Showing posts with label CatatanKu. Show all posts
Showing posts with label CatatanKu. Show all posts

Saturday, November 12, 2016

Politik Arab dalam Kisah Pengorbanan Ismail



Kaum Muslim merayakan hari lebaran Idul Adha, festival kurban, untuk memperingati kepatuhan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah untuk menyembelih Ismail, putranya, dan kerelaan Ismail untuk dikorbankan. Al-Qur’an menekankan aspek ketaatan mereka dalam berserah diri kepada Tuhan.
Tapi, Kitab Suci kaum Muslim sesungguhnya tidak menyebut secara eksplisit identitas anak yang dikorbankan Ibrahim: Ismail atau Ishak? Para ahli tafsir (mufassir) modern memang berasumsi bahwa Ismail adalah anak yang dimaksud, kendati sumber-sumber tafsir awal mengindikasikan adanya perbedaan pendapat dalam soal tersebut.
Tulisan singkat ini hendak membongkar dimensi ideologi Arab dalam penisbatan anak yang dikorban (dzabih) sebagai Ismail. Namun, sebelum bicara propaganda Arab itu, kita tengok dahulu perbedaan pendapat dalam literatur tafsir awal.
Siapa yang Dikorbankan: Ismail atau Ishak?
Sumber-sumber Yahudi dan Kristen menyebut secara eksplisit bahwa Ishak adalah putra yang dikorbankan Ibrahim. Pengorbanan Ishak sebagaimana disebutkan dalam Kitab Kejadian pasal 22 telah dikomentari begitu detail dalam sumber-sumber Yahudi seperti Talmud, dan mengilhami pemuka-pemuka Kristen, dari Origen dan Ambrose hingga Gregory, Cyril (dari Alexandria) dan Agustinus (dari Hippo).
Berbeda dengan Alkitab, al-Qur’an tidak menyuguhkan kisah Ibrahim dan putranya secara detail. Barangkali al-Qur’an mengasumsikan audiensnya sudah mengetahui detail kisah tersebut, sehingga tujuan menarasikannya bukan untuk menyampaikan sebuah cerita. Namun demikian, fakta bahwa al-Qur’an tidak menyebut nama anak yang dikorbankan itu telah memunculkan beragam tafsir di kalangan Muslim awal.
Menarik dicatat, para mufassir awal cenderung menyebut Ishak sebagai anak yang dikorbankan, bukan Ismail. Muqatil b. Sulaiman (w.150/767), ahli tafsir paling awal yang karya utuh tafsirnya sampai kepada kita sekarang, secara tegas menyebut Ishak sebagai dzabih (anak yang disembelih).
Bahkan, hingga abad kesepuluh (atau keempat Hijriyah) jumlah riwayat yang pro-Ishak dan pro-Ismail masih berimbang. Hal itu dapat dilihat dalam tafsir al-Tabari (w.310/923), yang merekam beragam pendapat para ulama terdahulu. Dalam magnum opus-nya, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an, Tabari mencatat 17 riwayat yang mengidentifikasi Ishak sebagai korban. Dari sekian riwayat tersebut, misalnya, terdapat pernyataan para sahabat dan Tabi’in yang menyebut “al-dzabih huwa Ishaq” (yang disembelih ialah Ishak).
Pada sisi lain, Tabari menyebut 24 riwayat pro-Ismail, termasuk pernyataan yang dinisbatkan pada Nabi Muhammad. Yang menarik ialah Tabari sendiri memilih pendapat yang mengakui Ishak sebagai korban. Ia memulai pendapatnya dengan kalimat “awla al-qaulain bi al-shawab” (pendapat yang paling mendekati kebenaran di antara keduanya). Pertimbangan Tabari semata didasarkan pada makna tekstual dari al-Qur’an (‘ala dhahir al-tanzil).
Baru pada masa Ibnu Taimiyah (w.726/1328) dan dikukuhkan oleh muridnya, Ibnu Katsir (w.774/1373), pada abad keempat-belas, identifikasi korban sebagai Ismail mendapat pengakuan luas, dan diikuti kaum Muslim hingga sekarang.
Untuk mendukung pandangannya, Ibnu Taimiyah bukan hanya mengaitkan berbagai kisah Ibrahim dalam al-Qur’an, tapi juga merujuk pada Alkitab. Misalnya, ia berargumen bahwa Ibrahim diperintahkan untuk mengorbankan anak satu-satunya (Kitab Kejadian 22:2), tapi orang-orang Yahudi dan Kristen menambahkan nama Ishak. Tidak dijelaskan dari mana penambahan nama Ishak itu diperoleh.
Di tangan Ibnu Katsir, pandangan pro-Ismail dipromosikan sebagai paham ortodoksi. Pendapat yang berbeda dituduh “kidzb wa buhtan” (bohong dan dusta), yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam dan diambil dari cerita-cerita ahli kitab (isra’iliyat).
