Showing posts with label Historia. Show all posts
Showing posts with label Historia. Show all posts

Wednesday, January 8, 2014

Dekrit Presiden Gus Dur

Isi Lengkap Dekrit Presiden Abdurrahman Wahid

Jakarta, KCM

Berikut ini isi lengkap Maklumat Presiden Republik Indonesia yang dibacakan Juru Bicara Kepresidenan Yahya Staquf, Senin (23/7) dini hari, di Istana Merdeka, Jakarta.

Maklumat Presiden Republik Indonesia:
Setelah melihat dan memperhatikan dengan seksama perkembangan politik yang menuju kepada kebuntuan politik akibat krisis konstitusional yang berlarut-larut yang telah memperparah krisis ekonomi dan menghalangi upaya penegakan hukum dan pemberantasan korupsi yang disebabkan oleh pertikaian politik kekuasaan yang tidak mengindahkan lagi kaidah perundang-undangan, apabila hal ini tidak dicegah akan segera menghancurkan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Maka dengan keyakinan dan tanggung jawab untuk menyelamatkan negara dan bangsa serta berdasarkan kehendak sebagian terbesar masyarakat Indonesia, kami selaku Kepala Negara Republik Indonesia terpaksa mengambil langkah-langkah luar biasa dengan memaklumkan :
1.Membekukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
2. Mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dan mengambil tindakan serta menyusun badan yang diperlukan untuk menyelenggaran Pemilu dalam waktu satu tahun.
3. Menyelamatkan gerakan reformasi total dari unsur-unsur Orde Baru dengan membekukan Partai Golongan Karya sambil menunggu keputusan Mahkamah Agung, untuk itu kami memerintahkan seluruh jajaran TNI dan Polri untuk mengamankan langkah penyelamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tetap tenang serta menjalankan kehidupan sosial dan ekonomi seperti biasa. 

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa meridloi negara dan bangsa Indonesia.

Jakarta, 22 Juli 2001, Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi
            
Angkatan Perang KH Abdurrahman Wahid.

---
HOMEPAGE: Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---

Saturday, October 6, 2012

Babad Tanah Jawi dan Majapahit

Di buku-buku sejarah, sebagaimana yang sudah umum kita terima, disebutkan bahwa pendiri kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya. Sementara, kitab Babad Tanah Jawi menyebutkan Raden Sesuruh yang mendirikan kerajaan Majapahit. Jika Raden Wijaya yang kemudian bergelar Çri Kertarajasa Jayawardhana berasal dari wangsa Rajasa (keturunan Çri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi alias Ken Arok) dan menantu sekaligus calon pengganti dari Raja Kertanegara, penguasa Singasari yang terakhir, maka Babad Tanah Jawi menyebutkan Raden Sesuruh adalah putera mahkota Pajajaran yang terusir karena pemberontakan Siyung Wanara yang juga disebutkan bernama Arya Banyak Wide (sebuah nama yang tak asing dalam versi resmi sejarah berdirinya Majapahit, tapi bukan putera Pajajaran seperti yang disebutkan dalam Babad Tanah Jawi, melainkan Bupati Sumenep yang juga bernama Arya Wiraraja). Dan Singasari, sebagaimana juga Majapahit, berada di Jawa Timur, sedangkan Pajajaran di Jawa Barat. 
Maka, apakah penulis Babad Tanah Jawi cuma mengarang, sebab ia pasti bukan seorang sejarawan yang memandang perlu penelusuran terhadap sumber-sumber sejarah yang otentik? Bukankah dengan demikian "pemalsuan sejarah" juga punya riwayat yang panjang: bukan saja dilakukan oleh pemerintah Orde Baru, tapi juga sejak penulisan Babad Tanah Jawi di masa Mataram Islam, sebab cerita-cerita yang berkembang di masyarakat (cerita rakyat) juga banyak yang didasarkan pada cerita-cerita di dalam Babad Tanah Jawi?
Babad Tanah Jawi memang berisi sejarah Jawa, yang antara lain tentang garis keturunan raja-raja Mataram, dari Nabi Adam hingga Panembahan Senapati sang pendiri Mataram Islam, yang terasa tak masuk akal dan kaya akan dongeng atau takhayul alias fiktif. Tapi kita memang tak seharusnya melihat masa lalu dengan kacamata masa kini. Kalau dalam perspektif modern, orang akan dengan tegas menolak yang palsu dan karenanya mengenal konsep "pemalsuan sejarah", maka kita mungkin bisa mencari makna yang lain dari apa yang ada ketimbang harus melulu melihat apa yang ada itu sebagai asli atau palsu, realita atau fiktif. Dalam cerita tentang pendirian Majapahit oleh Raden Sesuruh, ada yang menarik. Raden Sesuruh membuka sebuah daerah yang kemudian disebut Majapahit setelah memperoleh petunjuk dari seorang kakek pertapa yang bernama Ki Ajar Cemara Tunggal, yang sesungguhnya adalah jelmaan puteri Pajajaran nan cantik jelita yang melarikan diri. Raden Sesuruh jatuh cinta pada puteri yang menjelma Ki Ajar itu, yang ternyata Sang Puteri adalah leluhur dari Raden Sesuruh sendiri. Sang Puteri kemudian mengghaib dan hanya terdengar suaranya bahwa ia akan pindah ke lautan pasir untuk mengepalai segala jenis mahluk halus dan kelak akan menemui Raden Sesuruh dan keturunannya kalau sudah menjadi raja. Ki Ajar yang juga puteri Pajajaran inilah yang kemudian dikenal sebagai Nyi Rara Kidul. Sedangkan raja-raja Mataram seperti Panembahan Senapati dan Sultan Agung memperistri Nyi Rara Kidul ini. Babad Tanah Jawi memberi legitimasi bagi raja-raja Mataram, yang merupakan keturunan dari Ki Gede Pemanahan, seorang kepala daerah yang tak lebih besar dari kabupaten, melalui mitos Nyi Rara Kidul: Nyi Rara Kidul hanya diperistri oleh keturunan Raden Sesuruh, sehingga raja-raja Mataram yang bukan dari trah Demak dan Pajang tapi sanggup mengawini Nyi Rara Kidul juga berhak atas tahta, sebab masih merupakan trah Majapahit..

