Showing posts with label Bojonegoro. Show all posts
Showing posts with label Bojonegoro. Show all posts

Thursday, October 30, 2014

Golek Iwak Wong Jonegoro

  
Golek Iwak (dokumentasi pribadi)

Gambar di atas adalah aktivitas warga di kampung halaman saya di Bojonegoro. Mereka sedang asyik Golek Iwak (mencari ikan) di sungai ketika musim pancaroba tiba. Mendekati musim kemarau sungai akan mengering. Kejadian ini lumrah terjadi di Bojonegoro, sehingga tidak heran Bojonegoro selalu mengalami kekeringan setiap musim kemarau tiba. Hal ini didukung topografi Bojonegoro berada di daerah kapur dengan kontur tanah bergerak. 

Golek Iwak menjadi semacam ritual tahunan bagi wong Jonegoro (sebutan khusus bagi warga Bojonegoro). Mereka menangkap ikan secara tradisional menggunakan samber (jala kecil), alat pancing, bambu kecil yang panjang, dan tangan. Ikan yang peroleh semua adalah ikan tawar, mulai dari ikan wader, udang, ikan gabus, ikan sili, dan beberapa jenis kerang atau kijing.Masyarakat di sana memang memelihara lingkungan karena sungai ayau Dung masih dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari sehingga menjadi penting untuk menjaga sungai tetap bersih.

Golek Iwak menjadi penting karena ikan hasil tangkapan selain berguna untuk lauk juga dapat dijual. Tradisi ini juga sarat pesan positif karena mampu mempererat ikatan silaturahim antar warga desa. Teknologi tradisional yang digunakan memuat pesan untuk tetap menjaga lingkungan tetap bersih dan terhindar dari pencemaran zat-zat kimia.