Di Balik Kemenangan Pro-Ismail
Tidak sulit untuk menelusuri adanya intrik politik Arab di balik pergeseran dari pro-Ishak menjadi pro-Ismail. Sebagaimana umum diketahui, dalam agama Yahudi dan Kristen, Ishak merupakan figur penting yang darinya lahir nabi-nabi. Ia juga diagungkan melebihi saudara-saudaranya, Ismail dan anak-anak Keturah, istri Ibrahim yang tidak disebutkan dalam al-Qur’an.
Dalam tradisi Islam, Ismail memainkan peran lebih menonjol dan penting dari figur Ishak. Sebenarnya keberadaan Ismail dalam al-Qur’an tidak terlalu signifikan, terkecuali bahwa ia digambarkan sebagai anak yang membantu Ibrahim membangun fondasi Ka’bah (Q. 2:127). Keduanya mengajarkan ritual haji yang kelak menjadi bagian dari rukun Islam. Walaupun peran Ismail masih berada di bawah Ibrahim, sumber-sumber Muslim di luar al-Qur’an menekankan keutamaan garis genealogi Ismail sehingga Nabi Muhammad pun diyakini sebagai keturunannya.
Salah satu aspek cukup menonjol dalam perkembangan identitas Ismail dalam sumber-sumber Muslim ialah posisinya sebagai bapak orang-orang Arab. Menurut ahli nasab, seluruh kaum Arab berasal dari keturunan satu di antara dua pendahulu mereka: Qathan dan Adnan. Yang pertama dianggap sebagai Arab asli, sebuah sebutan yang meliputi suku Jurhum.
Dalam sistem nasab yang disusun oleh Ibnu al-Kalbi (w.206/821) pada abad kesembilan dan kemudian diterima luas, Ismail disebut sebagai kakek-moyang suku-suku Arab utara yang dikenal dengan Adnan. Ismail kawin dengan wanita dari suku Jurhum, yang berafiliasi dengan kota Mekkah. Perkawinannya dengan wanita Jurhum telah menjadikan Ismail sebagai seorang Arab karena Jurhum termasuk dari Qathan, Arab asli dari selatan.
Rentetan genealogi di atas hendak memperlihatkan bahwa dalam figur Ismail bersatu suku-suku Arab kutub utara dan selatan, yang menjadi asal-muasal Quraisy – suku Arab yang melahirkan Nabi Muhammad. Walaupun Ismail berasal dari suku Adnan, proses Arabisasi Ismail menjadi sempurna melalui perkawinannya dengan wanita suku Jurhum.
Sistem nasab tersebut juga menggambarkan skema Arabisasi figur Bible Ismail yang tak lain adalah putra patriakh Ibrahim yang berasal dari kota Ur di lembah Babilonia. Para ahli nasab Muslim Arab telah menggabung-gabungkan sistem genealogi Arab pra-Islam dan narasi Alkitab untuk meng-Arab-kan Ismail dan menjadikannya kakek-moyang Nabi Muhammad.
Lalu, kapan “Ismail Arab” itu menjadi sentral dalam tradisi Islam? Berikut saya kutipkan pandangan Carol Bakhos dari Universitas California Los Angeles (UCLA), dalam The Family of Abraham (2014):
“It was when Islam traversed the borders of the Arabian peninsula and established itself in Persia that Ishmael’s prominence as the father of the Arabs became more intricately incorporated into the Islamic metanarrative.”
Gambaran tentang Ismail yang bias Arab itu, disadari atau tidak, juga memasuki ranah tafsir terkait anak Ibrahim yang dikorbankan. Ini sekadar satu contoh bagaimana penafsiran Kitab Suci juga bisa menjadi arena kontestasi ideologis guna mendukung tujuan teologis dan bahkan politik. Identifikasi Ismail sebagai anak Ibrahim yang dikorbankan jelas sarat muatan ideologis untuk meneguhkan superioritas Arab atas lainnya, yang dibungkus dengan argumen keagamaan.
Propaganda Arab itu membentuk dimensi keagamaan tertentu vis-à-vis Yahudi dan Kristen ketika rivalitas antar-agama semakin mengeras pada masa pertengahan, yang mencapai kulminasinya pada masa Ibnu Taimiyah dan Ibnu Katsir. Jika dalam tradisi Yahudi dan Kristen, Ishak merupakan figur penting bagi kesinambungan masyakarat kovenan, kaum Muslim menonjolkan Ismail sebagai putra kesayangan Ibrahim dalam kisah pengorbanan.
Demikianlah masyakarat diskursif terus berdebat apakah Ibrahim mengorbankan Ismail atau Ishak. Tapi, saya kira, semua orang sepakat, daging hewan kurban tetap enak rasanya, baik dimasak gule ataupun opor.