*YS 

Saturday, July 7, 2012

Gali Kata : Penthol


Photo: Gali Kata : Penthol 

Penthol di Surabaya bermakna  bakso. Orang Tionghoa di Surabaya menyebut bakso itu bakwan. Tapi mereka yang memiliki akar bahasa Jawa dimanapun akan sepakat kalau penthol itu makna aslinya adalah bentuk bulatan, apakah itu di ujung tongkat, korek api atau di blangkon Jawa. Dalam prosesnya terjadi pergesaran menarik. Dari arti benda bulat di ujung menjadi sebutan atau predikat. Pentholan bermakna pimpinan.  Di Surabaya pentholan (gerombolan) ini membawa konotasi negatif. Pentholan sindikat penyelundup, pentholan penjahat. Jarang kita menyebut pentholan grup pramuka misalnya.

Dulunya (atau mungkin di daerah lain) pentholan tidak membawa konotasi negatif melainkan sekedar olok-olok. Jika anda membaca novel Pak Suparto Brata "Surabaya Tumpah Darahku" , disitu tokoh utamanya dipanggil penthol (karena gundhul) . Pengalaman lain dengan seting Surabaya berkaitan dengan penthol dapat dibaca juga di memoir Ruslan Abdulgani:
 
" Aku tidak memiliki akte kelahiran seperti yang dikeluarkan pemerintah kolonial untuk anak-anak priyayi, beberapa anak priyayi menjadi teman sekolahku di HIS Sulung, karena ayahku bukan priyayi. Kami adalah orang kampung dan sering membuat olok-olok untuk anak-anak priyayi dengan menyebut mereka "den-bei penthol", tepatnya untuk mengolok-olok model tutup kepala yang mereka kenakan".

(catatan kaki: den dan bei adalah kependekan gelar ningrat raden dan ngabei. Penthol itu sendiri merujuk pada bulatan di belakang tutup kepala dari kain yang dikenakan kaum bangsawan Jawa)

Rekonstruksi STD kali ini : makna awal penthol adalah bentuk bulatan. Karena suatu sebab mereka yang membuat tongkat memberi hiasan bulatan diatasnya. Jika bulatan diibaratkan kepala, tubuh manusia juga memilliki pentolan! Maka makna penthol bergeser ke arti pimpinan atau kepala. Geseran negatif itu sendiri kemungkinan karena olok-olok yang mendahuluinya. Untuk tradisi berpakaian paska Budi Utomo, organisasi pertama yang mendesak pemakaian bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan (ditengah desakan memakai bahasa Jawa sebagai bahasa Nasional), berpakaian ala priyayi tentunya menjadi sasaran olok-olok khususnya olok-olok kanak-kanak (yang kadang keji). 

