Friday, June 21, 2013

Autis



Apakah yang dimaksud dengan autis atau autisme ? 
Autis atau autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang gejalanya muncul sebelum anak berumur 3 tahun. Pengertian pervasif adalah sifat atau keadaan gangguan yang sangat luas dan berat yang berpengaruh secara mendalam pada seseorang. Gangguan perkembangan yang terjadi mencakup bidang interaksi sosial, komunikasi, perilaku, emosi dan persepsi sensoris seorang anak.  Gejala yang terjadi pada anak menunjukkan spektrum yang luas dari mulai yang ringan (mirip autis) sampai autisme ‘klasik’ yang berat. Di kalangan ahli kesehatan jiwa, autisme dikenal dengan istilah Autistic Spectrum Disorders (ASD).

Apa yang menyebabkan seorang anak menjadi autis ? 
Ini adalah pertanyaan yang sampai sekarang belum terjawab dengan tuntas. Banyak pandangan atau hipotesa yang dikemukakan pada ahli yang bertentangan satu dengan lainnya.  Ada yang mengaitkan dengan alergi makanan tertentu, gangguan saluran pencernaan akibat infeksi jamur (candida), imunisasi (khususnya vaksin MMR, tapi sudah ada penjelasan resmi baik dari AAP dan IDAI, hubungan tsb tidak terbukti), polusi dan keracunan logam berat (seperti merkuri). Boleh dikata banyak hal kontroversial yang timbul ketika para ahli berdebat tentang penyebab autisme Tapi secara umum yang disepakati : penyebab autisme adalah multifaktor meliputi penyebab genetik/ biologik dan  faktor lingkungan (polutan/bahan beracun di lingkungan). Yang juga menjadi perhatian adalah mengapa kejadian autisme pada anak belakangan ini lebih banyak ditemukan, inipun masih menjadi pertanyaan para ahli.

Lalu apa gejala anak autis ?
Gejala autis pada anak mulai tampak sebelum anak usia 3 tahun yang mencakup bidang komunikasi, interaksi sosial, perilaku/perasaan (emosional) dan persepsi sensoris. Gejala di semua bidang tadi akan ditemukan pada yang autisme yang klasik Masalahnya di lapangan kita banyak menemukan variasi gejala autis atau dengan kata lain gejala autisme merupakan gejala dengan  spektrum yang luas. Penjelasan lebih lanjut akan diberikan per bidang gangguan.

Gangguan dalam bidang komunikasi apakah yang dialami anak autis ?
Gangguan dalam bidang komunikasi baik verbal maupun non verbal antara lain :
  • Keterlambatan bicara atau tidak dapat bicara.
  • Mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti orang lain (‘bahasa planet’).
  • Tidak mengerti dan tidak menggunakan kata-kata sesuai konteksnya.
  • Bicara tidak digunakan untuk komunikasi.
  • Meniru atau membeo (ekolalia) : anak pandai meniru nyanyian, nada, jinggle iklan maupun kata-kata tertentu tanpa mengenal artinya.
  • Kadang bicaranya monoton seperti robot.
  • Mimiknya datar ketika berkomunikasi dengan orang lain.

Apa gejala gangguan di bidang interaksi sosial ?
Gangguan dalam bidang interaksi sosial antara lain :
  • Menolak atau menghindar untuk bertatap mata.
  • Ketika dipanggil atau disapa tidak menoleh (acapkali dikira tuli).
  • Merasa tidak senang atau menolak bila dipeluk.
  • Tidak ada usaha untuk berinteraksi dengan orang lain.
  • Bila menginginkan sesuatu, anak menarik/menuntun tangan orang terdekat dan mengharapkan orang tersebut melakukan sesuatu untuknya.
  • Bila didekati untuk diajak bermain menolak dan menjauh.
  • Tidak dapat berbagi kesenangan dengan orang lain.

