“Aduh ASI saya tidak cukup, sepertinya sudah waktunya diberikan susu formula..”
Kalimat seperti ini sudah sering kita dengar. Bahkan tidak jarang
anjuran untuk memberikan susu formula datang dari tenaga kesehatan,
dengan alasan bahwa berat badan bayi sulit naik atau berada di bawah
garis normal. Sebetulnya, kapan bayi harus diberi susu formula?
Jawabannya: rekomendasi pemberian susu formula sebetulnya harus
diberikan mengikuti standar yang telah ditetapkan oleh WHO yang kemudian
diadaptasi oleh IDAI. Artikel berikut memuat kondisi-kondisi di mana
susu formula boleh atau bahkan harus diberikan kepada bayi sesuai dengan
panduan WHO dan IDAI mengenai panduan pemberian formula sebagai
pendukung atau pengganti ASI.
Dalam kondisi di luar yang ditentukan oleh WHO dan IDAI, sebetulnya
ASI harus tetap diberikan, 6 bulan secara eksklusif dan dilanjutkan
hingga usianya 2 tahun.
Dalam panduan WHO dan IDAI sebetulnya ada EMPAT kategori dimana
formula bisa diberikan (definisi “formula” menurut dokumen WHO adalah
infant feeding formula yang berupa susu dan non-susu).
Kategori PERTAMA yang didasarkan pada kondisi bayi dimana
bayi tidak boleh menerima ASI. Dalam kasus ini ada 3 jenis penyakit
dimana bayi tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi ASI.
- Bayi terkena maple syrup disease, yaitu sebuah
kelainan metabolisme dimana mereka tidak boleh mengkonsumsi susu atau
setidaknya harus menjalani low protein diet. Jenis "formula" yang
diberikan kepada mereka bukanlah susu, tetapi berupa "medical nutrition"
yg terdiri dari asam amino, karbo, lemak, vitamin, mineral dan
unsur-unsur lain seperti zat besi, Seleniun dan Chromium. Di
negara-negara Barat seperti Eropa dan AS, produsen susu formula untuk
bayi biasanya juga memproduksi produk-produk medical nutrition untuk
kasus-kasus medis seperti ini. Medical nutrition ini tidak dijual bebas,
harus diberikan dengan rekomendasi dokter anak, ahli gizi atau
dietician, dan metabolic doctor atau dokter spesialis metabolisme.
- Bayi yang terkena galactosemia, yaitu sejenis
penyakit kelainan genetis dimana mereka harus menghindari gula susu
(laktosa) yang ada dalam semua kategori susu yang dihasilkan mamalia,
termasuk manusia. Biasanya mereka akan diberikan formula susu soya
dengan formulasi khusus tanpa laktosa. Di Amerika Serikat, susu-susu
seperti ini bisa dibeli secara luas, tetapi porsi dan pemberiannya tetap
dengan saran dokter.
- Bayi dengan phenylketonuria. Phenylketonurian
adalah sebuah penyakit bawaan lahir yang mengakibatkan terjadinya
penumpukan asam amino yang disebut phenylalanine di dalam tubuh bayi.
Penyakit ini disebabkan oleh adanya proses mutasi gen dalam tubuh. Bayi
atau orng dewasa dengan Phenylketonuria harus menjalani diet yang dapat
mengurangi level phenylalanine dalam tubuhnya, dalam hal ini menjalani
diet rendah atau bahkan zero protein. Bayi dengan Phenylketonuria
membutuhkan formula khusu yang bebas phenylalanine. Namun demikian di
beberapa kasus, bayi dengan Phenylketonuria masih bisa mendapatkan ASI
dengan pengawasan khusus dari dokter.
.
Kategori KEDUA yang didasarkan pada kondisi bayi dimana bayi
tetap diberikan ASI tetapi harus mendapatkan suplementasi tambahan
karena kondisi khusus. Kondisi khusus ini antara lain:
- 1. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) di bawah
1500 gram atau bayi yang lahir di bawah usia 32 minggu/Bayi Kurang Bulan
(BKB)
Bayi kurang bulan memerlukan kalori, lemak dan protein lebih banyak
dari bayi cukup bulan agar dapat menyamai pertumbuhannya dalam
kandungan. ASI bayi prematur mengandung kalori, protein dan lemak lebih
tinggi dari ASI bayi matur, tetapi masalahnya adalah ASI prematur
berubah menjadi ASI matang setelah 3 -4 minggu. Jadi untuk BKB kurang
dari 34 minggu setelah 3 minggu kebutuhan tidak terpenuhi lagi. Volume
lambung BKB kecil dan motilitas saluran cerna lambat sehingga asupan ASI
tidak optimal. Untuk merangsang produksi ASI, diperlukan isapan yang
baik dan pengosongan payudara. Refleks mengisap bayi prematur kurang /
belum ada, akibatnya produksi ASI sangat tergantung pada kesanggupan ibu
memerah.