Thursday, October 30, 2014

Ilmu Politik Sengkuni vs Machiavelli

Saya adalah fans Gunawan Muhammad. Sastrawan dan budayawan ini sarat dengan ide-ide amazing yang selalu mengundang decup kagum. Ini kali masih oleh-oleh dari Tempo edisi 2 Nvember 2014. Saya mencoba me-review sedikit sebuah 'Catatan Pinggir'. Judulnya sangat menarik “sengkuni” sesuai dengan tokoh antagonis yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan di layar kaca dalam lakon Mahabarata. Tokoh Sengkuni buat saya pribadi memang sangat menjengkelkan. Tetapi harus saya akui bahwa kepiawaiananya dalam ilmu politik patut diakui jempol. Bahkan kecerdasan politiknya setara dengan madewa Krisna jelmaan Wisnu. Ide-ide brilian Sengkuni banyak yang digunakan dalam hal yang kurang bijak, salah satunya politik ini digunakan untuk memprovokasi hingga lahirnya Bharatayudha yang meluluhlantakkan dinasti Kuru.

Berbicara ilmu politik, tentu banyak pihak yang berkiblat dari Eropa dalam buku II Principle karya Machiavelli muncul abad ke-16 yang dikenal sebagai penasihat raja yang keji bagi para raja. Tapi Machiavelli bukan sepenuhnya seorang sengkuni yang dibenci. Jika kita lihat tempat dan masanya pada masa perang antarkota dan ekspansi, kita akan lebih paham mengapa ia bisa dibenarkan.  Machiavelli mencitakan sebuah pemerintahan yang kokoh seperti Romawi, tetapi tidak semua pangeran sanggup membanu tata dan tak semua pemimpin siap berbuat keji, kejam, dan bengis. Ia menulis bahwa seorang raja yang arif tak akan risau dikecam karena berbuat kejam yang menyebabkan rakyatnya bersatu dan setia. Dengan menampakkan kebengisan ia sebenarnya jauh lebih berbelas hati ketimbang mereka yang sangat pemaaf membiarkan kekejian berkecamuk.

Machiavelli ternyata bukan orang pertama yang menggagas ilmu politik. Sekitar 300 tahun SM, di India seorang pangeran berhasil mengeksPansi dan merebut tahta dinasti Magadha, kemudian mengalahkan pasukan Iskandar Yang Agung (Alexander The Great) dari Makedonia. Candragupta tidak sendirian melakukan itu, ia ditemani penasihat yang petuahnya bisa lebih culas dan kejam dibanding Machiavelli dan Sengkuni: Kautilya Chanakya. Dalam kitab Arthashastra, Chanakya membanggakan ilmu politik memperkuat kekuasaan seorang raja. Ilmunya terdiri dari cara berbuat licik dan kejam yang tidak disebutkan dalam karya Machiavelli, serta daftar cara menyiksa dan membunuh, dan memasang mata-mata. Ia berfokus pada logika kekuasaan: efektivitas.

Awalnya saya pun hanya memiliki pandangan politik yang sama dengan kebanyakan orang, tetapi setelah membaca catatan pinggir Gunawan Muhammad, saya jadi tahu dan betapa malunya saya dalam usia sekarang ini baru mnegetahuinya. Karya-karya Machiavelli mulai aKrab di telinga saya sejak di bangku kuliah dengan materi kuliah Filsafat Ilmu dan Metodologi Sejarah. Betapa saya malu dan termotivasi untuk membuka tabir cakrwala keilmuwan bahwa apa yang saya peroleh saat ini itu terlalu sedikit. Saya masih perlu banyak membaca dan bergerak untuk lebih produktif, entah itu sebagai ibu, guru, atau diri saya pribadi.