Apa gejala gangguan dalam bidang perilaku atau bermain ?
Gejala dalam bidang perilaku atau bermain antara lain :
  • Umumnya anak tidak mengerti cara bermain. Pola bermainnya sangat monoton dan streotipik. Misal : anak hanya senang dengan main mobil-mobilan saja, walau sudah diberikan mainan lain. Memainkan mobil mainannya terlihat ‘aneh’ karena anak bisa berjam-jam memutar ban mobil-mainannya itu. Kesukaan pada benda yang berputar seperti roda adalah yang khas pada anak autis. Selain itu anak kadang memiliki kedekatan dengan benda tertentu seperti tali, kartu, karet dsb yang dibawanya kemana-mana.
  • Anak juga senang memperhatikan jari-jarinya sendiri, kipas angin yang berputar, air yang bergerak dsb.
  • Perilaku anak yang ‘ritualistik’, misal : kalau bepergian harus melalui jalan atau rute    yang  sama, menaruh mainan atau sepatu selalu di tempat yang sama dengan posisi yang selalu sama.
  • Anak berjalan dengan menjinjit atau senang berputar-putar sambil ‘mengepakkan’ tangannya.
  • Anak dapat tampak hiperaktif : tidak bisa diam, berlarian kesana kemari, memukul-mukul pintu atau meja, mengulang-ulang gerakan tertentu sampai pada perilaku yang membahayakan dirinya sendiri seperti memukul kepala atau membenturkan kepalanya ke dinding (head banging).
  • Kadang anak autis dapat juga menjadi terlalu diam. Misal : duduk diam bengong dengan tatap mata kosong atau duduk diam memperhatikan sesuatu misal bayangan atau benda yang berputar.


Apa  gejala gangguan dalam  bidang perasaan atau emosi ?
Gejala dalam bidang perasaan atau emosi antara lain :
  • Tidak ada atau kurang rasa empati. Misal : melihat anak lain menangis tidak merasa iba, malah merasa terganggu dan anak yang menangis akan didatangi dan dipukul.
  • Anak tertawa sendiri, menangis atau marah-marah tanpa sebab jelas.
  • Sering mengamuk bila keinginanannya tidak terpenuhi (tamper tantrum), anak bisa menjadi agresif dan merusak benda di sekitarnya. 

Apa gejala gangguan dalam bidang persepsi sensoris ?
Gejala dalam bidang persepsi sensoris antara lain :
  • Mencium-cium, menggigit atau menjilat mainan atau benda apa saja. 
  • Bila mendengar suara keras atau suara tertentu (misal : suara mixer, mesin cuci, hair drier dsb) langsung menutup telinga, berteriak sampai menangis ketakutan. 
  • Tidak menyukai gendongan, pelukan atau belaian. Bila digendong cenderung merosot untuk melepaskan diri. 
  • Merasa sangat tidak nyaman bila menggunakan pakaian dari bahan tertentu, sehingga anak senangnya dengan baju dengan bahan yang itu-itu saja. 

Bagaimana mengenali autisme secara dini ?
Pengenalan secara dini dimaksudkan untuk menghindari keterlambatan orang tua mengenali gejala autis pada anaknya. Keterlambatan orang tua membawa ke dokter mengakibatkan terapi pada anaknya terlambat pula. Sementara terapi sedini mungkin adalah salah satu faktor yang menentukan keberhasilan terapi.
Kalangan ahli memberikan tips untuk mengenali autisme secara dini.   Salah satu tips itu adalah  anak dicurigai sebagai autis bila ditemukan keadaan sbb :
  • Tidak menunjukkan babbling (mengoceh pada bayi) dan mimik yang baik pada umur 12 bulan,
  • Tidak ada perbendaharaan kata pada umur 16 bulan.
  • Tidak ada 2 kata spontan pada umur 2 tahun
  • Kehilangan kemampuan bicara serta interaksi sosial pada semua umur. 
Bila mendapatkan keadaan tadi, maka anak harus dipikirkan kemungkinan autis atau oleh sebab yang lain.
   Selain tips tadi, pengamatan dini sejak masih bayi membantu orang tua mengenali  anak dengan kecurigaan autis.
Pada bayi baru lahir sampai usia 6 bulan, tanda tanda awal autisme antara lain :
  • Anak yang terlalu tenang (‘anteng’).
  • Keadaan sebaliknya : anak mudah terangsang (irritable), banyak menangis terutama waktu malam dan susah ditenangkan.
  • Anak jarang menyodorkan ke dua lengan untuk minta diangkat/digendong.
  • Jarang mengoceh dan jarang menunjukkan senyum sosial.
  • Jarang menunjukkan kontak mata.
Pada usia setelah 6 bulan, tanda awal autis antara lain :
  • Tidak mau dipeluk atau menjadi tegang ketika diangkat,
  • ‘Cuek’ terhadap kedua orang tuanya (misal : ditinggal orang tuanya tidak menangis atau ketika  si ibu menjumpainya, tak  ada respon kegembiraan).
  • Tidak mau main ‘ciluk ba’ atau ‘kiss bye’,
  • Sangat tertarik pada tangannya.
  • Anak menolak makanan keras atau tidak mau mengunyah.