Tuesday, March 22, 2011

Arambana Bhojanagara


            Kala senja memerah, burung belibis, burung gereja, dan kawanan burung lain mulai mengandang, kaki-kaki kecil seorang bocah menapaki pasir-pasir basah di sekitar Bengawan Solo, kelurahan Ledok Kulon, kota Bojonegoro dengan lincah cerianya menuju tempat tinggalnya.
            Sesampai di rumahnya, dijumpainya sang nenek yang lagi asyik menembang tembang Jawa karya Sunan Giri dan dimasyarakatkan Sunan Kalijaga.
Lir-ilir tandure wis sumilir tak ijo royo-royo tak sengguh penganten anyar…
      Dengan manjanya si bocah kecil menghampiri sang nenek, “Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.” Serta merta sang nenek menjawab, “Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokayuh.”
            “Nenek, bolehkah aku tanya tentang makna namaku?” Tanya Sang Cucu pada neneknya. “Tentu cucuku,” jawab Sang Nenek. Namamu ‘Arambana Bhojanagara’, Arambana berasal dari Arum Bhuana yang artinya harumnya dunia dan Bhojanegara adalah tempat kelahiranmu. Dengan nama itu, bundamu berharap kelak kalau kau sudah dewasa diberi Allah kemampuan mengharumkan kota Bojonegoro ke seluruh dunia melalui wisata sejarah, panorama, maupun bisnisnya.
            Nama Bojonegoro sebagai ganti kota Rajekwesi resmi sejak 25 September 1828. Bhoja berrti makanan dan Negara (negoro) berarti pemerintahan. Jadi, kota Bojonegoro dapat diartikan kota tempat member makan.
            Kota Rajekwesi yang berada di sekitar Bengawan Solo terkenal sebagai daerah yang subur gemah ripah loh jinawi, terutama pada masa pemerintahan Raden Tumenggung Hariya Matahun (17251741).
            Raden Tumenggung sering mengundang rakyat kecil (kawula alit) untuk makan bersama di Pandapa. Makan bersama dalam bahasa Kawi atau Jawa Kuno adalah gembul Bhoja atau Bhojana. Karena pihak pemerintah sering mengundang kawula alit untuk makan bersama itulah, maka kota ini dinamakan Bojonegoro, sebagai ganti Rajekwesi.
            Selanjutnya, Arambana bertanya pada neneknya, “Nenek apa yang melatarbelakangi para pejabat kota Bojonegoro ini santun kepada kawula alit Nek?”
“Karena para pejabat kota ini tidak hanya handal dalam ilmu pemerintahan, tetapi beliau-beliau ini menghayati pejabat bukanlah penguasa tetapi pejabat adalah pelayan-pelayan kasih Illahi. Mereka derdas secara IQ (Intelegensia Quation), EQ (Emotional Quotion), dan SQ (Spiritual Quation), atau cerdas secara rohani,” jawab Sang Nenek.
            “Nenek, apakah para pejabat negeri ini dalam olah rohani juga belajar tentang dialog Rosul Muhammad dengan iblis karya Syekh Muhyidin Ibnu ‘Araby?” tanya Arambana pada neneknya.
            “Ya iyalah..” jawab Sang Nenek dengan bahasa gaulnya.
            “Kalau begitu tolong dong Nek ceritakan sebagian untukku.”
            “Baiklah cucuku. Diriwatkan dari Mu’adz Bin Jabal R.A. dari Ibnu Abas berkisah: “Kami bersama Rosulullah SAW di rumah salah seorang sahabat Anshar. Saat itu kami di tengah-tengah jama’ah, lalu datang iblis. Ternyata ia berupa orang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Ia berjenggot sebanyak tubuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut bulu matanya. Kedua kelopak matanya seperti terbelah ke atas (tidak ke samping), sedang kepalanya seperti kepala gajah yang sangat besar, dan gigi taringnya keluar seperti taring babi. Sementara kedua bibirnya seperti bibir kerbau.
            Ia datang sambil memberi salam, “Asalamualaikum ya Muhammad.. assalamualaikum ya jama’atalmus limin,” kata iblis.
            Nabi menjawab, “Assalamu Lillah Yala’iin (keselamatan hanya milik Allah wahai makhluk yang terkutuk). Saya mendengar engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluanmu tersebut wahai iblis?”
            “Wahai Muhammad, saya datang ke sini bukan karena kemauanku sendiri, tapi saya datang ke sini karena terpaksa,” terang iblis.
            “Apa yang membuatmu terpaksa harus datang ke sini, wahai makhluk terkutuk?” tanya rosulullah.
