Showing posts with label Jurnalistic. Show all posts
Showing posts with label Jurnalistic. Show all posts

Wednesday, July 4, 2012

Opening SMA GIBS

Pelepasan balon oleh Ketua dan pengurus Yayasan Hasnur Centre    

SMA GIBS melakukan opening Himmah program dan penyambutan siswa baru yang merupakan siswa perdana pada Sabtu, 30 Juni 2012 di gedung Indoor Sport . Acara tersebut diawali dengan open check in siswa pa da pukul 07.00 wita, lalu dilanjutkan dengan ceremonial pada pukul 10.00 wita. 
Nampak ketua hasnur Centre Foundation, Djamari Chaniago, melakukan pemotongan pita usai acara ceremonial di gelar di depan gedung Indoor Sport didampingi Prof. Kustan Basri, Nilawati Zulfikar beserta putra, dan Syahrani Ambaoga. 
Acara berlangsung lancar dan tertib diringi performa mars GIBS yang dinyanyikan oleh seluruh guru dan staf SMA GIBS. Terdapat pula student uniform show yaitu pengenalan seragam SMA GIBS oleh para siswa yang mewakili berikut tas akademik. 
Finally, Selamat Datang siswa-siswaku di SMA GIBS. Selamat bergabung dalam keluarga besar Hasnur Centre dan SMA GIBS. Mari berkarya dan mengukir prestasi sebanyak-sebanyaknya dari sekarang. :))

Pose pasca acara opening Himmah Program SMA GIBS di depan gedung Indoor.


Wednesday, June 27, 2012

Pendaftaran SM3T Baru

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan kembali merekrut calon peserta Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T). Pendaftaran akan dibuka secara online mulai 8 Juli hingga 21 Juli 2012. SM-3T merupakan bagian dari program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia yang diprakarsai oleh Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal PendidikanTinggi Kemdikbud. Dalam program ini, para sarjana pendidikan direkrut, dipersiapkan, dan diterjunkan di wilayah pengabdian. Selain mengajar, mereka juga melakukan kegiatan kemasyarakatan.
Tahun ini, wilayah pengabdian meliputi sejumlah kabupaten di Provinsi Aceh, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, dan Papua. “Selama mengabdi, setiap bulan mereka akan mendapatkan uang biaya hidup dan asuransi kesehatan. Setelah setahun mengabdi, mereka akan mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) dengan beasiswa penuh dari pemerintah,” ungkap Abdurrahman, Ketua PPG Unnes.
Dikemukakan oleh Abdurrahman, tahun ini bersama 16 lembaga pendidiksn tenaga kependidikan (LPTK) lainnya Unnes kembali dipercaya untuk merekrut, membekali, menerjunkan peserta SM-3T, dan menyelenggarakan PPG untuk mereka.
“Berbeda dari tahun lalu, tahun ini pendaftaran dilakukan secara online di laman ksg.dikti.go.id/majubersama. Pada saat pendaftaran nanti, peserta cukup mengisis formulir yang disediakan serta mengunggah file ijazah dan foto,” kata Abdurrahman.
Tahapan berikutnya setelah pendaftaran, ungkap Abdurrahman, adalah seleksi administrasi pada 23-25 Juli, pengumuman hasil seleksi administrasi dan pengumuman jadwal tes online (26-27 Juli), tes secara online (1-4 Agustus), pengumuman hasil tes online dan jadwal wawancara (10 Agustus), wawancara (2-6 September), dan pengumuman hasil seleksi pada 15 September 2012.
Persyaratan
Apa saja syarat pendaftar SM-3T? Beberapa syarat antara lain (1) warga negara Indonesia, (2) usia maksimum 28 tahun per 31 Desember 2012, (3) lulusan program studi kependidikan S-1 empat tahun terakhir (2009, 2010, 2011, 2012) dari program studi terakreditasi (kecuali PGPAUD minimal sudah memiliki izin operasional) yang sesuai dengan mata pelajaran dan/atau bidang keahlian yang dibutuhkan, dan (4) IPK minimal 3,0.
Selain itu, (5) berbadan sehat, (6) bebas narkotik,  (7) berkelakuan baik, (8) mendapatkan izin orangtua/wali, (9) belum menikah dan bersedia tidak menikah selama mengikuti Program SM-3T dan PPG, yang dibuktikan dengan surat pernyataan bermeterai. Peserta juga diutamakan yang memiliki pengalaman organisasi kemahasiswaan.