Tidak ada puncak gunung yang tidak memiliki lembah. Begitulah kekuasaan yang ditopang ilmu politik tidak selamanya menyehatkan. Kekuasan yang tidak terbatas menyebabkan diri terlena, bahkan seringkali tidak mampu mengontrolnya dengan baik. Jika sudah mencapai titik ini, maka akan memunculkan kegelisahan dan rasa bersalah serta intimidasi yang menjadi bumenang bagi diri sendiri sebab tidak mampu menempatkan diri antar terlibat atau terjerat dan tak terlibat logika kekuasaan.

"Seorang penguasa tidak hanya harus mengenal kelicikan dan kekejaman, tetapi harus tahu kapan itu tidak harus di pakai."

Agama Lokal Indonesia


Saya adalah tipe orang yang hobi bejalanan atau bahasa kerennya traveling tapi dengan budget yang minimalis hehehe untuk mengakalinya maka saya harus banyak membaca, menulis, dan berjibaku dengan media sosial.  Tempo menjadi salah satu favorit bacaan saya yang ini kali bisa saya nikmati secara gratis di sekolah. Sebenarnya National Geografi (Natgeo) juga biar lebih melek, aware, dan care dengan dunia tetapi entah mengapa Natgeo jadi tidak muncul lagi sekarang. Barangkali karena sudah berhenti berlangganan, tapi untungnya saya masih menikmatinya versi digital. Kesukaan saya itu mengantar saya untuk menjejakkan kaki di tanah Borneo. Sebagaimana para treveller pada umumnya, kami adalah para nomaden yang sangat mudah dan cepat beradaptasi dengan lingkungan baru.

Di tanah orang banua ini, saya yang berprofesi sebagai tenaga pengajar, banyak berinteraksi dengan berbagai suku khususnya suku Dayak dengan berbagai keanekaragaman jenisnya. Kecintaan saya dengan suku, bahasa, dan adat istiadat Indonesia selalu membuat saya penasaran dan ingin mengulik kebenarannya. Saya selalu penasaran dan ingin membuktikan bahwa mitos yang berkembang di masyarakat tentang duku Dayak pun Madura atau suku-usku lainnya yang memiliki stereotif negatif dapat dipatahkan. In fact, mereka memang begitu bersahabat dan dapat hidup harmonis dengan suku lainnya. Saya rasa yang menyebabkan pemikiran kurang baik seperti itu karena kita tidak mencoba mendekat atau mengenal dengan baik mereka.

Ini kali Tuhan telah memberikan saya jawaban atas apa yang selalu saya pertanyakan selama ini sejak saya menjadi begitu dekat dengan anak didik saya yang orang Dayak. Mereka di sela-sela pelajaran bahkan ketika berdiskusi di luar jam pelajaran, selalu bersikukuh bahwa Kaharingan adalah agama. Sebuah agama khas orang Dayak Kaharingan yang mendiami Kalimantan Tengah. Waktu itu saya yang terbatas sumber dan informasi juga beropini bahwa Kaharingan tak lebih hanya kepercayaan biasa layaknya Kejawen dan lainnya. Meski dalam hati saya ragu dan penasaran. Hingga kemarin dalam majalah kesukaan saya itu (Tempo) dimuat rublik tentang agama lokal Indonesia yang memuat agama-agama lokal yang banyak di Indonesia, seperti: Kaharingan (Kalimantan Tengah), Sunda wiwitan (Kuningan), Aluk Tadolo (Toraja), Arat Sabulungan (Mentawai), dan Marapu (Sumba). 

Indonesia sejak era Gusdur telah berhasil menetapkan enam agama nasional yang sah dan diakui negara. Dalam Undang-Undang No 1/PNPS (pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama) Tahun 1965 memang tidak ada pengakuan agama, yang ada adalah agama yang dipeluk dan dianut mayoritas di Indonesia ada enam, yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Sehingga para penganut Kaharingan dan beberapa aagma lokal lainnya di luar enam agama besar lebih memilih mencantumkan agama Hindu ke dalam KTP. Begitupun dengan para penganut agama lokal lainnya, meskipun banyak juga yang mencantumkan agama Kristen karena dianggap lebih 'mewakili'. 

