Friday, October 9, 2015

Serviks dalam Persalinan

Dalam persalinan, serviks memegang peranan yang sangat penting. Karena itu penting bagi Anda untuk mengetahui apa yang terjadi pada serviks saat proses persalinan .
APA? DIMANA?
Kebanyakan wanita tidak tahu apa itu serviks atau leher rahim di mana itu, fungsinya atau bahkan bagaimana bentuknya. Nah, inilah dia:
Dan jika di lihat dari depan, akan terlihat seperti ini (sangat mirip dengan kepala penis):
Dalam proses persalinan serviks ini harus memendek, menipis kemudian membuka. Dan kemajuan persalinan akan dilihat dari seberapa lebar pembukaan yang telah terjadi. Nah dari beberapa kasus yang saya amati akhirnya saya menemukan sebuah pandangan baru tentang serviks dan perannya dalam proses persalinan.

# Pembukaan 1: 10 cm ADALAH NOMOR MAGIC/ NOMOR KHAYALAN
Ketika saya kuliah, semua buku kebidanan mengatakan bahwa dalam persalinan serviks akan membuka mulai dari 1 cm hingga 10 cm. namun seringkali di lapangan saya menemukan bahwa, pemeriksaan terhadap seberapa lebar serviks seorang klien sudah membuka itu sangatlah bervariasi penilaiannya. Dan ini tergantung dari si pemeriksa. Maksud saya begini, untuk memeriksa pembukaan, seorang dokter haruslah melakukan pemeriksaan dalam dengan menggunakan telunjuk dan jari tengah mereka. Telunjuk dan jari tengah ini berfungsi sebagai “mata” mereka. Nah ketika menilai sebuah pembukaan, seringkali Antara bidan dan dokter akan berbeda hasilnya, dugaan saya adalah karena besar jari mereka juga berbeda-beda, daya imajinasi mereka juga berbeda sehingga hasilnya pun kadang bervariasi. Karena tidaklah mungkin kita meletakkan penggaris untuk mengukur seberapa lebar pembukaan serviks, maka penilaiannya pun tergantung si pemeriksa. Karena sebenarnya pembukaan 1 hingga 10 ini adalah “bidang khayal” yang memudahkan kami sebagai bidan atau dokter untuk menilai pembukaan.
Sebenarnya seberapa lebar serviks membuka pada saat proses persalinan sangatlah bervariasi antara wanita satu dengan wanita yang lain, karena bisa Anda bayangkan sendiri, pada bayi besar dengan lingkar kepala yang besar tentunya pembukaan serviksnya pasti akan lebih lebar, dan mungkin kalau saja bisa diukur dengan penggaris bisa saja lebih dari 10 cm, sedangkan bayi yang lahir dengan berat badan lebih kecil dan lingkar kepala yang lebih kecil tentunya 10 cm yang dimaksudkan lebih kecil dari pada 10 cm si bayi besar tadi.
Jadi sebenarnya ukuran 1 s.d 10 cm hanyalah sebuah ukuran yang memudahkan bidan dan dokter untuk menilai kemajuan persalinan. 1 s.d 10 cm bukanlah ukuran yang mutlak seperti ukuran penggaris.

# 2: Pembukaan LEHER RAHIM TIDAK MEMBENTUK LINGKARAN yang RAPI
Dahulu ketika masih dalam bangku perkuliahan, gambaran pembukaan serviks/leher rahim adalah membentuk lingkaran yang bulat dan rapi. Bahkan saat berlatih menggunakan chart kami pun melatih jari kami dengan membuat lingkaran-lingkaran di kartu dengan lobang berbagai ukuran sesuai dengan seberapa lebar pembukaan serviks.
Padahal ternyata kejadian di lapangan yang sebenarnya adalah, leher rahim Anda tidak membuka dalam lingkaran, yang bagus rapi seperti gambaran semua model dilatasi serviks selama ini. Karena pembukaan serviks sebenarnya terbuka dengan pola elips, seperti yang digambarkan di sini:
Serviks membuka dari belakang ke depan seperti elips. Pembukaan dalam persalinan dimulai dari bagian belakang vagina dan melebar ke depan. Di beberapa titik di persalinan hampir setiap perempuan akan memiliki “bibir anterior”(artinya bagian atas leher rahim tidak membuka sempurna/tidak komplet) karena ini adalah bagian terakhir dari leher rahim yang ditarik di atas kepala bayi. Mengapa di sebut bibir anterior? Ya karena jika diraba bentuknya seperti bibir dan berada di sisi anterior. Apakah bibir ini terdeteksi? tergantung pada apakah/ saat dilakukan pemeriksaan vagina.kalau ada bibir anterior, berarti ada juga bibir posterior. Namun sayangnya bibir posterior hampir tidak pernah ada karena ini adalah bagian dari leher rahim yang menipis dan menghilang pertama kali saat terjadi pembukaan. Atau lebih tepatnya menjadi sulit untuk dijangkau dengan jari .

# 3: Jangan TERLALU SERING Melakukan Pemeriksaan DALAM (Vaginal Thoucher)
Pembukaan Leher rahim sebenarnya tidak dirancang untuk disentuh, ada respon peradangan dari bahan asing (sarung tangan) serta tekanan, dan respon hormonal. Ini mungkin membingungkan bagi tubuh yang ketika sedang mencoba untuk mengosongkan rahim ada campur tangan dari leher rahim yang disentuh dan dimanipulasi dengan cara yang tidak seharusnya. Terlalu sering melakukan pemeriksaan dalam justru akan mengganggu prose salami dan fisiologis persalinan itu sendiri.
Lalu bagaimana bidan dan dokter bisa menilai seberapa lebar pembukaan sudah terjadi?
Nah beberapa literature menyatakan bahwa pemeriksaan vagina sebaiknya dilakukan dengan rentang jarak yang panjang antara pemeriksaan pertama dan selanjutnya (> 4 Jam). Ini dimaksudkan supaya bidan tetap bisa menilai kemajuan persalinan namun tidak mengganggu proses fisiologis persalinan itu sendiri.
Berikut juga tentang Mengejan! JANGAN di atur, kapan harus mengejan atau tidak!
(di praktek kebidanan, seringkali ibu bersalin di atur kapan mengejan atau tidak dengan memberikan aba-aba, persis seperti tukang parker heheheh)
Padahal sebenarnya Tubuh anda tahu bagaimana cara untuk mengeluarkan bayi tanpa di bantu dengan Aba-Aba, tubuh Anda tahu dan punya cara sendiri kapan dia akan mengejan dan kapan tidak mengejan karena itu adalah reflex. Dan tubuh Anda sudah DIRANCANG untuk melakukanya dengan sempurna
Sehingga sebenarnya tugas seorang bidan dan dokter hanya memotivasi dan memberikan arahan cara mengejan yang efektif, tanpa harus mengintervensi kapan harus mengejan dan kapan tidak, apalagi dengan aba-aba 1;5 yaitu “ Ayo tarik nafas bu…satu…dua…tiga…empat..lima …yak mengejan!” begitu seterusnya.

