Showing posts with label Breastfedding. Show all posts
Showing posts with label Breastfedding. Show all posts

Thursday, August 11, 2016

Direct Breast Feeding for Hope

Nameste,, ah ingin menyapa pagi ini ala-ala India, bukan karena saya penggemar Uttaran sih, tetapi supaya lebih powerfull menghadapi Senin ini yang lumayan menguras tenaga karena harus back to work. 

Iyah, saya adalah working mom, mengajar di sebuah sekolah swasta di suatu daerah di Kalimantan Selatan dengan waktu bekerja hampir 10 jam setiap harinya. Fiuh, melebihi PNS yah :D

Sebenarnya, ini bukan kali pertama, saya menyusui atau breastfeeding. Anak saya yang pertama, Gaza, Alhamdulillah lulus S3 ASI meskipun tidak sampai betul-betul pas pada usia dua tahun. 

Waktu menyapihnya pun saya Weaning With Love (WWL) karena waktu itu saya (tidak sadar) ternyata telah hamil 5 minggu. Barangkali rasa ASI-nya sudah lain, jadi perlahan, Gaza berhenti ngASIdengan sendirinya.

Nah, anak saya yang kedua, Hope (iyah namanya memang Hope asli sesuai akta kelahiran :D) memang agak unik karena hanya mau ngASI langsung dari ‘pabrik’nya. Uhm, apa yah istilahnya, Direct Breast Feeding kali yah hehehe 

Berkat keunikan Hope inilah, Mama Endut-nya (panggilan anak-anak kepada saya) sampai habut (kalang kabut) mencari cara untuk tetap dapat eksklusif menyusui tanpa mengganggu pekerjaan. 

Di tengah ke-habut-an dan masa kepepet itulah, Tuhan mengirimkan wahyuNya. Muncullah ide untuk minta izin untuk ngASI setiap istirahat makan siang, karena hanya satu waktu itulah yang paling representative selama all day long bekerja. Tentu saja, saya mohon restu dulu sama Babah (suamiku).

Alhamdulillah, setelah berdiskusi singkat, Babah yang juga Ayah ASI support banget dan tetap harus berhati-hati ketika sedang on the way.

Pagi itu juga, saya bergegas untuk membuat surat izin dan langsung ‘menodong’ atasan dan HRD. Alhamdulillah, rezeki anak sholeh. Yah, walaupun hanya dapat satu jam izin pulang untuk ngASI sih, tapi itu sudah Alhamdulillah banget. 

Jadilah, mulai siang hari itu juga, saya mengawali hari baru di siang bolong berjibaku dengan panas yang menggantang. Awalnya, sungguh capek rasanya, badan pegal-pegal semua. 

Namun, begitu tiba di rumah disambut dengan tawa riang anak-anak, letih dan panas itu sirnalah sudah. Sungguh tak berasa sedikitpun. Subhanallah…. 

Bukan tanpa alasan, rutinitas yang belakangan jadi hobi ini, tentu saja memiliki kisah tersendiri.

Ceritanya, kurang lebih satu bulan setelah melahirkan, saya coba untuk memerah ASI sebagai persiapan ketika nanti kembali bekerja pasca cuti melahirkan. 

Entahlah, setiap kali memerah ASI, baik waktu anak pertama dan anak kedua hasilnya pasti tidak terlalu banyak, padahal ASI saya melimpah ruah sampai banjir meskipun sudah menggunakan breast pad. 

Beberapa kali memerah ASI dan mencoba menyuapi Hope dengan berbagai metode, mulai dari cup feeder, sendok, dan bahkan dot, tetapi Hope-ku, lagaknya hanya mencicip saja tidak mau sama sekali. 

Tak hanya itu, Hope pun bisa melakukan gerakan penolakan dengan tangan mungilya--ditampel kalo kata orang Jawa--disertai mimik wajah masam pertanda bahwa ASIP itu tidak enak rasanya. 

Sempat frustasi ketika belum menemukan cara bagaimana mengatasi hal ini, hingga pada akhirnya menemukan ‘resep jitu’ itu. 

Alhamdulillah, hobi baru ini masih saya geluti sampai hari ini. Bismillah.. semangat menjadi pejuang ASI, meskipun sudah pernah terjatuh dari motor demi Direct Breast Feeding  for Hope. 

Saya selalu percaya, Tuhan selalu menyertai dan melindungi hambaNya yang sedang berjuang untuk melakukan hal mulia ini.

Apa yang saya lakukan ini, hanyalah secuil kisah dari para ibu-ibu pejuang ASI lainnya yang pasti lebih hebat dan tangguh. 

