu program imunisasi karena kesalahan persepsi cukup besar.

Tidak diketahui
Tergantung pada masalah kejadian KIPI tersebut, apakah cukup luas atau masih berlangsung, suatu investigasi lanjutan oleh tenaga ahli mungkin diperlukan.
Bagaimanapun, kadang-kadang hubungan beberapa kasus KIPI hubungan dengan imunisasi tidak jelas.

Dikutip dan dimodifikasi dari: Immunization Safety Surveillance: Guideline for manager of Immunization programmes on reporting and investigating AEFI; WHO Regional Office for Western Paccific; Malina, 1999.

Penanggulangan kasus KIPI dilakukan penanganan primer, sekunder dan tersier. Pada penanggulangan primer dilakukan pencegahan dengan persiapan tertentu sebelum dan pada saat pelaksanaan imunisasi agar tidak terjadi kasus KIPI. Persiapan tersebut meliputi persiapan tempat, alat dan obat, fasilitas rujukan, penerima vaksin (resipien), mengenal gejala KIPI, dan prosedur pelayanan imunisasi.

Tabel gejala KIPI dan Tindakan yang harus dilakukan


1. Vaksin
 a.Reaksi lokal ringan ·   Nyeri, kemerahan, bengkak di daerah bekas suntikan berukuran < 1 cm.
·   Timbul < 48 jam setelah imunisasi.

Tindakan:
·   Kompres hangat.
·   Jika nyeri mengganggu dapat diberikan parasetamol 10 mg/kgBB/kali pemberian.
< 6 bulan: 60 mg/kali pemberian
6 – 12 bulan: 90 mg/kali pemberian
1 – 3 tahun: 120 mg/kali pemberian
·    Pengobatan dapat dilakukan oleh orang tua atau guru UKS
·    Hal ini dapat sembuh sendiri walaupun tanpa obat

b. Reaksi lokal berat (jarang terjadi) ·     Kemerahan/indurasi > 8 cm
·     Nyeri, bengkak dan gejala manifestasi sistemik

Tindakan:
·    Kompres hangat
·    Parasetamol
Jika tidak ada perubahan hubungi puskesmas setempat

c. Reaksi arthrus ·     Nyeri, bengkak, indurasi dan edematerjadi akibat reimunisasi pada pasien dengan kadar antibodi yang masih tinggi (jarak imunisasi terlalu dekat)
·     Timbul dalam beberapa jam setelah imunisasi, puncaknya 12 – 36 jam setelah imunisasi

Tindakan:
·    Kompres
·    Parasetamol
·    Dirujuk dan dirawat di RS

d. Reaksi umum (gejala sistemik) ·     Demam, lesu, nyeri otot, nyeri kepala dan menggigil

Tindakan:
·    Berikan minum hangat dan selimut
·    Parasetamol
a.Kolaps/keadaan seperti syok
·    Episode hipotonik hiporesponsif
·    Anak tetap sadar tetapi tidak bereaksi terhadap rangsangan
·    Pada pemeriksaan frekuensi, amplitude nadi serta tekanan darah dalam batas normal

Tindakan:
·   Rangsang dengan wangian atau bauan yang merangsang
·   Bila belum dapat diatasi dalam waktu 30 menit segera rujuk ke puskesmas terdekat

b.Reaksi khusus 1) Sindrom Guillain-Barre (jarang terjadi)

·    Lumpuh layu, simetris, asendens (menjalar ke atas) biasanya tungkai bawah
·    Ataksia
·    Penurunan refleksi tendon
·    Gangguan menelan
·    Gangguan pernafasan
·    Parasthesia
·    Meningismus
·    Tidak demam
·    Peningkatan protein dalam cairan serebrospinal tanpa pleositosis
·    Terjadi antara 5 hari sampai dengan 6 minggu setelah imunisasi
·    Perjalanan penyakit dari 1 samoai 3 – 4 hari
·    Prognosis pemulihan umumnya baik

Tindakan:
·   Rujuk segera ke RS untuk perawatan dan pemeriksaan lebih lanjut

·    Perlu untuk penyelidikan AFP

2) Neuritis brakial (neuropati pleksus brakialis)
·   Nyeri di dalam terus-menerus pada daerah bahu dan lengan atas
·   Terjadi 7 jam sampai dengan 3 minggu pasca imunisasi

Tindakan:
·  Parasetamol
·  Bila gejala menetap rujuk ke RS untuk fisioterapi
  3) Syok anafilaksis
·   Terjadi mendadak
·   Gejala klasik: kemerahan merata, edema
·   Urtikaria, sembab pada kelopak mata, sesak, nafas berbunyi

Tindakan:
·  Suntikan adrenalin 1:1.000 dosis 1 – 0,3 mL subkutan/intramuskuler
·  Jika pasien telah membaik dan stabil, dilanjutkan dengan suntikan deksametason (1 ampul) secara intravena/intramuskuler
  4) Gejala lain
·   Jantung berdebar kencang
·   Tekanan darah menurun
·   Anak pingsan/tidak sadar
·   Dapat pula terjadi langsung berupa tekanan darah menurun dan pingsan tanpa didahului oleh gejala lain

Tindakan:
·  Segera pasang infus NaCl 0,9%
·  Rujuk ke RS terdekat

2. Tata Laksana Program
1)  Abses dingin
·   Bengkak dan keras, nyeri di daerah bekas suntikan.
Terjadi karena vaksin disuntikkan masih dingin.

Tindakan:
·  Kompres hangat
·  Prasetamol
Jika tidak ada perubahan hubungi puskesmas terdekat

2) Pembengkakan
·   Bengkak di daerah sekitar suntikan
·   Terjadi karena penyuntikan kurang dalam

Tindakan:
·  Kompres hangat
Jika tidak ada perubahan hubungi puskesmas terdekat

3) Sepsis
·   Bengkak di daerah sekitar bekas suntikan
·   Demam
·   Dapat terjadi jika jarum suntik terkontaminasi sehingga tidak steril
·   Gejala timbul 1 minggu atau lebih setelah penyuntikan

Tindakan:
·  Rujuk ke RS terdekat

4)  Tetanus ·   Kejang, dapat disertai dengan demam, penderita tetap sadar

Tindakan:
·  Rujuk ke RS terdekat
  5) Kelumpuhan/kelemahan otot
·   Lengan sebelah (daerah tempat penyuntikan) tidak bisa digerakkan
·   Terjadi karena daerah penyuntikan salah (bukan pertengahan otot deltoideus)

Tindakan:
·  Rujuk ke RS terdekat untuk difisioterapi

3. Faktor penerima/pejamu
1) Alergi
·   Pembengkakan bibir dan tenggorokan, sesak nafas, kemerahan, papula terasa gatal
·   Tekanan darah bisa menurun

Tindakan:
·  Suntikan dexametason 1 ampul IM/IV
·  Jika berlanjut pasang infus NaCl 0,9%
Tanyakan pada orang tua/keluarga terkait riwayat alergi

2) Faktor psikologis
·   Ketakutan
    Tindakan:
·  Tenangkan penderita
Sebelum penyuntikan orang tua/guru sekolah dapat memberikan pengertian dan menenangkan murid

·    Berteriak
     Tindakan:Beri minum air hangat   ·   Pingsan
     Tindakan:
     Beri wewangian/alcohol
     Setelah sadar beri minum teh manis hangat
     Bila berlanjut hubungi puskesmas terdekat

4. Koinsidensi (faktor kebetulan) ·   Gejala penyakit terjadi secara kebetulan bersamaan dengan waktu imunisasi
·   Gejala dapat berupa salah satu gejala KIPI tersebut di atas atau bentuk lain
    Tindakan:
·  Tangani penderita sesuai gejala
·  Cari informasi apakah di sekitar anakada kasus lain yang mirip tetapi anak tidak diimunisasi
·  Kirim ke RS untuk pemeriksaan lebih lanjut.
 
Sumber:


Berdasarkan surat edaran Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor JP/Menkes/092/11/2012 tanggal 22 Februari 2012 tentang Pembiayaan kasus KIPI maka pembiayaan KIPI mulai tahun 2012 dijamin oleh Pemerintah melalui program Jamkesmas dengan ketentuan sebagai berikut:
  1. Penerima manfaat pembiayaan KIPI meliputi peserta Jamkesmas dan non-Jamkesmas.
  2. Bagi penderita KIPI yang merupakan peserta Jamkesmas dapat memperoleh pelayanan kesehatan dengan memperlihatkan kartu Jamkesmas.
  3. Bagi penderita KIPI yang bukan peserta Jamkesmas dapat memperoleh pelayanan kesehatan dengan memperlihatkan kartu identitas (KTP, Kartu Keluarga dan lain-lain).
  4. Penderita KIPI yang berobat ke PPK Lanjutan berhak mendapatkan surak keabsahan peserta (SKP) yang diterbitkan oleh PT Askes.
  5. Prosedur pelayanan dan mekanisme pembayaran pelayanan KIPI mengacu kepada ketentuan dalam Jamkesmas.
  6. Bagi penderita KIPI yang bukan peserta Jamkesmas hanya mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan kasus KIPI tersebut. Untuk kasus atau penyakit lainnya tidak menjadi beban pembiayaan Jamkesmas.