# 4: LEHER RAHIM ANDA ADALAH BERBEDA DAN “TERASING” DARI SEMUA BAGIAN TUBUH LAINNYA
Ina Mei Gaskin, telah menciptakan istilah yang disebut "Hukum sphincter". Hukum sphincter menyatakan:
sphincters Anda (termasuk ekskretoris Anda, serviks dan vagina) bertanggung jawab untuk melepaskan bayi Anda ke dunia ini. Jika sphincters Anda ketat, maka Anda tidak mendapat kemajuan, dan Anda mungkin akan mengalami sakit lagi.
Jadi apa sebenarnya “Hukum sphincter” Ala Ina May ?
1. Ekskretoris, leher rahim (serviks), dan sphincters vagina akan berfungsi dengan terbaik dalam suasana keakraban dan privasi. Sebagai contoh, ketika kita ke kamar mandi dengan pintu pengunci atau kamar tidur di mana idak mungkin ada gangguan.
2. Sphincters ini tidak akan dapat dibuka dan tidak merespon dengan perintah seperti “Ayo mendorong, mengejan atau bersantai!”
3. Ketika sphincter seseorang sedang dalam proses pembukaan, tiba-tiba dia akan menutup diri atau berhenti proses pembukaannya jika orang tersebut menjadi marah, takut, dipermalukan, atau cemas. Mengapa? Tingginya kadar adrenalin dalam aliran darah tidak mendukung (kadang-kadang, Adrenalin ini benar-benar mencegah) terjadinya pembukaan sphincters. Faktor inhibisi ini adalah salah satu alasan penting mengapa seorang ibu melahirkan harus tenang, rileks dan merasa nyaman.
4. Keadaan relaksasi dari mulut dan rahang secara langsung berhubungan dengan kemampuan leher rahim, vagina, dan anus terbuka dengan kapasitas penuh. Jadi dalam persalinan ketika Anda tersenyum bahkan tertawa dengan rileks maka leher rahim, vagina, dan anus Anda akan rileks dan terbuka juga. Rumusnya adalah:
Buka Mulut = Serviks Terbuka
Buka Tenggorokan = Vagina Terbuka
Memang kelihatannya ini lelucon, namun ini adalah benar. Karena hampir mustahil untuk melahirkan secara efektif dengan bibir rapat mengerucut dan menutup tenggorokan. Silakan, coba sekarang, Ketika rahang Anda bersantai, mulut dan tenggorokan Anda terbuka, Anda secara otomatis akan santai dan “tenggelam” ke kursi Anda. Ina Mei berbicara tentang manfaat mencium, dan menjaga bibir dan mulut tetap terbuka. Ciuman juga melepaskan oksitosin dan hormon-hormon cinta lain yang meningkatkan toleransi Anda terhadap rasa sakit dalam persalinan.
Silakan menikmati video singkat ketika Ina Mei berbicara tentang Hukum sphincter


Nah, Semoga bermanfaat
Salam Hangat
Yesie Aprillia S.Si.T. M.Kes

Menjemur Bayi yang Benar

Pada pertengahan abad ke-19, diketahui bahwa sinar matahari memiliki efek terapeutik dalam penyakit rickets (kelainan tulang karena kekurangan vitamin D, kalsium atau fosfat).1-4 Pada tahun 1958, kali pertama sinar matahari digunakan untuk terapi bayi kuning.1,5,6 Menjemur bayi di dalam ruangan melalui jendela (tidak langsung terkena matahari) selama 10 menit sebanyak 2 kali sehari dipercaya dapat membantu dalam terapi ikterus neonatorum yang ringan.7 Namun ketika kejadian kanker kulit meningkat pada tahun 1940 dan menjadi epidemik pada tahun 1970, para ilmuwan sadar akan dampak negatif dari sinar matahari.3Dalam banyak artikel, disebutkan bahwa paparan sinar matahari pada bayi dapat meningkatkan risiko berkembangnya melanoma dan kanker lainnya pada usia lanjut.2,8-13 Untuk menentukan risiko kanker kulit, seberapa dini usia saat dimulai paparan sinar matahari, lebih berperan daripada total paparan sinar matahari selama kehidupan.14 Oleh karena itu, perlindungan terhadap sinar matahari terutama pada bayi, sangat penting untuk mengurangi risiko terkena kanker kulit.
Untuk saat ini, pilihan terapi untuk ikterus neonatorum yang utama adalah fototerapi, bukan paparan sinar matahari.15 Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa sinar matahari sangat penting untuk sintesis vitamin D pada kulit, seorang bayi perlu terpapar radiasi ultraviolet B (UVB) tingkat rendah untuk dapat memproduksi vitamin D.16 Oleh sebab itu, paparan sinar matahari pada bayi masih menjadi pilihan dengan beberapa rekomendasi perlindungan seperti menggunakan pakaian dan tabir surya.
Sintesis vintamin D dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti umur, pigmentasi kulit, luas permukaan kulit yang terpapar dan waktu terpapar sinar matahari. Untuk meningkatkan konsentrasi vitamin D, dibutuhkan setidaknya 20% dari luas permukaan kulit terpapar sinar matahari. Beberapa penulis menganjurkan ‘sensible sun exposure’ untuk menjaga konsentrasi vitamin D yang memadai yaitu paparan kedua tangan dan kaki terhadap sinar matahari selama 5-30 menit, (tergantung waktu, musim, garis lintang dan pigmentasi kulit) antara pukul 10 pagi dan 4 sore, sebanyak 2 kali sehari.17,18
Belum ada penelitian pada anak yang menentukan seberapa tingkat paparan sinar matahari yang dibutuhkan untuk mensintesis vitamin D yang memadai. Dengan tingginya prevalens hipovitaminosis D, maka diperlukan perhatian khusus untuk mengevaluasi kembali kecukupan diet dan penggunaan suplementasi vitamin D.19
Rekomendasi perlindungan terhadap sinar matahari antara lain adalah menggunakan pakaian, memberikan tabir surya (minimal SPF 15) 15-20 menit sebelum paparan, ulangi pemakaiannya setiap 2 jam dan hindari paparan sinar matahari pada pukul 10 pagi sampai 4 sore, karena jumlah radiasi sinar UVB paling tinggi pada periode waktu tersebut.20-23

REKOMENDASI 19

  1. Para dokter sebaiknya menganjurkan orangtua untuk memakaikan baju, topi dan tabir surya selama menjemur bayinya. Ketika berada di luar, minimalisasi paparan cahaya matahari.
  2. Pakai tabir surya dengan SPF 15 atau lebih, dan ulang pemakaian setiap 2 jam atau setelah berkeringat.
  3. Orangtua dengan anak berisiko tinggi terkena melanoma harus dibekali pengetahuan yang cukup tentang paparan sinar matahari yang aman. Anak dengan risiko tinggi antara lain kulit putih, muka berbintik (freckels) dan riwayat keluarga dengan melanoma.
  4. Paparan sinar matahari harus dihindari bagi bayi berusia kurang dari 6 bulan dan bayi harus selalu menggunakan pakaian dan topi untuk melindungi kulit. Orangtua boleh memberikan tabir surya saat sinar matahari tidak bisa dihindari dan hanya diberikan pada kulit yang terpapar saja. Pemakaian tabir surya pada bayi prematur dibatasi karena stratum korneumnya yang lebih tipis dapat mengabsorbsi bahan tabir surya lebih banyak.

