Menurut, Ketua Umum Hasnur Center, H Syamsul Mu’arif, 90 persen lulusan dari insane cendikia, berhasil memasuki sejumlah perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia, bahkan banyak yang direkrut oleh perusahaan-perusahaan Internasional.
Karenanya, lanjut mantan menteri kabinet Indonesia bersatu ini, dengan dibangunnya Hasnur Center dengan SMA berstandar inetrnasional sebagai langkah awalnya, semoga cita-cita untuk memiliki sekolah yang memiliki standar internasional dapat terwujud.
``Hasnur Center ini telah kita bicarakan dengan H leman dan beberapa tokoh Kalsel yang ada di Jakarta, karena kita melihat Kalimantan jauh tertinggal dalam hal dunia pendidikan. Kita belum memiliki putra–putri daerah yang memiliki reputasi di tingkat nasional dan internasional, yang lahir, besar dan bersekolah di daerah sendiri,’’ paparnya.
Dalam kesempatan tersebut, dilaksanakan pula MOU dengan Cendikia Serpong, yang merupakan yayasan pendidikan di bawah naungan Habibi Center, yang dinilai berhasil memadukan antara pembangunan moralitas dan intelektualitas para siswanya.
Melihat pada model insan cendikia, sebagai standar dari Global Islamic Boarding School akan menerapkan sistem dua bahasa, bagi para anak didiknya, yakni bahasa arab dan bahasa Inggris.
Sebelum menerima murid, akan dilakukan terlebih dahulu seleksi dan magang guru. Magang tenaga pendidik itu akan dilakukan oleh manajemen Insan Cendikia Serpong, yang berbagai tahapannya memakan waktu hingga sembilan bulan.
30 persen dari seluruh siswa yang dapat ditampung, Hasnur Center, memberikan kesempatan beasiswa kepada mereka yang tidak mampu, tetapi memiliki kemampuan akademis yang baik.
Rencananya, penerimaan murid baru akan dimulai pada tahun depan akan dilakukan dengan seleksi yang ketat, dengan melihat kemampuan akademisi para calon siswa.
Namun Syamsul Mu’arif menegaskan, agar jangan berharap dapat masuk sekolah ini dengan mengandalkan sistem kekerabatan tanpa melalui prosedur yang ada.
Di Insan Cendikia sendiri berhasil menerapkan sistem pendidikan, yang mengedepankan kejujuran para siswa. Bahkan dalam menggelar ujian para siswa dibebaskan mengerjakan soalnya tanpa ada pengawasan pihak sekolah. Begitu pula sistem kantin kejujuran sebagai salah langkah membentuk mental kejujuran para siswa, siswa membayar dan mengambil kembalian tanpa ada pengawasan.
``Yang paling penting dari insan cendekia itu adalah, membangun mental, membangun moralilas, membangun spiritualitas, dan kecerdasan intelektualnya agar seiring dengan nuraninya. Inilah yang akan kita kembangkan di Kalimantan Selatan,’’ pungkas Syamsul Mu’arif.
| |
Monday, June 27, 2011
Hasnur Centre
Tuesday, March 22, 2011
Arambana Bhojanagara
Kala senja memerah, burung belibis, burung gereja, dan kawanan burung lain mulai mengandang, kaki-kaki kecil seorang bocah menapaki pasir-pasir basah di sekitar Bengawan Solo, kelurahan Ledok Kulon, kota Bojonegoro dengan lincah cerianya menuju tempat tinggalnya.
Sesampai di rumahnya, dijumpainya sang nenek yang lagi asyik menembang tembang Jawa karya Sunan Giri dan dimasyarakatkan Sunan Kalijaga.
“Lir-ilir tandure wis sumilir tak ijo royo-royo tak sengguh penganten anyar…”
Dengan manjanya si bocah kecil menghampiri sang nenek, “Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.” Serta merta sang nenek menjawab, “Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokayuh.”
“Nenek, bolehkah aku tanya tentang makna namaku?” Tanya Sang Cucu pada neneknya. “Tentu cucuku,” jawab Sang Nenek. Namamu ‘Arambana Bhojanagara’, Arambana berasal dari Arum Bhuana yang artinya harumnya dunia dan Bhojanegara adalah tempat kelahiranmu. Dengan nama itu, bundamu berharap kelak kalau kau sudah dewasa diberi Allah kemampuan mengharumkan kota Bojonegoro ke seluruh dunia melalui wisata sejarah, panorama, maupun bisnisnya.
Nama Bojonegoro sebagai ganti kota Rajekwesi resmi sejak 25 September 1828. Bhoja berrti makanan dan Negara (negoro) berarti pemerintahan. Jadi, kota Bojonegoro dapat diartikan kota tempat member makan.