Miris sebenanrnya karena para penganut ini minoritas sehingga pengakuan dan pengangkatana agma lokal masih menjadi pelik. Namun negara sudah memonitor soal agama lokal ini dengan berdikusi bersama para penganutnya. Agama lokal sebenarnya tetap dibirkan berkembang oleh negara selama tidak melakukan pelanggaran, misalnya seperti kasus Ahmadiah atau sekte-sekte menyesatkan lainnya yang sudah pernah berurusan dengan hukum. 

Pada masa Orde Baru, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 40 Tahun 1978 mengukuhkan posisi agama-agama lokal sebagai aliran kepercayaan. Melalui Kepres ini, agama lokal yang tadinya berada di bawah naungan Kementrian Agama (Kemenag) dialihkan ke Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Keberadaan agama lokal ini tentu memunculkan pelbagai opini yang berkembang. Pertama, yang berpendapat bahwa negara tidak perlu mnegurusi agama warganya dan menyerahkan urusan agama ke setiap individu sehingga KTP tidak perlu kolom agama. Pandangan kedua menntang pendapat pertama. Alasannya, jika negara tidak mengakui agama warganya, maka negara tidak memiliki dasar menjalankan perintah konstitusi. Menurut menteri agama, LukmanHhakim, jika pemerintah tidak bisa menentukan suatu komunitas sebagai agama tau tidak, setidaknya ada pendaftaran agar agama bisa menjalankan kewajibannya.

Pengekangan terhadap agama-agama lokal sebenarnya terjadi sejak Indonesia merdeka. Pada masa Orde Lama, pengekahan tidak terlihat karena belum banyak undang-undang yang mengatur, sedangkan pada masa Orde Baru undang-undang tersebut terlihat deskriminatif. Ketika Reformasi bergulir dengan munculnya kebebasan dalam mengeluarkan pendapat, Suel, ketua Majelis Agama Hindu Kaharingan bersama ratusan penganutnya menggunakan kesempatan emas itu untuk memisahkan gama Hindu dan Kaharingan.

Kaharingan diintegrasikan ke Hindu pada 1980 dengan mengeluarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Nomor 37 Tahun 1980, meyusul penataan administrasi kependudukan melalui pengisian kolom agama di KTP. Pemisahan ini dilakukan karena memang agama Hindu dan Kaharingan berbeda. Misalnya dalam hal upacara kematian, tempat ibadah, dan kitab suci. Dalam ngaben, begitu mayat dibakar abunya dilarung ke laut supaya bisa kembali ke sungai Gangga. Hal ini tidak terjadi pada tiwah. Agama Hindu memiliki weda sedangkan Kaharingan memunyai Panaturan. Kemudian tempat ibadah umat Hindu adalah Pura, sementara pada Kaharingan namanya Balai.

Tuesday, October 28, 2014

Mom Susi

Well, nama Susi menjadi trending topic dunia pasca pelantikan Kabinet Kerja era Jokowi-JK. Saya pribadi mengenal pentolan Susi Air itu sekitar tahun lalu kala wawancara di Bloomberg tivi. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitulah kira-kira ungkapan hati saya waktu itu. Wanita keren itu memang tangguh dan wonder mowan. kehidupan keras sebagai warga pesisir menjadikan pribadi dan karakter Susi begitu kuat. Ia memang drop out SMA karena pada masa Orde Baru

Kita tahu, Susi banyak menyedot perhatian publik karena tertangkap kamera tengah asyik meroko pasca pelantikan di Istana Merdeka. Bagi orang Indonesia yang berbudaya ketimuran memang hal ini sangat tidak etis. Apalagi jika ranah pendidikan pasti menyorot dengan tajam karena takut memberikan contoh yang tidak baik terhadap anak didik. 

Namun buat saya pribadi Susi adalah seorang wanita yang inspiratif. Sebagaimana saya dan dua sahabat saya sepakat bahwa gelar tidak seutuhnya memengaruhi kesuksesan dan kinerja seseorang. Kerja keras dan kerja keras yang kontekstual based on eksperience justru mampu menempa dan mencerminkan pembelajaran sesungguhnya. Saya justru penasaran bagaimana wanita tangguh ini mendidik anak-anaknya. Mengingat budaya juga turut memengaruhi karena suami Susi adalah bule. 