Iblis menjawab. “Telah datang kepadaku seorang malaikat yang diutus oleh Tuhan yang Maha Agung. Utusan itu berkata kepadaku: “Sesungguhnya Allah memerintahknku untuk datang kepada Muhammad, sementara engkau adalah makhluk hina nan rendah. Engkau harus memeberitahu kepadanya bagaimana engkau menggoda dan merekayasa anak cucu Adam. Bagaimana engkau merayu mereka, lalu engkau harus menjawab segala apa yang ditanyakan Muhammad dengan jujur. Maka demi kebesaran dan keagungan Allah, jika engkau menjawabnya dengan bohong, sekalipun hanya sekali, sungguh engkau akan Allah jadikan debu yang akan dihempaskan oleh angin kencang dan musuh-musuhmu akan merasa senang.”
“Wahai Muhammad, maka sekarang saya datang kepadamu sebagaimana diperintahkan kepadaku. Tanyakan apa saja yang engkau inginkan. Kalau sampai saya tidak menjawabnya dengan jujur, maka musuh-musuhku akan merasa senang atas musibah yang akan saya terima. Sementara tidak ada beban yang lebih berat bagiu daripada musuh-musuhku atas musibah yang menimpa diriku.”
Rosulullah mulai bertanya kepada iblis. “Jika engkau bisa menjawab dengan jujur, maka coba ceritakan kepadaku siapa orang yang paling engkau benci!”
Iblis menjawab dengan jujur. “Wahai Muhammad, Engkau adalah orang yang paling aku benci dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu.”
“Lalu, siapa lagi yang paling engkau benci,” tanya rosulullah.
“Seorang pemuda yang bertaqwa dimana ia mencurahkan dirinya hanya kepada Allah,’ jawab iblis.
“Siapa lagi,”
“Orang alim atau canggih yang wara’ (menjaga diri dari harta haram dan subhat), lagi sabar,” jawab iblis.
 “Siapa lagi?”
 “Orang yang melanggengkan diri dari kesucian yaitu suci lahir, batin, dan lingkungan (baik lingkungan fisik maupun eterik).”
“Siapa lagi?”
“Orang fakir yang senantiasa bersabar, yang tidak pernah menuturkan kepada siapapun dan juga tidak pernah mengeluhkan penderitaan yang dialaminya.”
“Lalu, darimana engkau tahu ia bersabar,”
“Wahai Muhammad, bila ia masih da pernah mengeluhkan penderitaannya kepada makhluk yang sama dengannya selama tiga hari, maka Allah tidak akan mencatat perbuatannya dalam kelompok orang-orang yang bersabar.”
“Lalu siapa lagi wahai iblis?”
“Orang kaya yang bersyukur,”
“Lalu apa yang dapat memebritahumu bahwa ia bersyukur?”
“Bila saya melihat ia megambil kekayaannya dari apa saja yang dihalalkan dan kemudian disalurkan pada yang berhak,” tutur iblis.
“Bagaimana kondisimu bila umatku menjalankan sholat?” tanya Rosulullah.
“Wahai Rosul, saya langsung merasa gelisah dan gemetar.”
“Mengapa wahai makhluk yang terkutuk?”
“Sesungguhnya apabila seorang hamba bersujud kepada Allah, sekali sujud, maka Allah mengangkat satu derajat (tingkat). Apabila mereka berpuasa, maka saya terikat sampai mereka berbuka kembali. Apabila mereka manasik haji, maka saya jadi gila. Apabila bersedekah, maka seakan-akan orang yang bersedekah tersebut mengambil kapak lalu membelah saya menjadi dua,” jawab iblis.
“Mengapa demikian wahai Abu Murrah (julukan iblis)?”
“Sebab dalam sedekah ada empat perkara yang perlu diperhatikan: (1) dengan sedekah itu Allah akan menurunkan keberkahan dalam hartanya; (2) Allah menjadikan ia disenangi di kalangan makhluknya; (3) dengan sedekah itu pula Alah akan menjadikan suatu penghalang antara neraka dengannya; dan (4) ia akan terhindar dari berbagai bencana dan penyakit.
“Ketahuilah Muhammad, bahwa orang yang masih suka dirham dan binar (harta) berarti belum bisa murni karena Allah. Apabila saya masih melihat seseorang yang sudah tidak menyukai dirham dan binar (untuk kepentingan pribadi), serta tidak suka dipuji, maka saya tahu bahwa ia adaah orang yang ukhlis karena Allah, lalau saya tinggalkan.”
Demikianlah Arambana, sebagian dari dialog antara Rosul Muhammad dan iblis yang melatarbelakangi para pejabat di sini santun dengan kawula ait. Semoga kelak ketika kamu dewasa, harapan bundamu menjadi kenyataan. Perkenalkan pada dunia bahwa kota Bojonegoro itu penuh pesona. Disana ada banyak objek wisata yang dapat dikunjungi diantaranya Khayangan Api, Waduk Pacal, Dander Taman Tirtawana, Gua Lowo, Penambangan Minyak Tradisional, kerajinan ukiran kayu jati, seni tari tayub, wayang Tenghul, budaya masyarakat Samin, perusahaa tembakau, dan makanan khas Ledre. Insyaallah ke depan Bojonegoro akan menjadi Brunei-nya Indonesia. Amin!