Beberapa penelitian klasik antara lain oleh Lucas dan Schanler telah
membuktikan manfaat ASI pada bayi prematur, akan mengurangi hari rawat,
menurunkan insidensi enterokolitis nekrotikans (EKN) dan menurunkan
kejadian sepsis lanjut, hal hal yang sangat bermakna untuk perawatan BKB
kecil di Indonesia. Sehingga perlu diusahakan memberi kolostrum (perah)
terutama pada perawatan bayi di hari hari pertama.
Untuk mengatasi masalah nutrisi selanjutnya, setelah ASI prematur
berubah menjadi ASI matang dianjurkan penambahan penguat ASI (HMF atau
human milk fortifier, saat ini belum tersedia secara meluas di
Indonesia). Penguat ASI adalah suatu produk komersial berisi
karbohidrat, protein dan mineral yang sangat dibutuhkan bayi kurang
bulan. HMF yang proteinnya berasal dari susu sapi, biasanya dicampurkan
dalam air susu ibu bayi sendiri . Bila tidak tersedia penguat ASI,
pemberian susu prematur dapat dibenarkan terutama untuk bayi prematur
yang lahir dengan usia kehamilan kurang dari 32 minggu atau berat lahir
kurang dari 1500 gram. Apabila terdapat alergi terhadap susu sapi
sebaiknya susu formula yang diberikan adalah susu formula yang telah
dihidrolisis sempurna. Schanler menemukan pemberian HMF pada ASI donor
kurang bermanfaat mungkin karena prosedur pemanasan yang harus dilalui.
Selanjutnya, bila bayi sudah stabil, susu prematur dapat diberikan
dengan Alat Bantu Laktasi (Lact Aid / Suplementer) untuk melatih bayi
belajar mengisap
- 2. Bayi yang lahir cukup bulan tetapi dengan pertimbangan berbagai resiko kesehatan, antara lain:
a) Bayi yang beresiko hipoglikemia
dengan gula darah yang tidak meningkat meskipun telah disusui dengan
baik tanpa jadwal atau diberi tambahan ASI perah. Resiko hipoglikemi
dapat terjadi pada bayi kecil untuk masa kehamilan, pasca stress iskemik
intrapartum, dan bayi dari ibu dengan diabetes mellitus terutama yang
tidak terkontrol. Tata laksana yang dianjurkan adalah:
- segera setelah lahir bayi disusui tanpa jadwal, dan jaga
kontak kulit dengan ibu agar tidak hipotermi (untuk mengatasi
hipotermi bayi memerlukan banyak energi)
- gula darah plasma hanya diukur bila ada risiko atau ada
gejala hipoglikemia dan sebaiknya diukur sebelum minum / umur bayi 4-6
jam
- dibenarkan memberi suplemen ASI perah atau susu formula bila
gula darah < 2.6 mmol (40 mg/dl) dan diulang 1 jam setelah minum
ASI. mencukupi, penambahan susu formula dikurangi dan akhirnya
dihentikan.
- bila gula darah tetap tidak meningkat ikuti tata laksana penanganan hipoglikemi sesuai panduan rumah sakit.
b) Bayi yang secara klinis menunjukkan gejala dehidrasi
(turgor/ tonus kurang, frekuensi urin < 4x setelah hari ke-2, buang
air besar lambat keluar atau masih berupa mekonium setelah umur bayi
> 5 hari).
c) Hiperbilirubinemia pada hari-hari pertama,
bila diduga produksi ASI belum banyak atau bayi belum bisa menyusu
efektif. Dalam kategori ini secara spesifik diarahkan pada diagnosa
Kuning karena ASI
(breastmilk jaundice), bila bilirubin melebihi 20 – 25 mg/dL pada bayi
sehat. Anjuran untuk membantu diagnosis dengan menghentikan ASI 1-2 hari
sambil sementara diberi susu formula. Bila bilirubin terbukti menurun,
ASI dimulai kembali.
d) Kondisi Lain-lain: bayi terpisah
dari ibu, bayi dengan kelainan kongenital yang sukar menyusu langsung
(sumbing, kelainan genetik). Dapat kita simpulkan, bahwa pada
kasus-kasus di atas suplemen susu formula hanya diberikan sampai masalah
teratasi sambil bayi terus disusui. Setelah itu ibu dan bayinya harus
dibantu dan didukung agar bayi tetap mendapat ASI eksklusif.
Catatan:
- Pengganti ASI diberikan memakai sendok, cangkir ataupun
selang orogastrik. Sementara itu ibu dianjurkan sering-sering
menyusui dan memerah payudara (4-5x sehari).
- Pemeriksaan kadar gula darah jam-jam pertama kelahiran tidak diperlukan pada bayi cukup bulan sehat.
- Resiko tinggi hipoglikemia atau rendah gula darah. Dalam
kategori ini termasuk bayi yang ibunya mengalami diabetes apabila
hasil tes darahnya gagal menunjukkan hasil yang positif setelah
mengkonsumsi ASI saja.