Daftar Pustaka

  1. Roelandts R. The history of phototherapy: Something new under the sun?J Am Acad Dermatol. 2002, 46:926-30.
  2. Albert MR, Ostheimer KG. The evolution of current medical and popular attitudes toward ultraviolet light exposure: Part 1. J Am Acad Dermatol. 2002, 47:930-37.
  3. Newman BY. The sun tan myth. Optometry. 2000, 71(11):
  4. Albert MR, Ostheimer KG, The evolution of current medical and popular attitudes toward ultraviolet light exposure: Part 2. J Am Acad Dermatol 2003, 48:909-18.
  5. Aladag N, Filiz T M. Parents' knowledge and behaviour concerning sunning their babies; a cross-sectional, descriptive study. BMC Pediatrics. 2006, 6:27
  6. Johnston RV, Anderson JN, Prentice C: Is sunlight an effective treatment for infants with jaundice?. MJA. 2003, 178:
  7. E medicine [homepage on the Internet]: Newborn Jaundice. [http://www.emedicinehealth.com/articles/10101-6.asp]. [updated 2005 Aug 10], [cited 2015 May 20].
  8. Lowe JB, McDermott LJ, Stanton WR, Calavarino A, Balanda KP, McWhirter B: Behaviour of caregivers to protect their infants from exposure to the sun in Queensland, Australia. Health Education Research. 2002, 17:405-14.
  9. Stanton WR, Chakma B, O'Riordan DL, Eyeson-Annan M: Sun expo- sure and primary prevention of skin cancer for infants and young children during autumn/winter. Aust NZJ Public Health. 2002, 24:178-84.
  10. Scerri L, Aquilina S, Gauci AA, Dalmas M: Sun awareness and sun protection practices in Malta. JEADV 2002, 16:47-52.
  11. Beech JR, Sheehan E, Barraclough S: Attitudes toward health risks and sunbathing behaviour. The Journal of Psychology. 1996, 130:669-77.
  12. Dixon H, Borland R, Hill D: Sun protection and sunburn in Pri- mary school children: The influence of age, gender, and coloring. Preventive Medicine. 1999, 28:119-30.
  13. Rodrique JR: Promoting healthier behaviours, attitudes, and beliefs toward sun exposure in parents of young children. Journal of Consulting and Clinical Psychology. 1996, 64:1431-34.
  14. Gartner LM, Greer FR: The Section on Breastfeeding and Com- mittee on Nutrition. Prevention of rickets and vitamin D deficiency: New guidelines for vitamin D intake. Pediatrics. 2003, 111:908-10.
  15. American Academy of Pediatrics Provisional Committee for Quality Improvement and Subcommittee on Hyperbilirubinaemia: Practice Parameter: Management of Hyperbilirubinemia in the Healthy Term Newborn.Pediatrics. 1994, 94:558-65.
  16. Ministry of Health, New Zealand. Companion Statement on Vitamin D and Sun Exposure in Pregnancy and Infancy in New Zealand. 2013.
  17. Holick MF. Vitamin D: a millenium perspective. J Cell Biochem. 2003;88:296 –307.
  18. Holick MF. Vitamin D deficiency. N Engl J Med. 2007;357(3):266 –81
  19. American Academy of Pediatrics, Council on Environmental Health and Section on Dermatology. Policy Statement - Ultraviolet Radiation: A Hazard to Children and Adolescents. Pediatrics. 2011;127:588–97.
  20. [http://www.cancer.org/docroot/MED/content/MED_2_1X_American_Cancer_ Society_Responds_toReport_on_Sunscreens_and_Melanoma.asp]. [cited 2015 May 20].
  21. [http://www.epa.gov/cgi-bin/epaprintonly.cgi]. [cited 2015 May 20].
  22. [http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs271/en/]. [cited 2015 May 20].
  23. [http://www.aad.org/public/Publications/pamphlets/SunProtection Children.htm]. [cited 2015 May 20].


Penulis: 
R. Adhi Teguh P. Iskandar (Ikatan Dokter Anak Indonesia) 
Francisca Bunjamin

MSG

Belakangan ini, MSG diberitakan sebagai bahan yang aman dikonsumsi.

*) Dyah Pratitasari
Laporan Khusus Majalah NIRMALA, September 2012

Bagi para pelaku hidup sehat, monosodium glutamat (MSG) merupakan salah satu bahan yang dihindari. Alasannya, konsumsi MSG identik sebagai penyebab munculnya macam-macam gangguan kesehatan. Mulai yang sifatnya jangka pendek seperti Chinese Restaurant Syndromehingga yang efeknya bersifat jangka panjang seperti obesitas, kerusakan otak, juga kanker.

Reni (36 tahun), wirausaha yang berdomisili di Cinere, Jakarta Selatan, misalnya. Saking takutnya terhadap risiko kanker, sejak sekitar tujuh tahun yang lalu ia berusaha selalu menyajikan rumahan yang bebas MSG. “Anak-anak tidak saya perkenalkan dengan makanan ber-MSG sepertisnack dalam kemasan, sama sekali. Saat jajan di luar seperti makan bakso atau mi ayam, saya juga selalu mewanti-wanti agar penjualnya tidak membubuhi pesanan kami dengan MSG,” tuturnya.

Prof DR Ir Hardinsyah, MS, Ketua Umum Perhimpunan Peminat Gizi (Pergizi) Pangan Indonesia, menyatakan, MSG tidak perlu disikapi secara paranoid. “MSG tersusun dari glutamat, garam, dan air. Glutamat merupakan kelompok asam amino yang juga terdapat pada bahan makanan lain seperti daging, ikan, ayam, keju, susu, terasi, ikan, rumput laut, tomat, dan masih banyak lagi. Beberapa sumber menyebutkan, jumlah glutamat pada ASI lebih tinggi daripada susu sapi, domba, maupun unta. Jika mengonsumsi ASI, sesungguhnya manusia sudah mengenal cita rasa glutamat sejak awal kehidupannya di dunia,” ungkapnya.

MSG, pada awalnya

Dalam kehidupan sehari-hari, umumnya kita mengenal MSG sebagai bahan penyedap makanan berbentuk butiran kristal berwarna putih. Beberapa sumber mencatat, MSG pertama kali ditemukan pada tahun 1866 oleh Karl Heinrich Leopold Ritthausen, seorang ilmuwan di bidang kimia asal Jerman. Ritthausen berhasil mengisolasi asam glutamat dan mengubahnya ke dalam bentuk monosodium glutamat, namun belum mengetahui kegunaannya sebagai penyedap rasa.

          Popularitas MSG sebagai penyedap rasa tak bisa dilepaskan dari jasa Kikunao Ikeda, seorang profesor dari Tokyo Imperial University, Jepang. Ia memperhatikan, kaldu katsuobushi dan kombu ala Jepang memiliki rasa yang tidak biasa, dan pada waktu itu belum mampu dideskripsikan. Cita rasa tersebut berbeda dari manis, asin, asam, maupun pahit.

Pada tahun 1908, Ikeda menemukan bahwa kunci kelezatan tersebut terletak pada penggunaan Laminaria japonica, sejenis rumput laut, yang biasa digunakan sebagai bahan masakan. Rumput laut yang kerap disebut kombu itu mengandung asam glutamat, senyawa kimia pencetus cita rasa gurih (umami). Penemuan cita rasa gurih tersebut melengkapi referensi cita rasa indera pengecapan manusia sebelumnya.

Untuk memverifikasi bahwa glutamat yang diionisasi adalah penyebab rasa umami, profesor Ikeda mempelajari berbagai sifat rasa garam glutamat seperti kalsium, kalium, dan magnesium glutamat. Rupanya, garam dapat menghasilkan rasa umami, namun juga menimbulkan rasa logam tertentu akibat adanya mineral lain yang terkandung di dalamnya.

Di antara garam-garam itu, Ikeda menemukan bahwa sodium glutamat adalah yang paling mudah larut, citarasanya paling sedap, dan mudah dikristalkan. Ikeda pun menamai temuannya dengan monosodium glutamat dan mengajukan paten untuk membuat MSG. Setahun setelah peristiwa itu, Saburosuke Suzuki, seorang wirausaha asal Jepang, mulai mengomersialkan glutamat temuan Ikeda menjadi sebuah produk penyedap rasa.

Dari rumput laut ke tetes tebu

          Awalnya, MSG yang dikembangkan Suzuki diproduksi dengan cara mengekstrak glutamat dari rumput laut. Namun karena permintaan terus melonjak, sementara jumlah persediaan bahan bakunya terbatas, MSG mulai dikembangkan melalui bahan lain.

Sejak tahun 1956, contohnya, MSG dibuat dari molasses tebu, tepung jagung, singkong, beras, atau sagu. Melalui proses fermentasi oleh mikroba, unsur karbohidrat dari bahan-bahan tersebut diolah menjadi glutamat. Glutamat yang dihasilkan oleh bakteri ini masih melalui beberapa proses lanjutan, seperti netralisasi, pemutihan, pengkristalan, pengeringan, pengayakan, pengepakan, baru dipasarkan.

Proses demi proses tersebut membuat penampilan MSG menjadi butiran-butiran kristal kecil berwarna putih bersih. Jika butiran-butiran putih ini dicicipi apa adanya, rasanya hambar-hambar saja. Cita rasa gurih baru akan muncul saat MSG dibubuhkan ke dalam masakan, karena asam glutamat bebas di dalamnya akan ditangkap oleh reseptor khusus di dalam otak kita, dan membuat cita rasa dasar bahan pangan dalam masakan menjadi lebih gurih dan nendang.