Sumber: unnes.ac.id 

Wednesday, April 18, 2012

Pak Haji Leman

Karikatur Pak Haji A. Sulaiman HB (Haji Leman) di Media Kalimantan 


Batola, 18 April 2012
Hari ini Pak Haji Leman silaturahim ke SMA Global Islamic Boarding School (SMA GIBS). beliau bertandang bersama para ajudan untuk sharing bersama kami guru dan staf sekolah. Pak Haji melakukan beberapa kunjungan ke gedung akademik, kelas, dan ruang administrasi.
Sore itu, kami (guru-guru) sedang sholat asyar berjamaan di mushola sekolah. Biasanya usai sholat, kami naik ke lantai dua untuk melanjutkan aktivitas menyiapkan perangkat mengajar dan menyusun KTSP. Kedatangan Pak Haji pun kami sambut hangat. Beliau pasca melakukan operasi di Amerika kelihatan lebih charming dan sehat. 
Kami membicarakan banyak hal, tentang sekolah, dan kesehatan juga. Yang paling penting adalah persiapan melakukan grand lounching SMA GIBS yang tadinya akan dilaksanakan 21 April 2012 berteatan dengan ulang tahun Pak Haji. Akan tetapi karena suatu hal, acara tersebut diundur pada 17 mei 2012. Kami juga mendapat wejangan dari Pak Haji, bahwa betapa mahal nilai kesehatan. Kunci utamanya adalah menjaga pola makan. 
Tak lama Pak Haji berkunjung,beliau masih harus melanjutkan aktivitas lainnya dan berlalu menggunakan Estrada 88 HB. 
Terima kasih Pak Haji, our Founder, kehadiran Bapak membuat gelora semangat kami semakin membara. :))

Tuesday, April 10, 2012

Mei, PPG Perdana Dimulai


View Unesa Lidah Wetan dengan Gedung PPG baru berlantai sembilan :))
    Seperti yang telah diberitakan sebelumnya bahwa mulai tahun ini Pendidikan Profesi Guru (PPG) siap dilaksanakan. Gedung baru PPG berlantai 9 yang ada di kampus Lidah Wetan Unesa pun telah usai pembangunannya. Kini Lembaga Penjamin Mutu Pendidik (LPMP) mulai menyeleksi peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Jawa Timur. Tahun 2012 ini Jatim mendapat jatah peserta PPG sebanyak 1.830 guru. Sesuai rencana, PPG tahap awal akan dilakukan Mei mendatang.
    Salamun, Ketua LPMP Jatim mengatakan, proses pendidikan ini akan disampaikan ke kabupaten/kota di Jatim karena pendidikannya berbeda dengan Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG) selama ini. Untuk persyaratan sama dengan PLPG di antaranya tatap muka 24 jam per minggu. Rencana PPG ini bisa berantakan karena semua tergantung kepada kepala daerah di kabupaten/kota masing-masing. "Kepala daerah yang mengizinkan guru ikut PPG atau tidak," ujarnya. Salamun menegaskan, proses pelaksanaan PPG tingkat SD-SMA berbeda dengan TK. Untuk SD-SMA dijalankan selama setahun, sedangkan TK dijalankan selama enam bulan. Perbedaan ini terjadi lantaran guru TK dibutuhkan dalam pengajaran anak didiknya.
    Rektor Unesa, Prof. Dr. Muchlas Samani menambahkan, jika mengacu UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, guru harus mengikuti PPG semua. Namun untuk menghabiskan jatah kuota guru yang memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK), ada dua jenis pelaksanaan ujian serifikasi, yakni PLPG untuk guru berusia tua dan PPG untuk guru berusia muda.
    "Sistem ini berbeda bidikan, PLPG diterapkan pada guru di bawah 2005 sedangkan PPG di atas 2005, tapi intinya sama yakni proses sertifikasi," katanya saat diwawancarai Harian Duta Mayarakat. Dalam penerapan sistem ini, Muchlas menerangkan kalau pembiayaan ditanggung secara keseluruhan oleh pemerintah. Namun ada juga PPG yang membayar, tetapi PPG tersebut dilaksanakan secara mandiri. PPG mandiri ini telah dilaksanakan tahun lalu. Bahkan ada sebagian Perguruan Tinggi (PT) menerapkan biaya sebesar Rp 6 juta.