Di tradisi Tionghoa satu jenis makanan yang berkaitan dengan "menggoreng sang penjahat" untuk mengingatkan pentingnya kesetiaan. Makanan itu adalah ca kue, yang banyak kita lihat di jajanan Surabaya. Kisah cerita, ca kue adalah nama seorang pengkhianat kerajaan yang berhasil mempengaruhi rajanya untuk membunuh jenderal setia. Sang jenderal yang sejak kecil telah ditato ibunya dengan tulisan "membela tanah air", sangat berjasa dan sedang di ujung medan perang dipanggil pulang karena isu jahat yang sampai di telinga raja tentang niatnya memberontak. Sang Jenderal sudah diperingati rekan-rekan dan bawahannya untuk tidak kembali ke ibukota karena adanya isu itu. Namun dengan penuh kesetiaan meskipun dia tahu apa yang akan terjadi, dia menghadap sang raja dan menerima hukuman mati. Berita ini begitu mengecewakan masyarakat dan mereka begitu membenci pengkhiat itu dengan membuat simbolisasi "mari kita goreng dan kita makan tubuh pengkhianat itu". Itulah kisah cakue yang kita makan. 

Apakah kisah ini sama dengan penyebutan nama penthol untuk bakso untuk mensimbolisasikan kepala penjahat atau pentolan perusuh yang suka mengganggu keamanan Surabaya?  Surabaya sempat mendapat predikat tempat yang kurang aman (menurut novel Pramoedya, pembunuh bayaran menerima pekerjaan dengan tarif rendah) . Spekulasi ini belum ada buktinya. 

Kisah seputar kata, tempat dan nama bisa berkembang "secara liar" tergantung naratornya.

Foto di sebelah menggambarkan tutup kepala seorang pembuat wayang kulit di arena pameran Surabaya  tahun 1905.
Fotografer : Kurkdjian
Foto koleksi KITLV : http://kitlv.pictura-dp.nl/all-images/indeling/detail/form/advanced/start/54?q_search_trefwoord=surabaya&f_trefwoord[0]=Javanese

Image code:  10832
Foto di sebelah menggambarkan tutup kepala seorang pembuat wayang kulit di arena pameran Surabaya tahun 1905.
Fotografer : Kurkdjian
Foto koleksi KITLV : http://kitlv.pictura-dp.nl/all-images/indeling/detail/form/advanced/start/54?q_search_trefwoord=surabaya&f_trefwoord%5B0%5D=Javanese

Image code: 10832



Penthol di Surabaya bermakna bakso. Orang Tionghoa di Surabaya menyebut bakso itu bakwan. Tapi mereka yang memiliki akar bahasa Jawa dimanapun akan sepakat kalau penthol itu makna aslinya adalah bentuk bulatan, apakah itu di ujung tongkat, korek api atau di blangkon Jawa. Dalam prosesnya terjadi pergesaran menarik. Dari arti benda bulat di ujung menjadi sebutan atau predikat. Pentholan bermakna pimpinan. Di Surabaya pentholan (gerombolan) ini membawa konotasi negatif. Pentholan sindikat penyelundup, pentholan penjahat. Jarang kita menyebut pentholan grup pramuka misalnya.

Dulunya (atau mungkin di daerah lain) pentholan tidak membawa konotasi negatif melainkan sekedar olok-olok. Jika anda membaca novel Pak Suparto Brata "Surabaya Tumpah Darahku" , disitu tokoh utamanya dipanggil penthol (karena gundhul) . Pengalaman lain dengan seting Surabaya berkaitan dengan penthol dapat dibaca juga di memoir Ruslan Abdulgani:

" Aku tidak memiliki akte kelahiran seperti yang dikeluarkan pemerintah kolonial untuk anak-anak priyayi, beberapa anak priyayi menjadi teman sekolahku di HIS Sulung, karena ayahku bukan priyayi. Kami adalah orang kampung dan sering membuat olok-olok untuk anak-anak priyayi dengan menyebut mereka "den-bei penthol", tepatnya untuk mengolok-olok model tutup kepala yang mereka kenakan".