Bagaimana seorang dokter mendiagnosis autis pada seorang anak ?
Diagnosis autis tidak dapat ditegakkan dalam 1 kali pertemuan tetapi harus melalui observasi berulang dan kerjasama dengan orang tua. Dokter setelah mendapatkan keterangan dari orang tua akan melakukan serangkaian pemeriksaan seperti mengecek apakah ada ketulian pada anak jika keluhannya anak belum bisa bicara, kalau perlu dilakukan pemeriksaan BERA. Bila gejala autisnya khas, maka dokter akan melakukan berbagai  skrining khusus dengan  berbagai perangkat skrining yang ada seperti Pervasive Development Disorders Screening Test (PDDST), Child Behavior Checklist,  Checklist for Autism  in Toddler (CHAT) dsb. Perangkat skrining berisikan daftar pertanyaan atau pengecekan yang harus diisi oleh orang tua dan juga pengamatan dokter yang memeriksa. Hasil skrining selanjutnya akan dianalisa lebih lanjut untuk menentukan diagnosis dan langkah pengobatannya. Diagnosis akhir autisme idealnya diputuskan oleh sebuah tim yang terdiri dari dokter anak, psikiater anak, ahli saraf anak, psikolog anak dll.

Setelah anak didiagnosis sebagai autisme, bagaimana penanganan atau pengobatan selanjutnya ?
Penanganan anak autis adalah kerja panjang dan sangat mungkin perlu penanganan seumur hidup. Dibutuhkan kerjasama antara orang tua dengan berbagai pihak, misal dokter anak, psikiater anak, ahli terapi wicara/modifikasi perilaku, guru dsb.
   Obat-obatan dibutuhkan bila anak autis berperilaku mengganggu dan merusak sehingga menimbulkan stress tersendiri bagi lingkungannya (orang tua, guru, saudara kandung, pengasuh dan terapisnya). Obat-obatan yang sering dipakai antara lain : golongan Haloperidol (Haldol), Risperidone (Risperdal) dan Thioridazine (Melleril).
   Penanganan anak autis selanjutnya lebih kepada non obat-obatan (non medikamentosa) yaitu intervensi edukasi, perilaku dan sosial. Banyak metode terapi pada autisme yang digunakan semisal terapi ABA (Applied Behavior Analysis) atau dikenal sebagai metode Loopas. Metode ini diakui sebagai metode yang terstruktur, terarah dan terukur. Terapis pada metode ini menjalankan  proses pengajaran dengan pemberian stimulus (instruksi), respon individu (perilaku) dan konsekuensi (akibat perilaku). Keberhasilan terapi ini tergantung pada usia saat terapi dilakukan, kecerdasan anak dan intensitas dari terapi. Menurut Loovas sebagai penemu metode ini, yang terbaik usia sekitar 2-5 tahun dan intensitas terapi sekitar 40 jam per minggu.
   Selain metode ABA tadi, anak autis membutuhkan intervensi terapi lain seperti terapi wicara, terapi okupasi/fisik, terapi sensori integrasi, metode floor time, Auditory Integration Training (AIT) dll. Belakangan juga diketahui dengan pengaturan diet, seperti tidak mengkonsumsi susu sapi dan gluten atau tepung terigu  (dikenal sebagai diet bebas casein dan gluten) maka anak autis akan lebih tenang, lebih responsif dan tidur lebih nyenyak.
   Terakhir yang tak kalah pentingnya adalah intervensi keluarga sebagai lingkungan terdekat yang sehari-hari anak jumpai dan berinteraksi. Dokter anak atau psikiater anak bertugas memberikan penjelasan selengkap mungkin terhadap keluarga. Dengan penjelasan tersebut keluarga diharapkan akan siap mental walau pada awalnya akan terjadi reaksi shock dan penolakan.