Sumber: Bayu Humas Unesa

Tuesday, April 3, 2012

In Memoriam Bapak Syamsul Muarif

(alm) Bapak Syamsul Muarif menyaksikan saya mewakili simbolisasi serah-terima Diklat guru SMA GIBS
(alm) Bapak Syamsul Muarif saat memberi petuah guru SMA Global Islamic Boarding School
Kenangan bersama para Ketua Hasnur Centre, Bapak Syahrani, (alm) Bapak Syamsul Muarif, dan Prof. HM. Kustan Basri di kantor Hasnur Centre Jakarta

Selamat jalan Bapak kami,,
guru kami,,
inspirasi kami,,
semoga Bapak tenang di syurga,,
setelah menutup usia 63 tahun,,
Kami akan senantiasa mengenangmu,,
dan meneruskan perjuanganmu,,
mendidik putra-putri Banua,,

Batola, 3 April 2012
16.36 WITA

Rest In Peace
*Dee Aida*

Monday, June 27, 2011

Hasnur Centre



Menurut, Ketua Umum Hasnur Center, H Syamsul Mu’arif, 90 persen lulusan dari insane cendikia, berhasil memasuki sejumlah perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia, bahkan banyak yang direkrut oleh perusahaan-perusahaan Internasional.
Karenanya, lanjut mantan menteri kabinet Indonesia bersatu ini, dengan dibangunnya Hasnur Center dengan SMA berstandar inetrnasional sebagai langkah awalnya, semoga cita-cita untuk memiliki sekolah yang memiliki standar internasional dapat terwujud.
``Hasnur Center ini telah kita bicarakan dengan H leman dan beberapa tokoh Kalsel yang ada di Jakarta, karena kita melihat Kalimantan jauh tertinggal dalam hal dunia pendidikan. Kita belum memiliki putra–putri daerah yang memiliki reputasi di tingkat nasional dan internasional, yang lahir, besar dan bersekolah di daerah sendiri,’’ paparnya.
Dalam kesempatan tersebut, dilaksanakan pula MOU dengan Cendikia Serpong, yang merupakan yayasan pendidikan di bawah naungan Habibi Center, yang dinilai berhasil memadukan antara pembangunan moralitas dan intelektualitas para siswanya.
Melihat pada model insan cendikia, sebagai standar dari Global Islamic Boarding School akan menerapkan sistem dua bahasa, bagi para anak didiknya, yakni bahasa arab dan bahasa Inggris.
Sebelum menerima murid, akan dilakukan terlebih dahulu seleksi dan magang guru. Magang tenaga pendidik itu akan dilakukan oleh manajemen Insan Cendikia Serpong, yang berbagai tahapannya memakan waktu hingga sembilan bulan.
30 persen dari seluruh siswa yang dapat ditampung, Hasnur Center, memberikan kesempatan beasiswa kepada mereka yang tidak mampu, tetapi memiliki kemampuan akademis yang baik.
Rencananya, penerimaan murid baru akan dimulai pada tahun depan akan dilakukan dengan seleksi yang ketat, dengan melihat kemampuan akademisi para calon siswa.
Namun Syamsul Mu’arif menegaskan, agar jangan berharap dapat masuk sekolah ini dengan mengandalkan sistem kekerabatan tanpa melalui prosedur yang ada.
Di Insan Cendikia sendiri berhasil menerapkan sistem pendidikan, yang mengedepankan kejujuran para siswa. Bahkan dalam menggelar ujian para siswa dibebaskan mengerjakan soalnya tanpa ada pengawasan pihak sekolah. Begitu pula sistem kantin kejujuran sebagai salah langkah membentuk mental kejujuran para siswa, siswa membayar dan mengambil kembalian tanpa ada pengawasan.
``Yang paling penting dari insan cendekia itu adalah, membangun mental, membangun moralilas, membangun spiritualitas, dan kecerdasan intelektualnya agar seiring dengan nuraninya. Inilah yang akan kita kembangkan di Kalimantan Selatan,’’ pungkas Syamsul Mu’arif. 