Kota Rajekwesi yang berada di sekitar Bengawan Solo terkenal sebagai daerah yang subur gemah ripah loh jinawi, terutama pada masa pemerintahan Raden Tumenggung Hariya Matahun (17251741).
Raden Tumenggung sering mengundang rakyat kecil (kawula alit) untuk makan bersama di Pandapa. Makan bersama dalam bahasa Kawi atau Jawa Kuno adalah gembul Bhoja atau Bhojana. Karena pihak pemerintah sering mengundang kawula alit untuk makan bersama itulah, maka kota ini dinamakan Bojonegoro, sebagai ganti Rajekwesi.
Selanjutnya, Arambana bertanya pada neneknya, “Nenek apa yang melatarbelakangi para pejabat kota Bojonegoro ini santun kepada kawula alit Nek?”
“Karena para pejabat kota ini tidak hanya handal dalam ilmu pemerintahan, tetapi beliau-beliau ini menghayati pejabat bukanlah penguasa tetapi pejabat adalah pelayan-pelayan kasih Illahi. Mereka derdas secara IQ (Intelegensia Quation), EQ (Emotional Quotion), dan SQ (Spiritual Quation), atau cerdas secara rohani,” jawab Sang Nenek.
“Nenek, apakah para pejabat negeri ini dalam olah rohani juga belajar tentang dialog Rosul Muhammad dengan iblis karya Syekh Muhyidin Ibnu ‘Araby?” tanya Arambana pada neneknya.
“Ya iyalah..” jawab Sang Nenek dengan bahasa gaulnya.
“Kalau begitu tolong dong Nek ceritakan sebagian untukku.”
“Baiklah cucuku. Diriwatkan dari Mu’adz Bin Jabal R.A. dari Ibnu Abas berkisah: “Kami bersama Rosulullah SAW di rumah salah seorang sahabat Anshar. Saat itu kami di tengah-tengah jama’ah, lalu datang iblis. Ternyata ia berupa orang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Ia berjenggot sebanyak tubuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut bulu matanya. Kedua kelopak matanya seperti terbelah ke atas (tidak ke samping), sedang kepalanya seperti kepala gajah yang sangat besar, dan gigi taringnya keluar seperti taring babi. Sementara kedua bibirnya seperti bibir kerbau.
Ia datang sambil memberi salam, “Asalamualaikum ya Muhammad.. assalamualaikum ya jama’atalmus limin,” kata iblis.
Nabi menjawab, “Assalamu Lillah Yala’iin (keselamatan hanya milik Allah wahai makhluk yang terkutuk). Saya mendengar engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluanmu tersebut wahai iblis?”
“Wahai Muhammad, saya datang ke sini bukan karena kemauanku sendiri, tapi saya datang ke sini karena terpaksa,” terang iblis.
“Apa yang membuatmu terpaksa harus datang ke sini, wahai makhluk terkutuk?” tanya rosulullah.
Iblis menjawab. “Telah datang kepadaku seorang malaikat yang diutus oleh Tuhan yang Maha Agung. Utusan itu berkata kepadaku: “Sesungguhnya Allah memerintahknku untuk datang kepada Muhammad, sementara engkau adalah makhluk hina nan rendah. Engkau harus memeberitahu kepadanya bagaimana engkau menggoda dan merekayasa anak cucu Adam. Bagaimana engkau merayu mereka, lalu engkau harus menjawab segala apa yang ditanyakan Muhammad dengan jujur. Maka demi kebesaran dan keagungan Allah, jika engkau menjawabnya dengan bohong, sekalipun hanya sekali, sungguh engkau akan Allah jadikan debu yang akan dihempaskan oleh angin kencang dan musuh-musuhmu akan merasa senang.”
“Wahai Muhammad, maka sekarang saya datang kepadamu sebagaimana diperintahkan kepadaku. Tanyakan apa saja yang engkau inginkan. Kalau sampai saya tidak menjawabnya dengan jujur, maka musuh-musuhku akan merasa senang atas musibah yang akan saya terima. Sementara tidak ada beban yang lebih berat bagiu daripada musuh-musuhku atas musibah yang menimpa diriku.”
Rosulullah mulai bertanya kepada iblis. “Jika engkau bisa menjawab dengan jujur, maka coba ceritakan kepadaku siapa orang yang paling engkau benci!”
Iblis menjawab dengan jujur. “Wahai Muhammad, Engkau adalah orang yang paling aku benci dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu.”
“Lalu, siapa lagi yang paling engkau benci,” tanya rosulullah.
“Seorang pemuda yang bertaqwa dimana ia mencurahkan dirinya hanya kepada Allah,’ jawab iblis.
“Siapa lagi,”
“Orang alim atau canggih yang wara’ (menjaga diri dari harta haram dan subhat), lagi sabar,” jawab iblis.
“Siapa lagi?”
