Showing posts with label Herbaloga. Show all posts
Showing posts with label Herbaloga. Show all posts

Thursday, May 28, 2015

Babandotan

Babandotan atau Wedusan

Tanaman toga ini tergolong liar dan banyak tumbuh di sekitar rumah. Orang melayu menyebutnya dengan rumput tahi ayam. Waktu kecil saya suka menyebut tanaman ini sebagai kubis-kubisan ketika bermain masak-masakan dengan teman-teman. 
Ternyata, daun dan batangnya dapat dimanfaatkan sebagai obat penurun panas, malaria, pendarahan, pendarahan pada rahim, peluruh haid, melindungi sel hati, dan meningkatkan kekebalan tubuh. Selain itu, juga dapat dimanfaatkan sebagai obat sariawan, sakit tenggorokan, bisul, luka berdarah, bisul/borok, dan difteri. Tentu saja untuk takaran atau dosisnya tanyakan pada ahlinya yah :)

Monday, March 16, 2015

Herbal Toga

Toga merupakan akronim dari Tanaman Obat Keluarga. Orang banyak menyebutnya sebagai tanaman herbal dan rempah-rempah. Aku termasuk orang yang cinta sekali dengan Toga, tetapi aku masi perlu belajar banyak hal tentang ini. Aku mulai tertarik dengan Toga sejak kecil. Ibu dan keluargaku di Jawa, tepatnya di Bojonegoro secara tidak langsung mengenalkanku pada tanaman sejuta manfaat ini. 

Sejak lama hingga kini di sekililing rumah kami di desa selalu penuh dengan Toga. Mulai dari sambung nyawa, daun dewa, kumis kucing, segala macam bumbu, daun salam, sampai tanaman-tanaman laen yang tidak aku ketahui namanya. Tanaman-tanaman misterius itu akrab sekali dengan ibuku. Mereka bahkan bisa begitu saja tumbuh dengan tangan ibuku, sedangkan jika aku yang menanamnya pasti banyak yang mati. Entahlah, penasaran juga kenapa bisa seperti itu. Akhirnya perlahan aku mencari tahu dan melakukan pendekatan dengan mereka. Saking cintanya dengan Toga ibu bahkan rela meluangkan waktu khusus setiap bepergian dimanapun beliau berada. 

Ibu punya cara yang unik memelajari Toga. Kecintaan ibu terhadap Toga barangkali menurun juga dari nenek dan moyang kami. Yang aku ingat mereka semua pecinta jamu tradisional. Mengambil Toga dan meracik sendiri untuk menjaga kesehatan keluarga kami, dari bayi hingga lansia. Bangga memiliki ibu dan keluarga pecinta Toga. Ayahku pun memiliki hobi yang sama. Termasuk suamiku dan saat ini sedang istiqomah balajar dan menularkannya kepada Gaza.

Saat ini masih belajar sambil jalan masih sekedar hobi selaen kecintaanku pada sejarah, arkeologi, dan antropologi pastinya. Tentu saja yang masih susah adalah mengenal lebih detail nama latin dari masing-masing jenis Toga. Biar begitu tetap saja menyenangkan karena namanya unik ditambah istilah yang beda-beda setiap daerah yang ada di Indonesia. Mudahan suatu saat anti dapat serius menekuninya. Kadang suka iri sama ahli-ahli botani tapi pada faktanya ibu-ibu rumah tangga juga tak kalah hebatnya. Intinya ada kemauan untuk melajar insyaallah Tuhan akan memampukan dengan ridho-Nya. Bersyukur hidup di Indonesia dan menyenangi hal-hal seperti ini. Mudahan nanti juga diringi dengan kebiasaan hidroponik dan memaksimalkan lahan pertanian dan perkebunan di desa.

Impian terbesarku adalah membuat desa wisata yang memiliki apotek hidup di dalamnya dan memiliki istana anak yatim yang memberdayakan orang-orang di dalamnya.

Tuesday, May 21, 2013

Sidaguri (Tanaman otok)

Sidaguri (Sida rhombifolia)