Penelitian yang menggegerkan

          Kabar MSG sebagai pencetus munculnya macam-macam keluhan mulai berhembus sejak tahun 1968. Saat itu, Robert Ho Man Kwok, seorang dokter asal New York, Amerika Serikat, menulis surat kepada New England Journal of Medicine, sebuah jurnal kedokteran; Sekitar 15 hingga 20 menit usai menyantap makanan di restoran Chinese, ia selalu mengalami sindrom “aneh” berupa rasa kaku di belakang leher, rasa terbakar di kedua lengan, perasaan lemah, dan sesak napas. Kwok mengusulkan agar kejadian tersebut diteliti secara ilmiah.

          Usulan Kwok disambut antusias oleh para ilmuwan. Dari banyaknya faktor yang ada, mereka mulai meneliti keterlibatan MSG dalam masakan Chinese dan efeknya terhadap kesehatan. Salah satu penemuan pertama yang menggegerkan adalah penelitian John W. Olney, yang dipublikasikan dalam jurnal Science, Mei tahun 1969. Dalam penelitiannya tersebut, Olney menemukan bahwa bayi tikus yang diberi MSG dengan dosis 0,5 hingga 4 gram per kilogram berat badan (setara dengan 30 hingga 200 gram per 60 kilogram) mengalami kerusakan otak. Kejadian itu juga disertai obesitas, gangguan perkembangan tulang belakang, juga gangguan reproduksi.

          Selanjutnya, Park, C.H dan rekan-rekannya dari Department of Pharmacology, College of Medicine and Neuroscience Research Institute, Korea, mengujikan 4 miligram per gram berat badan pada tikus dewasa. Hasilnya, tikus-tikus tersebut mengalami gangguan neuron dan daya ingat. Pembedahan yang dilakukan pada hewan percobaan tadi menunjukkan adanya kerusakan pada pusat pengolahan impuls saraf (Toxicollogy Letters, Mei 2000).

Jurnal Neurochemistry International pada bulan Maret 2003 kembali melaporkan, pemberian MSG sebanyak 4 miligram per gram berat badan pada bayi tikus menimbulkan penurunan jumlah neuron dan jaringan antar sel saraf otak yang lebih renggang. Kerusakan ini terjadi perlahan sejak bayi mencit berusia 21 hari dan memuncak di hari ke-60.

          Brain Research Bulletin merilis penelitian, tikus hamil yang disuntik MSG dengan kadar yang sama menunjukkan bahwa MSG mampu menembus plasenta. Otak janin tikus tersebut juga menyerap MSG dua kali lipat daripada otak induknya. Ketika pengamatan dilanjutkan setelah anak-anak tikus lahir, anak-anak tikus tadi lebih rentan mengalami kejang dan mengalami kegemukan dibandingkan anak-anak tikus lain yang induknya tidak diberi MSG. Setelah 3 bulan, mereka akan mengalami resistensi insulin dan berisiko tinggi mengalami diabetes.

          Sementara itu, Experimental Eye Research pada tahun 2002 melaporkan bahwa konsumsi tinggi MSG mengakibatkan kerusakan pada retina, yang memicu terjadinya glukoma. Proses ini terjadi secara perlahan. Diperkirakan, manusia yang sejak anak-anak mengonsumsi MSG akan mengalami hal ini di usia sekitar 40 tahun.

          Di Indonesia, pada tahun 1989, DR Iwan T. Budiarso, DVM, MSc, Phd, APU, menulis di harian Kompas bahwa MSG dapat menghasilkan senyawa kimia yang bersifat mutagenik dan karsinogenik. Lima tahun setelah publikasi tersebut, Moh. Yani, anggota Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menghimbau masyarakat agar tidak menambahkan MSG karena dianggap dapat menimbulkan gangguan liver dan kanker. 

Dosisnya dianggap terlalu besar

Menariknya, seluruh badan pengawasan makanan dunia menggolongkan MSG sebagai bahan tambahan pangan yang aman untuk manusia (lihat boks: Status MSG dari Masa ke Masa). Di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI bahkan menegaskan, MSG aman dikonsumsi dengan penggunaan secukupnya, yang tertuang dalam Peraturan Menteri kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/88 mengenai bahan tambahan makanan. Batasan ini sama dengan penggunaan garam dan gula dalam masakan.

Meskipun demikian, melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.69/1999, Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia melarang tegas penambahan MSG pada makanan pendamping ASI maupun susu formula untuk menghindari risiko gangguan kesehatan yang mungkin timbul.

Menurut Hardin, secara resmi MSG tetap dinyatakan aman secara ilmiah karena belum terbukti menunjukkan kerugian atau risiko, terutama pada penelitian terhadap manusia. Riset-riset independen yang hasilnya berlawanan dengan pernyataan tersebut dikatakan tidak kredibel lantaran penelitiannya masih dilakukan terhadap hewan. Jumlah MSG yang diberikan pada hewan percobaan juga dianggap over dosis, terlampau jauh melampaui jumlah yang biasa dikonsumsi manusia.

“Bayangkan, mencit-mencit itu disuntik dengan MSG yang beratnya setara dengan 200 gram dalam sehari. Wajar, jika dosis yang berlebihan itu memiliki efek yang tidak diinginkan. Padahal jika kita mengonsumsi MSG dengan cara mencampurkannya ke dalam suatu masakan, umumnya tidak akan lebih dari 10 miligram,” tutur Hardin.

Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB) ini juga mengungkapkan, ketika MSG diteliti kembali dengan dosis yang lebih kecil dan diberikan bersama makanan – bukan disuntikkan- hasilnya tidak menimbulkan efek seperti yang ditemukan pada penelitian Olney.
Pada tahun 2000, misalnya, Geha RS, bersama rekan-rekannya dari Division of Immunology, Children Hospital and Department of Pediatrics, Harvard University, Amerika Serikat, melakukan penelitian denganmulticenter double blinded PC (4 protokol) dan melibatkan 130 orang yang sensitif terhadap MSG. Mereka diminta mengonsumsi MSG dengan dan tanpa makanan. Hasilnya, MSG tidak menimbulkan reaksi apabila diberikan bersama makanan. Sementara itu, MSG dosis tinggi bisa menimbulkan reaksi pada individu yang sensitif apabila tidak dikonsumsi bersama makanan, namun reaksinya tidak konsisten dan cepat hilang. Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Allergy Clinical Immunollogy.

“Meskipun demikian, memang ditemukan dua kelompok yang menunjukkan reaksi terhadap MSG. Kelompok pertama adalah orang-orang yang sensitif terhadap MSG. Jika mereka mengonsumsi bahan tersebut, dapat berakibat munculnya keluhan berupa rasa panas di leher, lengan dan dada, diikuti kaku otot dari daerah tersebut hingga punggung, rasa panas dan kaku di wajah, diikuti nyeri dada, sakit kepala, jantung berdebar-debar, bahkan muntah. Gejala yang mirip Chinese Restaurant Syndrome dan terjadi segera atau sekitar 30 menit setelah mengonsumsi MSG ini kemudian disebut MSG Complex Syndrome. Kelompok kedua adalah para penderita asma,” terang Hardin.

Mengapa kontroversial

          Salah satu praktisi medis yang menentang keras status aman MSG dan pemikirannya diamini oleh kalangan yang kontra terhadap MSG adalah Russel Blaylock, MD, ahli bedah saraf asal Amerika Serikat. Dalam bukunya yang berjudul Excitotoxins: The Taste that Kills, Blaylock menyebut MSG sebagai zat kimia yang bersifat merangsang dan dapat mematikan sel-sel otak.