“Orang yang melanggengkan diri dari kesucian yaitu suci lahir, batin, dan lingkungan (baik lingkungan fisik maupun eterik).”
“Siapa lagi?”
“Orang fakir yang senantiasa bersabar, yang tidak pernah menuturkan kepada siapapun dan juga tidak pernah mengeluhkan penderitaan yang dialaminya.”
“Lalu, darimana engkau tahu ia bersabar,”
“Wahai Muhammad, bila ia masih da pernah mengeluhkan penderitaannya kepada makhluk yang sama dengannya selama tiga hari, maka Allah tidak akan mencatat perbuatannya dalam kelompok orang-orang yang bersabar.”
“Lalu siapa lagi wahai iblis?”
“Orang kaya yang bersyukur,”
“Lalu apa yang dapat memebritahumu bahwa ia bersyukur?”
“Bila saya melihat ia megambil kekayaannya dari apa saja yang dihalalkan dan kemudian disalurkan pada yang berhak,” tutur iblis.
“Bagaimana kondisimu bila umatku menjalankan sholat?” tanya Rosulullah.
“Wahai Rosul, saya langsung merasa gelisah dan gemetar.”
“Mengapa wahai makhluk yang terkutuk?”
“Sesungguhnya apabila seorang hamba bersujud kepada Allah, sekali sujud, maka Allah mengangkat satu derajat (tingkat). Apabila mereka berpuasa, maka saya terikat sampai mereka berbuka kembali. Apabila mereka manasik haji, maka saya jadi gila. Apabila bersedekah, maka seakan-akan orang yang bersedekah tersebut mengambil kapak lalu membelah saya menjadi dua,” jawab iblis.
“Mengapa demikian wahai Abu Murrah (julukan iblis)?”
“Sebab dalam sedekah ada empat perkara yang perlu diperhatikan: (1) dengan sedekah itu Allah akan menurunkan keberkahan dalam hartanya; (2) Allah menjadikan ia disenangi di kalangan makhluknya; (3) dengan sedekah itu pula Alah akan menjadikan suatu penghalang antara neraka dengannya; dan (4) ia akan terhindar dari berbagai bencana dan penyakit.
“Ketahuilah Muhammad, bahwa orang yang masih suka dirham dan binar (harta) berarti belum bisa murni karena Allah. Apabila saya masih melihat seseorang yang sudah tidak menyukai dirham dan binar (untuk kepentingan pribadi), serta tidak suka dipuji, maka saya tahu bahwa ia adaah orang yang ukhlis karena Allah, lalau saya tinggalkan.”
Demikianlah Arambana, sebagian dari dialog antara Rosul Muhammad dan iblis yang melatarbelakangi para pejabat di sini santun dengan kawula ait. Semoga kelak ketika kamu dewasa, harapan bundamu menjadi kenyataan. Perkenalkan pada dunia bahwa kota Bojonegoro itu penuh pesona. Disana ada banyak objek wisata yang dapat dikunjungi diantaranya Khayangan Api, Waduk Pacal, Dander Taman Tirtawana, Gua Lowo, Penambangan Minyak Tradisional, kerajinan ukiran kayu jati, seni tari tayub, wayang Tenghul, budaya masyarakat Samin, perusahaa tembakau, dan makanan khas Ledre. Insyaallah ke depan Bojonegoro akan menjadi Brunei-nya Indonesia. Amin!
*Endang Syahrul K.N. (Guru SMAN Sumberrejo, Bojonegoro)
Bojonegoro, 30 April 2007 disajikan dalam “Lomba Dongeng Kesejarahan 2007”.
Tuesday, February 22, 2011
Komunikasi Lintas Budaya Pelerai Politic Recognation
Dari kiri: Dra. Sri Mastuti, M.Hum, Haryono, Dr. Priyatno Wibowo, Dr. Ketut Prasetya,
Romo A.Luluk, Nasution, P.hD, Legowo, Drs. Artono.
Tidak ada yang tahu pasti bagaimana konsep dan siapa sebenarnya yang dimaksud pribumi dan nonpribumi. Guna meluruskan berbagai konsepsi mengenai identitas tersebut, jurusan Pendidikan Sejarah menggelar Seminar Nasional Sejarah dengan tema Multikultur Indonesia: Dinamika Hubugan Pribumi-Nonpribumi pada Sabtu (19/2) di gedung I.6 Fakultas Ilmu Sosial (FIS). Multikulturisme menjadi penting karena adanya penindasan atau penafikan atas dasar kepemilikan etnis dan agama, dalam hal ini etnis Tionghoa dan agama Kristen Khatolik. Pembicara yang dihadirkan adalah Dr. Priyanto Wibowo, ketua Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) dan A. Luluk Widyawan, Pr., ketua Kerawan Keuskupan Surabaya.