Sidaguri tumbuh liar di tepi jalan, halaman berrumput, hutan, ladang, dan tempat-tempat dengan sinar matahari cerah atau sedikit terlindung. Tanaman ini tersebar pada daerah tropis di seluruh dunia dari dataran rendah sampai 1.450 m dpl. Perdu tegak bercabang ini tingginya dapat mencapai 2 m dengan cabang kecil berambut rapat. Daun tunggal, letak berseling, bentuknya bulat telur atau lanset, tepi bergerigi, ujung runcing, pertulangan menyirip, bagian bawah berambut pendek warnanya abu-abu, panjang 1,5-4 cm, lebar 1--1,5 cm. Bunga tunggal berwarna kuning cerah yang keluar dari ketiak daun, mekar sekitar pukul 12 siang dan layu sekitar tiga jam kemudian. Buah dengan 8--10 kendaga, diameter 6--7 mm. Akar dan kulit sidaguri kuat, dipakai untuk pembuatan tali. Perbanyakan dengan biji atau setek batang.
NAMA DAERAH Sumatera: guri, sidaguri, saliguri. Jawa: sadagori, sidaguri, otok-otok, taghuri, sidagori. Nusa Tenggara: kahindu, dikira. Maluku: hutu gamo, bitumu, digo, sosapu. NAMA ASING Huang hua mu (C), walis-walisan (Ph), sida hemp, yellow barleria (I). NAMA SIMPLISIA Sidae rhombifoliae Herba (herba sidaguri), Sidae rhombifoliae radix (akar sidaguri).

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Herba sidaguri rasanya manis, pedas, sifatnya sejuk, masuk meridian jantung, hati, paru-paru, usus besar, dan usus kecil. Sidaguri berkhasiat antiradang, penghilang nyeri (analgesik), peluruh kencing (diuretik), peluruh haid, dan pelembut kulit. Akar rasanya manis, tawar, sifatnya sejuk. Merangsang enzim pencernaan, mempercepat pematangan bisul, antiradang, dan abortivum.

Pemanfaatan :

Komposisi :
Daun mengandung alkaloid, kalsium oksalat, tanin, saponin, fenol, asam amino, dan minyak asiri. Banyak mengandung zat phlegmatik yang digunakan sebagai peluruh dahak (ekspektoran) dan pelumas (lubricant). Batang mengandung kalsium oksalat dan tanin. Akar mengandung alkaloid, steroid, dan efedrine.


Sumber: http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=253 

Monday, April 30, 2012

Khasiat Tanaman Saga

Saga

     Segede ini saya baru tahu kalau tanaman di atas namanya Saga. Saya yang sejatinya hidup di pedalaman Jawa sewaktu kecil sudah sangat akrab dengan tanaman ini, tapi karena waktu itu akses ke dunia maya masih minim bahkan saya belum tahu jadi informasi itu tidak saya peroleh meskipun paman saya sekretaris desa yang berlangganan majalah pertanian. 
    Saya menyebut tanaman saga ini dengan nama Sogok Tunteng. Daun saga, bagi masyarakat Indonesia, juga dikenal dengan banyak nama. Masyarakat Jawa menyebutnya saga telik/manis, di Aceh dinamakan thaga, saga areuy, leutik (Sunda), walipopo (Gorontalo), piling-piling (Bali), seugeu (Gayo), ailalu pacar (Ambon), saga buncik, saga ketek (Minangkabau), dan kaca (Bugis). 
     Waktu kecil aku sering memainkan biji-bijinya. Sekedar untuk belajar hitung, jual-beli, dan iseng-iseng. Ibuku yang mengenalkan aku bahwa buah Saga dapat dimanfaatkan untuk menghemat minyak tanah. Cara ini memang efektif, maklum ketika saya kecil listrik belum masuk desa. Jadi setiap kali Saga berbuah, saya mengumpulkannya untuk dimasukkan ke dalam botol lampu pijar yang menggunakan minyak tanah.Caranya sederhana. cukup masukkan beberapa biji Saga ke dalam minyak tanah saja.
    Kemudian, manfaat lainnya saya peroleh dari teman-teman dan internt tentu saja bahwa Saga memiliki banyak manfaat. Saga ternyata dapat digunakan untuk obat sariawan, gangguan pernapasan, seperti sakit serak, bronchitis, dan batuk. Untuk mengusir sariawan, daun saga biasanya dipasangkan dengan daun sirih. Tujuannya supaya daya gempur terhadap sariawan semakin kuat. Walau demikian, daun saga saja juga diperbolehkan dengan mengunyah secara langsung. 
    Selain dengan dikunyah, daun saga bisa juga dibuat ramuan untuk berkumur-kumur. Caranya, beberapa lembar daun saga dibersihkan dengan menggunakan air, lalu dijemur selama beberapa menit agar kelihatan agak layu. Setelah dibersihkan, daun saga bisa dikunyah langsung sampai halus, lalu kumur-kumur. Cara lainnya, ambillah sekitar 10 gram daun saga segar yang telah dicuci bersih, kemudian rebus dengan setengah liter air (atau sekitar dua gelas) hingga matang. Kemudian ambil daun saga setelah air rebusan tersisa setengahnya. Bisa juga ditambahkan kayu manis, daun sirih, gula batu atau madu secukupnya. Air rebusan inilah yang digunakan untuk berkumur-kumur selama beberapa saat. Air rebusan itu bisa disaring, kemudian diminum juga bisa.