Bagaimana sikap keluarga dalam menghadapi anak autis ?
Keluarga disini dapat berupa keluarga inti seperti ayah/ibu dan saudara kandungnya, tapi bisa juga keluarga lain yang mempunyai pengaruh pada pengasuhan anak seperti paman/bibi, kakek/nenek atau pengasuh anak yang sudah dianggap anggota keluarga.
Orang tua atau keluarga pada saatnya harus menerima keadaan pasien, walau pada awalnya shock bahkan timbul reaksi penolakan (yang membuat orang tua mencari second opinion pada ahli yang lain). Keluarga harus terbuka dan menerima segala kekurangan anak tapi di sisi lain harus mengetahui kelebihan sang anak yang dapat membantu pendekatan terapi. Jadi sebelum serangkaian terapi dilakukan, di dalam keluarga sendiri sudah ada kesepahaman bagaimana anak autis harus ditangani, hindari pertentangan antara ayah atau ibu. Misal ayah menghendaki pengobatan alternatif saja sementara ibu menghendaki anak  diterapi di klinik perkembangan anak.
   Sesungguhnya orang tua sendiri dapat berperan sebagai terapis setelah mendapat penjelasan dari ahlinya karena orang tua lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan anak. Terapis di sebuah RS atau klinik lebih sebagai fasilitator dan pemberi contoh bagaimana metode terapi dilakukan.
   Program terapi autis pada anak yang dilakukan secara terpadu membutuhkan kemitraan atau kerjasama antara orang tua dengan para ahli (dokter anak, psikiater, terapis dll).
   Selain dari itu, orang tua atau keluarga harus menyiapkan lingkungan si anak baik di rumah dan sekolah untuk menerima keberadaan anak yang autis. Teman-teman sebaya anaknya diingatkan untuk tidak mengolok-olok atau ibu-ibu lain tidak mencibir atau melabel anak autis sebagai anak yang ‘aneh’, badung atau eksentrik.
Orang tua memang pada awalnya akan menjadi sorotan tetangga atau keluarga besarnya dan selalu harus siap dengan aneka pertanyaan : mengapa anaknya kok begini, kok begitu, kok ‘aneh’ dsb. Bila dinilai lingkungan sekolah umum tidak kondusif untuk sang anak, maka orang tua sebaiknya mencari sekolah khusus untuk anaknya yang autis. Jelaslah disini bahwa peran orang tua atau keluarga sangat menentukan keberhasilan penanganan anak autis.

Apakah anak autis setelah diterapi akan kembali seperti anak yang ‘normal’ ?
Berhasil tidaknya terapi tergantung pada berat-ringannya gejala autis pada anak,  kecerdasan anak, pilihan terapinya, saat dimulainya terapi dan intensitas terapinya sendiri.  Yang juga harus diingat orang tua : keberhasilan terapi  membutuhkan kerjasama dan memakan waktu yang relatif lama.
   Beberapa penelitian menunjukkan hasil  terapi autis yang cukup memuaskan. Keberhasilan terapi ditandai dengan anak autis setelah menjalani serangkaian terapi dapat belajar di  sekolah umum (TK atau SD), tapi sebagian lagi anak harus belajar di sekolah khusus dan sekolah tunagrahita.
   Pada anak yang autisme berat, dapat saja tidak bisa seperti individu normal lainnya, tapi paling tidak dengan manajemen terapi yang terpadu, perilaku anak menjadi lebih terkendali, mempunyai kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi  dengan orang lain walau minimal. Pada anak autis yang kecerdasannya lumayan dan tumbuh dewasa dengan kepribadian autistik hendaknya mencari pekerjaaan atau menekuni profesi yang sesuai misal menjadi peneliti di laboratorium, penyunting naskah, desain komputer, analis keuangan dsb. Pekerjaan-pekerjaan tadi jarang berinteraksi langsung dengan orang lain dan membuatnya asyik berjam-jam tanpa membuatnya bosan.