Semoga Hope ngASI sampi S3 yah.. Aamiin….

Semoga lebih banyak ibu-ibu yang lebih aware tentang Brest Feeding \(^_^)/ \(^_^)/ \(^_^)/






Friday, April 15, 2016

Menyusui saat Puasa

\(^_^)/ Sebentar lagi puasa Ramadhan nih, tapi utang puasaku sek buanyak e sebulan full kemarin karena lagi hamil (beresiko). So, demi kebaikan bersama khususnya janin, emaknya belom boleh puasa dulu. Nah, sekarang begitu sudah melahirkan dan dalam keadaan 'suci', so mari kita kemon. 

Banyak ibu-ibu menyusui yang worry puasa sambil menyusui karena takut ASI akan berkurang, lemes, dan sebagainya. Alhamdulillah, pengalaman waktu Gaza dulu, meski puasa sambil menyusui semua dimudahkan Allah dan produksi ASI tetap melimpah. 

Tidak ada tips khusus sebenarnya untuk menyusui sambil puasa. Based my experience sih, saya jarang sahur sebenarnya kalau lagi puasa sendiri, kecuali jika Babah nemenin saya puasa. Yang pasti saya banyak minum air putih, khusus teh panas manis ketika buka puasa supaya tidak lemes. So, mending hindari minum es ketika buka puasa menggunakan es. Makan normal saja tidak 'balas dendam' juga tapi agak malam memberi jeda setelah makan menu buka puasa dan menunaikan sholat. Selebihnya normal seperti biasa saja. 

Oia, karena saya workingmom, jadi siang saya aktivitas di kantor dan baru pulang ketika sore hari. Tidak terlalu berasa karena ada aktivitas. Bagi saya, puasa dengan tidak ada yang dilakukan jauh lebih mneyiksa hehehe 

Happy breast fedding great mommy :)

Wednesday, May 6, 2015

Tips Mengatasi Bayi yang Menggigit Puting

Semua ibu yang sudah menjalani proses menyusui cukup lama sudah mulai mengenal berbagai tahapan dalam menyusui. Ada tahapan belajar di awal yang membuat kita mesti kadang menahan sakit karena puting lecet dan membutuhkan kesabaran ekstra sampai nantinya menuju fase menyapih yang biasanya cukup emosional. Nah, salah satu fase yang tidak kalah menantang adalah fase menggigit puting. Fase ini cukup seru karena sebetulnya sering melibatkan kerjadian yang lucu karena tingkah polah si anak, tetapi seringkali tidak lucu karena ibunya juga merasa kesakitan. 

Biasanya, dalam jangka waktu dua tahun menyusui, ibu bisa mengalami beberapa kali fase bayi suka gmengigit puting.  Jangan dibiarkan ya Bu, karena bayi juga harus tahu bahwa ibunya pun punya batasan. Tentu masih ingat kan pada prinsip bahwa menyusui itu tidak terasa sakit dan tidak boleh terasa sakit? Karena jika ibu merasa sakit, berarti ada proses atau caranya yang harus diperbaiki.

Ada berbagai alasan kenapa bayi menggigit: sedang tumbuh gigi, mengajak ibu main atau bercanda, bayi sedang gemas, atau karena pelekatan yang tidak pas sehingga bayi merasa kesal dan sebagainya.
Bayi yang sedang menyusu dengan pelekatan yang sempurna, secara fisik tidak akan bisa mengigit puting karena mulut sedang terbuka lebar dan puting masuk jauh ke dalam mulut si bayi.  Jadi untuk dapat mengigit puting ibunya, bayi harus melepaskan pelekatannya tadi, lalu memundurkan kepalanya sedikit dan kemudian baru: hap! Gigit! Kalau sedang menyusui, perhatikan gerakan melepas pelekatan dan mundur tersebut. Jika itu terjadi, segera lepaskan payudara dengan menyelipkan jari di sudut mulut bayi.  

Bagaimana jika kalah cepat dengan si kecil? Selipkan jari di mulutnya. Setelah dia buka mulut, tarik payudara keluar. Tetapi jangan ditarik paksa ya, agar tidak terluka. Kemudian tutup pakaian dan berhenti sejenak. Satu tips penting: jangan berteriak, tertawa, menjerit atau melotot karena bayi justru akan menganggap itu lucu dan jadi kesenangan. Atau bisa jadi, reaksi keras dari ibu bisa membuat bayi jadi kaget dan malah trauma menyusu. Setelah pakaian ditutup, jelaskan kepada si kecil bahwa ibu merasa sakit jika digigit. Sehingga kalau payudara sakit, tidak akan bisa dipakai untuk menyusui sementara waktu.