Ia mengakui, secara alamiah glutamat memang terkandung dalam berbagai macam bahan makanan. Bahkan, 50 persen glutamat ditemukan dalam jaringan saraf tubuh kita sendiri, di antaranya otak, saraf tulang belakang, dan ganglia perifer. Namun glutamat jenis ini sangat berbeda dengan glutamat yang ada dalam MSG. Glutamat yang dikonsumsi dalam bentuk aslinya merupakan glutamat yang terikat sebagai protein kompleks. Saluran pencernaan akan menyerapnya secara perlahan-lahan, menguraikannya di hati, lalu mengeluarkan jumlah yang tidak diperlukan tubuh melalui limbah tubuh. Sementara itu, glutamat dalam MSG sudah dihidrolisa menjadi asam amino bebas yang lebih mudah mudah diserap oleh reseptor glutamat.

Tubuh kita selalu menjaga agar konsentrasi glutamat dan zat-zat lain selalu berada dalam batas aman dan seimbang. Saat otak mendeteksi ada kehadiran glutamat dalam jumlah yang berlebih, sel-sel otak akan menerjemahkan kondisi tersebut sebagai alarm bahaya. Kelebihan glutamat yang tidak diperlukan akan mereka tumpas dengan menembakkan impuls-impuls saraf dalam kecepatan tinggi. Jika keadaan ini terus terjadi, sel-sel otak rentan mengalami kelelahan dan mati (eksitotoksin).
Berbeda dengan anggapan bahwa otak dilindungi oleh semacam penghalang yang mampu memblokir masuknya kelebihan glutamat, Blaylock mengatakan bahwa reseptor glutamat justru terdapat pada kedua sisi penghalang tersebut. Konsekuensinya, saat terpapar glutamat, penghalang itu akan membuka.

Di situlah letak “bahaya” MSG, terutama bagi otak yang sedang mengalami masa perkembangan atau fungsinya mengalami gangguan, sehingga sangat dianjurkan untuk tidak diberikan pada bayi dan anak-anak. Selain yang disebutkan dalam penelitian Olney, MSG dianggap bisa meningkatkan risiko, mencetuskan, atau memperparah gejala Alzheimer, ADHD, Parkinson, dan lain-lain. MSG juga ditengarai memicu atau memperparah kanker karena membuat sel kanker bergerak lebih lincah sehingga lebih mudah menyebar.

Dalam kehidupan sehari-hari

Terlebih, penggunaan MSG belakangan dinilai semakin tidak terukur. Sebelum tahun 60-an, MSG biasa digunakan masyarakat di Cina, Jepang, Korea, Thailand, Vietnam dan Myanmar, baik oleh para ibu rumah tangga maupun rumah makan dengan takaran sangat kecil, yakni setara 30-60 mg untuk setiap porsi masakan ala Cina, mi atau bakso pangsit. Makanan tradisional dan lokal asli malah tidak menggunakan sama sekali, karena sudah terasa lezat dan gurih oleh ramuan bumbu rempah. Kini, MSG sudah umum dibubuhkan pada aneka macam jajanan, kerupuk, bahkan minuman.

Setelah diproduksi besar-besaran, harga MSG semakin murah sehingga semakin banyak dibubuhkan pada bahan makanan. Sebagai gambaran, survei Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pada tahun 1980 menunjukkan, pedagang bakso di Jakarta memakai MSG sebanyak 1840 hingga 1900 mg per mangkuk, mi goreng dan pangsit 2900 hingga 3400 mg per mangkuk, dan mi rebus 2250 hingga 2780 mg per mangkuk (Warta Konsumen No.74, Mei 1980).

Di Semarang, penggunaan MSG juga telah diteliti oleh Nina Wiji dari Universitas Diponegoro. Dari 12 pedagang bakso yang menjadi sampelnya, mereka menggunakan MSG paling sedikit 0,8 gram, dan paling banyak 10, 35 gram per porsi. Jumlah pedagang yang menggunakan MSG melebihi batas aman ada 4 orang, yaitu 6 gram (standar dosis 2,55 gram) per porsi. Sementara itu, perbandingan total pemakaian MSG berdasarkan bahan yang digunakan menunjukkan seluruh responden memakai MSG melebihi dari batas aman yang dianjurkan. Menurut Nina, penggunaan MSG berhubungan dengan pengetahuan dan motivasi pedagang bakso dalam menjual produknya.

Kendalinya di tangan kita sendiri

Hardin berpendapat, menanggapi kontroversi MSG sebenarnya simpel. “Jika memang sensitif atau alergi terhadap MSG, sebaiknya memang tak perlu mengonsumsi. Kalaupun tidak sensitif dan ingin mengonsumsi, juga tak perlu berlebihan. Lagipula, tubuh kita sudah mampu membatasi secara otomatis melalui reseptor pengecapan yang ada di lidah. Kalau jumlah MSG yang ditambahkan sudah berlebihan, rasanya jadi tidak enak,” tuturnya.

          Andang Gunawan, ND, pakar nutrisi di Jakarta, sependapat, bahwa lidah kita memang mampu mengenali kelebihan MSG dalam makanan. Selain tidak enak, biasanya juga ada rasa getir di lidah. Sayangnya, bagi orang yang sudah terbiasa mengonsumsi MSG, ambang batas “berlebihan” tadi bisa lebih kabur, karena lidahnya seolah lebih “kebal”. Akhirnya, tidak adanya standar baku mengenai batas konsumsi MSG ini menantang kita untuk lihai dan lebih peka dalam mencermati reaksi tubuh sendiri.

“Kalau mau lebih aman dan minim risiko, pilihan terbaik memang mengonsumsi glutamat dari bahan makanan sesuai wujud aslinya dari alam. Kita bisa mengoptimalkan cita rasa umami dengan menggunakan bahan-bahan yang berkualitas dan cara memasak yang tepat. Dengan demikian, masakan akan tetap lezat, gurihnya tetap nendang, dan kita tidak perlu risau dengan MSG, apapun statusnya,” pungkas Andang.(N)


Status MSG dari Waktu ke Waktu
  • 1950:  Badan Pertanian Dunia (FAO) dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dari Persatuan Bangsa-Bangsa membentuk sebuah komite baru, yaitu Komite gabungan ahli bahan tambahan pangan atau “the Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA)” untuk mengevaluasi keamanan bahan tambahan pangan.
  • 1970, 1973, dan 1987: Setelah tiga kali dievaluasi, JECFA menempatkan MSG pada kategori paling aman, yaitu batasan asupan harian tidak terspesifikasi atau "Acceptable Daily Intake (ADI) not specified"
  • 1991: Komite ilmiah makanan dari komisi Eropa atau the European Commission’s Scientific Committee for Food (SCF) juga mengesahkan keamanan MSG dan menerbitkan status “ADI not specifed” untuk MSG.
  • 1995: Federasi masyarakat peneliti MSG Amerika atau the Federation of American Socities for Experimental Biology (FASEB) mengesahkan keamanan MSG untuk masyarakat umum. MSG aman sebagai bahan makanan yang digunakan secara wajar.
  • 2002: Seluruh badan pengawasan makanan dunia menggolongkan MSG sebagai bahan yang “Generally Regarded As Safe” (GRAS) dan tidak menentukan batas asupan hariannya.
  • 2006: Menanggapi laporan yang terus masuk, sebuah Consensus Meeting diselenggarakan di Jerman untuk mengevaluasi laporan dan data ilmiah terbaru. Para ahli yang diundang menyatakan batas konsumsi hingga 16 mg/kg berat badan per hari masih tergolong aman, namun riset yang lebih lanjut tetap perlu dilakukan.(N)


MSG dalam Istilah Lain
Meskipun tidak tercantum nama monosodium glutamat dalam kemasan, bukan berarti bahan tersebut bebas “MSG”. Sebab, bahan serupa bisa menyamar dalam berbagai varian nama.
Zat tambahan yang SELALU mengandung MSG:
  • Monosodium Glutamate
  • Hydrolyzed Vegetable Protein
  • Hydrolyzed Protein
  • Hydrolyzed Plant Protein
  • Plant Protein Extract
  • Sodium Caseinate
  • Calcium Caseinate
  • Yeast Extract
  • Textured Protein
  • Autolyzed Yeast
  • Hydrolyzed Oat Flour
Zat tambahan yang SERING mengandung MSG:
  • Malt extract
  • Bouillon
  • Broth
  • Stock
  • Flavoring
  • Natural Flavoring
  • Natural Beef or Chicken Flavoring
  • Seasoning
  • Spices
Zat tambahan yang MUNGKIN mengandung MSG:
  • Karagenan
  • Enzymes
  • Soy Protein Concentrate
  • Soy Protein Isolate
  • Whey Protein Concentrate
  • Protease enzymes