Tuesday, February 22, 2011

Komunikasi Lintas Budaya Pelerai Politic Recognation


Dari kiri: Dra. Sri Mastuti, M.Hum, Haryono, Dr. Priyatno Wibowo, Dr. Ketut Prasetya, 
Romo A.Luluk, Nasution, P.hD, Legowo, Drs. Artono. 


Tidak ada yang tahu pasti bagaimana konsep dan siapa sebenarnya yang dimaksud pribumi dan nonpribumi. Guna meluruskan berbagai konsepsi mengenai identitas tersebut, jurusan Pendidikan Sejarah menggelar Seminar Nasional Sejarah dengan tema Multikultur Indonesia: Dinamika Hubugan Pribumi-Nonpribumi pada Sabtu (19/2) di gedung I.6 Fakultas Ilmu Sosial (FIS). Multikulturisme menjadi penting karena adanya penindasan atau penafikan atas dasar kepemilikan etnis dan agama, dalam hal ini etnis Tionghoa dan agama Kristen Khatolik. Pembicara yang dihadirkan adalah Dr. Priyanto Wibowo, ketua Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) dan A. Luluk Widyawan, Pr., ketua Kerawan Keuskupan Surabaya.

“Sampai saaat ini belum ada pembahasan yang secara utuh menyatukan serpihan maslah seputar Cina di Indonesia. Masalah Cina dan orang Tionghoa dipilih karena tidak ada konsep yang jelas terkait identitas,” ungkap pakar Studi Cina UI tersebut. Berbagai kerusuhan itu sampai akhirnya selalu membuat orang-oarang Tionghoa mengalami exsodus. Sedangkan Romo, panggilan akrab A. Luluk Widyawan, menerangkan mengenai kehidupan orang-orang Tionghoa penganut agama Kristen Katholik yang juga mendapat tekanan, sulitnya akses menuju identitas yang tak jarang harus melibatkan pendekatan politik untuk dapat berbaur menjadi masyarakat Indonesia seutuhnya. Segredasi dan konstruksi sosial yang dialami masyarakat Tionghoa seringkali menimbulkan gesekan dan benturan, maka jalan keluarnya hanya dapat dilakukan melalui komunikasi budaya yang dilakukan dalam kesetaraan dan keadilam dalam konteks heterogenitas. 

Monday, January 24, 2011

The Role of Social Studies in East Asia at Present


Arus globalisasi seringkali diiringi dengan masuknya teknologi, informasi,juga investasi yang telah mengaburkan persatuan jika kita tidak pandai memfilter pengaruh negative yang muncul beriringan. Masalah-masalah global seperti terorisme, krisis ekonomi, bahkan isu mengenai flu burung dan flu babi menuntut kita sebagai bagian dari warga global untuk dapat menyumbangkan tenaga dan pikiran yang terbaik guna kesejahteraan manusia.
Menanggapi hal itu yang sekaligus bertepatan dengan hari kebangkitan nasional yang ke-101, maka jurusan Pendidikan Sejarah (S-1) menyelenggarakan seminar internasional (21/5). Lokasi seminar didakan di gedung I-6 FIS Unesa dalm kepanitiaan gabungan antara dosen dan mahasiswa Pendidikan Sejarah (S-1) angkatan 2006. Bertindak sebagi narasumber antara lain: Prof.  Tsuchiya Takeshi dari Aichi University of Education Japan,  Prof. Warsono, M.S (Dekan FIS, Unesa) dan Nasution, P.hd (dosen Pendidikan Sejarah yang juga menamatkan kuliah di Aichi University of ducation Japan). Seminar dihadiri oleh seluruh guru IPS (termasuk sejarah) dari tingkat pengajar di sekolah dasar (SD), menengah (SMP/SMA), dan kejuruan (SMK). Akan tetapi semua dikelola secara terbatas,  mengingat waktu dan tempat yang terbatas yang hanya diquota sebanyak 220 kursi. Namun jumlah peserta yang hadir ternyata over load, akibatnya peserta yang tidak kebagian kursi terpaksa berdiri dibelakang.
Tema yang diusung yaitu “Pembelajaran IPS di Era Global” dimaksudkan agar permasalahan mengenai pembelajaran IPS yang masih merupakan polemik dapat ditemukan beberapa problem solving guna menenmpatkan dan menyelenggarakan pembelajaran pendidikan IPS sebagaimana mestinya, khususnya yang berkenaan dengan pembelajaran IPS terpadu. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan pengajaran. Selain itu diharapkan peserta mendapat gambaran tentang model pembelajaran IPS yang dikembangkan oleh Negara maju dan era globalisasi. Peserta juga dapat bertukar pikiran tentang masalah-masalah pendidikan IPS dalam praktik pembelajaran di sekolah dengan para pakar pendidikan IPS baik di dalam maupun luar negeri.