Jika bayi masih ingin menyusu, berikan payudara yang satunya. Jika dia mengulanginya lagi, ulangi kembali cara di atas. Kalau dia minta lagi, kali ini beri tahu bahwa dua payudara ibu sedang sakit. Bayi kita cukup pintar lho, dia akan cepat menyerap hubungan sebab-akibat yang tadi dia alami. Manfaatkanlah fase ini untuk mengajarkannya berempati.

Jika ada orang lain saat itu seperti ayah/nenek/pengasuh, minta mereka mengajak bayi minta maaf pada ibu. Lho, bayi kan belum bisa bicara? Betul, tetapi bukan berarti mereka tidak mengerti. Manfaatkan setiap fase menyusui untuk belajar berkomunikasi dengan bayi, bahkan saat bayi belum bisa berbicara sekalipun. Fase mengigit ini adalah saat yang tepat juga untuk mengajarkan anak kesopanan dan patuh pada  aturan dalam konteks yang sederhana. Dia akan memahami bahwa ibu punya batas dan mengigit puting itu tidaklah menyenangkan.

Usahakan juga menyusui bayi di tempat yang tenang agar konsentrasi bayi tak terganggu. Kadang bayi menggigit karena mendengar suara lain dan menoleh ke sumber suara tanpa melepaskan mulutnya dari puting payudara. Kadang bayi suka menggigit karena merasa kurang perhatian dari Ibu, misalnya Ibu menyusui sambil main HP, menonton televisi atau hal lainnya. Ajak bayi mengobrol, menyanyikan lagu untuknya atau usap-usaplah kepalanya saat menyusui.

Kadang bayi menggigit puting payudara ketika sudah akan berakhir menyusunya. Jadi, kenali tanda-tanda dia akan selesai menyusu. Jika hisapan bayi sudah mulai melemah atau gerakannya melambat, cobalah mengeluarkan puting payudara secara perlahan.

So, Moms yang sedang kesakitan karena digigit, jangan ditahan sendiri yaaa. Komunikasikan kepada si bayi juga yaaa :)

Monday, June 3, 2013

Memahami Serba-Serbi Buang Air Besar pada Bayi

Warna BAB Bayi ASI Eksklusif yang Normal

Secara umum, BAB bayi dengan ASI eksklusif yang normal adalah yang berwarna kuning cerah dan cemerlang. Feses ini biasanya disebut dengan golden feces. Warna kuning timbul dari proses pencernaan lemak yang dibantu oleh cairan empedu. Cairan empedu dibuat di dalam hati dan disimpan beberapa waktu di dalam kandung empedu sampai saatnya dikeluarkan. Bila di dalam usus terdapat lemak yang berasal dari makanan, kandung empedu akan berkontraksi (mengecilkan ukurannya) untuk memeras cairannya keluar. Cairan empedu ini akan memecah lemak menjadi zat yang dapat diserap usus.

Warna feses bayi dengan susu formula atau ASI tapi dicampur dengan susu formula akan cenderung kuning lebih gelap atau kuning tua, agak cokelat, cokelat tua, kuning kecoklatan atau cokelat kehijauan.

Warna-Warna Lain BAB Bayi ASI Eksklusif

BAB Warna Hijau
Feses berwarna hijau juga termasuk kategori normal. Meskipun begitu, warna ini tidak boleh terus-menerus muncul. Ini berarti cara ibu memberikan ASI-nya belum benar. Yang terisap oleh bayi hanya foremilk saja, sedangkan hindmilk-nya tidak. Kasus demikian umumnya terjadi kalau produksi
ASI sangat melimpah. Jika bayi hanya mendapat foremilk yang mengandung sedikit lemak dan banyak gula, kadang-kadang terjadi perubahan pada proses pencernaan yang akhirnya membuat feses bayi berwarna hijau. Bahkan sering juga dari situ terbentuk gas yang terlalu banyak (sering kentut), sehingga bayi merasa tak nyaman (kolik).

BAB Warna Merah
Warna merah pada feses bayi bisa disebabkan adanya tetesan darah yang menyertai. Bentuknya fesesnya pun bisa cair ataupun menggumpal. Selanjutnya dokter yang menangani akan melakukan observasi apakah apakah warna merah tersebut disebabkan darah dari tubuhnya sendiri atau dari ibunya, milsanya dari puting ibu yang luka. Jika merah ini terbukti , maka dua-duanya perlu penanganan. Darah ini sangat jarang berasal dari disentri amuba atau basiler, karena makanan bayi, karena belum banyak ragamnya dan belum makan makanan yang kotor. Kalau penyakitnya serius, biasanya bayi juga punya keluhan lain, seperti perutnya membuncit atau menegang, muntah, demam, rewel dan kesakitan.