Bahayanya Menolak Imunisasi

dr. Agnes Tri Harja Ningrum |
October 22, 2011 5:15 pm |


Beberapa minggu ke belakang, berkaitan dengan lagi ramenya outbreak diptheri campak dan juga anti imunisasi, banyak pertanyaan masuk ke Personal Message aku, menanyakan soal imunisasi ini. Alhasil dari pada bolak balik jawab, lebih baik aku tulis jadi sebuah artikel, sekalian aku belajar juga. Tadinya kepikir mau ditaro di koran, tapi aku udah agak-agak trauma menulis artikel di koran, selain ada alasan pribadi, tempat menulis terbatas banget, kadang isinya juga diedit suka-suka editor. Syukurlah ada blog, jadi lebih leluasa untuk mengekspresikan semua isi pikiran.

Proses pembuatan artikel ini cukup bikin sakit kepala. Sampe sempet maju mundur untuk lanjut. Buat apa sih nulis yang beginian, mending juga nulis paper jelas buat CV. Belum lagi, ini masalah sensitive, aku butuh berhari-hari untuk research, yang kadang membuat ingin ga diterusin aja nulisnya. Gimana anti imunisasi ga semakin banyak, tulisan di internet tentang anti imunisasi memang ‘menyeramkan’. Kadang di satu titik membuat aku tercenung, bener ga ya pilihan ku untuk jadi pro sama imunisasi, (memang aduhai itu si artikel anti imunisasi, kadang sangat meyakinkan banget nulisnya, yang berbahasa Inggris tapi ya, kalau yang berbahasa Indonesia seringnya malah jadi terjemahan yang aneh tanpa mencantumkan literatur sesuai aturan pula). Tapi justru di situlah tantangannya, aku terus mencari dan mencari lagi informasi pembandingnya, dan informasi yang sebenarnya. Betul memang vaksin tentu tidak sempurna dan tidak aman 100 persen, ada cacat disana sini, tapi justru itu yang membuat kita harus tetep waspada, hati-hati sebelum membeli, keep well informed. Bagaimanapun, diantara ketidak sempurnaan vaksin, manfaatnya jauh lebih banyak daripada mudharatnyam sehingga akhirnya kuputuskan untuk menyelesaikan tulisan ini dan tetap mengambil posisi sebagai penganjur imunisasi tentunya. Selamat membaca, siap-siap ajah, tulisannya panjaaang, serasa bikin tugas essay 10.000 kata :D

Bahayanya Menolak Imunisasi

Mulanya, ia adalah seorang wanita yang sungguh rupawan. Namun, kecantikan itu lenyap pada usianya yang ke 26 setelah penyakit smallpox (variola atau cacar monyet) menyerangnya dan meninggalkan jejak parut alias bopeng di wajahnya. Alis wajahnya pun menghilang akibat penyakit yang sama(1). Di masanya dahulu, smallpox memang penyakit yang cukup mengerikan, penyakit infeksi pembunuh terbesar. Di akhir abad ke-18 penyakit ini telah membunuh 400.000 warga eropa per tahunnya, yang sebagian besar adalah anak-anak. Bahkan diperkirakan sekira 300-500 juta orang di abad ke-20 telah meninggal akibat penyakit ini(2). Selain memunculkan bopeng yang membuat penderitanya menjadi buruk rupa dan menyebabkan kematian, smallpox juga menyebabkan kebutaan serta penyakit tulang. Penyakit yang disebabkan oleh virus variola ini pun sangat mudah menular, hanya lewat udara, percikan ludah atau berdekatan saja, orang lain bisa tertular(3), sungguh seram bukan?

Untungnya, vaksinasi untuk melawan smallpox yang pertama kali ditemukan oleh Edward jenner berhasil membuat penyakit ini lenyap dari muka bumi. Tahun 1979, WHO mengumumkan bahwa penyakit ini telah berhasil dieradikasi(4). Bayangkan kalau penyakit ini masih ada hingga kini, berapa banyak wajah rupawan yang harus jadi korban, berapa banyak nyawa lagi yang harus terbang. Edward Jenner patut diberi penghargaan memang. Namun, dibalik sukses Edward Jenner sebagai penemu vaksin pertama kali, inoculation, atau menanamkan bibit penyakit pada orang sehat, agar terbentuk imunitas tubuh terhadap penyakit tersebut sebetulnya telah dilakukan berabad-abad sebelumnya oleh bangsa Cina(5). Cara ini pun telah dilakukan oleh bangsa Turki di jaman kerajaan Ottoman(6).

Wanita yang diceritakan di atas adalah Lady Mary Wortley Montagu(1,6), seorang istri ambassador Inggris yang pada tahun 1717 sempat tinggal di Turki selama 2 tahun untuk menemani suaminya yang bertugas disana. Saat tinggal di Turki, ia memperhatikan kebiasaan orang Turki dan menyaksikan seorang wanita Turki yang melakukan inoculation untuk melawan penyakit smallpox. Wanita Turki ini mengambil nanah dari luka penderita penyakit smallpox. Lalu, dibuatlah beberapa sayatan di tubuh anak yang sehat, dan nanah tersebut ditanamkan pada sayatan itu dan dibalut. Lady Mary melihat anak yang sehat itu mengalami demam beberapa hari, namun kemudian sembuh dan kebal terhadap penyakit smallpox. Saat pulang ke negaranya, Lady Mary dengan antusias mempromosikan cara Turki itu. Namun ia ditentang oleh kalangan medis ketika itu dengan alasan konyol namun masuk akal untuk kondisi saat itu: karena dia adalah seorang perempuan, dan karena ide yang dia bawa berasal dari Timur (Turki). Meskipun begitu, Lady Mary tetap melakukan inoculasi melawan smallpox untuk anak lelakinya, dan anak lelakinya pun menjadi kebal terhadap smallpox. Beberapa puluh tahun kemudian, barulah Edward Jenner muncul dan mempublikasikan bukti penemuannya tentang vaksin Smallpox.

Jika melihat sejarah, ternyata awal mula munculnya vaksinasi berasal dari Bangsa Cina dan Turki (yang saat kerajaan Ottoman berkuasa negaranya berlandaskan Islam). Merekalah yang telah mempraktekan cikal bakal vaksinasi. Mengapa membaca sejarah dalam hal ini menjadi penting? Karena belakangan ini di Indonesia gerakan anti imunisasi mulai berkembang dan membuat para orangtua bimbang. Dari sejarah, kita bisa melihat dengan jernih asal muasal vaksinasi, dan apakah betul vaksinasi memang hanya merupakan teori konspirasi untuk melemahkan suatu kaum sehingga patut dihindari? Dan apakah betul manfaat vaksinasi lebih sedikit daripada kebaikannya sehingga layak untuk diantipati? Mari kita kaji lagi dengan seksama dan hati-hati.

Gerakan Anti-Imunisasi

Sebetulnya anti imunisasi sudah ada sejak jaman dulu, bahkan sejak Edward Jenner dengan vaksinasi temuannya berhasil mengurangi kasus smallpox dengan sangat signifikan. Poland GA dan Jacobson RM di tahun 2001(7) dalam artikelnya yang diterbitkan oleh Vaccine jurnal mengatakan bahwa CDC (The Center for Disease Control and Prevention) telah membuat booklet yang didalamnya mengumpulkan kritik dan keberatan dari para anti imunisasi berkaitan dengan vaksinasi. Selain alasan teori konspirasi dan politik seperti kecurigaan terhadap keuntungan yang didapat perusahaan vaksin, isu kaum minoritas, serta genocide ( pembunuhan masal suatu kaum), isu-isu lain juga muncul. Jika membaca website-website anti imunisasi dalam internet, isue-isue tersebut memang sering disebut-sebut diantaranya: bahwa penyakit sudah mulai hilang sebelum vaksin digunakan, jadi buat apa divaksinasi; bahwa alih-alih meningkatkan kekebalan tubuh, vaksin malah menyebabkan kesakitan dan kematian; bahwa penyakit yang bisa dicegah oleh vaksin sudah dieliminasi jadi buat apa divaksin; bahwa semakin banyaknya vaksin yang masuk bisa menyebabkan kekebalan tubuh kita terbebani; dan bahwa cara vaksin bekerja dengan menanamkan bibit penyakit untuk meningkatkan kekebalan tubuh adalah cara yang tidak alami.

Masih dalam jurnal yang sama dikatakan bahwa saat ini lebih dari 300 anti vaccine website tersebar di internet. Para aktivis anti imunisasi tersebut tidak hanya mengambil keuntungan dari kemudahan penyebaran informasi dari debat di internet, tetapi juga melebih-lebihkan dan mendramatisir kasus-kasus reaksi efek samping akibat imunisasi kepada media dan masyarakat. Informasi-informasi yang seolah ilmiah, padahal kadang salah kaprah atau diinterpretasikan secara salah menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran di masyarakat. Fakta yang sesungguhnya, data ilmiah yang valid dan bisa dipercaya telah dikaburkan oleh media dan gerakan anti imunisasi sehingga ketakutan masyarakat semakin menjadi.