Ditemui ditempat terpisah usai seminar. Prof. Tsuchiya mengatakan bahwa polemik mengenai pembelajaran IPS ini di Jepang sendiri juga sedang in proces terutama pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sedangkan pada tingkat Sekolah Dasar (SD) pembelajaran IPS dapat dikatakan berhasil karena pada tingkat dasar IPS diajarkan melalui pengenalan terhadap lingkungan secara nyata dengan berbagai permasalahannya. Permasalahan tersebut dikemukakan untuk kemudian didiskusikan guna mencari problem solving. Contoh sederhana yang diterapkan pada siswa sekolah dasar misalnya pembelajran kontekstual tentang mengetahun dan praktir cara menyeberang jalan raya yang memuat pengetahuan budi pekerti di dalamnya. Hal ini dilakukan secara demokratis dengan memberikan hak yang sama kepada masing-masing siswa untuk  bertanya dan mengungkapkan pendapatnya. Guru tidak lagi berperan sebagai teacher center, tetapi lebih berorientasi kepada student center. Peran guru hanyalah sebagai fasilitator dan pendamping sebagaimana yang tercantum dalam kurikulum.
Berdasarkan Undang-Undang No. 3 tahun 2006 yang mengatur tentang adanya perubahan kurilukum, maka pembelajaran pendidikan diarahkan dan diupayakan sekontekstual mungkin. Wujud kongkrit dari metode pembelajaran ini dapat dicontohkan dengan mengambil contoh kegiatan nyata secara sederhana yang dekat dan ada di sekeliling kita. Misalnya siswa diajak untuk berperan sebagai reporter suatu harian yang ditugasi untuk mencari informasi (berita) mengenai apapun yang dapat dilaporkan dalam range dan ketentuan tertentu yang terlebih dahulu dijelaskan kepada siswa. Siswa diajak untuk menggali informasi sebanyak mungkin dengan pembekalan yang cukup. Hasilnya, pada akhirnya siswa diajak untuk berdiskusi dan mempresentasikan hasil temuan mereka selama di lapangan, sedangkan guru memberikan penilaian seobjektif mungkin dengan tidak lupa memberikan reward atas usaha baik yang dilakukan oleh siswa.
Point terpenting yang perlu di telaah adalah pentingnya penghargaan (reward) terhadap nilai-nilai historis karena dari sanalah kebijakan akan tumbuh untuk kemudian saling menghargai dan menghormati.