BIAR TETAP GURIH DAN NENDANG
(Meski tanpa tambahan MSG)

Wiryawati Yap, 36 tahun, Malang
Ada beberapa langkah yang saya lakukan. Pertama, gunakan bahan –bahan seperti sayur dan daging yang segar. Ini mutlak diperlukan, karena citarasa glutamat asli yang berasal dari bahan makanan segar akan lebih optimal. Kedua, gunakan rempah-rempah alami untuk memperkaya citarasa masakan kita secara alami. Biasanya, saya memperbanyak bawang merah dan bawang putih. Rempah yang sering saya pakai adalah merica, pala, jahe, minyak wijen, bunga lawang.
Ketiga, kuasai teknik memasak. Pengaturan api dalam membuat kaldu, mengukus, dan merebus, misalnya, tidak sama. Terlebih jika menggunakan beberapa bahan sekaligus yang tingkat kematangannya berbeda-beda. Urutan memasukkan bahan makanan bisa mempengaruhi citarasa hasil masakan. Keempat, jangan masak sayuran terlalu matang. Selain nutrisinya  banyak yang terbuang, warna makanan akan berubah, rasanya juga jadi kurang enak. Last but not least, ubah pola pikir kita tentang makanan. Bagaimanapun, makanan yang proses pengolahannya lebih sederhana, tetap lebih baik.

Menik Ummu Khonsa, 30 tahun, Kuala Lumpur

            Untuk mengoptimalkan citarasa umami dan glutamat dalam bahan makanan, saya hanya menambahkan gula dan garam secukupnya.  Pada beberapa jenis masakan, saya juga biasa menambahkan jumlah bawang merah dan daun bawang.
            Memang sih, membuat masakan yang enak tanpa melibatkan penyedap buatan menjadi tantangan tersendiri. Terlebih, saya harus memasak sendiri makanan untuk anak saya yang usianya belum mencapai 1 tahun, dan tidak mengonsumsi gula garam. Cara menyiasatinya, untuk rasa manis saya menggunakan labu kuning. Sementara untuk rasa gurih, saya menambahkan sedikit mentega tanpa garam.(N)

courtesy of Nirmala Magazine
FB: Nirmala Magazine, Sahabat Nirmala

Mengejan yang Baik Saat Melahirkan

Bagaimana cara mengejan yang baik saat melahirkan? Ini adalah pertanyaan yang hampir selalu diungkapkan oleh klien saya di kelas hypnobirthing terutama mereka yang baru pertama kali hamil atau belum mempunyai pengalaman sama sekali tentang melahirkan pervaginam. Bahkan ada beberapa ibu yang notabenenya sudah berkali-kali melahirkna-pun masih kebingungan dengan cara mengejan yang baik karena mereka merasa selalu salah saat mengejan di persalinan yang lalu.
Nah lalu apakah ketika melahirkan si ibu harus mengejan dengan sekuat tenaga? Jawabannya adalah Tidak. Karena bahkan beberapa klien saya ada yang melahirkan tanpa mengejan padahal bayinya lumayan besar yaitu 4 kg. Wow, bagaimana rahasianya? Nah di artiikel ini saya akan mencoba share tentang cara mengejan yang baik saat melahirkan.
Mengejan adalah tahap akhir dalam persalinan sebelum Anda bertemu bayi Anda. Ini mungkin adalah Periode persalinan yang paling menyakitkan atau sumber terbesar dari ketakutan dan kekhawatiran seorang wanita karena seringkali mereka merasakan tidak apa yang harus dilakukan saat itu. Sulit untuk menggambarkan sensasi dan usaha yang terkait dengan mendorong janin atau mengejan dalam proses persalinan tetapi ada banyak teknikyang dapat dicoba kelahiran bayi Anda. Bidan, dokter dan pendamping akan memberikan bimbingan kepada Anda selama mengejan bila diperlukan.

Langkah 1
Tunggu sampai dokter atau bidan menegaskan bahwa pembukaan serviks Anda benar-benar sudah sempurna. Ini berarti serviks telah membuka sekitar 10 centimeter. Memang terkadang Anda akan merasakan sensasi seperti ingin mengejan atau seperti hendak Buang Air Besar padahal pembukaan serviks belum sempurna. Nah jika Anda mengalami hal ini, usahakan untuk tidak meng-hejankan atau menuruti sensasi itu dengan berusaha untuk tetap tenang, rileks dan berusaha menarik nafas panjang dan dalam. Karena apabila Anda mengejan sebelum pembukaan serviks sempurna yang terjadi justru akan ada pembengkakan di serviks Anda dan itu justru dapat menyulitkan dan menghalangi proses persalinan Anda nanti

Langkah 2
Carilah posisi yang paling nyaman untuk tubuh Anda. Berbagai posisi dianggap lebih efektif daripada yang lain, seperti jongkok, duduk bukannya terbaring di tempat tidur. Posisi yang dapat  Anda lakukan sangatlah beragam, tergantung pada penggunaan epidural atau fasilitas persalinan.

Langkah 3
Memanfaatkan kontraksi Anda ketika Anda mengejan. karena ini lebih efektif untuk mengejan selama kontraksi bukannya mengejan secara terus-menerus. Kontraksi dapat terjadi setiap lima menit bahkan tujuh menit untuk beberapa ibu dan dengan durasi antara 45 dan 90 detik. Sehingga ketika tidak ada kontraksi Anda justru bisa istirahat bahkan tertidur untuk sejenak, atau minum untuk memulihkan dan menyusun kembali energi Anda.

Langkah 4
Dorong seperti jika Anda buang air besar, Ketika usaha ini diberikan, bayi dapat ditekan jalan lahir dan keluar vagina.

Langkah 5
Bersantai di akhir kontraksi, duduk atau berbaring. Bahkan Anda juga bisa mengubah posisi Anda ketika kontraksi berakgir. Ini sangat penting untuk membantu mengoptimalkan posisi janin. Dan akan sangat membantu jika Anda memilih untuk mengambil posisi yang vertikal atau tegak karena gaya gravitasi bumi akan membantu janin lebih turun lagi ke jalan lahir. Memang akan terasa sangat susah bahkan terasa berat ketika Anda harus mengubah posisi misalnya dari posisi setengah duduk ke posisi jongkok ketika Anda berada atau bersalin di atas tempat tidur. Namun hal ini tidak berlaku bagi Anda yang emmilih untuk melahirkan di dalam air atau waterbirth karena dengan waterbirth Anda bisa bebas untuk mobilisasi dan merubah posisi selama persalina  dan ini sangat membantu memperlancar proses persalinan Anda.
Langkah 6
Jika memungkinkan, mintalah bidan atau dokter Anda untuk meletakkan cermin di dekat lubang vagina saat bayi mulai crowning, atau kepala terlihat di vagina. Hal ini dapat membantu beberapa ibu berkonsentrasi untuk mengejan di daerah ini. Bahkan ini dapat membantu sang ibu untuk lebih semangat lagi ketika mengejan. Sesuai pengalaman saya di lapangan saya selalu menganjurkan ibu untuk memegang kepala bayinya ketika kepala bayi sudah terlihat di vagina, hal ini ditujukan untuk meningkatkan dan merangsang hormon oksitosin yang ada didalam tubuh ibu sehingga kontraksi akan semkin seringd an si ibu pun merasa lebih semangat dan lebih “tersambung” dengan tubuhnya.