Fakta yang tidak akurat
Dokter Ed Friedlander dalam websitenya(8) telah membeberkan beberapa contoh kesalahan interpretasi yang sering terjadi entah disengaja ataupun tidak oleh para anti imunisasi. Menurut dokter Ed, dengan membaca tulisan-tulisan yang sekilas mencantumkan sumber jurnal dan orang terkenal atau para ahli, orang awam yang tidak mengerti dunia ilmiah akan segera terpengaruh oleh tulisan-tulisan tersebut. Contohnya bisa kita lihat dari sebuah website anti imunisasi berbahasa Indonesia yang penulisannya seperti ini:
“SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) naik dari 0.55 per 1000 orang di 1953 menjadi 12.8 per 1000 pada 1992 di Olmstead County, Minnesota. Puncak kejadian SIDS adalah umur 2 – 4 bulan, waktu di mana vaksin mulai diberikan kepada bayi. 85% kasus SIDS terjadi di 6 bulan pertama bayi. Persentase kasus SIDS telah naik dari 2.5 per 1000 menjadi 17.9 per 1000 dari 1953 sampai 1992. Naikan kematian akibat SIDS meningkat pada saat hampir semua penyakit anak-anak menurun karena perbaikan sanitasi dan kemajuan medikal kecuali SIDS. Kasus kematian SIDS meningkat pada saat jumlah vaksin yang diberikan kepada balita naik secara meyakinkan menjadi 36 per anak.”

Tulisan ini tidak memberikan kutipan dari mana sumber asli jurnal ilmiahnya, padahal data-data merujuk tentang penelitian yang semestinya berasal dari jurnal. Lalu, kalau melihat websitenya, ada jualan obat herbal juga dibaliknya. Sementara kalau melihat jurnal ilmiah, issue tentang vaksin DPT dan hubungannya dengan SIDS ini telah dibantah. Sejak 1982, telah dilakukan penelitian secara mendalam tentang hubungan antara vaksinasi DPT (Diptheri, Pertusis, dan Tetanus) dan SIDS, tapi ternyata tidak ada hubungannya. Dari telaah dokter Ed, data yang menunjukkan tidak adanya hubungan antara vaksin DPT dan SIDS bisa didapatkan dari jurnal-jurnal berikut: J. Ped. 129: 695, 1996; Am. Fam. Phys. 54: 185, 1996. Malah berdasarkan penelitian dari Edinburgh (FEMS Immuno. Med. Micro. 25: 183, 1999) imunisasi DPT justru bisa melawan SIDS. SIDS sendiri kemungkinan malah disebabkan oleh pertusis (Eur. J. Ped. 155: 551, 1996.).
Begitu juga dengan issue lain seperti vaksin hepatitis B menyebabkan penyakit multiple sclerosis, issue vaksin MMR menyebabkan autism, dan issue-issue lainnya, semua sudah dibantah secara ilmiah(9).

Memang betul vaksin adalah obat yang tidak mungkin 100 persen sempurna dan aman, jadi walaupun diciptakan untuk mencegah penyakit tapi tentu bisa menyebabkan efek samping. Sejak 1990, CDC and FDA sudah membuat VAERS The Vaccine Adverse Event Reporting System untuk mendeteksi reaksi yang tidak diinginkan atau efek samping dari vaksinasi(10). Setelah kasus dilaporkan, badan ini akan melacak apakah penyebabnya memang lantaran vaksinasi atau bukan. Setiap Negara pada prinsipnya mempunyai lembaga ini yang juga mempunyai fungsi yang sama.

Karena itu sangat disarankan bagi orangtua agar tetap well informed. Sebelum mengimunisasi anaknya, bertanya, membaca atau mendapatkan informasi terlebih dahulu tentang kemungkinan efek samping dan reaksi yang ditimbulkan dari sebuah vaksin serta mengetahui tindakan pertama yang harus dilakukan ketika terjadi efek samping, sangatlah penting. Tapi seringnya, meskipun ada, efek samping vaksinasi hanyalah ringan, jika pun berat umumnya tidak berhubungan langsung dengan imunisasi. Kalaupun ada hubungan dan akibatnya cukup fatal, itu terjadi hanya 1: 100.000 orang yang telah mendapatkan manfaat imunisasi.

Sayangnya jika ada kejadian fatal, media kerap meniup-niupkan dan membuatnya bombastis serta emosional, sementara ketika kasus penyakit yang bisa dicegah dengan vaksinasi mewabah dan menimbulkan kematian banyak orang, beritanya tidak dibesar-besarkan. Manfaat vaksin yang lebih besar ketimbang efek sampingnya juga sering tidak dimunculkan. Alhasil masyarakat semakin ketakutan.

Sebagai contoh, Ben Goldrace, seorang dokter dan penulis science, dalam sebuah artikelnya menceritakan bahwa 1592 artikel di google news memberitakan tentang seorang gadis yang meninggal tiba-tiba setelah mendapatkan vaksin pencegah kanker leher rahim(25). Namun, hanya 363 artikel yang memberitakan bahwa setelah di autopsi ternyata penyebab kematian si gadis adalah lantaran telah memiliki tumor parah di paru-parunya yang sebelumnya tak terdiagnosa. Ini menunjukkan bahwa ketidakseimbangan media dalam pemberitaan ternyata bisa turut andil dalam penyebaran rumor tak sedap tentang vaksin.

Dampak menolak imunisasi

Padahal dampak dari ketakutan dan menghindari imunisasi ini tidak sederhana, malah bisa mengancam nyawa. Dengan menolak imunisasi, sebenarnya yang rugi bukan anak sendiri, tapi kita juga jadi membahayakan anak lain. Mari kita belajar dari merebaknya kasus pertusis di Amerika Serikat tahun 2010, beberapa sekolah harus ditutup dan setidaknya sepuluh bayi meninggal akibat merebaknya pertusis ini(11). Dan sejak tahun 2007, akibat gerakan anti vaksinasi, telah terjadi 77.000 penyakit yang sebetulnya bisa dicegah. Dampak secara tidak langsungnya, gerakan anti vaksinasi ini juga telah mengakibatkan 700 kematian dalam rentang tahun yang sama.

Bukti-bukti ilmiah tentang manfaat vaksin sudah begitu banyak. Beragam data terpercaya menunjukkan bahwa bila angka cakupan vaksinasi menurun maka wabah penyakit akan muncul(11, 21). Masih perlu bukti lainnya? Selain fakta di Amerika Serikat tentang pertusis, bukti nyata juga baru saja terjadi di Indonesia dengan merebaknya kasus Diptheri di Jawa Timur. Kasus diptheri tersebut telah menyerang 300 orang dan 11 anak meninggal karenanya. Artikel yang berjudul ‘Biofarma jawab pro kontra imunisasi’(12) mengaminkan bahwa dalam 6 tahun belakangan cakupan imunisasi di Indonesia memang menurun dan salah satunya terjadi karena gerakan anti imunisasi. Kejadian ini sungguh membuat miris mengingat diphteri adalah penyakit ‘urdu’ yang sudah lama kasusnya tidak ditemukan berkat adanya vaksinasi. Bukti lain lagi terjadi pada merebaknya kasus campak baru-baru ini, yang terjadi di negara-negara dengan angka cakupan vaksinasi turun seperti di Prancis, Belgia, Jerman, Romania, Serbia, Spanyol, Macedonia dan Turkey (11). Baru saja di tahun 2011 juga terjadi 334 kasus campak di Inggris, padahal tahun sebelumnya hanya 33 kasus.

Meskipun tampaknya sedikit, tapi kerugian akibat merebaknya penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi ini sungguh tak sedikit. Sebuah laporan kasus yang ditulis dalam Oxford jurnal(13) menjadi contohnya. Dilaporkan, seorang wanita yang tidak pernah mendapat imunisasi campak kemudian terkena campak lalu pergi ke sebuah rumah sakit di Swiss. Akibatnya setelah itu 14 orang tertular campak dari si wanita, termasuk 4 orang anak-anak. Kerugian yang ditimbulkan hanya dari 1 wanita ini diperkirakan berkisar $800.000, belum lagi dampak kesakitan yang ditimbulkan pada 14 orang itu. Lihat, hanya dari satu orang saja yang menolak vaksinasi, ternyata dampaknya sungguh besar.

Data dalam negeri dari Jawa Barat mencatat bahwa pada tahun 2010 telah terjadi 25 KLB (Kejadian Luar Biasa) penyakit campak, dengan total 739 penderita, sedangkan pada tahun 2011 status KLB meningkat menjadi 35 kali dengan penderita sebanyak 950 orang(14). Kerugian yang ditimbulkan sungguh besar, bukan hanya korban tapi juga biaya. Menurut menteri kesehatan, bila terjadi KLB di suatu daerah, dana yang dibutuhkan adalah 8 miliar rupiah, itu pun masih harus dibantu anggaran dari pusat sebesar 13-14 miliar(22). Jumlah uang yang seharusnya tak perlu terbuang. Sungguh disayangkan.

Isue anti-imunisasi di Indonesia

Imunisasi hanyalah konspirasi Yahudi dan genocide Bila kita tengok lebih dalam tentang isu anti imunisasi di Indonesia, belakangan kerap muncul artikel-artikel dan buku-buku bertuliskan ‘Bahaya imunisasi dan konspirasi yahudi’ lalu isinya kerap mencantumkan kalimat seperti ‘Imunisasi bertujuan untuk melenyapkan sebuah umat’. Teori konspirasi dilandasi oleh asumsi, kecurigaan yang seringnya tidak rasional, dan lebih memunculkan emosi sehingga sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Meski begitu, teori konspirasi sangat mudah berkembang dan dipercaya orang, namun sulit untuk dihilangkan(15).