BAB Warna Putih Keabu-abuan
Jika feses bayi yang baru lahir berwarna kuning pucat atau putih keabu-abuan maka ibu harus waspada. Baik yang encer ataupun padat. Warna putih menunjukkan gangguan yang paling riskan. Bisa disebabkan gangguan pada hati atau penyumbatan saluran empedu.

Tekstur BAB Bayi ASI Eksklusif
Saat baru lahir, bentuk feses bayi menyerupai aspal lembek. Zat buangan ini berasal dari pencernaan bayi yang dibawa dari kandungan. Setelah itu, feses bayi bisa bergumpal-gumpal seperti jeli, padat, berbiji (seeded) dan bisa juga berupa cairan.
Feses bayi yang diberi ASI eksklusif biasanya tidak berbentuk, bisa seperti pasta/krem, berbiji (seeded), dan bisa juga seperti mencret/cair dengan ampas.
Feses bayi yang diberi susu formula berbentuk padat, bergumpal-gumpal atau agak liat dan merongkol/bulat. Berbeda dengan bayi yang mengkonsumsi ASI, bayi yang mengonsumsi susu formula kadangkala akan mengalami sembelit atau susah buang air besar. Curigai jika bayi yang mengkonsumsi susu formula bentuk fesesnya cair.

Frekuensi Buang Air Besar Bayi ASI Eksklusif

Frekuensi BAB pada setiap bayi pasti berbeda-beda. Bahkan, bayi yang sama pun, frekuensi BAB-nya akan berbeda di minggu ini dan minggu depannya. Umumnya di empat atau lima minggu pertama, dalam sehari bisa lebih dari lima kali atau enam kali. Asalkan tidak menganggu proses pertumbuhannya, maka ibu tak pelu cemas. Bagi bayi yang mendapatkan ASI ekslusif biasanya bisa tidak BAB hingga 1-2 minggu lamanya. Tak perlu cemas, karena berarti semuanya bisa diserap dengan baik.

Serba-Serbi BAB Bayi ASI Eksklusif Sesuai Perkembangan Usia

  1. 1. Tiga Hari Pertama
Beberapa hari pertama setelah kelahirannya bayi mengeluarkan mekonium, yakni bahan lengket berwarna hijau pekat mendekati hitam yang terkumpul di dalam usus bayi selama berada di kandungan. Pada hari ketiga, bayi yang mendapatkan lebih banyak ASI akan buang air besar lebih mudah. Biasanya bayi sudah mengeluarkan seluruh mekonium dan bentuk feses bayi berubah di hari keempat.

  1. 2. Bulan Pertama
Feses bayi yang wajar berwarna kuning, sedikit berbau, memiliki bentuk lunak agak cair dan berbij-biji. Bentuk feses juga dapat sedikit berbeda, misalnya berwarna lebih hijau atau kuning pekat, berlendir atau berbuih. Perbedaan warna ini tidak menunjukkan masalah apapun. Bayi ASIX yang semakin mudah buang air besar di hari ketiga kehidupannya berarti dalam keadaan yang baik.
Bayi yang sehat dan mendapat cukup asupan ASI akan buang air kecil lebih dari enam kali dalam sehari. Walaupun begitu, segera periksakan bayi kepada tenaga atau fasilitas kesehatan jika ia mengalami salah satu dari tanda-tanda di bawah.
  1. Bayi masih mengeluarkan mekonium pada usia 4 atau 5 hari
  2. Bayi usia 5-21 hari tidak buang air besar dalam 24 jam
  3. Feses bayi berwarna coklat, jarang buang air besar, atau feses sedikit
Selain mengamati asupan bayi, memantau frekuensi buang air besar dan jumlah feses merupakan cara untuk menilai bilamana bayi mendapatkan cukup ASI. Jumlah feses bayi seharusnya meningkat setidaknya pada hari kelima dengan frekuensi buang air besar 2-3 kali setiap hari. Bahkan beberapa bayi buang air besar setiap selesai menyusu dan ini bukan berarti bayi menderita diare.
Diare adalah kondisi perubahan frekuensi buang air besar secara mendadak dengan jumlah feses lebih banyak dan dalam bentuk yang sangat cair. Terus berikan ASI dan perbanyak asupannya untuk mencegah dehidrasi atau kekurangan cairan pada bayi. Perhatikan tanda-tanda dehidrasi berikut ini:
  • Mata kering, bayi menangis tanpa mengeluarkan air mata atau hanya sedikit;
  • Kulit, mulut dan bibir lebih kering;
  • Air seni berwarna gelap, keluar sedikit atau tidak keluar sama sekali;
  • Mata tampak cekung atau terbenam;
  • Sangat lemas dan kesadaran menurun;
  • Selalu merasa haus atau malah menolak minum;
  • Ubun-ubun terlihat cekung;
  • Ketika kulit dicubit dengan dua jari kulit sulit kembali ke bentuk asal.
Segera hubungi tenaga atau fasilitas kesehatan bila menemukan tanda dehidrasi, diare yang disertai dengan darah, kejang, nafas cepat dan dangkal, muntah terus-menerus, panas tinggi di atas 38,5°C yang tidak berkurang dalam 2 hari, diare berlangsung lebih dari 14 hari, atau bayi tampak kesakitan atau kolik. Bayi yang kesakitan akan menangis kuat sambil menekuk kaki, gelisah serta berkeringat.