Langkah 7
Lanjutkan untuk mengejan di setiap kontraksi sampai bayi dilahirkan. Dokter mungkin akan menyarankan dan memberi aba-aba kapan Anda harus mengejan  jika Anda menggunakan epidural.

Tips dan Peringatan
-    Tarik nafas dalam ketika Anda hendak mengejan. Masukan dagu Anda ke dada Anda. Ingat bahwa mengejan dapat berlangsung antara 30 menit dan beberapa jam.
-    Minumlah air, bisa juga air gula atau madu atau menyelipkan es batu di antara kontraksi untuk tetap terhidrasi.
-    Berpindah dan merubah posisi jika Anda merasa perlu. Beberapa ibu akan menemukan posisi yang paling nyaman bagi tubuhnya untuk mengejan-kan bayinya. Dan bisa jadi ini bukan posisi terlentagn maupun setengah duduk. Ikuti insting dan naluri serta irama tubuh Anda. Dan komunikasikan dengan bidan atau dokter sehingga mereka bisa memfasilitasinya.
-    Hindari mengejan ketika pembukaan servik belum lengkap. Kontraksi bisa membuat Anda merasakan dorongan yang tak terbantahkan untuk mendorong dan mengejan, namun ketika Anda mengejan dan posisis leher rahim saat itu masih sebagian tertutup justru dapat menyebabkan leber rahim membengkak. Istirahat dan tarik nafas panjang dan dalam meskipun kontraksi anda rasakan terus.
-    Anda dapat saja tidak mengejan atau tidak sengaja menghejankan janin Anda selama persalinan. Kuncinya ada di nafas dan posisi Anda. Ketika Anda dapat selalu kontrol di nafas dan rileks juga dapat mengatur posisi yang paling nyaman maka bayi Anda akan melakukan tugasnya yaitu mendorong tubuhnya untuk keluar dari jalan lahir. Karena sebenarnya ketika Anda rileks maka seluruh otot di jalan lahir akan terbuka dan melebar. Ikutilah irama tubuh Anda, dan tanpa di hejankan dengan sengaja maka tubuh Anda akan mengejan dengan sendirinya. Anda cukup rileks dan tenang.
-    Dorong ata mengejanlah seolah-olah Anda mengalami buang air besar - yang terbesar dalam hidup Anda. Dan berbicara tentang buang air besar, menaruh semua konsentrasi dan fokus saat mengejan - bukan menjadi khawatir apakah Anda akan dapat mengosongkan perut Anda. Karena pada dasarnya melahirkan rasanya hampir sama dengan membuang air besar bayangkan ketika Anda mengalami obstipasi atau sembelit bebera hari dan anda henda buang air besar, semakin Anda berusaha mengejan yang terjadi feaces semakin tidak bisa keluar karena ternyata semua otot Anda tegang, namun ketika Anda berusaha untuk rileks maka proses buang air besar justru semakin lancar.
-    Ketika hendak mengejan cobalah untuk fokus dan tenang, dan bagi bidan atau dokter seharusnya mendukung hal ini dengan menjaga suasana yang tenang dan privat. Bidan tidak perlu berteriak-teriak untuk memberi aba-aba kepada ibu cukup berikan sugesti positif dan ajak ibu untuk mengikuti irama tubuhnya. Memang butuh kesabaran namun ini sangat baik untuk memperlancar proses persalinan.

Posisi untuk Mengejan
Beberapa posisi yang berbeda yang dapat digunakan untuk mengejan. Dalam semua posisi, menjaga dagu Anda ke bawah untuk membantu otot perut membantu rahim anda dalam mendorong bayi Anda. Anda mungkin dapat untuk mempercepat kemajuan persalinan jika Anda mencoba posisi di mana gravitasi membantu Anda (yaitu duduk, berdiri atau jongkok). Namun, jika bayi prosesnya atau lajunya cepat, Anda mungkin dapat memperlambat peregangan perineum dengan mencoba posisi di mana gaya gravitasi netral (yaitu berbaring miring atau merangkak). Hal ini penting untuk bereksperimen mencari titik  kenyamanan Anda untuk mengejan dalam posisi yang berbeda.

Referensi
WhattoExpect.com: Pushing the Baby Out
California Pacific Medical Center: Labor: Second Stage/Pushing
Ina May Gaskin. (2003). Ina May's Guide to Childbirth

Salam Hangat
Yesie

Serba-Serbi Melahirkan

VBAC (vaginal birth after cesarean) / melahirkan normal setelah sesar

Seksio sesarea merupakan salah satu operasi tertua dan terpenting di bidang obstetric yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kematian janin dan ibu jika persalinan dilakukan secara pervaginam (lahir normal).

Dahulu seorang wanita yang sudah melahirkan sesar, jika hamil lagi maka kemungkinan besar persalinan berikutnya juga akan dilakukan secara sesar, kecuali sudah keburu “kebrojolan” di rumah (sudah keburu lahir sebelum sempat ke rumah sakit). Hal ini seperti yang disebutkan di medical jurnal pada 1916 oleh Cragin di New York “once cesarean always a cesarean” artinya jika sudah sekali di sesar, persalinan berikutnya juga dengan cara sesar karena dikhawatirkan akan terjadi ruptur uteri pada bekas luka seksio sesarea sebelumnya.

Menurut American College Of Obstertricans and Gynecologyst (ACOG), wanita yg memiliki riwayat seksio sesarea dua kali atau riwayat operasi rahim sebelumnya dapat diberikan kesempatan untuk memilih persalinan pervaginam.

Dahulu jenis operasi yang dilakukan adalah seksio sesarea klasik (irisan vertikal) yang memiliki resiko lebih besar terjadinya rupture uteri jika dilakukan vbac. Tetapi sekarang jenis operasi yg dilakukan sudah seksio sesarea transperitonealis profunda (SCTP) yaitu irisan transversa rendah, maka kemungkinan rupture uteri juga berkurang.

ACOG secara resmi menganjurkan kebijakan VBAC dalam kondisi2 yang layak pada era abad ke-20. Vbac adalah proseses persalinan pervaginam yang dilakukan terhadap pasien yang pernah mengalami seksio sesarea pada kehamilan sebelumnya atau pernah mengalami operasi pada dinding rahim (misalnya satu atau lebih miomektomi intramural). Sedangkan seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding perut depan.

Tentu kita pengen tahu berapa angka terjadinya rupture uterus pada vbac. Berikut ada data dari ACOG : jika tipe insisi uterus klasik, maka persentase rupture 4-9, jika insisi bentuk T maka persentase rupture uterus 4-9, jika insisi Vertikal rendah maka persentase rupture 1-7, jika insisi Tranversal rendah maka persentase rupture 0,2-0,5.

Untuk menghindari ini kita harus memperhatikan faktor resiko sebelum dilakukan vbac, yaiutu sbb:
A. RIWAYAT PERSALINAN, meliputi :
1. Jenis parut ( tipe insisi sebelumnya)
The incision made in the uterine wall for a cesarean birth may be low transverse, low vertical, or high vertical. The type of incision made in the skin may not be the same type of incision made in the uterus.
Insisi transversal rendah risikonya, 0,2-1,5%, insisi vertikal rendah resikonya 1-7% dapat dipertimbangkan untuk VBAC, sedangkan insisi klasik (vertikal tinggi) resikonya sebesa 4-9% dan tidak direkomendasikan untuk VBAC, T-shaped resikonya 4-8% tidak direkomendasikan untuk VBAC. Cara penjahitan uterus pada operasi sebelumnya Walaupun masih terjadi kontroversi, beberapa peneliti mengatakan penjahitan single layer beresiko 4 kali lipat dibandingakan dengan penjahitan double layer.
2. Jumlah sc sebelumnya
Resiko meningkat seiring dengan jumlah sc yang pernah dilakukan.
3. Riwayat Persalinan Pervaginam
Penelitian Kohort yang besar oleh Zelopt dkk, menemukan bawah riwayat persalinan pervaginam menurunkan resiko terjadinya rupture uterus pada vbac.Ruptur 1,1 % terjadi pada wanita tanpa riwayat persalinan pervaginam, dan hanya 0,2 % pada wanita yg pernah mengalami partus pervaginam.
4. Interval persalinan
Shipp dkk menyatakan waktu yang pendek antara sc dan vbac meningkatkan resiko terjadinya rupture uterus karena tidak tersedia waktu yang adekuat untuk penyembuhan luka. Wanita dengan interval persalinan kurang dari 18 bulan memiliki resiko2,3 %dibandingkan yang intervalnya lebih dari 18 bulan yaitu resikonya hanya 1 %.
5. Demam Post SC
Demam merujuk ke penyembuhan luka yang jelek.
6. Indikasi sesar sebelumnya
Angka keberhasilan vbac meningkan jika sc sebelumnya dilakukan atas indikasi presentasi bokong dan distress pada janin. Seksio sesarea bukan dilakukan atas indikasi distosia (kegagalan kemajuan dalam persalinan).