Goertzel T (2010) (16), dalam tulisannya yang berjudul ‘Conspiracy theories in science’ mengakui bahwa karena hal-hal yang tidak objektif diatas, para ilmuwan sering enggan untuk terlibat dalam diskusi teori konspirasi. Meskipun para ilmuwan telah bekerja sangat keras untuk tetap objektif dan rasional, misalnya dengan mensyaratkan tahapan-tahapan ilmiah dalam setiap penelitian; mensyaratkan bahwa setiap jurnal harus dikritisi lagi oleh sesama ilmuwan (peer reviewed) dan anonym pula, tapi tetap saja hasil kerja para ilmuwan akan diserang oleh teori konspirasi.

Ketakutan terhadap science dan keyakinan terhadap teori konspirasi ini dampaknya sungguh tidak sederhana. Kasus desas desus MMR (Measleas, Mums, Rubela) vaksin menyebabkan autism di Inggris di tahun 1998 telah menyebabkan angka cakupan imunisasi di Inggris menurun tajam(17). Akibatnya wabah campak dan gondongan disana merebak dan menyebabkan kematian serta cacat berat serta permanen. Meskipun Andrew Wakefield, dokter yang pertama kali membuat issue tersebut telah dikenakan sangsi (dicabut ijin prakteknya) dan MMR telah dinyatakan tidak ada hubungannya dengan autism(23), tapi dampak kematian dan penyakit yang ditimbulkan telah terjadi dan hanya bisa disesali.

Ketakutan akan science ini bukan sesuatu yang baru. Benjamin Franklin juga dulu takut mengimunisasi keluarganya untuk melawan penyakit smallpox. Namun kemudian dia menyesal ketika anak lelakinya meninggal di tahun 1736 akibat penyakit tersebut(16). Contoh lain akibat dari konspirasi adalah issue tentang penyangkalan terhadap AIDS, yang meyakini bahwa penyakit AIDS bukan disebabkan oleh HIV. Ketika Afrika Selatan dipimpin oleh presidennya Thabo Mbeki yang mendukung ide penyangkalan ini, konsekuensinya sungguh hebat(18). Mereka menolak pengobatan untuk AIDS sehingga akibatnya di tahun 2000 hingga 2005, terjadi 330.000 kematian akibat AIDS, 117.000 kasus baru HIV dan 35.000 bayi juga diperkirakan terinveksi virus HIV. Data-data tersebut menunjukkan bahwa dalam hal science, akibat dari meyakini sebuah teori konspirasi sungguh bisa membahayakan.
Namun, meski dampak yang ditimbulkan dari teori konspirasi telah diketahui, terutama dalam bidang kesehatan masyarakat, akhirnya keputusan untuk mempercayai teori ini atau tidak, berpulang pada masing-masing individu. Keputusan yang dibuat tentu tak bisa main-main, karena akibatnya berhubungan dengan nyawa orang lain.

ASI bisa menggantikan imunisasi

Salah satu saran dari para anti imunisasi adalah menawarkan ASI sebagai alternatif untuk menggantikan imunisasi. Apakah memang ASI bisa menggantikan imunisasi? ASI memang mengandung antibodi untuk melawan kuman, terutama jenis IgA (Imunoglobulin A) (19).

Antibodi adalah protein yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan benda asing yang masuk (antigen) seperti bakteri, virus maupun toxin. Tubuh membuat imunoglobulin yang berbeda untuk melawan antigen yang berbeda pula. Misalnya antibodi untuk penyakit cacar air akan berbeda dengan jenis antibodi untuk penyakit pneumonia.

Sejak lahir bayi sudah membawa perlindungan terhadap beberapa penyakit dari antibodi ibunya (IgG) yang disalurkan lewat placenta selama dalam kandungan. Seperti disebutkan sebelumnya, bayi yang mendapat ASI juga akan mendapatkan tambahan antibodi (IgA) dari ASI. Tetapi perlindungan yang didapatkan si bayi tersebut (baik dari antibodi ibu maupun ASI) tidak bisa digunakan untuk melawan semua penyakit dan sifatnya pun hanya sementara. IgG ini akan menghilang menjelang si anak berusia setahun.

Sebagai contoh, antibodi dari ibu akan memberikan perlindungan sementara terhadap penyakit campak hingga antibodi ibu menghilang saat 9 bulan. Itulah mengapa vaksinasi campak diberikan saat anak berusia 9 bulan (15 bulan untuk MMR). Namun meski ampuh melawan penyakit campak, antibodi ibu tidak memberikan perlindungan terhadap penyakit pertusis (batuk rejan). Sedangkan untuk ASI, antibodi dalam ASI lebih efektif bekerja melawan kuman-kuman yang ada di pencernaan tapi kurang efektif untuk melawan penyakit infeksi pernafasan.

Jadi meskipun bayi sudah mendapat kekebalan dari si ibu dan juga dari ASI, tetap saja tidak bisa menggantikan imunisasi. Sebab, selain alasan yang sudah disebutkan diatas, imunisasi juga bersifat spesifik untuk penyakit tertentu. Imunisasi bisa melindungi penyakit-penyakit spesifik yang tidak bisa (atau tidak cukup) dilakukan oleh antibodi ibu dan antibodi dari ASI.

Kehalalan vaksinasi

Dalam sebuah tanya jawab soal ‘Pandangan Islam terhadap imunisasi pada anak untuk melawan penyakit’, Yusuf Qardawi, seorang ilmuwan Islam mengatakan bahwa menggunakan vaksin untuk meningkatkan kekebalan tubuh adalah halal karena bertujuan untuk mencegah sesuatu yang membahayakan(19). Menjadi tugas seorang muslim untuk sebisa mungkin mencegah segala sesuatu yang membahayakan. Selain itu menurut beliau orangtua bertanggungjawab untuk sebisa mungkin melindungi anak-anaknya dan meningkatkan daya tahan tubuh mereka untuk melawan penyakit dan segala sesuatu yang berbahaya.

Dalam tanya jawab tersebut, Qardawi lalu secara spesifik menyoroti soal polio vaksin, dan menurut beliau, vaksin tersebut sudah digunakan sejak lama di seluruh dunia termasuk oleh lebih dari 50 negara muslim. Vaksin tersebut terbukti efektif untuk melawan penyakit polio, dan tidak ada ahli agama Islam terutama dari Universitas di Mesir yang keberatan untuk menggunakan vaksin ini.

Di Indonesia sendiri, Biofarma sebagai satu-satunya industri vaksin di Indonesia sudah memperoleh prakualifikasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) setidaknya untuk vaksin dasar: polio, campak, hepatitis B, BCG, dan DTP (Difteri, Pertusis dan Tetanus) (20). Biofarma juga telah menjadi kiblat industri vaksin bagi 57 negara Islam dengan program vaksin halal dan berkualitas. Untuk menjamin vaksin produksinya termasuk kualifikasi halal, Majelis Ulama Indonesia (MUI) diundang untuk menyaksikan proses pembuatan vaksin hingga akhirnya MUI mendukung vaksin-vaksin Biofarma dan membantu sosialiasi vaksin halal biofarma.

Bagaimana vaksin dibuat

Dalam kutipan salah satu artikel yang menolak imunisasi, tertulis kalimat-kalimat sebagai berikut:
“Vaksin tersebut dibiakkan di dalam tubuh manusia yang bahkan kita tidak ketahui sifat dan asal muasalnya. Kita tau bahwa vaksin didapat dari darah sang penderita penyakit yang telah berhasil melawan penyakit tersebut. Itu artinya dalam vaksin tersebut terdapat DNA sang inang dari tempat virus dibiakkan tersebut.”

Benarkah demikian? Sebetulnya, pembuatan vaksin merupakan proses yang sangat komplex. Untuk membuat vaksin yang aman membutuhkan penelitian yang intensif dan fase-fase pengujian yang rumit. Pembuatan sebuah vaksin mulai dari penemuan penyebab penyakit hingga menjadi vaksin yang siap dipasarkan membutuhkan waktu sekira 50 tahun. Dengan kemajuan teknologi saat ini, waktu memang bisa dipersingkat, tapi tetap saja membutuhkan waktu yang lama(21). Contoh proses pembuatannya seperi ilustrasi berikut(21).

Jika para ahli telah setuju bahwa vaksin untuk mencegah penyakit X diperlukan, maka yang pertama dilakukan adalah menelaah dengan teliti tentang si bakteri atau virus X ini. Mereka akan mencari tahu makanan apa yang dibutuhkan oleh kuman X, bagaimana proses si kuman merusak jaringan paru misalnya. Lalu ahli genetica akan menganalisa gen si kuman X. Ahli imunologi akan meneliti bagaimana sistem kekebalan tubuh merespon si kuman X dan mengapa tubuh kadang gagal melawan si kuman. Mereka juga akan meneliti antigen kuman X yang bisa merangsang sistem kekebalan tubuh. Peneliti lain akan meneliti toxin yang dihasilkan oleh kuman X. Setelah para ahli ini mendapatkan informasi dasar tentang si kuman X, barulah mereka mulai mendesign vaksin yang mungkin bisa ampuh melawannya.

Cara pembuatan vaksin bermacam-macam, ada yang dengan melemahkan kumannya, ada yang dengan mematikan, hanya mengambil sebagian unit kuman yang memang bisa langsung merangsang sistem kekebalan tubuh (tidak seluruh kuman), mengambil toxin si kuman lalu mematikannya (toxoid vaccine), atau membuat link antigen (conjugate vaccine). Saat ini sedang dikembangkan juga DNA vaccine. DNA dari antigen si kuman X diambil, lalu dimasukkan ke dalam tubuh manusia. Nanti DNA kuman dalam sel tubuh manusia itu akan menyuruh si sel untuk memproduksi antigen. Jadi sel tubuh sendiri yang akan menjadi ‘pabrik pembuat vaccine’: memproduksi sendiri antigen yang diperlukan untuk merangsang timbulnya kekebalan tubuh.