“Sampai saaat ini belum ada pembahasan yang secara utuh menyatukan serpihan maslah seputar Cina di Indonesia. Masalah Cina dan orang Tionghoa dipilih karena tidak ada konsep yang jelas terkait identitas,” ungkap pakar Studi Cina UI tersebut. Berbagai kerusuhan itu sampai akhirnya selalu membuat orang-oarang Tionghoa mengalami exsodus. Sedangkan Romo, panggilan akrab A. Luluk Widyawan, menerangkan mengenai kehidupan orang-orang Tionghoa penganut agama Kristen Katholik yang juga mendapat tekanan, sulitnya akses menuju identitas yang tak jarang harus melibatkan pendekatan politik untuk dapat berbaur menjadi masyarakat Indonesia seutuhnya. Segredasi dan konstruksi sosial yang dialami masyarakat Tionghoa seringkali menimbulkan gesekan dan benturan, maka jalan keluarnya hanya dapat dilakukan melalui komunikasi budaya yang dilakukan dalam kesetaraan dan keadilam dalam konteks heterogenitas.
Kampoeng Kidz
Gedung asrama Kampoeng Kidz.
Siswa SPI diasramakan di gedung ini,
mereka hanya diperbolehkan pulang pada waktu tertentu,
seperti hari-hari besar keagamaan.
Mereka adalah anak-anak khusus dari berbagai daerah di Indonesia. Saat ini siswa di Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) memiliki kurang lebih 70-an siswa. SPI merupakan sekolah umum yang diikuti oleh siswa-siswa pilihan khusus yang multikultur dan multi agama. mereka hidup berdampingan dengan rukun. SPI juga mengembangkan sistem entrepeneurship dengan melakukan wisata kampoeng Kidz pada hari libur, Sabtu, dan Minggu. Mereka diasramakan di sana, diberikan akomodasi, dan dibekali dengan banyak skill. Mayoritas jenis wisata edukasi yang terbilang baru itu dikelola secara apik dengan pendampingan ahli. Selamat berwisata yak,, semoga bermanfaat (●*∩_∩*●)
Gate sebelum masuk ke Kapoeng Kidz
Mereka adalah anak-anak SPI yang edang menghibur audience dengan tarian India.
Gedung Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI).
Agro Wisata Bhakti Alam-Pasuruan
hehehe udah mirip guide beneran belom yak Aida :-P
Foto ini pose bersama Mas Sholeh (kalau 9 sala siy lupa :-D
Mas Sholeh Friendly, dia orang pertama yang Aida temui waktu survey tempat sebelum ketemu langsung sama Pak Iwan yang dipercaya mantan gubernur Jatim Imam Utomo untuk mengelola bisnis Agrowisata.
Mas Sholeh ini yang mengantar saya berkeliling kebun seluas 60 hektar ini.
Api Unggun pada malam terakhir Camp kami di Bhakti Alam.
Pose bersama sambil menunggu durian jatuh hehehe,,
Kandang sapi yg memproduksi susu murni untuk diparteurisasikan.
Ada petugas khusus yang mengelola peternakan sapi perah ini.
Uniknya semua karyawan hanya diperbolehkan laki-laki.
Alasan keamanan dan medan di daerah tinggi
dan menuntut untuk memiliki fisik kuat serta standby setiap saat.
Saya yang tidak seberapa doyan susu,
ternyata lahap juga mengonsumsi susu alami hasil pasteurisasi.
Susu murni tersebut dijual Rp 2.000,- tiap gelas.
Khusus untuk pengunjung mendapat free of charge.
Barak tempat kami menginap. Biaya sewanya cukup terjangkau, hanya Rp 25.000,- per kepala per satu malam. namun biasanya disewakan dalam jumlah besar dalam paket satu jutaan untuk menampung 40-an peserta. Bagi yang suka suasana lebih privasi atau keluarga tersedia juga Cottage dengan harga Rp 250.000,- per malam. Suasananya sejuk dan cozy banget.
Ini adalah buah durian montong, salah satu produk unggulan Bhakti Alam. Selain dapat mencicipi langsung dari pohonnya, pengunjung juga bisa membeli sebagai buah tangan dengan harga mulai Rp 5.000,-.
Muraaahhh bukan,, saya saja ketagihan ke sana meski tidak mencicipi durian karena tidak doyan hehehe
Ada juga jambu darsono, melon Thailand, rambutan Lebak Bulus, etc.
Berpose diantara Dragon Fruit atau yang lebih dikenal dengan julukan Buah Naga.
heeeemm lezad sangat buahnya,,
di sana ada berbagai macam varian buah naga.
Tak hanya buah naga merah, putih, atau kuning,
tetapi juga buah naga hitam dan hasil persilangan yang berwarna ungu.
Very recomended place :-)
Subscribe to:
Posts (Atom)