Terakhir, apa yang harusnya orang tua penderita autis selalu ingat ?
  • Anak autis bagaimanapun adalah individu yang dapat bertumbuh dan berkembang sebagaimana layaknya  anak yang lain, hanya saja butuh penyesuaian dan kondisi yang khusus untuk itu.
  • Membesarkan anak autis butuh kesabaran dan ketelatenan orang tua maupun keluarga karena membutuhkan terapi yang lama dan komprehensif.
  • Setiap anak autis membutuhkan terapi yang menyeluruh dan terpadu. Terapi ini melibatkan banyak ahli dari berbagai disiplin ilmu.
  • Setiap anak autis adalah individu yang unik yang berbeda dengan anak yang lain, sehingga pilihan terapi yang diberikan sesuai dengan kondisi masing-masing.
  • Dukungan keluarga sangat dibutuhkan untuk mendukung keberhasilan terapi. Berikan sedini mungkin terapi autisme, jangan menunda  terapi. Terapi dini memungkinkan anak dapat menerima terapi yang sesuai dan seadekwat mungkin yang pada akhirnya memungkinkan anak berkembang secara optimal.
  • Tidak ada kata terlambat, lebih baik terlambat daripada tidak diterapi sama sekali.

sumber: Room for Children

Vaksin Bebas Trimerosal

Berikut ini adalah jenis vaksin-vaksin yang Bebas Thimerosal yang diedarkan oleh US CDC (United States Center for Disease Control and Prevention)
1. DTaP, yang diproduksi oleh:
  • Infanrix (GlaxoSmithKline Biologicals) : Bebas Thimerosal
  • Daptacel (Sanofi Pasteur, Ltd.) : Bebas Thimerosal
  • Tripedia dan Tripacel (Sanofi Pasteur, Inc.) : Trace (≤0.3 µg Hg/0.5mL dose)
2. DTaP-HepB-IPV :
  • Pediarix (GlaxoSmithKline Biologicals): Bebas Thimerosal
3. DTaP-IPV/Hib :
  • Pediacel (sanofi pasteur Ltd.) : Bebas Thimerosal
4. DTaP-IPV :
  • KINRIX (Glaxo SmithKline Biologicals) : Bebas Thimerosal
5. Pneumococcal conjugate:
  • Prevnar (Wyeth Pharmaceuticals Inc.) : Bebas Thimerosal
  • Prevnar 13 (Wyeth Pharmaceuticals Inc.) : Bebas Thimerosal
  • Pneumovax 23 (Merck & Co, Inc.) : Bebas Thimerosal
  • Pneumo 23 (Sanofi Pasteur, SA): Bebas Thimerosal
6. Inactivated Poliovirus:
  • Imovax POLIO  (Sanofi Pasteur, SA): Bebas Thimerosal
7. Varicella (chicken pox):
  • Okavax (Sanofi Pasteur, SA) : Bebas Thimerosal
  • Varivax (Merck & Co, Inc.) : Bebas Thimerosal
8. Mumps, measles, and rubella:
  • M-M-R-II (Merck & Co, Inc.) : Bebas Thimerosal
  • Trimovax (Sanofi Pasteur, SA) : Bebas Thimerosal
9. Mumps, measles, rubella and varicella :
  • ProQuad (Merck & Co., Inc.) : Bebas Thimerosal
10. Heptatitis A :
  • Havrix (GlaxoSmithKline Biologicals) : Bebas Thimerosal
  • Vaqta (Merck & Co., Inc.) : Bebas Thimerosal
  • Avaxim (Sanofi Pasteur,SA) : Bebas Thimerosal
11. Hepatitis B :
  • Recombivax HB (Merck & Co, Inc.) : Bebas Thimerosal
  • Engerix B (GlaxoSmithKline Biologicals) : Bebas Thimerosal
  • Euvax B (LG Life Science) : Trace Amount (?)
12. HepA/HepB :
  • Twinrix,(GlaxoSmithKline Biologicals) : Bebas Thimerosal