Sehubungan dengan kutipan anti imunisasi diatas, terlihat jelas bahwa sebetulnya vaksin bukan didapat dari darah sang penderita penyakit. Tetapi vaksin berasal dari kuman yang bisa jadi memang diambil dari penderita yang sakit. Namun bukan DNA dari darah orang yang sakit yang diambil, tapi DNA si kuman atau kumannya secara utuhlah yang diambil. Jadi pembuatan vaksin tidak berhubungan dengan DNA si penderita penyakit.

Untuk melemahkan atau mematikan kuman yang hendak dijadikan vaksin, memang membutuhkan tempat pembiakan, bisa dengan media tumbuhan, binatang, ataupun jaringan tubuh manusia(24). Namun setelah si kuman berkembang biak lalu melemah atau dimatikan, hasil perkembangbiakan virus atau bakteri ini akan dipisahkan dari media untuk mengembangbiakkannya. Jadi tempat pembiakan ini hanya merupakan media dan selanjutnya yang digunakan untuk menjadi vaksin hanyalah kumpulan kuman-kuman yang dilemahkan atau dimatikan tadi.

Setelah vaksin berhasil dibuat, proses sehingga bisa dipasarkan masih panjang. Pertama, vaksin ini harus lulus uji test keamanan terhadap binatang terlebih dulu. Bila aman, lalu bisa lanjut ke fase uji I, yang dilakukan hanya pada sekira 10-20 orang. Bila lulus dan aman, baru bisa maju ke fase uji II yang dilakukan pada orang lebih banyak dengan jumlah ratusan. Setelah itu, si vaksin harus melewati lagi uji fase II b dan III yang diujikan pada orang lebih banyak lagi. Setelah lulus uji III pun masih harus dipantau keamanannya jika mulai dipasarkan. Intinya, pembuatan sebuah vaksin membutuhkan proses panjang dan kompleks untuk kemudian bisa lolos dipasaran.

Penutup

Data-data dan ajakan untuk mengkaji ulang tentang penolakan anti imunisasi telah dibeberkan. Manfaat dan kerugian imunisasi juga bisa ditimbang. Kita tidak hidup di jaman dimana penyakit-penyakit infeksi yang bisa dicegah dengan vaksinasi seperti polio, diptheri, pertusis (batuk rejan), campak, rubella (campak jerman), dan gondongan masih begitu merebak. Akibatnya apresiasi terhadap keberadaan vaksin untuk mencegah penyakit tersebut menjadi berkurang. Di abad ke 19 dan awal abad 20 dulu, ratusan ribu orang di Amerika Serikat terserang penyakit ini setiap tahunnya, puluhan ribu orang pun meninggal terutama anak-anak. Di jaman itu, mendengar nama-nama penyakitnya saja sudah membuat orang-orang ketakutan(21). Coba bayangkan jika vaksin tidak ditemukan lalu hingga saat ini jumlah anak yang menderita penyakit tersebut masih begitu besar, anak-anak kita terus-terusan terkena penyakit menular dan terancam meninggal, apa kita tak kelimpungan? Tapi sekali lagi, akhir sebuah keputusan tentu saja berpulang pada masing-masing orang. Benar, bahwa setiap manusia punya hak atas sebuah pilihan, yang harus dihargai dan tentu tidak bisa diabaikan. Namun tolong, sebelum memutuskan, pikirkan dengan matang, cek dan ricek informasi yang datang. Gunakan hati, pikiran dan akal untuk mencari yang benar, bukan sekedar ikut-ikutan atau karena pengaruh peer pressured, tekanan dari kawan dan handai taulan. Tolong digarisbawahi benar bahwa keputusan yang diambil kemudian, bukan hanya berpengaruh pada anak kita seorang, tapi juga beresiko menolong atau membahayakan anak-anak di sekitar. Ingat, keputusan kita bisa mematikan. Tegakah hati melihat anak-anak jiwanya terancam hanya karena kita gegabah dalam mengambil keputusan? (Agnes Tri Harjaningrum)

Daftar Pustaka
1. Mercer J, PhD. Lady Mary Wortley Montagu: A contributor to public health, about a fascinating figure in the history of vaccination. [Online].;2009 [dikutip 15 October 2001]. Diakses dari: http://www.psychologytoday.com/blog/child-myths/200909/lady-mary-wortley-montagu-contributor-public-health
2. ScienceDaily. How poxviruses such as samllpox evade the immune system. [Online].;2008 [dikutip 15 October 2001]. Diakses dari: http://www.sciencedaily.com/releases/2008/01/080131122956.htm
3. CDC. Smallpox Disease Overview. [Online].;2007 [dikutip 15 October 2001]. Diakses dari: http://www.bt.cdc.gov/agent/smallpox/overview/disease-facts.asp
4. WHO. Smallpox. [Online].;2001 [dikutip 15 October 2001]. Diakses dari: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/smallpox/en/
5. The history of vaccines.Timeline. [Online].;2001 [dikutip 15 October 2001]. Diakses dari: http://www.historyofvaccines.org/content/timelines/all
6. Rosenhek J. Safe smallpox innoculation. [Online].;2005 [dikutip 15 October 2001]. Diakses dari: http://www.doctorsreview.com/history/feb05-history/
7. Poland GA, Jacobson RM. Understanding those who do not understand: a brief review of the anti-vaccine movement. Vaccine.[Online].;2010 [dikutip 15 October 2001]. Diakses dari: http://www.morrisonlucas.com/GL/vaccines/Vaccine_19_2440_anti_vaccine_movement.pdf
8. Friedlander E. The Anti-Immunization Activists: A Pattern of Deception. [Online].;2010 [dikutip 15 October 2011]. Diakses dari: http://www.pathguy.com/antiimmu.htm
9. The College of Phycisian of Philadelphia. History anti vaccination movements. [Online].;2011 [dikutip 15 October 2011]. Diakses dari: http://www.historyofvaccines.org/content/articles/history-anti-vaccination-movements
10. CDC. Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) [Online].;2011 [dikutip 16 October 2011]. Diakses dari: http://www.cdc.gov/vaccinesafety/Activities/vaers.html
11. Los Angeles Time. Public Health: Not vaccinated, not acceptable? [Online].;2011 [dikutip 15 October 2011]. Diakses dari: http://articles.latimes.com/2011/jul/18/opinion/la-oe-ropeik-vaccines-20110718
12. Antaranews. Biofarma jawab pro kontra imunisasi. [Online].;2011 [dikutip 15 October 2011]. Diakses dari: http://www.antaranews.com/berita/278863/bio-farma-jawab-pro-kontra-imunisasi
13. Lindsay A.The hazards of low vaccination rates. [Online].;2010 [dikutip 16 October 2011]. Diakses dari: http://www.sonic.net/~medsoc/images/bulletins/AUGUST%202011%20EXCERPTS.pdf
14. Fikri A. Selama 2011, penderita campak di Jawa Barat tembus 950 orang. [Online].;2011 [dikutip 16 October 2011]. Diakses dari: http://www.tempointeraktif.com/hg/bandung/2011/10/18/brk,20111018-361978,id.html
15. Pigden C. Conspiracy theory and conventional wisdom. [Online].;2007 [dikutip 16 October 2011]. Diakses dari: http://www.niu.edu/~gpynn/Pidgen_ConspiracyTheories&TheConventionalWisdom.pdf
16. Goertzel T. Conspiracy theories in science. [Online].;2010 [dikutip 16 October 2011]. Diakses dari: http://www.nature.com/embor/journal/v11/n7/full/embor201084.html
17. McIntyre P dan Leask J. Improving uptake of MMR vaccine. [Online].;2008 [dikutip 16 October 2011]. Diakses dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2287215/?tool=pmcentrez
18. Chigwedere P, Seage GR, Gruskin S, Lee TH, Essex M (October 2008). “Estimating the Lost Benefits of Antiretroviral Drug Use in South Africa”. Journal of acquired immune deficiency syndromes (1999) 49 (4): 410–415
19. Immunization Advisory Centre University of Auckland. The infant immune system and immunization. [Online].;2006 [dikutip 20 October 2011]. Diakses dari: http://www.immune.org.nz/site_resources/Professionals/Vaccinology/The_infant_immune_system_and_immunisation.pdf
20. Majelis Ulama Indonesia. Biofarma ‘kiblat’ vaksin halal dunia. [Online].;2011 [dikutip 15 October 2011]. Diakses dari: http://www.mui.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=545%3Abio-farma-qkiblatq-vaksin-halal-dunia&catid=1%3Aberita-singkat&Itemid=50
21. National Institute of Allergy and Infectious. Understanding vaccines, what they are how they work. [Online].;2008 [dikutip 20 October 2011]. Diakses dari: http://www.niaid.nih.gov/topics/vaccines/documents/undvacc.pdf
22. Pramudiarja A, U. Satu saja anak tak diimunisasi efeknya bisa memicu wabah. [Online].;2011 [dikutip 20 October 2011]. Diakses dari: http://us.health.detik.com/read/2011/10/18/115311/1746520/764/satu-saja-anak-tak-diimunisasi-efeknya-bisa-memicu-wabah
23. Triggle N. MMR doctor struck from register. [Online].;2010 [dikutip 16 October 2011]. Diakses dari:http://news.bbc.co.uk/2/hi/health/8695267.stm
24. Ellis R,W. New vaccines technology. [Online].;2001 [dikutip 20 October 2011]. Diakses dari:http://61.183.207.199/suite/resource/download.do?key=1754864
25. Goldrace B. And now, nerd news. [Online].;2009 [dikutip 20 October 2011]. Diakses dari: http://www.badscience.net/2009/10/and-now-nerd-news/#more-1369 

Memahami Serba-Serbi Buang Air Besar pada Bayi

Warna BAB Bayi ASI Eksklusif yang Normal

Secara umum, BAB bayi dengan ASI eksklusif yang normal adalah yang berwarna kuning cerah dan cemerlang. Feses ini biasanya disebut dengan golden feces. Warna kuning timbul dari proses pencernaan lemak yang dibantu oleh cairan empedu. Cairan empedu dibuat di dalam hati dan disimpan beberapa waktu di dalam kandung empedu sampai saatnya dikeluarkan. Bila di dalam usus terdapat lemak yang berasal dari makanan, kandung empedu akan berkontraksi (mengecilkan ukurannya) untuk memeras cairannya keluar. Cairan empedu ini akan memecah lemak menjadi zat yang dapat diserap usus.