Wednesday, January 19, 2011

Road Show Indonesia Mengajar di Unesa



 Setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi. Motto besar gerakan Indonesia Mengajar (IM) inilah yang telah menyihir seluruh audience pada sosialisasi Gerakan Indonesia Mengajar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Rabu (19/01) di Gedung Serba Guna (GSG). Dua narasumber ternama yang sharing ide brilian tersebut yaitu Prof. Dr. Anies Baswedan, Ph.D (pencetus gerakan Indonesia Mengajar) dan Prof. Dr. Warsono, M.S. (Pembantu Rektor III Unesa). Gerakan ini terinspirasi dari Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) pada tahun 1950-an, yaitu program untuk mengisi kekurangan guru SMA di daerah, khususnya di luar Jawa.  Gagasan ini kemudian ditindaklanjuti secara berkala hingga menjadi Gerakan Indonesia Mengajar.
Menurut Prof. Dr. Warsono, M.S. program ini menekankan pada upaya untuk mengubah paradigma berpikir dalam mengembangkan karakter bangsa. “Adanya program ini akan memberikan impact pada mutu pendidikan di daerah-daerah terpencil, membangun nasionalisme, dan agar pemuda Indonesia mengetahui Indonesia seutuhnya. Sosialisasi ini penting sebagai tantangan bagi Unesa yang berbasis LPTK untuk menghasilkan guru-guru yang kompeten secara intelektual moral, dan sosial. Tantangan terbesarnya adalah untuk bersaing dengan universitas lain terutama yang bukan memiliki basik LPTK,” ungkap pria berkacama ini.
Abang Anies, begitu panggilan akrab Prof. Dr. Anies Baswedan, Ph.D, juga mengatakan bahwa  pertama, tujuan program ini untuk mengisi kekurangan dan memasok guru berkualitas di SD di daerah-daerah pelosok. Lalu kedua, membekali anak-anak muda terbaik yang berpotensi menjadi pemimpin kelas dunia di bidangnya dengan pengalaman hidup dan bekerja bersama rakyat kecil di pelosok Indonesia. Program Indonesia mengajar sementara ini dipilih daerah Bengkalis, Tulang Bawang Barat, Halmahera Selatan, Majene (Sulawesi Barat), dan Paser (Kalimantan Timur). Pendaftaran terakhir ditutup pada 31 Januari 2011 melalui pendaftaran online di situs www.indonesiamengajar.com.
Jangan pahami prembule UUD 1945 sebagai terminologi, tetapi lebih berorientasi pada janji yang harus dilunasi. Pencapaian kolektif bangsa harus diawali dengan bersyukur. “Main projek kami adalah memasok pengajar berkualitas ke daerah-daerah, memberikan pengalaman hidup, dan menjembatani hadirnya kemajuan. Sekolah diadakan pada pagi sampai siang hari, jadi sore-malam mereka adalah bagian dari masyarakat. Tahun lalu, ketika IM kali pertama diujicobakan telah berhasil menyerap 1838 pelamar tetapi yang diambil hanya 51orang. Tahun ini, kami akan mengupayakan merekrut dua kali lipatnya,” ungkap lulusan Northern Illinois University. Seluruh peserta akan diseleksi dengan proses yang sangat ketat, meliputi seleksi teaching, leadership, hingga deployment.
Kontribusi orang-orang berkebutuhan khusus masih dalam tahap pengkajian bersama ara ahli yang melibatkan pusat kurikulum di bawah Kemendiknas, Intel, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dan Sekolah Alam. Para Pengajar Muda tetap akan dibekali dengan penyususnan RPP dan Silabus tetapi tetap diberikan kebebasan berkreatifitas untuk mengembangkan media dan medote berdasarkan realita di lapangan. IM tidak berpretensi untuk menyelesaikan seluruh permasalahan pendidikan, IM hanya ingin mengisi kekurangan pengajra yang ada di daerah pelosok.
Para Pengajar Muda akan digaji, mereka tidak hanya diberi uang saku dengan pertimbangan karena sebagian besar Pengajar Muda adalah anak-anak terpilih yang diharapkan ikut mengurangi beban orang tua. Jadi mereka akan tetap memiliki income. Besarnya salary tergantung pada kondisi daerah masing-masing,, rata-rata berkisar antara 3,2-4,8 juta per bulan. IM menggandeng tiga sponsor utama yaitu, INDIKA, PETROSHIP, dan TRIPATRA. Seluruh dana funding berasal dari sponsor, sama sekali tidak ada dana yang diambil dari negara karena tugas negara sudah banyak.
Sistem sekolah di daerah pelosok malalui beberapa tahapan, diantaranya first time, tim IM akan melakukan survey dengan berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Mereka kemudian akan melakukan diskusi mengenai program IM. Setelah ada kesepakatan, supleyer akan menindaklanjuti dengan mendatangi sekolah-sekolah, menghubungi kepala desa untuk selanjutnya berdiskusi menentukan rumah yang akan ditempati dan dipilih sebagai tempat tinggal sementara selama satu tahun dalam pengabdian.  Hasilnya kemudian dilaporkan ke Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar di jalan Galuh 2 N0 4 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Medan yang disurvei memang sulit karena dari awal IM sudah berkomitmen untuk melakukan pemerataan pendidikan. Akan tetapi sulitnya medan tidak akan se-ekstrim sebab resikonya terukur. IM tidak akan menjangkau daerah yang memiliki konflik desa, maupun SARA. IM juga menyediakan Indonesia membaca, sistemnya dengan buku bacaan ke sekolah dan dijadikan perpustakaan kelas. Nantinya perpustakaan ini setiap bulan akan dirotasi ke sekolah lain. 
Kriteria calon Pengajar Muda minimal merupakan lulusan S1, fresh graduate, (+2 tahun lulus), WNI dengan usia maksimal 25 tahun (lebih) dan belum menikah, IPK minimal 3,0 (di bawahnya boleh tapi melihat yang komprehensif), berprestasi baik di kampus maupun luar kampus, mengedepankan jiwa kepemimpinan dengan pengalaman berorganisasi, peduli sosial dan pengabdian, berempati dengan orang lain, sehat fisik dan mental, dan bersedia ditempatkan di daaerah pelosok selama satu tahun.