13. Haemophilus influenzae type b conjugate (Hib):
  • ActHIB, Tetract-Hib, Tetraxim (Sanofi Pasteur, SA): Bebas Thimerosal
  • OmniHIB(GlaxoSmithKline) : Bebas Thimerosal
  • PedvaxHIB (Merck & Co, Inc.) : Bebas Thimerosal
  • HIBERIX (GlaxoSmithKline Biologicals) : Bebas Thimerosal
14. Hib/Hepatitis B combination :
  • Comvax (Merck & Co, Inc.) : Bebas Thimerosal
15. Seasonal Trivalent Influenza Vaccines :
  • Fluzone (single-dose presentation) (Sanofi Pasteur, Inc.)3:Bebas Thimerosal
  • Fluzone (multi-dose presentation) (Sanofi Pasteur, Inc.) : Mengandung Thimerosal  –> 0.01% (12.5 µg/0.25 mL dose, 25 µg/0.5 mL dose)2
  • Fluvirin (multi-dose presentation) (Novartis Vaccines and Diagnostics Ltd.) : Mengandung Thimerosal –>( 0.01% (25 µg/0.5 mL dose)
  • Fluvirin (single dose presentation) (Novartis Vaccines and Diagnostics Ltd.) (Preservative Free) : Mengandung Thimerosal –> Trace (<1ug Hg/0.5mL dose)
  • Fluarix (single-dose presentation) (GlaxoSmithKline Biologicals) :Bebas Thimerosal
  • Agripal (single dose presentation) (Novartis Vaccines and Diagnostics Ltd.) : Bebas Thimerosal
  • Fluad (single-dose presentation) (GlaxoSmithKline Biologicals) :Bebas Thimerosal
  • Vaxigrip (single-dose presentation) (Sanofi Pasteur, Inc.) :Bebas Thimerosal
16. Seasonal Influenza, live :
  • FluMist(MedImmune Vaccines, Inc.) : Bebas Thimerosal
17. Rotavirus :
  • RotaTeq (Merck and Co., Inc.) :Bebas Thimerosal
  • Rotarix (GlaxoSmithKline Biologicals) : Bebas Thimerosal
18. Japanese Encephalitis :
  • IXIARO (Intercell AG) : Bebas Thimerosal
19. Meningococcal :
  • Menomune A, C, AC and A/C/Y (Sanofi Pasteur, Inc.) : Mengandung Thimerosal –> 0.01% (multidose) dan 0% (single dose)
  • Menactra A, C, Y and W-135  (Sanofi Pasteur, Inc.) : Bebas Thimerosal
  • Menveo (Novartis Vaccines and Diagnostics Inc.) : Bebas Thimerosal
20. Rabies :
  • IMOVAX Rabies (Sanofi Pasteur, Inc.) : Bebas Thimerosal
  • Rabavert (Novartis Vaccines and Diagnostics) : Bebas Thimerosal
21. Typhoid Fever :
  • Typhim Vi (Sanofi Pasteur, Inc.) : Bebas Thimerosal
  • Vivotif (Berna Biotech, Ltd.) : Bebas Thimerosal
22. Yellow Fever :
  • Stamaril (Sanofi Pasteur, Inc.) : Bebas Thimerosal
  • Y-F-Vax (Sanofi Pasteur, Inc.) : Bebas Thimerosal
23. Zoster Vaccine Live :
  • Zostravax (Merck & Co., Inc.) : Bebas Thimerosal

sumber: selukbelukvaksin.com 

Wednesday, June 5, 2013

Farewell w/ Science G-1 SMA GIBS

Mrs. Wahyu feat Hana sang Captain, Maharani, Opik, Wulan, Lia, Nina, Afifah, Septi, Medina, Aufa, Astri, Alfatun, Amanda, Eka, Ariska, Rizki, salam buat Een yg lagi olimpiade \(^_^)/
See you on 3rd Semester #eaaaaa
Pose suka-suka
Balikin kamera P'Taqy yak hehehe
Pose resmi; seperti foto kawinan :D
Sarangheo, bagus deh kalo dicaption unyu-unyu gitu :D

Monday, June 3, 2013

JENIS - JENIS CLOTH DIAPER (CLODI)