(catatan kaki: den dan bei adalah kependekan gelar ningrat raden dan ngabei. Penthol itu sendiri merujuk pada bulatan di belakang tutup kepala dari kain yang dikenakan kaum bangsawan Jawa)

Rekonstruksi STD kali ini : makna awal penthol adalah bentuk bulatan. Karena suatu sebab mereka yang membuat tongkat memberi hiasan bulatan diatasnya. Jika bulatan diibaratkan kepala, tubuh manusia juga memilliki pentolan! Maka makna penthol bergeser ke arti pimpinan atau kepala. Geseran negatif itu sendiri kemungkinan karena olok-olok yang mendahuluinya. Untuk tradisi berpakaian paska Budi Utomo, organisasi pertama yang mendesak pemakaian bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan (ditengah desakan memakai bahasa Jawa sebagai bahasa Nasional), berpakaian ala priyayi tentunya menjadi sasaran olok-olok khususnya olok-olok kanak-kanak (yang kadang keji).

Di tradisi Tionghoa satu jenis makanan yang berkaitan dengan "menggoreng sang penjahat" untuk mengingatkan pentingnya kesetiaan. Makanan itu adalah ca kue, yang banyak kita lihat di jajanan Surabaya. Kisah cerita, ca kue adalah nama seorang pengkhianat kerajaan yang berhasil mempengaruhi rajanya untuk membunuh jenderal setia. Sang jenderal yang sejak kecil telah ditato ibunya dengan tulisan "membela tanah air", sangat berjasa dan sedang di ujung medan perang dipanggil pulang karena isu jahat yang sampai di telinga raja tentang niatnya memberontak. Sang Jenderal sudah diperingati rekan-rekan dan bawahannya untuk tidak kembali ke ibukota karena adanya isu itu. Namun dengan penuh kesetiaan meskipun dia tahu apa yang akan terjadi, dia menghadap sang raja dan menerima hukuman mati. Berita ini begitu mengecewakan masyarakat dan mereka begitu membenci pengkhiat itu dengan membuat simbolisasi "mari kita goreng dan kita makan tubuh pengkhianat itu". Itulah kisah cakue yang kita makan.

Apakah kisah ini sama dengan penyebutan nama penthol untuk bakso untuk mensimbolisasikan kepala penjahat atau pentolan perusuh yang suka mengganggu keamanan Surabaya? Surabaya sempat mendapat predikat tempat yang kurang aman (menurut novel Pramoedya, pembunuh bayaran menerima pekerjaan dengan tarif rendah) . Spekulasi ini belum ada buktinya.

Kisah seputar kata, tempat dan nama bisa berkembang "secara liar" tergantung naratornya.


Sumber: http://www.facebook.com/surabayatempodulu

Thursday, March 22, 2012

“Penjajahan”

 

Apa itu “Penjajahan”?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ed.III Depdiknas Balai Pustaka hal.51 tahun 2005 “Penjajahan” mengandung arti:

1. jajah: menjajah berarti keluar-masuk suatu daerah (negeri, dsb)
2. menguasai dan memerintah suatu negeri. Belanda menjajah kita lebih kurang 350 tahun lamanya.

Sedangkan menurut The World Book of Encyclopedia vol.14/92 hlm. 384 adalah :

“Occupancy is a legal-method by which a person or nation acquires title to something that no-one else own”

To gain title to a thing by occupancy a person or nation must take possession of the thing with the intention of keeping it.

Maka pertanyaan yang muncul adalah:

Apa yang dimaksud dengan “legal-method intention“? Kapan hal tersebut mulai tercatat dalam sejarah Indonesia? Benarkah Indonesia dijajah sejak 350 tahun yang lalu?

Tidak diragukan, bahwa sejak proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga tahun 2010 ini, maka Indonesia telah merdeka selama 64 tahun lebih beberapa bulan. Tetapi jika kita berbicara tentang kapan awal terjadinya “praktek” penjajahan di negeri kita maka akan ada beberapa data sejarah yang menarik untuk ditelisik.

KBBI (juga beberapa buku pedoman sejarah di sekolah) memberikan kisaran angka 350 tahun atau 3,5 abad sebagai masa berlangsungnya “praktek” penjajahan yang terjadi di Indonesia. Dari mana asumsi tersebut berasal? Jika kita tarik mundur,angka yang berkaitan dengan 350 tahun adalah dimulai dari tahun 1595 atau abad ke 16 (Hitung: 1945 ke 1595 = 350).