Well, apapun itu kita tidak berkah menjudje seseorang hanya dengan melihat sekilas tanpa tahu dan paham secara menyeluruh siapa diri mereka sebenarnya. Cobalah posisikan diri kita ada pada posisi mereka. Saya rasa ini cukup efektif untuk menjaga kesantunan kita untuk lebih respect terhadap orang lain.

Thursday, October 11, 2012

G-30-S

Berikut beberapa uneg-uneg mengenai peristiwa G-30-S (Courtesy YS)

Kelemahan penyelidikan-penyelidikan tentang G-30-S terdahulu terletak pada titik tolak mereka: dugaan bahwa pasti ada dalang di balik gerakan itu. Menurut hemat saya tidak ada "otak" utama, apakah ia berupa seorang tokoh, ataukah suatu gugus rapat orang-orang yang terorganisasi mengikuti pembagian kerja serta hierarki kewenangan yang jelas. G-30-S menjadi bersifat misterius justru karena tidak ada
nya pusat pengambilan keputusan yang tunggal. Seseorang yang paling dekat dengan para penggerak inti pada saat aksi berjalan, Supardjo, dibingungkan dalam hal siapa pemimpin gerakan ini yang sesungguhnya. Seperti dikemukakan Supardjo, tokoh pusat dalam G-30-S, sejauh tokoh itu ada, ialah Sjam. Namun Sjam berfungsi sebagai penghubung antara Aidit dan para perwira progresif. Ia menjadi pusat karena kedudukannya yang di tengah-tengah, bukan karena penguasaannya atas semua kekuatan di dalam G-30-S. Aidit bertanggung jawab atas personil-personil PKI yang terlibat dalam G-30-S, sedangkan Untung, Latief, dan Soejono bertanggung jawab atas personil-personil militer. Dua kelompok ini melibatkan diri dalam sebuah aksi yang, karena ketiadaan pilihan lain, mengubah perantara mereka menjadi si pemimpin. Sjam adalah seorang mediator yang perlahan-lahan hilang: ia mempertemukan kedua kelompok itu untuk melancarkan aksi tapi tidak dalam posisi untuk memimpin mereka begitu aksi tersebut dimulai. Ia tidak seperti seorang jenderal militer yang bisa memimpin komplotan kup dari awal sampai akhir, seperti cara Kolonel Qasim melakukannya di Irak pada 1958, atau Kolonel Boumedienne di Aljazair pada 1965. Sekali aksi telah menyimpang dari rencana dan para peserta aksi harus berimprovisasi, mereka pun berpencaran ke arah yang berbeda-beda. Kekacauan dan ketidakjelasan G-30-S akhirnya melumpuhkan gerakan itu sendiri dalam menghadapi serangan balik Suharto yang tak terduga. Tidak adanya pusat itulah yang membikin bingung peserta G-30-S saat itu, dan terus membikin bingung para sejarawan yang berusaha memahami gerakan ini.
 
... Tak akan ada gunanya menulis buku ini seandainya saya menambahkan "/PKI." Akhiran tersebut mencerminkan jawaban terhadap pertanyaan siapa yang mendalangi gerakan itu. Ia adalah simbol pernyataan: "PKI mendalangi G-30-S." Apabila jawaban itu didukung oleh bukti-bukti tak tersangkal dan secara luas diterima sebagai fakta historis maka kita tidak perlu mengajukan pertanyaan tentang dalang lagi. 
 
Kita bisa tutup buku dengan G-30-S. Tapi banyak sejarawan yang belum menerima jawaban tersebut, atau jawaban lain, sebagai sesuatu yang final, karena terdapat begitu banyak aspek yang aneh, tak terjelaskan tentang G-30-S. Banyak orang Indonesia bingung dengan G-30-S dan berharap menemukan lebih banyak informasi tentangnya. Pemerintah dapat mencoba menulis sejarah dengan keputusan resmi. Tetapi memastikan bahwa setiap penyebutan G-30-S harus diikuti dengan "/PKI" tidak akan mencegah orang untuk bertanya-tanya tentang arti kedua istilah yang harus mereka kaitkan itu: Apa itu G-30-S? Apa itu PKI? Dan bentuk hubungan seperti apa antara kedua istilah yang ditandai dengan garis miring tersebut?
~John Roosa, "Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto"
 
Satu perdebatan mengenai peristiwa G-30-S adalah bagaimana aksi itu harus disebut. Persoalan terminologis (peristilahan) seperti ini tentu saja penting, sebab berkaitan dengan cara pandang kita terhadap peristiwa itu.