*Endang Syahrul K.N. (Guru SMAN Sumberrejo, Bojonegoro)
Bojonegoro, 30 April 2007 disajikan dalam “Lomba Dongeng Kesejarahan 2007”.




            

Monday, January 31, 2011

Produksi Jati Bojonegoro


Lumbung Makanan dari kayu jati Bojonegoro warisan keluarga (dokumen pribadi)

Sebagai jenis hutan paling luas di Pulau Jawa, hutan jati memiliki nilai ekonomis, ekologis, dan sosial yang penting. Kayu jati jawa telah dimanfaatkan sejak zaman Kerajaan Majapahit. Jati terutama dipakai untuk membangun rumah dan alat pertanian. Sampai dengan masa Perang Dunia Kedua, orang Jawa pada umumnya hanya mengenal kayu jati sebagai bahan bangunan. Kayu-kayu bukan jati disebut ‘kayu tahun’. Artinya, kayu yang keawetannya untuk beberapa tahun saja.
Selain itu, jati digunakan dalam membangun kapal-kapal niaga dan kapal-kapal perang. Beberapa daerah yang berdekatan dengan hutan jati di pantai utara Jawa pun pernah menjadi pusat galangan kapal, seperti Tegal, Juwana, Tuban, dan Pasuruan. Namun, galang kapal terbesar dan paling kenal berada di Jepara dan Rembang, sebagaimana dicatat oleh petualang Tomé Pires pada awal abad ke-16.
VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie, Kompeni Hindia Timur Belanda) bahkan sedemikian tertarik pada “emas hijau” ini hingga berkeras mendirikan loji pertama mereka di Pulau Jawa —tepatnya di Jepara— pada 1651. VOC juga memperjuangkan izin berdagang jati melalui Semarang, Jepara, dan Surabaya. Ini karena mereka menganggap perdagangan jati akan jauh lebih menguntungkan daripada perdagangan rempah-rempah dunia yang saat itu sedang mencapai puncak keemasannya.
Di pertengahan abad ke-18, VOC telah mampu menebang jati secara lebih modern. Dan, sebagai imbalan bantuan militer mereka kepada Kerajaan Mataram di awal abad ke-19, VOC juga diberikan izin untuk menebang lahan hutan jati yang luas.
VOC lantas mewajibkan para pemuka bumiputera untuk menyerahkan kayu jati kepada VOC dalam jumlah tertentu yang besar. Melalui sistem blandong, para pemuka bumiputera ini membebankan penebangan kepada rakyat di sekitar hutan. Sebagai imbalannya, rakyat dibebaskan dari kewajiban pajak lain. Jadi, sistem blandong tersebut merupakan sebentuk kerja paksa.
VOC kemudian memboyong pulang gelondongan jati jawa ke Amsterdam dan Rotterdam. Kedua kota pelabuhan terakhir ini pun berkembang menjadi pusat-pusat industri kapal kelas dunia.
Di pantai utara Jawa sendiri, galangan-galangan kapal Jepara dan Rembang tetap sibuk hingga pertengahan abad ke-19. Mereka gulung tikar hanya setelah banyak pengusaha perkapalan keturunan Arab lebih memilih tinggal di Surabaya. Lagipula, saat itu kapal lebih banyak dibuat dari logam dan tidak banyak bergantung pada bahan kayu.
Namun, pascakemerdekaan negeri ini, jati jawa masih sangat menguntungkan. Produksi jati selama periode emas 1984-1988 mencapai 800.000 m3/tahun. Ekspor kayu gelondongan jati pada 1989 mencapai 46.000 m3, dengan harga jual dasar 640 USD/m3.
Pada 1990, ekspor gelondongan jati dilarang oleh pemerintah karena kebutuhan industri kehutanan di dalam negeri yang melonjak. Sekalipun demikian, Perhutani mencatat bahwa sekitar 80% pendapatan mereka dari penjualan semua jenis kayu pada 1999 berasal dari penjualan gelondongan jati di dalam negeri. Pada masa yang sama, sekitar 89% pendapatan Perhutani dari ekspor produk kayu berasal dari produk-produk jati, terutama yang berbentuk garden furniture (mebel taman).