Kategori KETIGA adalah bayi yang tidak dapat menyusu karena kondisi kesehatan ibu. Dalam berbagai kondisi kesesehatan ibu, ada yang sama sekali tidak direkomendasikan untuk menyusui.
Yang termasuk dalam kategori ini adalah:
- 1. Ibu dengan HIV positif yang tidak direkomendasikan menyusui
(ibu dengan HIV AIDS boleh menyusui dengan syarat dan ketentuan yang
ketat, kalau tidak memenuhi syarat dan ketentuan ini biasanya tidak
dianjurkan untuk menyusui). Rekomendasi dari WHO (November 2009) untuk
ibu HIV positif:
- Tidak menyusui sama sekali bila -- pengadaan susu formula
dapat diterima, mungkin dilaksanakan, terbeli, berkesinambungan
dan aman (AFASS acceptable, feasible, affordable, sustainable dan
safe)
- Bila ibu dan bayi dapat diberikan obat-obat ARV (Anti
Retroviral) dianjurkan menyusui eksklusif sampai bayi berumur 6
bulan dan dilanjutkan menyusui sampai umur bayi 1 tahun bersama dengan
tambahan makanan pendamping ASI yang aman.
- Bila ibu dan bayi tidak mendapat ARV, rekomendasi WHO tahun
1996 berlaku yaitu ASI eksklusif yang harus diperah dan dihangatkan
sampai usia bayi 6 bulan dilanjutkan dengan susu formula dan makanan
pendamping ASI yang aman.
- 2. Ibu penderita HTLV (Human
T-lymphotropic Virus) tipe 1 dan 2 Virus ini juga menular melalui ASI.
Virus tersebut dihubungkan dengan beberapa keganasan dan gangguan
neurologis setelah bayi dewasa. Bila ibu terbukti positif, dan syarat
AFASS dipenuhi, tidak dianjurkan memberi ASI.
- 3. Ibu penderita CMV (citomegalovirus) yang melahirkan bayi prematur juga tidak dapat memberikan ASInya.
- 4. Untuk kategori penyakit ibu seperti Hepatitis B atau TBC,
sebetulnya ibu tetap bisa menyusui dengan catatan khusus. Untuk
Hepatitis B, ibu bisa tetap menyusui selama bayi mendapatkan imunisasi
Hepatitis B dalam waktu 48 jam setelah kelahiran. Untuk ibu dengan TBC,
baik ibu dan bayi harus berada dalam penanganan dokter dan menjalani
protocol penanaganan dan pencegahan TBC sesuai protocol yang berlaku di
suatu Negara.
Kategori KEEMPAT adalah kategori ibu yang dengan indikasi tertentu untuk SEMENTARA tidak boleh menyusui
Pada ibu perlu dijelaskan bahwa penghentian menyusui hanya sementara
dan ibu dapat melanjutkan menyusui bayinya kembali sesuai dengan
perkembangan kesehatannya. Selain itu, petugas kesehatan harus dapat
memberi informasi cara mempertahankan produksi ASI dan bila perlu
rujuklah pada konsultan atau klinik laktasi.
- Ibu sakit berat sehingga tidak bisa merawat bayinya misalnya psikosis, sepsis, atau eklampsia
- Ibu yang sedang menjalani terapi radiasi untuk kanker
- Virus herpes simplex type 1 (HSV-1): kontak langsung mulut bayi
dengan luka di dada ibu harus dihindari sampai pengobatannya
tuntas
- Pengobatan ibu: psikoterapi jenis penenang, anti epilepsy
Ada juga pertimbangan memberi susu formula pada beberapa kondisi kesehatan ibu yang lain:
- Ibu yang merokok, peminum alkohol, pengguna ekstasi,
amfetamin dan kokain dapat dipertimbangkan untuk diberi susu formula,
kecuali ibu menghentikan kebiasaannya selama menyusui.
- Beberapa situasi lain dimana dibenarkan untuk memberi susu formula :
- Laktogenesis memang terganggu, misalnya karena ada sisa
plasenta (hormon prolaktin terhambat), sindrom Sheehan (perdarahan
pasca melahirkan hebat dengan komplikasi nekrosis hipothalamus)
- Insufisiensi kelenjar mammae primer: dicurigai bila payudara
tidak membesar tiap menstruasi / ketika hamil dan produksi ASI
memang minimal.
- Pasca operasi payudara yang merusak kelenjar atau saluran ASI
- Rasa sakit yang hebat ketika menyusui yang tidak teratasi oleh
intervensi seperti perbaikan pelekatan, kompres hangat maupun obat.
Tetapi kemudian harus segera ditindaklanjuti penyebab rasa
sakitnya seperti misalnya pada kasus bayi dengan tongue tie
Disarikan dari:
- “Acceptable medical reasons for use of breast-milk substitutes” dalam http://www.who.int/maternal_child_adolescent/documents/WHO_FCH_CAH_09.01/en/
- “Pemberian Susu Formula pada Bayi Baru Lahir” dalam; http://www.idai.or.id/asi/artikel.asp?q=2012614114014