Tuesday, November 30, 2010

Workshop Sistem Informasi Akademik dan PPG

Tingkatkan Citra Unesa melalui Workshop Sistem Informasi Akademik dan PPG

            Banyak upaya guna meningkatkan citra diri untuk menjadi yang lebih baik.salah satu upaya yang dilakukan Unesa antara lain dibidang akademik adalah dengan mengadakan Workshop Sistem Informasi Akademik dan PPG di Hotel Purnama, Batu (28-29/11). Pelatihan diikuti oleh 151 peserta yang terdiri dari Pembantu Rektor I-IV, Dekan seluruh Fakultas, Pembantu Dekan I-III seluruh fakultas, Direktur Pascasarjana Unesa, Kabiro, Ketua Jurusan dan Kaprodi, kepala UPT terkait (UPT Pusat Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan (P4), dan UPT Mata Kuliah Pengembang Kepribadian dan Kependidikan (MKPK-K)), Staf Administrasi, tim Web Unesa termasuk tim Graphic Standart Manual (GSM).
            Workshop dibuka oleh Rektor dengan pidatonya yang berjudul ”Paradigma Pendidikan Tinggi” yang mengedepankan penelitian bagi para pendidik, terutama dosen. ”Ke depan, dosen akan dibekali dengan "teaching grand" untuk memperbaiki sistem pengajaran dan kualitas perkuliahan dengan mahasiswa antara lain senantiasa melakukan PPKP/PIPS, kalau di tingkat SD,SMP dan SMA melakukan PTK. Kegiatan "teaching grand" ini dapat dilakukan antara lain melakukan penelitian pustaka,” kata Rektor Unesa, Prof. Dr. Muchlas Samani, M.Pd. disela-sela pidatonya. Rektor yang baru dilantik tanggal 26 Juni 2010 lalu tersebut juga menambahkan bahwa pelaksanaan Program Profesi Guru (PPG) akan dilaksanakan tahun depan.
             Menurut Prof. Dr. Kisyani Laksono, M.Hum., serangkaian wacana dalam workshop tersebut, meliputi: draft logo baru Unesa, draft baru laman (web) Unesa, output jadwal Siakad di Jurusan dan Prodi, pemetaan buku ajar tiap Jurusan dan Prodi, termasuk Pascasarjana Unesa, dan agenda PPG. Yang tidak kalah penting adalah peningkatan peranan Puskom perlu difasilitasi perangkatnya dalam rangka upaya perbaikan pelayanan dengan menambah server dan perluasan bandwidth di Unesa untuk mempermudah akses dan entry mahasiswa . Konklusi dari workshop akan dilakukan pada hari kedua dengan kepastian identity Unesa dan launching telah diagendakan pada 19 Desember 2010 bertepatan dengan Dies Natalis Unesa ke-46.