Cloth Diaper ada berbagai jenis, di bawah ini adalah adalah macam2 cloth diaper dan perangkatnya :
1. AIO – All-In-One diaper:  Diaper jenis ini tidak perlu menggunakan lapisan penyerap/absorbent material tambahan. Lapisan penyerapnya dijahit menyatu pada diaper. Jenis ini yang paling menyerupai disposable diaper karena merupakan one-piece diapering system. Perbedaannya hanya, diaper ini bisa dipakai ulang. Kelebihannya adalah, karena one-piece maka sifatnya praktis dan mudah digunakan. Kita tak harus membawa-bawa kain penyerap terpisah bila bepergian. Kekurangannya adalah, lebih lama kering bila dijemur karena punya lapisan penyerap yang tebal. Kekurangan lainnya lebih sulit dibersihkan dibandingkan cloth diaper jenis lain. Variasi lebih lanjut dari AIO adalah AI2.
2. AI2 – All-In-Two:  Material penyerap tidak dijahit menyatu dengan diaper. Bahan penyerapnya adalah satuan, terpisah dan tidak menempel pada diaper. Penggunaannya dilampirkan di atas diaper. Jenis ini agak serupa juga dengan Pocket Diaper yang merupakan two-piece diapering system. Perbedaannya adalah, dalam diaper jenis Pocket, bahan penyerap dimasukkan ke dalam pocket/ kantong, sedangkan dalam AI2 bahan penyerap hanya disampirkan saja ke atas diaper. Kelebihannya: lebih cepat kering dibandingkan dengan AIO. Kekurangannya tentu saja agak kurang praktis dibanding AIO karena mesti membawa lapisan penyerap terpisah.
3. Pocket Diapers:  Popok dengan system kantong ini hampir serupa dengan AIO atau AI2. Lapisan luar (outer) terbuat dari bahan yang waterproof dan lapisan dalam (inner) terbuat stay-dry material seperti microfleece atau suede. Perekatnya bisa berupa snap/kancing atau Velcro (klo kubilang kreketan). Perbedaannya, clodi jenis ini mempunyai pocket/ kantong untuk memasukkan doubler/insert pada saat popok digunakan, dan insertnya bisa dikeluarkan pada saat pencucian. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa sistem pocket ini merupakan terobosan paling inovatif dalam dunia per-clodi-an. Saat ini, pocket diaper nampaknya jadi pilihan yang paling popular di antara clodi jenis lain. Kelebihannya: bahan pengisi pocket bisa ditentukan sesuai keinginan, lebih mudah dicuci dibanding AIO karena insert bisa dipisahkan, kelihatan trim/ramping bila dipakai bila tidak terlalu banyak insert yang dimasukkan. Kekurangannya: membutuhkan insert sehingga tidak sepraktis AIO, dapat kelihatan bulky/gembung bila terlalu banyak insert yang dimasukkan.
4. Fitted Diapers: Fitted diapers bentuknya agak serupa dengan disposable diapers. Bentuknya sudah jadi, sehingga tidak melipat-lipat dulu spt prefold diaper. Model ini dilengkapi dengan bagian elastic pada bagian belakang dan lingkar paha (tidak seperti Contour Diaper yang tanpa bagian elastik). Pemakaiannya mesti memakai diaper cover di luar karena tidak waterproof. Selain itu juga direkatkan dengan Velcro dan kancing. Fitted diapers bisa dikatakan bentuk lebih lanjut dari pre-fold diaper tapi lebih ringkas penggunaannya karena bentuknya sudah jadi.
5. Flats– one-layer :  Popok kain biasa yang lazim digunakan di Indonesia. Biasa dipakai untuk newborn baby.  
6. Pre-folds:  Kain berbentuk persegi--bisa terbuat dari bermacam bahan yang adem dan menyerap-- yang dilipat-lipat menyerupai popok. Bedanya dari flat diaper, prefold adalah multiple layer diapers dengan layer/lapisan yang lebih tebal di bagian tengah untuk menyerap pipis. Ketebalan layer/lapisan tergantung dari banyaknya lipatan atau tergantung dari seberapa lebar kain yang digunakan. Pre-folds 4×8x4 berarti terdiri dari 4 lapisan di kedua sisi, dan 8 lapisan di tengah. Dibutuhkan peniti untuk memasangnya. Kelebihan flats dan prefold adalah: ekonomis karena termurah dibanding popok kain jenis lain, mudah dibersihkan, dan cepat kering karena tipis. Kain persegi ini juga bisa difungsikan sebagai lapisan penyerap tambahan (soaker) atau sebagai bahan pengisi pada popok jenis pocket (pocket stuffer). Kekurangannya: kurang praktis karena harus melipat-lipat dahulu dan harus memakai peniti. Mudah tembus, karenanya dibutuhkan diaper cover yang bersifat water-proof.
7. Diaper Cover:  Pembungkus popok yang berfungsi sebagai lapisan luar yang anti tembus/water-proof. Bisa terbuat dari bermacam bahan seperti polyester, Polyurethane Laminate (PUL), waterproof nylon, fleece atau wool. Perekat cover ini bisa berupa kancing, kreketan atau berbentuk celana pull-up.
8. Doubler: adalah lapisan penyerap tambahanan untuk memperbesar daya tampung diaper saat diperlukan perlindungan ekstra. Misalnya pada saat malam hari..
9. Soaker:  Istilah soaker dapat merujuk pada 2 hal. Pertama, ia dapat berarti lapisan penyerap di bagian tengah diaper. Soaker dapat dijahit ke dalam diaper (seperti pada AIO), dapat dijahit separuh hingga membentuk flap (eg. celana berlidah ), dapat sebagai insert/bahan isian pocket diaper, atau dapat diletakkan begitu saja dalam diaper. Pengertian yang kedua, soaker dapat menunjuk kepada diaper cover berbahan wool.
10. Liner:  Adalah lapisan tipis dari kain atau kertas yang ditempatkan ke dalam diaper untuk mempermudah pembersihan diaper bila terkena poo. Poo yang menempel pada liner dari kertas bisa langsung dibuang atau disiram ke dalam toilet langsung bersamaan dengan linernya. Sedangkan liner dari kain harus dicuci. Penggunaan liner mempermudah proses pencucian karena melindungi diaper dari terkena noda poo secara langsung.