  1. 3. Usia 2-6 Bulan
Frekuensi buang air besar setiap bayi berbeda-beda. Secara umum frekuensi buang air besar bayi akan semakin berkurang seiring pertambahan usianya karena usus telah berkembang lebih sempurna dan dapat menyerap ASI lebih baik. Memasuki bulan kedua, beberapa bayi ASIX mendadak mengubah frekuensi buang air besar mereka dari sering menjadi sekali dalam tiga hari. Bahkan ada bayi yang tidak buang air besar selama 14 hari atau lebih. Selama bayi sehat dan bentuk feses wajar maka hal tidak menjadi masalah. Memang bayi ASIX lebih jarang mengalami sembelit atau konstipasi karena nutrisi ASI mudah dicerna dan diserap oleh tubuh serta mengandung zat laksatif yang dapat mengencerkan feses.

BAB Bayi yang Sudah Mendapatkan MPASI

Setelah bayi mendapat Makanan Pendamping ASI (MPASI) biasanya frekuensi buang air besar, bentuk, warna, dan jumlah feses akan berubah tergantung dari jenis makanan yang dikonsumsi, intake cairan, dan porsi makanan. Jika feses bayi keras hingga saat buang air besar ia mengalami kesulitan, rasa nyeri, atau bahkan luka anus yang berdarah, hal ini dinamakan sembelit. Tambahkan cairan, buah, dan serat ke dalam makanannya. Sembelit yang disebabkan oleh diet makan yang tidak seimbang akan hilang dengan sendirinya. Segera hubungi tenaga kesehatan apabila sembelit disertai dengan sakit perut yang parah atau muntah.


Sumber:
http://aimi-asi.org/bab-bayi-asi-eksklusif/
http://www.ayahasi.org/2011/12/ini-pup-kumana-pup-mu.html
http://healthiskesehatan.blogspot.com/2011/05/variasi-warna-dan-bentuk-feses-feces.html

Masalah-Masalah Payudara yang Dialami Ibu Menyusui

Puting Datar/Puting Masuk/Puting Terbelah
Puting kecil atau puting datar atau puting terbelah bukan hambatan untuk menyusui karena bayi tidak menyusu pada puting melainkan pada payudara dengan mengikutsertkan areola.

Jadi, bagaimana pun bentuk puting ibu, bayi tetap dapat menyusu selama posisi dan pelekatan bayi baik. Ada beberapa cara untuk mengatasi hal ini:
  1. Penarikan puting secara manual/dengan tangan. Puting ditarik-tarik dengan lembut beberapa kali hingga menonjol.  Selama hamil tidak perlu menarik-narik puting,, terutama pada trimester terakhir karena dapat memicu kontraksi dini (bayi dapat lahir prematur).
  2. Pada awal menyusui bisa sulit, tetapi posisi dan pelekatan yang benar akan sangat membantu. Untuk itu diperlukan bantuan dari konselor/konsultan laktasi untuk membantu ibu dengan teknik posisi dan pelekatan pada saat bayi menyusu. Untuk ibu berputing datar, lakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan biarkan bayi melekat sendiri pada payudara.
  3. Penarikan puting dengan menggunakan spuit ukuran 10—20 ml, bergantung pada besar puting. Ujung spuit yang terdapat jarum dipotong dan penarik spuit (spuit puller) dipindahkan ke sisi bekas potongan. Ujung yang tumpul di letakkan di atas puting, kemudian lakukan penarikan beberapa kali hingga puting keluar. Lakukan sehari tiga kali: pagi, siang, dan malam, masing-masing 10 kali.
  4. Puting bisa dipancing untum lebih keluar dengan menggunakan breastpump sebelum menyusui. Puting juga bisa dipancing dengan mengompres puting dengan air dingin sebelum menyusui, agar puting sedikit "mengembang".
  5. Hindari penggunaan penyambung puting (nipple shield) pada saat menyusui, karena akan menyakiti puting ibu, serta membuat bayi tidak belajar untuk melekat (latch-on) dengan benar pada payudara.
  6. Menyusui dengan menggunakan posisi football hold atau cross cradle, sehingga ibu bisa menyangga kepala bayi agar tidak mudah lepas saat menyusu. Dengan dua posisi menyusui ini, ibu dapat membentuk payudara, dengan menopang payudara dari bagian bawah dengan jari-jari, dan menekan bagian atas payudara dengan ibu jari (C hold, U hold). Apapun posisi yang dipilih, pastikan pelekatannya selalu benar (lihat Dokumen tentang Posisi dan Pelekatan Menyusui)