Warna feses bayi dengan susu formula atau ASI tapi dicampur dengan susu formula akan cenderung kuning lebih gelap atau kuning tua, agak cokelat, cokelat tua, kuning kecoklatan atau cokelat kehijauan.

Warna-Warna Lain BAB Bayi ASI Eksklusif

BAB Warna Hijau
Feses berwarna hijau juga termasuk kategori normal. Meskipun begitu, warna ini tidak boleh terus-menerus muncul. Ini berarti cara ibu memberikan ASI-nya belum benar. Yang terisap oleh bayi hanya foremilk saja, sedangkan hindmilk-nya tidak. Kasus demikian umumnya terjadi kalau produksi
ASI sangat melimpah. Jika bayi hanya mendapat foremilk yang mengandung sedikit lemak dan banyak gula, kadang-kadang terjadi perubahan pada proses pencernaan yang akhirnya membuat feses bayi berwarna hijau. Bahkan sering juga dari situ terbentuk gas yang terlalu banyak (sering kentut), sehingga bayi merasa tak nyaman (kolik).

BAB Warna Merah
Warna merah pada feses bayi bisa disebabkan adanya tetesan darah yang menyertai. Bentuknya fesesnya pun bisa cair ataupun menggumpal. Selanjutnya dokter yang menangani akan melakukan observasi apakah apakah warna merah tersebut disebabkan darah dari tubuhnya sendiri atau dari ibunya, milsanya dari puting ibu yang luka. Jika merah ini terbukti , maka dua-duanya perlu penanganan. Darah ini sangat jarang berasal dari disentri amuba atau basiler, karena makanan bayi, karena belum banyak ragamnya dan belum makan makanan yang kotor. Kalau penyakitnya serius, biasanya bayi juga punya keluhan lain, seperti perutnya membuncit atau menegang, muntah, demam, rewel dan kesakitan.


BAB Warna Putih Keabu-abuan
Jika feses bayi yang baru lahir berwarna kuning pucat atau putih keabu-abuan maka ibu harus waspada. Baik yang encer ataupun padat. Warna putih menunjukkan gangguan yang paling riskan. Bisa disebabkan gangguan pada hati atau penyumbatan saluran empedu.

Tekstur BAB Bayi ASI Eksklusif
Saat baru lahir, bentuk feses bayi menyerupai aspal lembek. Zat buangan ini berasal dari pencernaan bayi yang dibawa dari kandungan. Setelah itu, feses bayi bisa bergumpal-gumpal seperti jeli, padat, berbiji (seeded) dan bisa juga berupa cairan.
Feses bayi yang diberi ASI eksklusif biasanya tidak berbentuk, bisa seperti pasta/krem, berbiji (seeded), dan bisa juga seperti mencret/cair dengan ampas.
Feses bayi yang diberi susu formula berbentuk padat, bergumpal-gumpal atau agak liat dan merongkol/bulat. Berbeda dengan bayi yang mengkonsumsi ASI, bayi yang mengonsumsi susu formula kadangkala akan mengalami sembelit atau susah buang air besar. Curigai jika bayi yang mengkonsumsi susu formula bentuk fesesnya cair.

Frekuensi Buang Air Besar Bayi ASI Eksklusif

Frekuensi BAB pada setiap bayi pasti berbeda-beda. Bahkan, bayi yang sama pun, frekuensi BAB-nya akan berbeda di minggu ini dan minggu depannya. Umumnya di empat atau lima minggu pertama, dalam sehari bisa lebih dari lima kali atau enam kali. Asalkan tidak menganggu proses pertumbuhannya, maka ibu tak pelu cemas. Bagi bayi yang mendapatkan ASI ekslusif biasanya bisa tidak BAB hingga 1-2 minggu lamanya. Tak perlu cemas, karena berarti semuanya bisa diserap dengan baik.

Serba-Serbi BAB Bayi ASI Eksklusif Sesuai Perkembangan Usia

  1. 1. Tiga Hari Pertama
Beberapa hari pertama setelah kelahirannya bayi mengeluarkan mekonium, yakni bahan lengket berwarna hijau pekat mendekati hitam yang terkumpul di dalam usus bayi selama berada di kandungan. Pada hari ketiga, bayi yang mendapatkan lebih banyak ASI akan buang air besar lebih mudah. Biasanya bayi sudah mengeluarkan seluruh mekonium dan bentuk feses bayi berubah di hari keempat.

  1. 2. Bulan Pertama
Feses bayi yang wajar berwarna kuning, sedikit berbau, memiliki bentuk lunak agak cair dan berbij-biji. Bentuk feses juga dapat sedikit berbeda, misalnya berwarna lebih hijau atau kuning pekat, berlendir atau berbuih. Perbedaan warna ini tidak menunjukkan masalah apapun. Bayi ASIX yang semakin mudah buang air besar di hari ketiga kehidupannya berarti dalam keadaan yang baik.
Bayi yang sehat dan mendapat cukup asupan ASI akan buang air kecil lebih dari enam kali dalam sehari. Walaupun begitu, segera periksakan bayi kepada tenaga atau fasilitas kesehatan jika ia mengalami salah satu dari tanda-tanda di bawah.
  1. Bayi masih mengeluarkan mekonium pada usia 4 atau 5 hari
  2. Bayi usia 5-21 hari tidak buang air besar dalam 24 jam
  3. Feses bayi berwarna coklat, jarang buang air besar, atau feses sedikit
Selain mengamati asupan bayi, memantau frekuensi buang air besar dan jumlah feses merupakan cara untuk menilai bilamana bayi mendapatkan cukup ASI. Jumlah feses bayi seharusnya meningkat setidaknya pada hari kelima dengan frekuensi buang air besar 2-3 kali setiap hari. Bahkan beberapa bayi buang air besar setiap selesai menyusu dan ini bukan berarti bayi menderita diare.
Diare adalah kondisi perubahan frekuensi buang air besar secara mendadak dengan jumlah feses lebih banyak dan dalam bentuk yang sangat cair. Terus berikan ASI dan perbanyak asupannya untuk mencegah dehidrasi atau kekurangan cairan pada bayi. Perhatikan tanda-tanda dehidrasi berikut ini:
  • Mata kering, bayi menangis tanpa mengeluarkan air mata atau hanya sedikit;
  • Kulit, mulut dan bibir lebih kering;
  • Air seni berwarna gelap, keluar sedikit atau tidak keluar sama sekali;
  • Mata tampak cekung atau terbenam;
  • Sangat lemas dan kesadaran menurun;
  • Selalu merasa haus atau malah menolak minum;
  • Ubun-ubun terlihat cekung;
  • Ketika kulit dicubit dengan dua jari kulit sulit kembali ke bentuk asal.
Segera hubungi tenaga atau fasilitas kesehatan bila menemukan tanda dehidrasi, diare yang disertai dengan darah, kejang, nafas cepat dan dangkal, muntah terus-menerus, panas tinggi di atas 38,5°C yang tidak berkurang dalam 2 hari, diare berlangsung lebih dari 14 hari, atau bayi tampak kesakitan atau kolik. Bayi yang kesakitan akan menangis kuat sambil menekuk kaki, gelisah serta berkeringat.

  1. 3. Usia 2-6 Bulan
Frekuensi buang air besar setiap bayi berbeda-beda. Secara umum frekuensi buang air besar bayi akan semakin berkurang seiring pertambahan usianya karena usus telah berkembang lebih sempurna dan dapat menyerap ASI lebih baik. Memasuki bulan kedua, beberapa bayi ASIX mendadak mengubah frekuensi buang air besar mereka dari sering menjadi sekali dalam tiga hari. Bahkan ada bayi yang tidak buang air besar selama 14 hari atau lebih. Selama bayi sehat dan bentuk feses wajar maka hal tidak menjadi masalah. Memang bayi ASIX lebih jarang mengalami sembelit atau konstipasi karena nutrisi ASI mudah dicerna dan diserap oleh tubuh serta mengandung zat laksatif yang dapat mengencerkan feses.