Gelondongan kayu Jati Bojonegoro (dokumentasi pribadi)

Saat ini ayahku, sebagai salah satu yang melestarikan keberadaan jati dan memproduksi beberapa karya dari kayu jati. Sebuah industri rumahan kecil, tapi cukup membantu masyarakat, karena produksi ayah lebih banyak untuk atribut atau properti sekolah. Sementara untuk kebutuhan rumah tangga lainnya seperti meja, tempat tidur, dan almari dapat memesan sendiri kepada ayah. Harganya cukup terjangkau dengan kualitas yang baik tentu. 

Wednesday, December 1, 2010

Batik Jenogoroan

    
Batik adalah warisan seni dari bangsa kita yang telah diakui Unesco sebagai warisan asli budaya Bangsa Indonesia. Di Indonesia terdapat banyak sekali motif batik diantaranya motif Batik Bojonegoro. Batik berkualitas asli Bojonegoro disebut juga Batik Jonegoroan. Batikpun sangat sesuai jika digunakan untuk acara formal seperti ke kantor, urusan resmi perusahaan, acara perkawinan ataupun acara non formal lainnya, dengan menggunakan batik anda akan tampil lebih elegan dan lebih bernuansa Indonesia, dan secara tidak langsung anda berpartisipasi dalam melestarikan budaya bangsa.  
Batik Jonegoroan mempunyai sembilan motif batik  dengan arti filosofi yang berbeda-beda pada setiap motifnya. Toko Batik Marely Jaya, merupakan toko batik yang memproduksi Batik  Jenegoroan. Batik Jenegoroan mempunyai motif yang unik yang membedakan dengan corak atau motik batik lainnya di Indonesia. Pemilik Toko Batik Marely Jaya bernama Ibu Pudji Rahayu. "Di toko kami, kami menyediakan kain batik motif asli Jenegoroan dan tersedia juga kain batik dengan bermacam macam bahan kain dengan harga yang sesuai dengan kualitas yang kami berikan, tetap terjangkau konsumen serta terjaga kualitasnya. Kami selalu menjaga mutu dan kualitas kain batik kami dan melakukan control yang ketat terhadap barang yang kami produksi.," terang wanita yang juga berprofesi sebagai guru seni di SMAN 1 Sumberejo Bojonegoro.
Beberapa Produk Batik Jenogoroan:
    * Motif Dasar
          o Gatra rinonce
          o Jagung miji emas
          o Mliwis mukti
          o Parang dahana mungal
          o Parang lembu sekar rinambat
          o parisumilak
          o Rancak thengul
          o Sata ganda wangi
          o Sekar jati
    * Motif Pengembangan
          o Jagung sekar sejagat
          o Jagung Tumpang Sari
          o Jati berlian
          o Jati Kalkel (suramadu)
          o Jati parang kusumo
          o Tembakau proyek dan rakyat

Toko Batik Marely Jaya
Alamat            : Jl Raya Prayungan, Sumberrejo, Bojonegoro, Jawa Timur
Website           : www.marelyjaya.com
Email               : marelyjaya@yahoo.co.id
YM                 : marelyjaya
Phone              : 08121736060
                          (0353) 331498


Filosofi Motif Batik
PARI SUMILAK
Kesuburan tanah (warna coklat) di bumi Angling Dharmo, sangat tepat apabila ditanami padi dan dibudidayakan secara maksimal sehingga mampu meningkatkan taraf hidup petani dan masyarakat  Bojonegoro. Pari (bhs.jawa) padi, sumilak (bhs jawa) sudah mulai menguning dan siap di panen,sehingga mempunyai makna padi yang sudah siap di panen di seluruh wilayah  bojonegoro. Diharapkan  ke depan Bojonegoro menjadi lumbung padi.