Puting Lecet/Luka
Puting lecet, pecah, luka dan sejenisnya tejadi karena posisi dan pelekatan menyusui yang kurang tepat. Cara mencegahnya adalah dengan memperbaiki posisi dan pelekatan menyusui, karena jika tdk diperbaiki, puting akan terus rentan lecet. Bila lecet tidak parah, bisa tetap menyusui, sebelum dan sesudah menyusui, olesi puting lecet dengan ASI karena ASI bisa melembutkan areola dan puting, serta mengandung desinfektan yang mempercepat sembuhnya luka. Seringlah menganginkan puting agar daerah tersebut tidak lembab sehingga lecet bertambah parah. Namun bila lecetnya sangat parah hingga berdarah, istirahatkan dulu payudara selama setidaknya 24 jam. Keluarkan ASI dengan cara diperah, paling tidak sakit biasanya memerah dengan tangan, dan berikan ASIP pada bayi menggunakan sendok, pipet, atau cup feeder.

Milk Blister/Nipple Bleb
Milk blister biasanya berupa bintil putih seperti jerawat yang kelihatan mau pecah pada puting payudara. Sebabnya bisa bermacam-macam, posisi dan pelekatan menyusui yang kurang tepat, atau bisa jadi tekanan yang terlalu kuat pada payudara sementara produksi ASI sedang banyak. Milk blister ada yang bisa kita hilangkan sendiri, ada yang kadangkala harus ke dokter atau klinik laktasi untuk dipecahkan dengan jarum steril. Payudara dan daerah di sekitar terjadinya blister bisa dikompres air hangat sebelum menyusui sambil dibersihkan pelan-pelan di lokasi blisternya dengan menggunakan lap lembut yang sudah dicelup air hangat, tetapi jangan digosok. Jangan lupa tetap oleskan sedikit ASI di puting sebelum dan sesudah menyusui karena ASI mengandung desinfektan. Jika milk blister tidak pecah sendiri, silakan menghubungi dokter atau klinik laktasi agar bisa dipecahkan dengan jarum steril. Kalau berani melakukan sendiri, prosedur ini juga bisa dilakukan sendiri dengan jarum yang steril. Ada juga yang menyarankan untuk merendam puting dalam air hangat yang diberi garam untuk membuka pori-porinya sehingga milk blister cepat pecah. Selama ada milk blister di puting ibu tetap bisa menyusui seperti biasa.

Payudara Bengkak (Obstructed Ducts)
Payudara menjadi bengkak biasanya jika ada sumbatan ASI di saluran payudara. Bengkak di beberapa bagian payudara biasanya terjadi karena aliran ASI yang kurang lancar. Sebabnya bisa bermacam-mcam: posisi dan pelekatan saat menyusui yang kurang tepat, produksi ASI yang meningkat tajam tapi tidak diikuti dengan pengosongan yang efektif, bisa jadi karena payudara dibiarkan penuh terlalu lama atau bisa juga karena bra yang terlalu ketat. Cara menanggulanginya antara lain:
  1. Dengan membiarkan bayi menyusu pada payudara yang bengkak karena hisapan bayi yang paling efektif mengurangi bengkak. Jika sedang jauh dari bayi bisa diperah atau dipompa untuk mengurangi bengkak.
  2. Payudara dikompres dengan air hangat untuk membantu memperlancar aliran ASI dan setelah menyusui dikompres dengan air dingin utk mengurangi bengkaknya.  Bisa juga kompres dengan lembaran daun kol yang dimasukkan ke kulkas untuk mengurangi bengkak.
  3. Lakukan teknik Reverse Pressure Softening, yaitu dengan menggunakan 4 – 5 jari ibu mengitari puting dan menekan-nekannya kearah dada. Hal ini untuk mencegah puting ibu melebar atau ikut membengkak.
  4. Payudara harus sering dikosongkan dengan efektif karena jika tidak, selain bisa membuat bengkak, juga bisa menurunkan produksinya. Kalau sedang jauh dari bayi sebaiknya diperah atau dipompa.