Selama ini G-30-S biasa dilukiskan sebagai usaha kudeta (coup d'état). Sebuah buku yang dikeluarkan rezim Orde Baru diberi judul "The Coup Attempt of the September 30th Movement in
Indonesia (Usaha Kudeta Gerakan 30 September)". Atau buku yang terbit pada tahun 1994, "Gerakan 30 September: Pemberontakan Partai Komunis Indonesia". Kudeta, kata serapan yang tampaknya dari Perancis itu, agaknya sinonim dengan istilah pemberontakan. Bagi orang Jawa, pemberontakan memiliki pengertian yang sama dengan 'mbalelo', melawan penguasa. Film propaganda rezim yang dikeluarkan pada 1984 malah diberi judul "Pengkhianatan G-30-S/PKI". Menurut dokumen CIA, sebagaimana dikutip John Roosa, istilah 'coup' secara teknis benar jika diartikan sebagai "gebrakan politik yang kuat dan mendadak", tetapi istilah 'coup d'etat' tidak tepat karena G-30-S "bukan merupakan gerakan untuk menumbangkan Sukarno dan/atau pemerintah Indonesia yang sudah ada. Pada hakikatnya ini merupakan pembersihan dalam pimpinan Angkatan Darat, yang bertujuan untuk melakukan perubahan-perubahan tertentu di dalam kabinet."

Dan memang G-30-S tidak bertujuan untuk mendongkel kekuasaan Presiden. Tidak ada fakta yang mengarah ke situ. Satu-satunya aksi yang bisa diartikan menentang kekuasaan Presiden adalah pengumuman radio tentang "Dengan djatuhnja segenap kekuasaan Negara ke tangan Dewan Revolusi Indonesia, maka Kabinet Dwikora dengan sendirinja berstatus demisioner". Tetapi pada waktu itu memang terdapat perpecahan di antara para pimpinan G-30-S, terutama setelah Presiden menyatakan suatu sikap yang tidak dapat mendukung aksi mereka sehubungan dengan pertumpahan darah yang telah terjadi, meskipun Presiden juga tidak menghukum mereka. Syam, pimpinan Biro Chusus PKI, berpendapat revolusi harus tetap jalan meskipun tanpa dukungan Presiden. Tetapi para perwira pimpinan G-30-S ingin mematuhi perintah presiden untuk menghentikan pertumpahan darah dan menyerahkan kepada Presiden untuk mengambil langkah apa saja yang dipandang perlu. Brigjend. Supardjo, penghubung para pimpinan G-30-S dengan Presiden, tidak mendikte syarat-syarat tertentu kepada Presiden. Mereka tidak ingin 'pengrevolusioneran' yang mereka lakukan berubah menjadi pemberontakan.
 
 

Friday, June 8, 2012

Inlander

Dalam sejarah kolonial mungkin hanya penguasa kolonial Belanda yang membatasi penggunaan "bahasa penjajah" oleh orang pribumi. Mungkin ini yang menjelaskan kenapa kita, 17 tahun sebelum merdeka, sudah punya bahasa sendiri; tak sama dengan negara-negara tetangga seperti India, Malaysia, Filipina, atau Kamboja yang sampai hari ini memakai "bahasa penjajah". Bahasa Melayu, yang merupakan dasar dari bahasa Indonesia kini, dikuasai oleh lebih banyak orang, terutama golongan terpelajar. Pada akhir 1925 saja tercatat ada sekitar 200 surat kabar di Hindia Belanda yang memakai bahasa Melayu. Bandingkan dengan sensus tahun 1930 yang melaporkan hanya 0,3 persen dari orang pribumi (penduduk pribumi ini merupakan 97 persen dari seluruh populasi penduduk Hindia-Belanda pada waktu itu) yang bisa berbahasa Belanda. Tampaknya ada politik pemisahan (apartheid, kata dalam bahasa Belanda ini tak pernah dipakai oleh pemerintah Hindia-Belanda melainkan lebih dikenal di Afrika Selatan): bahasa yang dipakai oleh kaum nederlanders tak boleh diucapkan oleh mulut kaum inlanders yang bau durian atau petai itu..