BAB Bayi yang Sudah Mendapatkan MPASI

Setelah bayi mendapat Makanan Pendamping ASI (MPASI) biasanya frekuensi buang air besar, bentuk, warna, dan jumlah feses akan berubah tergantung dari jenis makanan yang dikonsumsi, intake cairan, dan porsi makanan. Jika feses bayi keras hingga saat buang air besar ia mengalami kesulitan, rasa nyeri, atau bahkan luka anus yang berdarah, hal ini dinamakan sembelit. Tambahkan cairan, buah, dan serat ke dalam makanannya. Sembelit yang disebabkan oleh diet makan yang tidak seimbang akan hilang dengan sendirinya. Segera hubungi tenaga kesehatan apabila sembelit disertai dengan sakit perut yang parah atau muntah.


Sumber:
http://aimi-asi.org/bab-bayi-asi-eksklusif/
http://www.ayahasi.org/2011/12/ini-pup-kumana-pup-mu.html
http://healthiskesehatan.blogspot.com/2011/05/variasi-warna-dan-bentuk-feses-feces.html

Masalah-Masalah Payudara yang Dialami Ibu Menyusui

Puting Datar/Puting Masuk/Puting Terbelah
Puting kecil atau puting datar atau puting terbelah bukan hambatan untuk menyusui karena bayi tidak menyusu pada puting melainkan pada payudara dengan mengikutsertkan areola.

Jadi, bagaimana pun bentuk puting ibu, bayi tetap dapat menyusu selama posisi dan pelekatan bayi baik. Ada beberapa cara untuk mengatasi hal ini:
  1. Penarikan puting secara manual/dengan tangan. Puting ditarik-tarik dengan lembut beberapa kali hingga menonjol.  Selama hamil tidak perlu menarik-narik puting,, terutama pada trimester terakhir karena dapat memicu kontraksi dini (bayi dapat lahir prematur).
  2. Pada awal menyusui bisa sulit, tetapi posisi dan pelekatan yang benar akan sangat membantu. Untuk itu diperlukan bantuan dari konselor/konsultan laktasi untuk membantu ibu dengan teknik posisi dan pelekatan pada saat bayi menyusu. Untuk ibu berputing datar, lakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan biarkan bayi melekat sendiri pada payudara.
  3. Penarikan puting dengan menggunakan spuit ukuran 10—20 ml, bergantung pada besar puting. Ujung spuit yang terdapat jarum dipotong dan penarik spuit (spuit puller) dipindahkan ke sisi bekas potongan. Ujung yang tumpul di letakkan di atas puting, kemudian lakukan penarikan beberapa kali hingga puting keluar. Lakukan sehari tiga kali: pagi, siang, dan malam, masing-masing 10 kali.
  4. Puting bisa dipancing untum lebih keluar dengan menggunakan breastpump sebelum menyusui. Puting juga bisa dipancing dengan mengompres puting dengan air dingin sebelum menyusui, agar puting sedikit "mengembang".
  5. Hindari penggunaan penyambung puting (nipple shield) pada saat menyusui, karena akan menyakiti puting ibu, serta membuat bayi tidak belajar untuk melekat (latch-on) dengan benar pada payudara.
  6. Menyusui dengan menggunakan posisi football hold atau cross cradle, sehingga ibu bisa menyangga kepala bayi agar tidak mudah lepas saat menyusu. Dengan dua posisi menyusui ini, ibu dapat membentuk payudara, dengan menopang payudara dari bagian bawah dengan jari-jari, dan menekan bagian atas payudara dengan ibu jari (C hold, U hold). Apapun posisi yang dipilih, pastikan pelekatannya selalu benar (lihat Dokumen tentang Posisi dan Pelekatan Menyusui)

Puting Lecet/Luka
Puting lecet, pecah, luka dan sejenisnya tejadi karena posisi dan pelekatan menyusui yang kurang tepat. Cara mencegahnya adalah dengan memperbaiki posisi dan pelekatan menyusui, karena jika tdk diperbaiki, puting akan terus rentan lecet. Bila lecet tidak parah, bisa tetap menyusui, sebelum dan sesudah menyusui, olesi puting lecet dengan ASI karena ASI bisa melembutkan areola dan puting, serta mengandung desinfektan yang mempercepat sembuhnya luka. Seringlah menganginkan puting agar daerah tersebut tidak lembab sehingga lecet bertambah parah. Namun bila lecetnya sangat parah hingga berdarah, istirahatkan dulu payudara selama setidaknya 24 jam. Keluarkan ASI dengan cara diperah, paling tidak sakit biasanya memerah dengan tangan, dan berikan ASIP pada bayi menggunakan sendok, pipet, atau cup feeder.

Milk Blister/Nipple Bleb
Milk blister biasanya berupa bintil putih seperti jerawat yang kelihatan mau pecah pada puting payudara. Sebabnya bisa bermacam-macam, posisi dan pelekatan menyusui yang kurang tepat, atau bisa jadi tekanan yang terlalu kuat pada payudara sementara produksi ASI sedang banyak. Milk blister ada yang bisa kita hilangkan sendiri, ada yang kadangkala harus ke dokter atau klinik laktasi untuk dipecahkan dengan jarum steril. Payudara dan daerah di sekitar terjadinya blister bisa dikompres air hangat sebelum menyusui sambil dibersihkan pelan-pelan di lokasi blisternya dengan menggunakan lap lembut yang sudah dicelup air hangat, tetapi jangan digosok. Jangan lupa tetap oleskan sedikit ASI di puting sebelum dan sesudah menyusui karena ASI mengandung desinfektan. Jika milk blister tidak pecah sendiri, silakan menghubungi dokter atau klinik laktasi agar bisa dipecahkan dengan jarum steril. Kalau berani melakukan sendiri, prosedur ini juga bisa dilakukan sendiri dengan jarum yang steril. Ada juga yang menyarankan untuk merendam puting dalam air hangat yang diberi garam untuk membuka pori-porinya sehingga milk blister cepat pecah. Selama ada milk blister di puting ibu tetap bisa menyusui seperti biasa.

Payudara Bengkak (Obstructed Ducts)
Payudara menjadi bengkak biasanya jika ada sumbatan ASI di saluran payudara. Bengkak di beberapa bagian payudara biasanya terjadi karena aliran ASI yang kurang lancar. Sebabnya bisa bermacam-mcam: posisi dan pelekatan saat menyusui yang kurang tepat, produksi ASI yang meningkat tajam tapi tidak diikuti dengan pengosongan yang efektif, bisa jadi karena payudara dibiarkan penuh terlalu lama atau bisa juga karena bra yang terlalu ketat. Cara menanggulanginya antara lain:
  1. Dengan membiarkan bayi menyusu pada payudara yang bengkak karena hisapan bayi yang paling efektif mengurangi bengkak. Jika sedang jauh dari bayi bisa diperah atau dipompa untuk mengurangi bengkak.
  2. Payudara dikompres dengan air hangat untuk membantu memperlancar aliran ASI dan setelah menyusui dikompres dengan air dingin utk mengurangi bengkaknya.  Bisa juga kompres dengan lembaran daun kol yang dimasukkan ke kulkas untuk mengurangi bengkak.
  3. Lakukan teknik Reverse Pressure Softening, yaitu dengan menggunakan 4 – 5 jari ibu mengitari puting dan menekan-nekannya kearah dada. Hal ini untuk mencegah puting ibu melebar atau ikut membengkak.
  4. Payudara harus sering dikosongkan dengan efektif karena jika tidak, selain bisa membuat bengkak, juga bisa menurunkan produksinya. Kalau sedang jauh dari bayi sebaiknya diperah atau dipompa.

Mastitis (Infeksi Payudara)
Mastitis adalah infeksi payudara yang seringkali gejalanya mirip dengan payudara bengkak. Mastitis disebabkan karena infeksi (hampir selalu karena bakteri daripada jenis kuman lainnya) yang biasanya terjadi pada ibu menyusui. Namun dapat pula terjadi pada wanita mana saja, bahkan saat ia tidak sedang menyusui, bahkan juga dapat terjadi pada bayi baru lahir, dengan jenis kelamin apapun. Tidak ada yang tahu secara pasti mengapa beberapa wanita mengalami mastitis sedang yang lainnya tidak. Bakteri dapat masuk ke payudara melalui retakan atau lecet pada puting, tetapi wanita yang putingnya tidak lecet juga dapat mengalami mastitis, dan banyak juga wanita yang putingnya retak atau lecet malah tidak mengalaminya. Mastitis berbeda dengan saluran tersumbat, karena saluran tersumbat (obstructed ducts atau payudara bengkak) bukanlah infeksi, sehingga tidak perlu diobati dengan antibiotik. Pada saluran tersumbat, ibu merasakan sakit, bengkak dan pengumpulan massa di payudara. Kulit yang menutupi saluran tersumbat biasanya berwarna merah, tapi tidak semerah pada mastitis. Tidak seperti mastitis, saluran tersumbat tidak selalu diikuti dengan demam, walaupun bisa saja demam terjadi. Mastitis biasanya lebih sakit daripada saluran tersumbat, tapi keduanya bisa terasa cukup sakit. Karena itu, tidak mudah membedakan antara mastitis ringan dan saluran tersumbat yang parah. Ada kemungkinan juga saluran tersumbat berkembang menjadi mastitis, sehingga menjadi lebih rumit.