Mastitis (Infeksi Payudara)
Mastitis adalah infeksi payudara yang seringkali gejalanya mirip dengan payudara bengkak. Mastitis disebabkan karena infeksi (hampir selalu karena bakteri daripada jenis kuman lainnya) yang biasanya terjadi pada ibu menyusui. Namun dapat pula terjadi pada wanita mana saja, bahkan saat ia tidak sedang menyusui, bahkan juga dapat terjadi pada bayi baru lahir, dengan jenis kelamin apapun. Tidak ada yang tahu secara pasti mengapa beberapa wanita mengalami mastitis sedang yang lainnya tidak. Bakteri dapat masuk ke payudara melalui retakan atau lecet pada puting, tetapi wanita yang putingnya tidak lecet juga dapat mengalami mastitis, dan banyak juga wanita yang putingnya retak atau lecet malah tidak mengalaminya. Mastitis berbeda dengan saluran tersumbat, karena saluran tersumbat (obstructed ducts atau payudara bengkak) bukanlah infeksi, sehingga tidak perlu diobati dengan antibiotik. Pada saluran tersumbat, ibu merasakan sakit, bengkak dan pengumpulan massa di payudara. Kulit yang menutupi saluran tersumbat biasanya berwarna merah, tapi tidak semerah pada mastitis. Tidak seperti mastitis, saluran tersumbat tidak selalu diikuti dengan demam, walaupun bisa saja demam terjadi. Mastitis biasanya lebih sakit daripada saluran tersumbat, tapi keduanya bisa terasa cukup sakit. Karena itu, tidak mudah membedakan antara mastitis ringan dan saluran tersumbat yang parah. Ada kemungkinan juga saluran tersumbat berkembang menjadi mastitis, sehingga menjadi lebih rumit.

Tanda-tanda umum mastitis:
  1. Payudara terasa hangat bila disentuh
  2. Perasaan sakit
  3. Pembengkakan payudara  yang kadang diawali juga dengan luka atau lecet pada puting
  4. Nyeri atau rasa panas terus menerus atau saat menyusui
  5. Kulit payudara kelihatan kemerahan
  6. Demam di atas 38 derajat Celcius
  7. Mastitis walaupun biasanya terjadi dalam beberapa minggu pertama menyusui, walau bisa terjadi setiap saat selama menyusui.
  8. Mastitis cenderung hanya menyerang satu payudara bukan kedua payudara.
Hal-hal yang dapat meningkatkan risiko mastitis antara lain:
  1. Puting yang sakit atau luka, walaupun mastitis juga bisa terjadi tanpa adanya luka pada kulit
  2. Sudah pernah mengalami mastitis sebelumnya
  3. Hanya menggunakan satu posisi menyusui, yang bisa jadi tidak sepenuhnya mengosongkan payudara
  4. Memakai bra yang terlalu ketat, sehingga menghambat aliran ASI

Komplikasi yang bisa terjadi pada mastitis antara lain:
  1. Bila Anda pernah mengalami mastitis, ada kemungkinan Anda akan mengalaminya lagi, ketika Anda menyusui bayi yang sama atau anak Anda berikutnya. Hal ini biasanya disebabkan oleh pengobatan yang terlambat atau tidak tepat. Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan mastitis kambuh berulang kali: merokok, produksi ASI yang berlebih dan tidak diikuti dengan pengosongan payudara yang efektif , anemia, dan serta stres dan kelelahan.
  2. Ketika payudara tidak sepenuhnya dikosongkan saat menyusui, kondisi milk stasis (produksi ASI berlebih) dapat terjadi. Hal ini menyebabkan peningkatan tekanan pada pembuluh asi dan kebocoran ASI pada jaringan payudara di sekitarnya, sehingga timbul rasa sakit dan pembengkakan.
  3. Abses bernanah. Bila mastitis tidak segera ditangani dengan tepat, atau terjadi milk stasis, akan muncul nanah dalam payudara. Bila hal ini terjadi, dibutuhkan operasi untuk membersihkan nanah tersebut dari payudara. Untuk menghindari komplikasi ini, segera konsultasikan ke dokter bila muncul tanda atau gejala mastitis.