Thursday, June 7, 2012

"Science without religion is blind, religion without science is lame."


Kutipan itu, sebagaimana kita tahu, adalah milik Einstein. Tapi kenapa ia dituduh atheis? Ia, yang mengibaratkan akal (sains) tanpa bimbingan agama adalah seperti orang buta, justru tak berpikir sejalan dengan Alkitab. Lantas, apa yang ia sebut dengan agama? Sejak kecil ia hidup dengan "dua agama": agama Yahudi yang ia warisi sebagai agama leluhurnya, namun ia juga mempelajari agama Katholik. Ia membaca Talmud (Taurat) dan Injil. Namun, baik oleh kalangan pemuka Yahudi maupun pendeta Katholik, ia dianggap sebagai suara yang mengganggu karena mengingkari kitab suci. Tapi benarkah ia telah ingkar? Ajaran yang manakah yang diingkarinya? Suaranya sangat mengganggu ketika ia mempertanyakan konsepsi pihak Gereja tentang Tuhan yang personal dan anthropomorfik (Tuhan yang berbuat seolah-olah manusia berbuat, menghukum sebagaimana manusia menghukum), yang tak masuk akal baginya. Konsepsi ketuhanan semacam ini alih-alih menjadikan agama sebagai sarana pencarian spiritualitas melalui imajinasi kreatif, justru menjadikan Tuhan sebagai fakta obyektif yang dapat dipersepsi, tentu saja persepsi Gereja sebagai pemegang otoritas keagamaan. Einstein justru mengkhawatirkan indoktrinasi yang tidak memberi ruang bagi penalaran ini akan membuat agama menjadi lumpuh..

*UW

Wednesday, May 2, 2012

Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia

Suatu hari Tuhan tersenyum puas melihat sebuah planet yang baru saja diciptakanNya. Malaikat pun bertanya, “Apa yang baru saja Engkau ciptakan, Tuhan?” “Lihatlah, Aku baru saja menciptakan sebuah planet biru yang bernama Bumi,” kata Tuhan sambil menambahkan beberapa awan di atas daerah hutan hujan Amazon. Tuhan melanjutkan, “Ini akan menjadi planet yang luar biasa dari yang pernah Aku ciptakan. Di planet baru ini, segalanya akan terjadi secara seimbang”.

Lalu Tuhan menjelaskan kepada malaikat tentang Benua Eropa. Di Eropa sebelah utara, Tuhan menciptakan tanah yang penuh peluang dan menyenangkan seperti Inggris, Skotlandia dan Perancis. Tetapi di daerah itu, Tuhan juga menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Di Eropa bagian selatan, Tuhan menciptakan masyarakat yang agak miskin, seperti Spanyol dan Portugal, tetapi banyak sinar matahari dan hangat serta pemandangan eksotis di Selat Gibraltar.

Lalu malaikat menunjuk sebuah kepulauan sambil berseru, “Lalu daerah apakah itu Tuhan?” “O, itu,” kata Tuhan, “itu Indonesia. Negara yang sangat kaya dan sangat cantik di planet bumi. Ada jutaan flora dan fauna yang telah Aku ciptakan di sana. Ada jutaan ikan segar di laut yang siap panen. Banyak sinar matahari dan hujan. Penduduknya Ku ciptakan ramah tamah,suka menolong dan berkebudayaan yang beraneka warna. Mereka pekerja keras, siap hidup sederhana dan bersahaja serta mencintai seni.”

Dengan terheran-heran, malaikat pun protes, “Lho, katanya tadi setiap negara akan diciptakan dengan keseimbangan. Kok Indonesia baik-baik semua. Lalu dimana letak keseimbangannya? “

Tuhan pun menjawab dalam bahasa Inggris, “Wait, until you see the idiots I put in the government.” (tunggu sampai Saya menaruh ‘idiot-idiot′ di pemerintahannya). Dan untuk rasa terima kasih untuk Kemerdekaan Indonesia, kami pemuda-pemudi Indonesia memberikan penghargaan sebesar-besarnya kepada pejuang yang telah mengorbankan darah dan air mata mereka untuk bangsa yang tidak tahu terima kasih ini.

*Suranegara