SATA GANDA WANGI
Sejak dahulu tembakau Bojonegoro sudah dikenal seluruh nusantara sehingga menjadi salah satu produk unggulan lainnya. Unggulan selain kayu jati  dan produk ungggulan lainnya. Jenis tanaman yang cocok untuk tanaman ini menghasilkan aroma yang khas/harum yang berbeda dengan daerah lain. Sata (bhs jawa) tembakau, ganda (bhs jawa) aroma, wangi (bhs jawa) harum, sehingga bermakna tembakau bojonegoro memiliki aroma harum. Diharapkan nama bojonegoro menjadi harum dan terkenal lewat tembakau sebagai salah satu potensinya.

PARANG DAHANA MUNGAL
Kayangan api adalah salah satu objek wisata andalan di kabupaten Bojonegoro. Merupakan sumber api abadi terbesar di asia  tenggara dan pernah menjadi  tempat pengambilan api PON  XV tahun 2000. Parang (bhs jawa) miring, dahana (bhs jawa) api ,mungal (bhs jawa) menyala / berkobar  sepangang waktu. Simbol masyarakat Bojonegoro yang dinamis, semangat dan mampu memberikan cahaya bagi masyarakat sekitarnya.

JAGUNG MIJI EMAS
Jagung merupakan tanaman yang merakyat dan tumbuh subur dikabupaten Bojonegoro. Hasil yang melimpah menggambarkan bahwa jagung juga dapat meningkatkan pendapatan sekaligus sebagai salah satu pengganti makanan pokok beras. Jagung, miji (bhs jawa) berbiji, emas, memiliki makna tanaman jagung di Bojonegoro adalah yang terbaik sehingga dapat meningkatkan nama Bojonegoro  dengan hasil panen jagungnya.

MLIWIS MUKTI
Mliwis mukti adalah jelmaan Prabu Angling Dharmo (raja malowopati) yang menurut legenda kerajaannya dianggap pernah ada di wilayah kabupaten Bojonegoro. Mliwis (bhs.jawa) burung belibis jelmaan prabu angling dharmo, Mukti (bhs.jawa) mulia,    sehingga bermakna meliwis yang mulia/tinggi, bukan sembarang meliwis, karena jelmaan raja, yang dapat momotivasi masyarakat  bojonegoro untuk bekerja keras, tekun dan ulet dalam berkarya guna mencapai kemakmuran.

GATRA RINONCE
Visualisasi perpaduan RIG (alat mengambil minyak) minyak an gas bumi digambarkan sulur dan bunga , dimana satu dan lainnya saling berhubungan dalam satu kesatuan bentuk. Warna hijau dan kuning melambangkan kemakmuran, kemuliaan, dan keindahan. Ga (Gas) Tra (Patra) minyak, Rinonce (bhs.jawa) ditata satu persatu,dirangkai menjadi satu kesatuan yang utuh an indah sehingga bermakna adanya gas an minyak bumi, apabila dikelola dengan baik dan tetap menjaga keseimbangan dan kelestarian alam dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia, dapat meningkatkan taraf hidup, harkat dan martabat bangsa indonesia, khususnya masyarakat Bojonegoro.

RANCAK THENGUL
Wayang thengul merupakan salah satu kesenian tradisional khas yang hidup dan berkembang di Kabupaten Bojonegoro. Berbentuk tiga dimensi, terbuat dari kayu dengan  asesoris  kain sebagai busananya. Dasar cerita, menak dan panji. Gunungan/kalpataru-nya juga berbahan kayu dan bulu burung merak. Rancak Thengul (bhs.jawa) mengandung arti seperangkat Rancak Thengul sebagai warisan kesenian tradisional di Kabupaten Bojonegoro akan selalu terjaga eksistensinya, menjadi ikon Bojonegoro, lebih dikenal dan digemari masyarakat luas dan sekaligus sebagai bentuk pelestarian dan pengembangan salah satu warisan Pusaka Budaya(cultural heritage).