Penanganan Mastitis:
Dokter biasanya mendiagnosis mastitis berdasarkan pemeriksaan fisik, gejala demam, menggigil, dan daerah yang sakit di payudara. Tanda lainnya yang cukup jelas adalah adanya bentuk prisma segitiga tidak beraturan (wedge  pada payudara, yang sakit bila disentuh. Selain itu, dokter juga akan memeriksa apakah ada nanah atau komplikasi lain yang timbul bila mastitis tidak ditangani dengan tepat. Pengobatan mastitis biasanya mencakup:
  • Pengobatan mastitis umumnya membutuhkan waktu sekitar 10 – 14 hari pemberian antibiotik. Ibu bisa jadi sudah merasa sehat 24 – 48 jam setelah mulai meminum antibiotik, namun obatnya tetap harus dihabiskan untuk menurunkan kemungkinan timbul kembali.
  • Istirahat, tetap terus menyusui dan minum lebih banyak cairan akan membantu tubuh Anda mengatasi infeksi payudara. Kosongkan payudara yang terinfeksi sesering mungkin. Bila bayi menolak menyusu pada payudara yang sakit, gunakan breastpump atau perah dengan tangan untuk mengosongkan payudara.
  • Kunci utama untuk menghindari mastitis adalah dengan mengosongkan payudara saat menyusui dengan posisi dan pelekatan yang benar. Mintalah bantuan konselor menyusui untuk memastikan posisi dan pelekatan yang benar.

Berbagai tips menangani bayi yang suka mengigit puting:

Banyak yang mengeluhkan kenapa bayi suka menggigit puting kita dan bagaimana mengatasinya. Bayi mengigit puting itu ada sebabnya. Dan sebetulnya ada cara-cara yang bisa digunakan untuk mengatasinya. Kunci penting menghadapi bayi yang suka menggigit puting adalah: jangan bereaksi berlebihan seperti melompat, berteriak atau menarik paksa payudara dari mulut bayi karena selain menyebabkan puting luka, biasanya bayi akan terkejut dan trauma sehingga bisa saja jadi enggan menyusu. Atau juga membuat bayi cenderung mengulangi ulahnya karena dianggapnya permainan. Bila bayi Ibu menggigit saat disusui, sebaiknya berusaha tenang dan tidak melakukan sesuatu yang dapat membuatnya kaget, kemudian lepaskan mulut bayi dari puting Ibu secara perlahan. Bila Ibu menangkap tanda-tanda bayi akan menggigit puting, masukkan jari kelingking Ibu ke sudut mulutnya dan tempatkan di antara kedua gusinya.

Usahakan menyusui bayi di tempat yang tenang agar konsentrasi bayi tak terganggu. Kadang bayi menggigit karena mendengar suara lain dan menoleh ke sumber suara tanpa melepaskan mulutnya dari puting payudara.
Kadang bayi suka menggigit karena merasa kurang perhatian dari Ibu, misalnya Ibu menyusui sambil chatting, membaca buku atau hal lainnya. Ajak bayi mengobrol, menyanyikan lagu untuknya atau usap-usaplah kepalanya saat menyusui.
Kadang bayi menggigit puting payudara ketika sudah akan berakhir menyusunya. Jadi, kenali tanda-tanda dia akan selesai menyusu. Jika hisapan bayi sudah mulai melemah atau gerakannya melambat, cobalah mengeluarkan puting payudara secara perlahan.
Sediakan teether untuk digigit sebelum Ibu menyusui bayi terutama saat bayi akan tumbuh gigi, untuk mengalihkan perhatian setelah menyusu agar tidak menggigit puting.

Sumber:
http://jatim.aimi-asi.org/2011/06/payudara-bengkak-mode-on/
http://kellymom.com/bf/concerns/mother/nipplebleb/
http://kultwit.aimi-asi.org/2011/02/mastitis/
http://aimi-asi.org/sukses-meyusui-dengan-puting-datar-kenapa-tidak/
http://health.kompas.com/read/2012/05/18/10050930/Sulit.Menyusui.karena.Puting.Datar
http://health.kompas.com/read/2012/09/05/15334643/Agar.Bayi.Nyaman.Menyusu.pada.Puting.Ibu
http://anakbayibalita.wordpress.com/2010/04/21/mastitis/
http://breastfeedinginc.ca/content.php?pagename=doc-BD-M-indo