Tanda-tanda umum mastitis:
  1. Payudara terasa hangat bila disentuh
  2. Perasaan sakit
  3. Pembengkakan payudara  yang kadang diawali juga dengan luka atau lecet pada puting
  4. Nyeri atau rasa panas terus menerus atau saat menyusui
  5. Kulit payudara kelihatan kemerahan
  6. Demam di atas 38 derajat Celcius
  7. Mastitis walaupun biasanya terjadi dalam beberapa minggu pertama menyusui, walau bisa terjadi setiap saat selama menyusui.
  8. Mastitis cenderung hanya menyerang satu payudara bukan kedua payudara.
Hal-hal yang dapat meningkatkan risiko mastitis antara lain:
  1. Puting yang sakit atau luka, walaupun mastitis juga bisa terjadi tanpa adanya luka pada kulit
  2. Sudah pernah mengalami mastitis sebelumnya
  3. Hanya menggunakan satu posisi menyusui, yang bisa jadi tidak sepenuhnya mengosongkan payudara
  4. Memakai bra yang terlalu ketat, sehingga menghambat aliran ASI

Komplikasi yang bisa terjadi pada mastitis antara lain:
  1. Bila Anda pernah mengalami mastitis, ada kemungkinan Anda akan mengalaminya lagi, ketika Anda menyusui bayi yang sama atau anak Anda berikutnya. Hal ini biasanya disebabkan oleh pengobatan yang terlambat atau tidak tepat. Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan mastitis kambuh berulang kali: merokok, produksi ASI yang berlebih dan tidak diikuti dengan pengosongan payudara yang efektif , anemia, dan serta stres dan kelelahan.
  2. Ketika payudara tidak sepenuhnya dikosongkan saat menyusui, kondisi milk stasis (produksi ASI berlebih) dapat terjadi. Hal ini menyebabkan peningkatan tekanan pada pembuluh asi dan kebocoran ASI pada jaringan payudara di sekitarnya, sehingga timbul rasa sakit dan pembengkakan.
  3. Abses bernanah. Bila mastitis tidak segera ditangani dengan tepat, atau terjadi milk stasis, akan muncul nanah dalam payudara. Bila hal ini terjadi, dibutuhkan operasi untuk membersihkan nanah tersebut dari payudara. Untuk menghindari komplikasi ini, segera konsultasikan ke dokter bila muncul tanda atau gejala mastitis.

Penanganan Mastitis:
Dokter biasanya mendiagnosis mastitis berdasarkan pemeriksaan fisik, gejala demam, menggigil, dan daerah yang sakit di payudara. Tanda lainnya yang cukup jelas adalah adanya bentuk prisma segitiga tidak beraturan (wedge  pada payudara, yang sakit bila disentuh. Selain itu, dokter juga akan memeriksa apakah ada nanah atau komplikasi lain yang timbul bila mastitis tidak ditangani dengan tepat. Pengobatan mastitis biasanya mencakup:
  • Pengobatan mastitis umumnya membutuhkan waktu sekitar 10 – 14 hari pemberian antibiotik. Ibu bisa jadi sudah merasa sehat 24 – 48 jam setelah mulai meminum antibiotik, namun obatnya tetap harus dihabiskan untuk menurunkan kemungkinan timbul kembali.
  • Istirahat, tetap terus menyusui dan minum lebih banyak cairan akan membantu tubuh Anda mengatasi infeksi payudara. Kosongkan payudara yang terinfeksi sesering mungkin. Bila bayi menolak menyusu pada payudara yang sakit, gunakan breastpump atau perah dengan tangan untuk mengosongkan payudara.
  • Kunci utama untuk menghindari mastitis adalah dengan mengosongkan payudara saat menyusui dengan posisi dan pelekatan yang benar. Mintalah bantuan konselor menyusui untuk memastikan posisi dan pelekatan yang benar.

Berbagai tips menangani bayi yang suka mengigit puting:

Banyak yang mengeluhkan kenapa bayi suka menggigit puting kita dan bagaimana mengatasinya. Bayi mengigit puting itu ada sebabnya. Dan sebetulnya ada cara-cara yang bisa digunakan untuk mengatasinya. Kunci penting menghadapi bayi yang suka menggigit puting adalah: jangan bereaksi berlebihan seperti melompat, berteriak atau menarik paksa payudara dari mulut bayi karena selain menyebabkan puting luka, biasanya bayi akan terkejut dan trauma sehingga bisa saja jadi enggan menyusu. Atau juga membuat bayi cenderung mengulangi ulahnya karena dianggapnya permainan. Bila bayi Ibu menggigit saat disusui, sebaiknya berusaha tenang dan tidak melakukan sesuatu yang dapat membuatnya kaget, kemudian lepaskan mulut bayi dari puting Ibu secara perlahan. Bila Ibu menangkap tanda-tanda bayi akan menggigit puting, masukkan jari kelingking Ibu ke sudut mulutnya dan tempatkan di antara kedua gusinya.

Usahakan menyusui bayi di tempat yang tenang agar konsentrasi bayi tak terganggu. Kadang bayi menggigit karena mendengar suara lain dan menoleh ke sumber suara tanpa melepaskan mulutnya dari puting payudara.
Kadang bayi suka menggigit karena merasa kurang perhatian dari Ibu, misalnya Ibu menyusui sambil chatting, membaca buku atau hal lainnya. Ajak bayi mengobrol, menyanyikan lagu untuknya atau usap-usaplah kepalanya saat menyusui.
Kadang bayi menggigit puting payudara ketika sudah akan berakhir menyusunya. Jadi, kenali tanda-tanda dia akan selesai menyusu. Jika hisapan bayi sudah mulai melemah atau gerakannya melambat, cobalah mengeluarkan puting payudara secara perlahan.
Sediakan teether untuk digigit sebelum Ibu menyusui bayi terutama saat bayi akan tumbuh gigi, untuk mengalihkan perhatian setelah menyusu agar tidak menggigit puting.

Sumber:
http://jatim.aimi-asi.org/2011/06/payudara-bengkak-mode-on/
http://kellymom.com/bf/concerns/mother/nipplebleb/
http://kultwit.aimi-asi.org/2011/02/mastitis/
http://aimi-asi.org/sukses-meyusui-dengan-puting-datar-kenapa-tidak/
http://health.kompas.com/read/2012/05/18/10050930/Sulit.Menyusui.karena.Puting.Datar
http://health.kompas.com/read/2012/09/05/15334643/Agar.Bayi.Nyaman.Menyusu.pada.Puting.Ibu
http://anakbayibalita.wordpress.com/2010/04/21/mastitis/
http://breastfeedinginc.ca/content.php?pagename=doc-BD-M-indo

Menyapih dengan Cinta

Usia dua tahun biasanya menjadi waktu paling pas untuk balita berhenti menyusui pada ibu atau disapih. Namun berbagai penolakan sering terjadi, baik dari balita sendiri atau ketidaksiapan dalam diri si ibu. Menyusui merupakan momen istimewa antara ibu dan bayi. Karena itu walau memang sudah masanya, banyak ibu yang merasa enggan kehilangan momen istimewa tersebut. Mereka juga khawatir anak akan merasa tidak dicintai dengan disapih. Untuk itu proses menyapih haruslah dilakukan secara bertahap dan tanpa paksaan agar tidak berdampak buruk kepada kedua belah pihak. Agar si kecil tidak terguncang secara psikologis dan agar si ibu juga lebih rela menyapih dan tidak mengalami bengkak payudara yang parah akibat penyapihan yang terjadi secara tiba-tiba.

Ada beberapa tips untuk menyapih anak dengan cinta:
  1. Lakukan proses menyapih secara bertahap dan perlahan: misalnya dengan mengurangi secara bertahap frekuensi menyusui. Bisa dimulai dengan mengurangi frekuensi menyusui saat siang. Baru kemudian bertahap mengurangi frekuensi menyusui di malam hari.
  2. Alihkan perhatian anak dan buat anak sibuk dengan berbagai kegiatan. Saat siang, kelika si anak meminta untuk menyusu alihkan perhatiannya dengan berbagai kegiatan seperti menyanyi, membaca, tertawa bersama. Kalau dia haus, biasakan untuk memberikan air putih atau jus buah. Biasanya disini peran ayah sangat dibutuhkan sebagai figur yang melengkapi sang ibu. Kalau ayah sedang ada di rumah, ayah bisa membantu untuk mengalihkan perhatian anak dari keinginan untuk menyusu pada ibunya
  3. Lakukan komunikasi yang baik dengan anak. Ingat, seberapa kecil usia anak, anak tetap mengerti dan memiliki kemampuan utk     mengerti kata-kata dari orang di lingkungannya.
  4. Hindari menyapih saat anak sedang tidak sehat atau sedang sedih, kesal, marah. Hindari juga menyapih anak saat terjadi perubahan besar lain pada hidupnya, seperti mulai ditinggal bekerja, pindah rumah, mulai sekolah, atau ganti pengasuh.
  5. Hindari menyapih anak dari menyusu ke benda lain seperti empeng, botol susu, bantal, dsb.

Berbagai cerita tentang menyapih dengan cinta bisa didapatkan di sini:
http://semarang.aimi-asi.org/2010/09/menyapih-matahari-terbitku/
http://kultwit.aimi-asi.org/2011/02/weaning-with-love/
http://health.kompas.com/read/2012/04/05/07260982/Menyapih.dan.Menyusui.dalam.Kondisi.Hamil
http://health.kompas.com/read/2011/02/23/17224348/Kiat.Menyapih.Secara.Alami
http://aimi-asi.org/menyusui-lebih-dari-2-tahun/
http://aimi-asi.org/menyapih-dengan-kasih/