PARANG LEMBU SEKAR RINAMBAT
Sapi yang ditambatkan di kandang berbentuk barisan miring dengan  kombinasi warna hitam-putih menggambarkan di masa mendatang  Kabupaten Bojonegoro akan menjadi pusat pengembangan peternakan sapi. Parang lembu (bhs.jawa) deretan sapi yang ditambatkan membentuk barisan miring.Sekar Rambet, (bhs.jawa) bunga yang selalu merambat tanpa batas. Parang lembu sekar rambat bermakna , Kabupaten Bojonegoro dikenal harum karena peternakan sapinya sehingga dapat memberikan kontribusi yang besar sekaligus dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.

SEKAR JATI
Tanaman jati, mulai dari akar, pohon  dan daun dapat dimanfaatkan. Kayunya merupakan bahan baku meubelair, kerajinan bubut kayu. Tunggak  dan akarnya (gembol) dapat iolah menjadi karya seni yang bernilai tinggi. Sekar (bhs.jawa) bunga, jati (pohon jati) sehingga bermakna tumbuh suburnya pohon jati di Kabupaten Bojonegoro selaras dengan perkembangannya sentra-sentra kerajinan  kayu jati (meubel,bubuk kayu, gembol) sebagai roda kemajuan dan kreativitas masyarakat Bojonegoro dalam mengolah dan memanfaatkan tanaman kayu jati agar dapat  meningkatkan taraf hidup

Tips merawat batik
Batik memang sedang tren,namun bisa jadi belum banyak orang yang mengetahui cara merawat pakaian batik agar warnanya tetap awet. Berikut sejumlah cara alternative merawat batik kesayangan
  1. Saat mencucinya, gunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik yang banyak dijual di pasaran
  2. Cuci  kain batik dengan shampo rambut. Sebelumnya, larutkan shampo dan  air sampai tak ada bagian yang mengental. Lalu, celupkan kain batik.
  3. Mencuci  batik juga bisa dengan menggunakan buah lerak atau daun tanaman dilem yang sudah direndam air hangat. Caranya remas – remas buah lerak atau daun  dilem sampai  mengeluarkan busa, lalu tambahkan  air secukupnya, dan siap untuk mencuci batik. Aroma buah lerak mampu untuk  mencegah munculnya hewan kecil yang bisa merusak kain.
  4. Saat mencuci batik, jangan pakai detergen dan jangan digosok. Jika batik tak terlalu kotor, cukup rendam di air hangat. Tapi jika benar- benar kotor, misalnya terkena noda makanan, bisa dihilangkan dengan sabun mandi atau kulit jeruk, caranya,  cukup dengan mengusapkan sabun mandi atau kulit jeruk di bagian yang kotor tadi.
  5. Sebaiknya jangan mencuci batik dengan mesin cuci.
  6. Saat akan menjemurnya, batik yang basah tak perlu diperas dan jangan menjemurnya langsung dibawah sinar matahari. jemurlah ditempat teduh atau diangin-anginkan hingga kering.
  7. Saat menjemurnya, tarik bagian tepi batik secara perlahan agar serat yang terlipat kembali ke posisi semula.
  8. Jika sudah dijemur, hindari menyetrika batik secara langsung. Jika batik tampak sangat kusut semprotkan sedikit air diatas kain batik lalu letakkan sehelai kain di atasnya, baru disetlika
  9. Bila anda ingin memberi pewangi  atau pelembut kain pada batik tulis, jangan semprotkan langsung pada kainnya sebaiknya, tutupi dulu  batik tulis dengan koran, lalu semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain tadi diatas Koran
  10. Jangan semprotkan  parfum atau minyak wangi langsung ke kain batik, terutama batik sutera dengan pewarna alami