Cara Stripping Clodi

Cara Stripping CLODI

Cara 1 : Simpel
Rendam insert yang sudah dicuci bersih dengan air hangat 40°C. Bilas dengan air hingga air buangan tidak berbusa lagi.

Cara 2: Baking soda + Cuka
Takaran 1-2 sendok makan baking soda untuk 6 cover + 12 lapisan penyerap, air setinggi cucian (+/- 10 liter), diamkan 30 menit - 1 jam
Bilas hingga bersih
Pada bilasan terakhir tambahkan 3-4 sendok makan cuka, air setinggi cucian, diamkan 15-30 menit
Boleh dibilas sekali lagi atau langsung dikeringkan
Jemur 30 menit (jika di-spin/dikeringkan di mesin cuci) - 1 jam (tidak di-spin) di terik matahari, selebihnya (sampai kering) di tempat teduh yang sirkulasi udaranya lancar.

Cara 3 : RLR Treatment 
RLR adalah nama salah satu laundry treatment yang dipakai untuk menghilangkan residu, komposisi utamanya soda api atau natrium karbonat. Bunda bisa memakai soda api curah yang dijual di toko kimia jika kesulitan menemukan RLR.
Cara Pakai: Rendam outer clodi dan insert yang telah dicuci dengan 1 bungkus RLR (+/- 2 sendok makan) selama 30 menit sambil sesekali dikucek. Bilas dengan air hingga air sisa buangan tidak berbusa lagi. Agar hasil maksimal untuk pembilasan insert bisa juga menggunakan mesin cuci dan langsung ke bagian rinse/pembilasan. Satu bungkus RLR dapat digunakan untuk 15-18 set clodi beserta insertnya.

Cara 3 : Magic Clean Treatment
Cuci pakaian dengan sabun khusus clodi. Lalu bilas dengan 'Magic Clean' dengan takaran 1-2 sdm. Rendam 10 menit, lalu bilas hingga cucian tidak berbusa lagi. "Magic Clean membuat pakaian harum dan bersih serta menghilangkan residu pada pakaian.


sumber: http://www.facebook.com/groups/166676086716407/doc/221822854535063/