Mengapa 1595? Tahun 1595 adalah masa ketika Cornelis de Houtman bertolak dari Belanda menuju Indonesia dan tiba di Banten kurang lebih setahun setelahnya. Menurut M.C Ricklefs, pada bulan Juni 1596 Kapal-kapal De Houtman tiba di Banten di situ orang-orang Belanda langsung terlibat konflik, baik dengan orang-orang Portugis, maupun dengan orang-orang pribumi.

Disebutkan pula De Houtman melakukan banyak penghinaan dan menyebabakan kerugian yang besar di setiap pelabuhan yang dikunjunginya. Tahun 1597 sisa-sisa ekspedisi itu kembali ke Belanda dengan membawa cukup banyak rempah-rempah. Mulailah kemudian dikenal sebagai zaman pelayaran ‘liar’ atau tidak ‘teratur’ (wilde vaart) yang ditandai dengan banyaknya perusahaan-perusaan ekspedisi belanda yang saling bersaing dan memiliki keinginan kuat (intention) terhadap rempah-rempah yang ada di Indonesia.

Pada bulan Maret 1602, Perseroan yang saling bersaing tersebut membentuk Perserikatan Maskapai Hindia Timur (VOC). Kepentingan yang bersaing itu diwakili oleh sistem majelis (kamer) untuk enam wilayah di negeri Belanda. Setiap majelis memilki sejumlah direktur yang semuanya berjumlah 17 orang yang disebut dengan Heeren XVII.

Ricklefs menambahkan bahwa personel VOC di Asia tidaklah selalu bermutu tinggi. Meskipun VOC merupakan organisasi milik Belanda tetapi sebagian personelnya bukanlah orang Belanda. Para petualang, gelandangan, penjahat, dan orang-orang yang bernasib jelak dari seluruh Eropa-lah yang mengucapkan sumpah setia. Ketidak berdayaan, ketidakjujuran, nepotisme dan alkoholisme tersebar luas di kalanagn VOC. Terjadi banyak kekejaman yang menurut pikiran modern sangat menjijikkan.

Berdasarkan ‘pengorganisasianya’ maka kita dapat menyebut 1602 sebagai awal dari “legal-method intention“. Mengapa? karena VOC mempunyai struktur/rancangan/metode yang secara legal diberikan oleh Parlemen Belanda yang salah satunya dikenal dengan hak Octroii sebagai cara untuk ‘menguasai’ Indonesia. Melalui hak tersebut, kongsi dagang yang diberi semacam hak ‘tatanegara’ dari pemerintah Belanda untuk mengatur pemerintahan di Indonesia.

Hak octroii terkenal dengan undang-undang yang merugikan rakyat; diantaranya melakukan monopoli, melakukan peperangan, membangun benteng-benteng, mengadakan perjanjian-perjanjian dan kewajiban contingenten; yaitu rakyat dipaksa menanam komoditas yang laku di pasar dunia.

Kewajiban inilah yang kemudian memancing kemarahan rakyat sehingga terjadi berbagai perlawanan. Perlawanan-perlawanan tersebut semakin memperjelas bahwa ‘praktek’ (baca: penjajahan) telah terjadi karena mereka bersinggungan dengan rakyat sebagai landowners.

Sehingga, asumsi bahwa Indonesia telah dijajah selama 350 tahun, secara de-jure, sudah mulai terjadi pada tahun 1595. Namun secara de-facto, “legal-method intention” terjadi pada tahun 1602.

Namun, tentu saja definisi ini merupakan pendekatan untuk mengetahui awal penjajahan Belanda di Indonesia. Karena sebagian ahli sejarah tetap berpendapat, Belanda tidak menjajah Indonesia selama 350 tahun. Karena hingga awal abad 20 pun masih tetap terjadi perlawanan.

Seperti misalnya yang terjadi di Bali. Setelah peristiwa Puputan Klungkung dan “menyerahnya” Raja Bangli Dewa Gde Tangkeban, baru pada 2 Oktober 1908, Bali dapat seluruhnya dikuasai Belanda. Hal yang sama terjadi di Aceh, dikabarkan Belanda baru dapat menguasai Aceh pada tahun 1908.