B. FAKTOR IBU
1. Umur
Shipp, dkk menyatakan bahwa usia diatas 30 tahun mungkin berhubungan dengan kejadian rupture uterus yang lebih tinggi. Artinya semakin bertambah usia, maka kemungkinan akan meningkatkan resiko rupture uteri.
2. Anomali uterus
Angka kejadian rupture lebih tinggi pada wanita dengan anomaly uterus (uterus yg tidak normal). Bentuk uterus yang tidak normal bisa dilihat dg usg.

C. KAREKTERISTIK KEHAMILAN SAAT INI
1. Makrosomia
Kejadian meningkat dengan meningkatnya berat janin karena terjadinya distensi uterus (peregangan uterus yang berlebihan)
2. Kehamilan Ganda
Hanya ada satu penelitian yg menyebutkan bahwa dari dari 92 wanita tidak terjadi rupture uterus.
3. Ketebalan Segmen Bawah Rahim
Ini yang sering kita dengar, dan mungin beberapa bunda di sini deg-degan waktu ke dsog untuk ngukur sbr.. J. Resiko terjadinya rupture 0 % jika ketebalan SBU >4,5mm, 0,6 % jika ketebalan SBU 2,6-3,5 mm. dan 9% jika tebalnya < 2,5 mm.
4. Malpresentasi
Malpresentasi adalah perentasi selain presentasi kepala aau letak kepala. Flamm dkk, melaporkan tidak terjadi rupture pada 52 pasien yang dilakukan versi luar pada kehamilan aterm, namun karena tidak ada data yang definitive, prosedur ini mungkin bisa berhubungan dengan terjadinya rupture uterus.
Untuk menentukan keberhasilan persalinan pervaginam setelah seksio sesaria (VBAC) dalam suatu penelitian observasional yang melibatkan 5022 pasien, Bruce L. Flamm, MD dan Ann M. Geiger, PhD membuat Admission Scoring System berikut:

Interpretasi:
Nilai 0 – 2 : 49% kemungkinan persalinan pervaginam
Nilai 3 – 8 : 50 – 94% kemungkinan persalinan pervaginam
Nilai 8 – 10: 95% kemungkinan persalinan pervaginam.
(Dikutip dari: Klein GH. Commentary and review: vaginal birth after cesarean delivery: an admission scoring system).

D. INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI VBAC
Rekomendasi American College of Obstetricians and Gynecologists (1999) untuk Pemilihan Kandidat Persalinan per Vaginam Setelah Sesar (VBAC)
Kriteria seleksi
  1. Riwayat satu atau dua seksio sesarea dengan insisi transversal rendah
  1. Panggul secara klinis lapang
  2. Tidak ada jaringan parut uterus lain atau riwayat ruptur
  3. Tersedia dokter selama persalinan aktif yang mampu memantau persalinan dan melakukan sesar darurat (dalam waktu 30 menit)
  4. Ketersediaan anestesi dan petugasnya untuk sesar darurat
Beberapa persyaratan lainnya antara lain :
  1. Tidak ada indikasi seksio sesarea pada kehamilan saat ini seperti janin lintang, sungsang, bayi besar, plasenta previa.
  2. Terdapat catatan medik yang lengkap mengenai riwayat seksio sesarea sebelumnya (operator, jenis insisi, komplikasi, lama perawatan).
  3. Pasien sesegera mungkin untuk dirawat di RS setelah terdapat tanda-tanda persalinan.
  4. Tersedia darah untuk transfusi.
  5. Persetujuan tindak medik mengenai keuntungan maupun risikonya
  6. Usia kehamilan cukup bulan ( 37 minggu – 41 minggu ).
  7. Presentasi belakang kepala ( verteks ) dan tunggal
  8. Ketuban masih utuh atau sudah pecah tak lebih dari enam jam
  9. Tidak ada tanda-tanda infeksi
  10. Janin dalam keadaan sejahtera dengan pemeriksaan Doppler atau NST.
Kontraindikasi Mutlak
  1. Seksio sesarea terdahulu adalah seksio korporal ( klasik ).
  2. Adanya APB ( Ante Partum Bleeding ) oleh sebab apapun.
  3. Terbukti bahwa seksio sebelumnya adalah karena CPD ( Cephalo Pelvic Dysproportion).
  4. Malpresentasi atau malposisi.
  5. Bayi besar ( makrosomia ).
  6. Seksio sesaria lebih dari satu kali.
  7. Kehamilan post term ( > 42 minggu ) dengan pelvic score rendah.
  8. Terdapat tanda-tanda hipoksia intrauterin (dari frekuensi bunyi jantung janin, NST ataupun CST).
Kontraindikasi Relatif
  1. Kehamilan kembar / gemeli
  2. Hipertensi dalam kehamilan, termasuk preeklamsia.
  3. Seksio terdahulu pasien dirawat lebih dari kewajaran ( > 7 hari )
  4. Terdahulu adalah operasi miomektomi multipel.
MANFAAT VBAC
  1. Menghindari bekas luka lain pada rahim, mengingat jika ibu ingin hamil lagi maka resiko masalah pada kehamilan berikutnya lebih sedikit.
  2. Lebih sedikit kehilangan darah dan lebih sedikit memerlukan tranfusi darah.
  3. Resiko infeksi pada ibu dan bayi lebih kecil.
  4. Biaya yang dibutuhkan lebih sedikit sedikit.
  5. Waktu pemulihan pasca melahirkan lebih cepat pada ibu.

DAFTAR PUSTAKA
  1. ACOG Practice Bulletin #54: vaginal birth after previous cesarean. Obstet Gynecol 2004; 104:203.
  2. American College of Obstetricians and Gynecologists.1999. Vaginal birth after previous cesaean delivery. ACOG Practice Bulletin #5, American College of Obstetricians and Gynecologists, Washington DC.
  3. Caughey, AB, Shipp, TD, Repke, JT, et al.1998. Trial of labor after cesarean delivery: the effect of previous vaginal delivery. Am J Obstet Gynecol; 179:938.
  4. Cunningham, Mcdonald, Gant, 2005. Obstetry Williams. EGC : Jakarta.
  5. Flamm BL, Geiger AM. 1997. Vaginal Birth After Cesarean Delivery : an admission scoring system. Obstet Gynecol 90 : 907-10.
  6. Hoskins, IA, Gomez, JL. Correlation between maximum cervical dilatation at cesarean delivery and subsequent vaginal birth after cesarean delivery. Obstet Gynecol 1997; 89:591.
  7. Macones, GA, Peipert, J, Nelson, DB, et al. Maternal complications with vaginal birth after cesarean delivery: a multicenter study. Am J Obstet Gynecol 2005;193:1656.
  8. Rustam Mochtar. 1998. Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologi dan Patologi. EGC : Jakarta.
  9. Winknjosastro, H. 1999. Ilmu Kebidanan : Ruptura Uteri pada Parut Uterus. 670-672. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.

Sumber : dirangkum dari http://www.docstoc.com/docs/72654000/presus-VBAC dan Group Facebook GBUS by. Dhina Maya, bidan, berdomisili di Jakarta